
Daniel mengajak Lea menyambangi suatu tempat, pria itu hanya menurut saja. Dan ketika sampai ternyata, itu adalah kediaman teman Leo dan Leo juga ada disana. Lea membelikan lebih, bukan hanya sekedar untuk Leo saja, tapi temannya juga dapat.
"Lea?"
Leo tercengang, ketika melihat kakak perempuannya itu keluar dari dalam sebuah mobil mewah. Dan ia lebih terkejut lagi ketika melihat Daniel yang juga keluar dari dalam mobil tersebut.
"I, itu kan om-om songong yang waktu itu."
Leo mulai mengenali Daniel dan Daniel pun hanya bisa menghela nafas, sambil menatap remaja itu.
"Ngapain lo sama dia?" tanya nya pada Lea dengan nada seperti hendak marah.
"Leo, dia bos gue." ujar Lea membuat Leo terdiam.
"Dia nggak seburuk itu koq, dia baik orangnya." ujar Lea lagi. Lea menyerahkan makanan yang ia bawa, namun mata Leo masih tertuju pada Daniel.
"Sini lo...!" ujar Leo menarik Lea agak menjauh dari Daniel.
"Lo nggak di apa-apain kan sama dia?" Leo tampaknya khawatir pada Lea, gadis itu pun berusaha meyakinkan.
"Nggak, dia baik koq orangnya. Ini ada makanan, buat lo sama temen lo. Ini juga bisa bagi ke orang tuanya, gue beli banyak buat kalian."
"Leo menerima makanan tersebut lalu melirik ke arah Daniel."
"Awas ya kalau lo ngapa-ngapain kakak gue."
Leo menunjuk dua jari ke matanya sendiri, lalu ke arah Daniel. Tanda ia memantau laki-laki tersebut. Daniel sejatinya ingin tertawa melihat tingkah Leo, namun ia berusaha untuk diam saja.
Usai mengantar makanan untuk Leo, Lea kemudian mengajak Daniel menemui dua adik kembarnya yakni Ryan dan juga Ryana. Tak sulit menemukan keberadaan kedua anak itu, sebab biasanya mereka bermain di gerbang cluster sepulang sekolah. Ada semacam aliran kali buatan disitu, airnya cukup jernih dan menjadi tempat berkumpulnya anak-anak.
"Ryan, Ryana."
Lea menyapa kedua adiknya yang tengah asik melihat ikan tersebut.
"Leaaaa..."
Keduanya berteriak lalu mendekat, mereka begitu antusias dan kemudian memeluk Lea. Daniel yang berada disisi Lea hanya memperhatikan.
"Om itu siapa?" bisik Ryan pada Lea, sementara Ryana memperhatikan Daniel.
"Itu, itu bos Lea." ujar Lea kemudian.
"Oh, hai om." Ryana mendekat dan menyapa Daniel, Daniel pun lalu tersenyum.
"Om beneran bos nya Lea?" Ryana mencoba mencari tau.
"Ryana." Lea mencoba menghentikan gadis kecil itu.
"Iya." jawab Daniel seraya tersenyum.
"Bukan pacarnya Lea?"
Kali ini Ryan nyeletuk, membuat Lea terkejut dan pipinya memerah.
"Ryan nggak boleh gitu, nggak sopan." ujar Lea.
__ADS_1
"Ini Lea bawain makanan." ujarnya memberikan dua bungkusan pada kedua adiknya itu.
"Ini makanan apa, Lea?" Ryana bertanya seraya menerima bungkusan itu, lalu membukanya sejenak.
"Asik yang kayak di film Korea." ujar keduanya antusias. Lea pun senang melihat kedua adiknya itu gembira.
"Lea sama om ini, nggak mau kerumah?" tanya Ryan kemudian.
Lea sempat menatap sejenak ke arah Daniel, lalu kembali menatap adiknya itu.
"Lea harus kerja, nanti aja kapan-kapan ya." ujarnya kemudian.
"Ya udah, makasih ya Lea."
"Sama-sama." ujar Lea. Ia lalu memberikan uang masing-masing 100ribu rupiah pada mereka, sesaat kemudian ia dan dan Daniel pun berlalu.
"Dadah Leaaa."
"Daaah."
Mobil terus menjauh.
"Lea."
"Ya, om."
"Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, tapi nggak hari ini." ujar Daniel ketika mobil mereka telah berjalan jauh.
"Kemana?"
***
"Mau di coblos kali lu." ujar Vita, ketika Lea bercerita mengenai percakapan terakhirnya di mobil dengan Daniel.
Ia bercerita tepat beberapa hari kemudian, Nina pun ada karena mereka konferensi call.
"Nggak tau deh, deg-degan gue." ujar Lea.
"Tapi lo pengen nggak?" tanya Vita lagi.
"Ya pengen nggak pengen sih, ngeri-ngeri sedap juga." ujar Lea.
"Hahaha." Vita tertawa, bahkan tawanya paling keras diantara mereka bertiga.
Lalu kemudian Lea menanyakan keadaan masing-masing dari temannya itu. Nina menjawab jujur, jika dirinya baik-baik saja. Namun tidak dengan Vita.
Gadis itu memang mengatakan jika dirinya sama baik seperti Nina. Namun, ada hal besar yang ia tutupi. Ya, apalagi kalau bukan bekas penganiayaan yang dilakukan sugar daddy nya.
Ada memar di sudut bibir gadis itu kini, juga bawah matanya membiru akibat pukulan. Ia tak menyangka jika sugar daddy nya yang dikenal baik selama ini, ternyata bisa sekasar itu. Ia memang mengobati Vita, namun hati Vita terlanjur sakit.
Karena keadaan ekonomi ia melakukan hal ini, dan karena ekonomi pula sugar daddy nya bisa memperlakukan orang sesuka hati. Ia merasa memiliki ekonomi bagus, punya banyak kekayaan, hingga bisa bersikap seolah dirinya adalah penguasa.
Vita begitu mendendam hatinya kini, kenapa anak perempuan selalu terlahir dari orang tua yang kurang mampu berusaha. Sehingga anak-anak perempuan jarang mempunyai privilege maupun power.
"Kenapa?"
__ADS_1
Pertanyaan itu kini menyesaki benak Vita, rasanya ingin sekali ia menjadi kaya raya dan memiliki power. Tapi bagaimana caranya?. Apa yang harus ia lakukan?"
"Vit."
Lea menyadarkan lamunan Vita, sejak tadi gadis itu diam saja di telepon.
"Hallo, Lea. Suara lo nggak kedengaran."
Vita berpura-pura ada gangguan jaringan, padahal sejatinya ia baru saja tersadar jika ia berada dalam sebuah panggilan.
"Ini udah kedengaran belum?" tanya Lea.
"Udah-udah." jawabnya kemudian.
"Eh, gue mau segera dinikahin nih." ujar Nina.
"Oh ya?" Lea dan Vita bertanya dengan nada penuh antusias.
"Iya, takut gue" ujar Nina.
Mereka kemudian berbincang lebih lanjut.
***
"Ryana."
Ibu Lea memanggil anaknya itu, ketika Ryana baru saja kembali dari bermain. .
"Iya, bu."
"Hari ini Lea nggak dateng lagi?"
"Hmm, nggak bu. Padahal Ryana pengen deh makan kayak waktu itu lagi." ujar anak itu kemudian.
"Kalau nanti kamu ketemu Lea lagi, bilang ibu juga minta uang ya."
"Iya bu." jawab Ryana. Anak itu kemudian pergi ke kamar.
Sementara disuatu area.
Clarissa tengah berjalan di sebuah mall, ia masuk ke sebuah outlet perhiasan mahal dan mencoba melihat-lihat. Dari sekian banyak yang dipamerkan di outlet tersebut, ada satu kalung yang amat sangat menyita perhatiannya.
"Selamat siang, ini adalah produk kami yang limited edition. Totalnya hanya ada tujuh di duna, kebetulan salah satunya kami jual disini."
Karyawan outlet tersebut berbicara pada Clarissa. Design perhiasan tersebut memanglah sesuai dengan apa yang diidamkan perempuan itu selama ini. Maka ia pun segera mempertanyakan perihal harganya, ia kemudian pulang dan merengek didepan sugar daddy nya."
"Sayang, aku mau perhiasan." ujarnya kepada sang sugar daddy.
"Koq kamu tiba-tiba minta perhiasan?"
"Ya kenapa, emang nggak boleh?" tanya nya kemudian.
Sugar daddy nya itupun menghela nafas.
"Ya sudah, besok besok kita beli." jawabnya kemudian, maka lanjutnya yang dirasakan oleh Clarissa adalah bahagia.
__ADS_1