Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sejak Saat itu (Extra Part)


__ADS_3

Usai kejadian di karaoke room hari itu. Hanif kembali menghubungi Susi. Ia mengajak Susi bertemu dan disitulah Susi mengetahui jika Hanif menggunakan mobil mewah.


Hanif juga ada sempat mengajak Susi ke kantornya. Dan disitu pula lah Susi tau jika pria itu bekerja di perusahaan, yang gedung kantornya saja terlihat mewah.


"Bro, mau kemana?"


Hanif ada menyapa Daniel yang tengah hendak mengantar Lea ke rumah sakit. Saat itu Lea masih hamil Darriel dan rutin menjalani pemeriksaan.


Hanif tadinya tengah menyusuri jalan di depan rumah sakit tersebut. Lalu melihat Daniel dan Lea yang keluar dari dalam mobil. Kebetulan mereka berdua tak dapat parkir di dalam lantaran penuh.


"Hei, ini mau ke rumah sakit bro. Biasa nganterin bini." ujar Daniel.


"Mau kemana lo?" Daniel balik bertanya.


"Biasa, adalah kerjaan dikit." ucap Hanif kala itu.


Kini Susi seakan mengingat kejadian tersebut, sementara Daniel sudah lupa. Saat itu Lea ada melihat wanita di sisi Hanif. Tapi ia tak tau dan tak peduli. Pada Hanif saja ia tak mengenali, apalagi dengan perempuannya.


Saat Hanif berlalu, lea bertanya itu siapa. Daniel menjawab teman dan Lea akhirnya masuk ke dalam rumah sakit diikuti Daniel.


***


"Eh, Sus. Itu yang istrinya si pengusaha ganteng. Yang si Lea-Lea itu, belagu banget anjir."


Shela menelpon Susi yang saat ini telah menjadi nyonya Hanif. Hanif tengah bekerja, Sementara Susi leha-leha di rumah baru yang mewah. Sesuai dengan apa yang ia cita-citakan. Yakni menjadi nyonya besar.


"Iya, emang sok kecakepan." ujar Susi.


"Rebut aja ege lakinya." lanjut perempuan itu lagi.


"Emang rencana mau gue rebut. Dimana sih alamatnya, atau kantornya gitu. Terus sering nongkrong dimana. Pengen banget gue godain." ujar Shela.


"Ntar gue tanya mas Hanif kalau gitu." jawab Susi.


"Sekalian siapa itu temannya, yang juga udah punya istri. Ellio ya?"


"Iya Ellio." jawab Susi.


"Mau gue kasih si Rini buat godain." tukas Shela lagi.


"Hempaskan say, hempaskan istri-istri mereka yang sok kecakepan itu." Susi bersemangat.


"Oh iya dong mak. Jangan panggil Shela kalau nggak bisa menjadi nyonya Daniel." ujarnya dengan penuh percaya diri.


Dua kuntilanak itu akhirnya tertawa-tawa.


"Eh, gimana rumah tangga lo?" tanya Shela.

__ADS_1


"Mevvah say, sekali-kali datanglah ke rumah gue. Biar lo ketularan kaya." jawab Susi sambil tertawa.


"Ih, gue iri. Ada tuh gue liat postingan Lo, rumah lo gede banget."


"Makanya mulai sekarang lo cari cewek tajir. Jangan laki orang yang kere lo embat."


"Mau dong mak Sus, kalau laki lo lagi ada pertemuan kek atau apa gitu. Gue ikut lo, biar bisa nampang." ujar Shela.


"Iya, ntar gue info. Kalau ada teman mas Hanif mau cari cemceman, lo mau?" tanya Susi.


"Ya mau dong, yang penting kaya, ada duitnya dan nggak pelita harapan."


"Iya, ntar gue cariin yang kayak gitu. Pokoknya tugas lo adalah merawat diri secantik mungkin. Karena itu modal utama, say."


Susi dengan pedenya mengajari, padahal dirinya sendiri pun masih terbilang burik. Memang benar apa kata orang, menjadi pelakor itu yang penting punya kepercayaan diri yang tinggi. Soal berkaca diri, bisa belakangan.


"Ini gue rawat pokoknya. Asal gue bisa dapat cowok tajir. Tapi kalau bisa sih, Daniel." ujar Shela lagi.


"Udah kepincut gue sama kegantengannya." lanjut perempuan itu.


"Sayang ya nikah sama si belagu." ujar Susi.


"Iya anjir, belagu banget. Pengen banget gue ngeliat dia terlempar ke jalanan sama anaknya. Membusuk dan jadi jelek dalam kesengsaraan."


"Hahahaha."


Susi dan Shela kemudian lanjut berbincang dan mendiskusikan mimpi-mimpi mereka yang kebanyakan over halu.


***


Sementara di lain pihak Lea juga tengah telponan dengan Marsha.


"Jadi om Ellio di follow sama si bridesmaids?" tanya Lea pada Marsha, usai istri dari Ellio itu menceritakan sesuatu.


"Iya, gue pikir siapa. Kan gue walaupun nggak suka ngecek handphone pasangan, tapi kepo sama notifikasi yang nggak sengaja gue liat. Pas gue cek akunnya, pake akun gue. Ada foto tuh cewek jadi bridesmaids di acaranya Hanif kemaren."


"Dih, mau godain om Ellio kali ya?" tanya Lea.


"Pede banget, anjir." lanjutnya lagi.


"Emang, pede tingkat dewa padahal kulit aja pada bersisik gitu kayak Badarawuhi." tukas Marsha.


Mereka tertawa-tawa.


"Iya Le, mereka kayak nggak pernah pake lotion gitu loh. Eh, amit-amit. Amit-amit jabang bayi. Ngomongin orang mulu kan jadinya gue." ujar Marsha seraya mengusap-usap perutnya.


Lea makin terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Gue juga lagi memantau mas Daniel nih. Awas aja kalau sampai ada salah satu bridesmaids yang follow atau DM dia. Gue temuin dan bakalan gue jambak sampe tanah tuh cewek." ucap Lea.


"Hahaha."


Marsha terus tertawa.


"Tanggung, Le. Jambak sampai inti bumi." ujar wanita itu.


"Paku ke dalam buat nggak keluar lagi." lanjutnya kemudian.


"Hahaha, paku bumi." tukas Lea.


Mereka terus berbincang dan tertawa-tawa. Hingga tanpa terasa waktu berlalu begitu saja.


***


Daniel tiba di penthouse, sesaat setelah pulang kerja. Ia tampak sedang menelpon seseorang.


"Iya bro, oke. Lo atur aja, nanti gue yang bujuk Richard supaya mau kesana." ujar pria itu.


Tak lama telpon tersebut pun disudahi.


"Kenapa mas?" tanya Lea kemudian.


Sebab ia melihat wajah suaminya itu tampak sedih. Daniel mendekat dan memeluk Lea.


"Besok aku akan paksa Richard ke dokter. Aku akan temani dia. Soalnya dia udah makin aneh, Le. Kayak orang yang punya penyakit otak serius."


Mendadak air mata merebak di pelupuk mata Lea.


"Serius mas?" tanya nya Lea dengan tubuh gemetaran.


Daniel mengangguk. Ia dan Lea pun sama-sama menangis. Daniel sangat takut kehilangan Richard, ia belum siap untuk itu.


Sedang Lea juga sangat menyayangi ayahnya tersebut. Ia tak mau sampai Richard pergi meninggalkan mereka semua. Ia kasihan pada Darriel jika harus tumbuh tanpa kehadiran sang kakek.


"Aku minta tolong sama kamu mas, aku mau ayah sembuh." Isak Lea di pelukan Daniel.


"Iya sayang, aku sama Ellio akan usahakan. Richard pasti akan baik-baik aja. Dia pasti akan terus berada di tengah-tengah kita."


Sementara itu di kediamannya, Ellio juga curhat sambil menangis pada Marsha. Ia menceritakan semua kenangan yang telah mereka lalui sedari kecil bersama Richard.


Daniel dan Ellio sama-sama mellow hari ini. Lantaran tadi di kantor mereka juga melihat Richard lebih banyak diam. Kadang ia memegangi kepalanya seperti tengah kesakitan.


Tak ada yang tau kalau saat itu Richard hanya terserang migrain. Dan kini ia di rumah tengah makan gorengan bakwan yang dibuat oleh asisten rumah tangganya.


"Kriuk!"

__ADS_1


***


__ADS_2