
Daniel terdiam di ruangan kerjanya, sedang Richard terdiam di dekat senjata api miliknya. Ellio sendiri terdiam di dalam mobil sambil menyusuri jalan demi jalan.
Masing-masing dari mereka mulai menyadari, jika hal seperti ini sejatinya tak harus terjadi. Pada keesokan harinya, Lea menyelesaikan kuliah dan berencana memeriksakan kandungan. Ia masih menginap di rumah Nina, Nina bilang jangan pulang sebelum Daniel mencarinya.
Lea harus membuktikan apakah Daniel memang mencintai dirinya atau tidak. Mereka tidak mengetahui jika saat ini Daniel belum sadar, bahwa Lea sedang tidak berada dirumah.
Daniel hanya mengira Lea berada di dalam kamar, pergi ke kampus, dan sengaja berdiam diri kembali di tempat yang sama ketika pulang ke rumah.
"Le, lo mau kemana abis ini?" Iqbal bertanya pada Lea, ketika mereka telah keluar dari kelas.
"Gue mau ke dokter, Bal. Periksa kandungan."
"Sama siapa?"
"Sendiri."
"Gue anterin ya."
"Duh jangan deh, nggak enak gue ngerepotin."
"Nggak, lagian juga gue nggak ada kerjaan koq abis ini."
"Aduh gimana ya, nggak enak gue."
"Udah nggak usah ngerasa nggak enak, kayak apaan aja."
Lea diam.
"Gue anterin ya." Iqbal masih bersikukuh.
"Ya udah deh." Lea akhirnya menyerah.
Iqbal pun mengajak perempuan itu berjalan ke halaman parkir. Dari kejauhan Rama, Dani, Adisty, dan Ariana memperhatikan Iqbal.
"Gue takut si Iqbal makin tenggelam dalam perasaannya." ujar Ariana.
"Ya mau gimana lagi, Iqbal nya yang nggak bisa move on dari Lea."
Rama berujar sambil terus memperhatikan. Iqbal dan Lea kini masuk ke dalam mobil. Iqbal mengantar Lea ke sebuah rumah sakit, tepatnya pada layanan dokter kandungan.
Dokter mengatakan jika kandungan Lea saat ini baik-baik saja, namun dokter juga mengatakan jika Lea sedikit mengalami stress serta tekanan. Ia disarankan untuk tidak terlalu banyak pikiran, karena hal tersebut bisa saja berpengaruh terhadap bayi yang sedang dikandung.
__ADS_1
"Gimana, udah?" tanya Iqbal pada Lea, ketika perempuan itu telah keluar dari ruangan dokter.
"Udah." ujar Lea.
"Kamu laper nggak?" tanya Iqbal lagi.
"Banget." ujar Lea dengan mata yang membesar. Iqbal pun lalu tertawa.
"Ya udah, kita makan ya." ujarnya kemudian. Lea kemudian mengangguk pasti, karena dirinya kini sangatlah lapar.
Iqbal dan Lea melangkah keluar dari rumah sakit, tiba-tiba Lea melihat sosok Rangga yang tengah melintas. Segera saja Lea menggandeng lengan Iqbal dan menyembunyikan wajahnya di bahu pemuda itu.
Tentu saja Iqbal terkejut, ada perasaan hangat yang kini menjalar di hatinya. Ia telah mengira jika Lea menggandeng tangannya, karena Lea juga memiliki perasaan terhadapnya. Padahal Lea hanya berusaha bersembunyi dari pandangan Rangga.
Dari sudut yang lain, seorang pemuda yang tiada lain adalah Hans. Tampak tengah berdiri dan menatap ke arah Lea. Tak lama kemudian ayahnya Frans tiba. Pria itu juga menatap ke arah Lea, yang masih berjalan dengan menggandeng tangan Iqbal.
"Untung kamu nggak sama dia lagi. Bisa dilihat kan, nikahnya sama siapa, jalan sama siapa. Papa nggak mau punya menantu seperti itu."
Frans kemudian berlalu, namun Hans masih terpaku di tempatnya.
"Buruan, dokter udah nunggu."
Frans kembali menoleh dan berujar, Hans kemudian mengikuti langkah ayahnya itu.
Daniel pulang ke rumah agak larut malam, hari ini ia lebih sibuk daripada kemarin. Tubuhnya juga terasa lebih lelah dari biasanya. Ketika keluar dari dalam lift, lagi-lagi ia tak melihat Lea.
Daniel melangkah dan mengambil air minum, tak ada aktivitas apapun di sana. Mungkin perempuan itu sudah tidur, pikirnya. Atau malah bermain handphone di kamar. Daniel tak peduli, ia lalu naik ke lantai atas dan beraktivitas di ruangannya.
Waktu berlalu, Daniel merasakan lapar yang amat sangat. Sedang kini malam telah sangat larut, ia tak mungkin mengorder makanan sementara semua tempat sudah tutup. Daniel pun turun ke bawah dan membuka kulkas.
Namun tiba-tiba ia terdiam, pasalnya ia melihat ada banyak makanan yang disimpan di tempat tersebut. Daniel masih ingat makanan itu adalah makanan yang tidak ia sentuh saat tengah marah-marahnya terhadap Lea, dan itu sudah beberapa hari berlalu.
Apa Lea tidak makan dalam beberapa hari ini, pikirnya. Daniel kemudian mendekat ke kamar Lea. Namun ia berpikir keras bagaimana caranya berbicara dengan perempuan itu, tanpa harus menunjukkan sikap ramah padanya. Daniel masih enggan berbaikan dengan istrinya itu.
"Lea."
Daniel mulai mengetuk pintu kamar Lea.
"Lea, ada sesuatu yang harus aku cari di lemari kamu. Tolong buka...!"
Tak ada jawaban.
__ADS_1
"Lea."
Daniel mencoba menggerakkan gagang pintu, dan ternyata pintu tersebut tidak di kunci.
"Lea."
Mata Daniel menjelajah ke sana kemari, namun tak ada Lea di sana. Dan ini sudah larut malam.
"Lea."
Daniel mencari ke kamar mandi, dan Lea pun sama tak ada di sana. Segera ia mengambil handphone dari dalam saku celananya dan mencoba menelpon Lea.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area."
"Lea, kamu dimana?. Kenapa jam segini belum pulang?"
Daniel mengirimkan pesan singkat pada istrinya itu, meski hanya centang satu. Karena saat ini Lea sedang tidur dan handphonenya ia charge.
"God."
Daniel kembali mencoba menghubungi Lea, ia terlihat begitu resah dan mulai mondar-mandir di kamar perempuan itu. Sampai akhirnya,
"Braaak."
Sebuah kotak kado tersenggol olehnya dan jatuh ke lantai. Mata Daniel menangkap sepasang sepatu bayi berikut sebuah testpack. Pria itu kemudian berjongkok dan meraih semua itu. Seketika seluruh tubuh Daniel gemetaran, nafasnya memburu dan hatinya seperti dipukul benda keras.
Daniel memejamkan matanya sejenak, mendadak ia sesak nafas. Ketika membaca sebuah kertas yang juga ada di dekat situ.
"You're going to be dad."
Dan tertera tanggal, bulan, serta tahun di bawahnya. Langit seakan runtuh, tanggal yang tertera bahkan adalah tanggal dimana ia pergi keluar kota bersama Marsha dan yang lainnya. Dengan masih gemetaran Daniel memperhatikan testpack tersebut. Hasilnya positif, Lea tengah mengandung anaknya.
Daniel buru-buru kembali ke atas, ia mengambil jaket blazer miliknya dan juga kunci mobil. Ditengah malam yang dingin tersebut ia melaju kencang, menuju ke kediaman orang tua Lea.
"Lea nggak ada disini."
Ibu Lea berujar pada Daniel, ketika ia telah tiba. Namun Daniel tak mempercayai hal tersebut. Kemana lagi seorang anak yang telah menikah, kemudian bertengkar. Jika tidak kembali ke rumah orang tuanya.
"Jangan menyembunyikan Lea dari saya, dia memang anak kalian tetapi dia istri saya."
"Silahkan cari kalau tidak percaya."
__ADS_1
Ibu Lea mempersilahkan Daniel, pria itu kemudian masuk dan mencari Lea. Namun Lea benar-benar tidak ada. Daniel kemudian pamit, ia menyusuri jalan demi jalan sambil terus mencoba menghubungi nomor istrinya.