
"Ini aja mas."
Lea berujar seraya menunjuk sebuah diapers dengan merk tertentu. Ia kini tengah berbelanja ke sebuah swalayan bersama Daniel.
Tadinya ia rencana masuk kuliah tatap muka hari ini. Namun karena keperluan Darriel sudah habis, ia memilih untuk masuk pada keesokan harinya saja.
"Ini aja Le, lebih gede. Tanggung ngambil yang segitu."
"Ya udah deh terserah mas aja." jawab Lea.
Daniel mengambil diapers yang lebih besar ukurannya. Kemudian mereka lanjut menuju ke tempat sabun dan perlengkapan mandi bayi lainnya.
"Yang abis apa aja, Le?" tanya Daniel pada Lea.
"Hampir semuanya mas. Sabun, sampo, minyak telon dan lain-lain."
Daniel melihat-lihat dan mengambil sebuah sampo bayi dengan merk tertentu pula.
"Tidak perih di mata." ujar Daniel membaca keterangan dari sampo tersebut.
"Kenapa ya, sampo bayi di buat tidak perih di mata. Tapi giliran sampo kita perih banget kalo kena?"
Lea tertawa mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Padahal kita dewasa juga nggak tahan loh kalau kena mata." lanjutnya lagi.
"Biasanya kalau nggak perih dimata, busa nya tuh nggak banyak mas. Sedangkan kita orang dewasa menganggap kalau sampo sama sabun nggak banyak busa tuh, nggak bersih dan nggak puas. Padahal sabun atau sampo yang baik ya, yang busanya sedikit." Lea menjelaskan.
"Emang iya?" tanya Daniel tak percaya.
"Masa mas yang udah dewasa, terpelajar, seorang pemimpin pula, gitu aja nggak tau."
"Eh Lele, aku itu bukan pemimpin di perusahan pembuat sampo dan sabun. Mana ngerti aku bahan-bahan aktif yang terkandung. Sekolah aja dulu jurusan kagak jelas koq."
Daniel sewot pada Lea, sementara Lea kini makin tertawa.
"Ya gitu lah kira-kira jawabannya." ujar Lea lagi.
"Mungkin karena daki orang dewasa lebih tebal kali ya dari bayi. Makanya butuh sabun yang banyak busanya." ucap Daniel kemudian.
"Nah bisa jadi." timpal Lea.
"Ya udah nih, berarti ini aja samponya ya. Eh tapi Darriel bukan make yang merk ini kan?"
"Nggak apa-apa, dia mah cocok semua merk kayaknya."
"Jangan ngira-ngira, Le. Ntar Darriel bentol-bentol aja jadinya."
"Nggak mas, ini kan udah teruji secara klinis. Dari lahir pun Darriel nggak menunjukkan tanda-tanda alergi koq."
"Ya udalah, berarti aman ini ya."
"Aman." jawab Lea.
Daniel kemudian mengambil produk lain seperti sabun, minyak telon, cream lipatan anti iritasi popok dan lain-lain.
"Jadi bayi ribet juga ya ternyata." Lagi-lagi Daniel berkomentar sambil tertawa.
__ADS_1
"Kalau nggak mau ribet, jadi kangkung aja mas. Tinggal hidup dan tumbuh, abis itu di petik dan di tumis."
"Nggak ah, aku mau jadi genjer aja." jawab Daniel sambil kembali mendorong troli.
"Kenapa emangnya?" tanya Lea heran.
"Genjer lebih survive, Le. Lewat saluran cerna aja dia nggak hancur. Itu membuktikan kalau genjer itu sangat kuat dalam menghadapi dunia. Filosofi genjer."
"Emang mas tau dari mana, kalau genjer nggak hancur walau udah di makan."
"Pernah ngeliat." jawab Daniel.
Lea mengerutkan keningnya.
"Maksud mas, pas BAB gitu?" tanya nya kemudian.
"Iya." Daniel berkata sambil nyengir.
"Ih mas Dan, jorok ih."
Lea memukul lengan Daniel dan Daniel pun tertawa-tawa.
"Lagian orang kaya makan genjer. Aku aja yang miskin dulu jarang koq. Cuma dua kali seumur hidup."
"Eh, di rumah Ellio itu orang tuanya selalu masak makanan lokal dari berbagai daerah. Di rumah Richard juga sama, sesekali doang kita makan western. Kakek kamu tuh apalagi, doyannya sambel Pete."
"Emang iya?"
"Tanya aja kalau nggak percaya. Pernah kan makan di rumah Richard?"
"Iya sih. Ayah juga kalau makan jarang yang western."
"Iya tapi ngapain mas BAB terus ngeliat ke kloset segala?"
"Kan penasaran. Soalnya banyak yang bilang genjer itu tetap utuh kalau di makan."
"Ih, udah ah jorok. Punya suami joroknya nggak ketulungan."
Daniel tertawa-tawa lalu kabur dari hadapan Lea.
"Pembahasan macam apa ini?" gerutu Lea lagi.
Merek terus memilah-milah barang yang hendak dibeli. Sambil melihat daftar belanjaan yang semula sudah di tulis Lea dari rumah.
***
Sementara itu di kediaman Richard, Ellio sedang heboh mendiamkan Darriel yang menangis.
Ia telah kembali dari rumah sakit hari ini. Namun karena dirumah Ellio tinggal sendiri dan tak ada yang merawat. Richard menyuruh sahabatnya itu untuk beristirahat dulu di rumahnya.
Marsha sendiri tak bisa mengawasi Ellio selama 24 jam. Sebab ia juga bekerja dan ada urusan lain. Sedang orang tua Ellio masih sering melakukan perjalanan bisnis ke luar negri.
"Ayo Darriel, jangan nangis gitu dong. Kalau kamu nangis terus, nanti om Ellio gangguan mental. Terus om Ellio bisa gila. Nanti om Ellio nggak bisa kerja lagi, buat beliin Darriel hadiah."
Darriel masih saja menangis.
"Nanti kita beli motor Ducati ya. Darriel mau jadi pembalap?. Iya kan?. Berhenti nangis dulu ya sayang."
__ADS_1
Ellio memasukkan ujung botol susu ke mulut kecil Darriel. Bayi itu ada sempat menghisapnya sebentar, namun kemudian ia kembali menjerit-jerit.
"Kenapa Darriel?"
Tiba-tiba sang ibu peri yang tiada lain adalah Richard pun muncul.
"Nggak tau bro, nangis terus. Kenapa ya?" tanya Ellio heran.
Richard lalu meraih Darriel dan membuka popoknya.
"Gimana nggak nangis, Junaedi. Ini popoknya penuh banget begini, mana pup lagi."
"Emang iya?" tanya Ellio lagi.
"Nih."
Richard menunjukkan hal tersebut pada Ellio.
"Hueeek."
Ellio hendak muntah.
"Gini doang mau muntah, gimana punya anak nanti lo." Richard memarahi Ellio.
"Sini liat cara gue bersihin." ujar Richard lagi.
"Nggak mau, lo aja."
"Eh, awas lo ya nanti begini ke anak lo sendiri. Terus apa-apa nyusahin Marsha. Gue gedik pala lo."
"Iya, iya."
Ellio kemudian mendekat dan memperhatikan Richard dalam membersihkan kotoran Darriel.
"Koq lo nggak jijik sih?" tanya Ellio heran.
"Yaelah, bayi sekecil ini apanya yang mesti di bikin jijik?. Orang dia aja cuma ASI doang. Yang kotorannya bau tuh elo, orang dewasa yang udah makan segala-galanya. Bau dosa kotoran lo." seloroh Richard lagi.
"Kotoran bayi mah kagak bau-bau banget." lanjutnya kemudian.
Ellio terus memperhatikan Richard sampai selesai.
"Tuh liat, diem kan?" ujar Richard kemudian.
"Iya ya." tukas Ellio.
"Orang dia nangis bukan karena laper, tapi risih. Ingetin kalau ntar anak lo lahir. Dia nangis itu bukan berarti laper. Bisa jadi karena popoknya penuh, mungkin kena kutu kasur, iritasi dan lain-lain."
"Jadi semuanya harus gue cek gitu?"
"Iyalah. Kalau bajunya kena keringat, lo harus ganti. Kalau nggak nanti dia gatel-gatel."
Ellio manggut-manggut.
"Udah sana lo istirahat. Bentar lagi kita bakalan menghadap orang tuanya Marsha loh. Harus siap fisik dan mental." ujar Richard.
"Terus Darriel?"
__ADS_1
"Biar gue yang jaga." tukas Richard kemudian.
"Oke deh." jawab Ellio..