Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kaget


__ADS_3

Daniel sedang mengerjakan pekerjaan kantornya di tengah malam, ketika ia mendengar suara cukup berisik dari bawah. Daniel mulanya cuek, namun kemudian ia pun penasaran.


Pria itu lalu turun ke bawah dan melihat lampu dapur yang masih menyala. Buru-buru ia mendekat lalu,


"Astaga mas, ngagetin aja." Lea berujar pada suaminya ketika tanpa sengaja melihat Daniel.


"Kamu ngapain, Le?" tanya Daniel seraya memperhatikan panci yang ada di tangan Lea.


"Aku laper, mas. Pengen makan mie instan, mas mau?"


"Mmm."


Daniel menarik nafas sambil memperhatikan istrinya itu. Ia tidak pernah makan selarut ini, demi menjaga kondisi badannya. Apalagi makan makanan yang bukan makanan sehat seperti mie instan, Daniel sangat anti di malam hari.


"Mau ya." Lea menjadi setan bagi pertahanan suaminya.


"Ok." ujar Daniel lalu tertawa.


"Mau satu atau dua, mas?"


"Satu aja, jangan banyak-banyak."


"Mau pake telor mata sapi?" tanya Lea lagi.


"Boleh."


"Kornet?"


"No." ujar Daniel.


"Ok."


Lea kemudian berjibaku memasak mie instan. Daniel memindahkan laptopnya ke meja makan, dan menunggu sambil mengerjakan pekerjaan. Beberapa menit kemudian, Lea pun selesai.


"Nih mas, mie nya."


Lea meletakkan sepiring mie instan di hadapan Daniel, berikut satu piring berisi dua telur mata sapi dan juga kornet untuk Lea sendiri. Daniel awalnya masih memperhatikan laptop. Namun kemudian ia tanpa sengaja melihat ke arah piring Lea, yang berisi lebih banyak mie ketimbang di dalam piringnya.


"Hehehe, maaf ya mas. Aku kayaknya satu nggak cukup deh." ujar Lea lalu menggeser kursi dan duduk. Daniel pun tertawa melihat tingkah istrinya itu, ia menutup laptop dan bersiap untuk makan.


Sepanjang acara, ia terus memperhatikan Lea yang makan dengan begitu lahap. Berkali-kali Daniel tertawa dan berkali-kali itu pula Lea tampak sewot.

__ADS_1


"Pasti Grace makannya elegan kan mas, nggak barbar kayak aku." ujar Lea sambil memakan telur dadar dan juga kornet yang ada di piring lain.


"Ya, dia selalu jaga makan. Tapi kamu nggak harus jadi orang lain, jadilah senyaman kamu aja. Yang penting kamu tau kapan harus ngerem dan kapan harus berjalan."


"Iya mas, sekarang aku mau jalan terus. Ntar aja ngerem nya, kalau udah ada lampu merah."


Lagi dan lagi Daniel tertawa, mereka kemudian melanjutkan makan sambil berbincang.


***


"Hueeek."


"Hueeek."


Lea kembali muntah di pagi hari, kali ini lebih parah dari hari-hari sebelumnya.


"Hueeek."


"Hueeek."


"Hueeek."


Air mata keluar dari kedua sudut matanya, ia merasa begitu mual dan tubuhnya mendadak lemas. Usai memencet flush di kloset, Lea beralih ke wastafel untuk mencuci muka. Ia melihat wajahnya yang begitu pucat di depan kaca. Lea sempat terdiam sejenak, lalu kemudian mengambil facial wash dan membersihkan wajahnya itu.


Mendadak Lea terdiam, seketika tubuhnya mulai gemetaran. Ia ingat jika dirinya belum datang bulan, bahkan sudah dua bulan atau mungkin lebih.


"Hah?"


Lea terkejut dengan bibir yang menganga, nafasnya kini mulai memburu. Ia meraba perutnya di bagian bawah, lalu mengingat betapa dirinya telah muntah hampir setiap pagi dan menjadi sangat kelaparan di jam yang lain. Selama beberapa waktu belakangan ini.


Lea buru-buru menuju ke minimarket yang buka 24 jam. Ia membeli testpack di sana dan segera kembali ke atas. Perempuan itu pun langsung buang air kecil dan menampungnya ke dalam sebuah tempat.


"Lea, aku pergi dulu. Aku harus buru-buru."


Daniel berteriak dari luar dan langsung menghilang di balik pintu lift, ketika Lea baru saja menongolkan kepalanya di pintu kamar. Sejak semalam Daniel telah mengabarkan jika ia ada rapat penting mendadak pagi ini.


Lea pun tak bisa mencegah Daniel karena suaminya itu sudah keburu menghilang. Kini ia menunggu hasil testpack dengan harap-harap cemas.


Beberapa saat berlalu, Lea gemetaran sekaligus penuh haru. Ketika testpack tersebut menunjukkan dua garis merah yang sangat jelas. Ia lemas namun hatinya kini campur aduk. Bingung, senang, ingin menangis, seperti membentuk simpul yang saling mendominasi. Ia tersenyum, lalu mengelus perutnya beberapa kali.


Pantas saja selama beberapa waktu belakangan ini dirinya begitu aneh. Selain selera makannya yang meningkat tajam, ia juga selalu muntah dan merasa seperti orang sakit di pagi hari.

__ADS_1


Ia juga memiliki gairah yang tak wajar terhadap Daniel. Pikirannya selalu kotor dan mesum ketika melihat suaminya tersebut. Meski berusaha ia tutupi, namun kadang ialah yang merayu dan menggoda Daniel duluan.


Rasanya ia ingin selalu bercinta setiap saat dengan suami tampannya tersebut. Ia juga jadi lebih genit, suka mengeluarkan kata-kata nakal ketika tengah bercinta dengan sang suami.


Tentu saja Daniel jadi merasa sangat tergila-gila, ia bahkan tak melewatkan Lea sedikitpun. Dan ternyata itu semua akibat hormon kehamilan yang dimiliki oleh Lea.


Perempuan itu tersenyum, ia keluar dan membawa testpack tersebut. Bermaskud mengambil fotonya dan mengirimkan pada Daniel.


Namun Lea teringat jika Daniel saat ini akan disibukkan oleh pekerjaan. Lea rasa ini bukanlah momen yang tepat, ia ingin agar kejutan ini lebih bermakna bagi sang suami.


Maka ia pun kembali ke kamar, mengambil handphone dan menscroll laman toko online. Ia memesan kotak kado kecil, beserta sebuah sepatu bayi.


Bukan bermaskud belanja keperluan, namun hanya untuk menambahi kejutannya. Ia memesan dengan layanan ojek ekspress. Hanya selang beberapa jam saja, barang tersebut sudah sampai ke rumah.


Lea segera memasukkan sepatu mungil itu berikut testpack ke dalam kotak kado kecil. Ia berencana memberikan semua itu pada Daniel nanti malam.


Karena baru merasakan kehamilan pertama kali, Lea memilih untuk tidak berangkat dulu ke kampus. Ia ingin bertanya banyak pada Nina seputar kehamilan, juga ingin mencari tau melalui internet dan aplikasi chat dokter.


"Lo hamil, Le?" tanya Nina antusias sekaligus penuh haru. Mereka kini terhubung lewat video call.


"Iya nin, ini udah gue coba lagi di testpack lain. Gue beli lagi dan hasilnya sama, sama-sama positif."


"Selamat ya, Le. Lo bener-bener jatuh cinta deh kayaknya, buktinya sekarang lo hamil."


"Iya nin, gue emang bener-bener jatuh cinta sama si kulkas. Sekarang dia udah jadi water heater."


"Iyalah, water nya ngangetin rahim lo mulu. Sampe melendung gitu."


Keduanya kini sama-sama tertawa.


"Ke dokter kandungan gue aja, Le. Biar kita bareng kalau mau kesana."


"Iya, ntar gue bilang ke laki gue ya. Gue nunggu dia dulu, mau kasih tau dia."


"Belum lo kasih tau."


"Belum, ntar malem. Sekalian mau gue rekam, buat kenang-kenangan. Gue pengen liat reaksinya dia kayak gimana."


"Ntar ceritain ke gue ya, Le." ujar Nina tak sabar.


"Iya pasti."

__ADS_1


Mereka kemudian lanjut berbincang seputar kehamilan.


__ADS_2