
"Hallo."
Daniel yang tengah tertidur lelap bersama Lea akibat kelelahan bercinta, kini mendadak terbangun. Sebab ia mendapat telpon dari Richard.
"Iya bro?" ujar Daniel pada ayah mertuanya itu.
"Dan, Ellio Dan."
"Ellio kenapa?" tanya Daniel panik. Lea yang juga ikut terbangun tersebut pun mendadak terkejut.
"Kenapa mas?" tanya nya kemudian.
Daniel menempelkan telunjuk di bibir, tanda menyuruh Lea untuk diam. Maka perempuan itu tak lagi bertanya.
"Ellio di sandera sama mami." jawab Richard.
"Hah, di sandera gimana?" Daniel makin panik begitupula dengan Lea.
"Koq bisa?. Tadi gue sama Ellio ke toko roti ibunya Lea. Koq tau-tau di sandera?"
"Gue nggak tau dia bisa sampe ke mami tuh gimana. Yang jelas tadi gue denger suaranya di dekat mami."
"Masalahnya apa sih?" tanya Daniel.
"Jadi mami tuh mau ngejodohin gue hari ini. Nah mami menyandera Ellio dan Marsha, sebagai jaminan biar gue pulang. Tolongin gue, Dan."
"Ok, ok. Lo dimana sekarang?" tanya Daniel.
"Gue di jalan ini, menuju ke rumah."
"Ok, gue kesana."
Daniel beranjak.
"Mas ini tuh ada apa?" tanya Lea ingin tau. Sebab tadi hanya Daniel yang mendengar ucapan Richard di telepon.
"Jadi gini, nenek kamu mau menjodohkan Richard. Dia menyandera om Ellio dan Marsha, supaya Richard pulang."
"Hah, koq lucu?"
Lea tertawa, Daniel melebarkan bibir demi melihat tanggapan dari istrinya itu.
"Koq malah lucu sih?. Ini genting tau nggak?"
Daniel bergegas mengganti baju.
"Ya lucu aja kayak film Korea."
Lea makin sumringah, sementara Daniel sudah selesai bersiap.
"Aku ikut mas." ujarnya kemudian.
"Kamu nggak tinggal aja, aku mau ngebut loh ini."
"Aku ikut, mas." rengek Lea.
"Ya udah ganti baju sana!"
"Nggak usah ah, aku gini aja." jawab Lea.
Ia saat ini memakai setelan piyama tie dye, yang tetap kece jika dipakai untuk pergi. Meskipun agak sedikit kusut, akibat tidur tadi.
__ADS_1
"Ya udah ayok, buruan...!" ajak Daniel.
Keduanya pun bergegas. Tak lama mereka terlihat sudah ada di jalan. Daniel fokus menyetir, sementara Lea melihat ke arah jalan sambil memegangi perutnya.
"Bro dimana?. Gue kejebak macet nih." ujar Richard.
"Mana panjang banget lagi." lanjutnya kemudian.
"Ini gue lagi dijalan." jawab Daniel.
"Agak di buru, bro." Richard kembali berujar.
"Ok."
Daniel pun menaikkan kecepatan, hingga mobil yang ia kemudikan melaju dengan kencang.
"Mas, mas, mas. Berojol ini mas nanti. Jangan ngebut banget!."
"Oh iya sorry, aku lupa ada kamu. Sorry-sorry." ujar Daniel seraya menurunkan kecepatan.
"Istri segede dugong gini, nggak keliatan." ujar Lea sewot.
"Udah dugong, bunting lagi." lanjut perempuan itu.
Daniel kini sedikit tertawa.
"Iya, iya sorry." ujar Daniel.
Mereka terus menyusuri jalan demi jalan. Kemacetan yang dialami Richard pun berangsur berakhir. Hingga ia kini bisa kembali menaikkan kecepatan.
***
"Ellio."
Pasalnya dihadapan Daniel berdiri tiga orang asisten rumah tangga dengan sapu ijuk di tangannya. Lea yang turut menghentikan langkah di belakang suaminya itu, tampak kaget sekaligus aneh.
Daniel mengangkat kedua tangan, seperti tengah di todongkan senjata api.
"Itu sapu ijuk anjay, bukan AK47." seloroh Lea dengan suara super pelan."
"Ayo Daniel, kamu mau maju menyelamatkan Ellio kan?" tanya ibu Richard kemudian.
Mata Daniel, Richard, dan Lea kini tertuju pada Ellio serta Marsha, yang dikelilingi oleh asisten rumah tangga dengan senjata kemoceng.
Daniel dan Richard tidak mengetahui apakah Marsha juga takut atau tidak pada benda tersebut. Yang jelas perempuan itu kini berada tepat disisi Ellio, yang tengah duduk di sebuah sofa.
"Jangan kayak gini, mi." ujar Daniel seperti meminta dengan sangat.
"Mami kan tau Daniel takut banget sama sapu ijuk."
Lea menahan tawa, begitupula dengan Marsha.
"Mas Dan takut sapu ijuk?" tanya Lea tak percaya.
"Hahahaha, jagoan takut sapu ijuk." seloroh perempuan itu lagi.
Daniel memejamkan mata menahan kesal, sejatinya ia malu sekali hal tersebut diketahui oleh Lea. Namun ia sangat phobia pada salah satu alat rumah tangga itu.
"Pantes di rumah cuma ada vakum cleaner. Ada sapu juga dari plastik bukan ijuk." gumam Lea.
"Mi, tolong stop drama ini. Mami itu bukan tokoh orang tua di drama India. Nggak perlu kayak gini." Richard mencoba menasehati sang ibu.
__ADS_1
"Kamu buruan ke atas, mandi, dan kenakan jas baru yang sudah mami siapkan."
"Tolonglah, mi."
"Papi kamu sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Richard nggak mau, pokoknya bebaskan Ellio dan juga Daniel sekarang?"
"Oh, berani membantah kamu ya."
Para assiten rumah tangga yang mengancam Daniel serta Ellio kini perlahan mendekat.
"Bro." Ellio makin panik.
"Stop...!" ujar Richard kemudian.
"Mami tuh maunya apa sih?"
Ia masih saja bersikeras. karena baginya perjodohan ini merupakan sesuatu sangat bodoh.
"Tinggal nurut aja ke atas, mandi, dan ganti baju. Habis itu tunggu keluarganya Maryam datang."
"Richard nggak mau, udah dibilang kalau Richard punya pacar. Richard akan bawa dia kesini kalau dia lagi libur semesteran nanti."
"Kamu tuh janji-janji doang sama mami. Itu cucu kamu nggak sampai sebulan lagi juga udah berojol. Kalau dia nanya neneknya mana, gimana?" ibu Richard ngomel.
Dari kejauhan tampak Lea di sodori biskuit oleh seorang asisten rumah tangga. Biskuit itu sebelumnya ia lihat berada di dalam toples yang terletak di atas meja. Dalam keadaan ayah, suami, dan omnya terancam, Lea masih memikirkan makan.
"Buruan...!"
"Lepasin mereka dulu." ujar Richard.
"Oh masih ngelawan. Ya udah, Rey..."
Sang ibu memanggil Reynald. Tak lama Reynald muncul dan membawa sebuah berkas.
"Sorry, bro." ujar Reynald seperti tidak enak hati. Pasalnya ia juga takut pada sang ibu, meskipun badannya kekar seperti Richard.
"Kalau kamu nggak nurut, aset-aset kamu akan berpindah jadi milik mami."
"Rey, lo cepu sumpah."
Richard begitu kesal pada Reynald, seakan ingin menyewa venom untuk melahap kakaknya itu.
"Sorry." ujar Reynald sekali lagi.
"Mau naik atau jadi miskin?" ancam sang ibu lagi.
"Iya, iya."
Richard bergegas naik ke atas. Daniel saling melirik dengan Ellio.
"Mi, nasib kita gimana ini?"
"Lea, Marsha. Kalian berdua, sini...!" panggil sang nenek.
Lea dan Marsha pun mendekat.
"Mami akan lepaskan kalian, tapi dengan jaminan Lea dan Marsha tetap disini. Kalau kalian kabur bawa Richie pergi, mami nggak akan memulangkan Lea ataupun Marsha."
Mereka tak punya pilihan lain, sedang Lea cuek saja sebab banyak makanan di sekitarnya. Daniel ingin sekali menimpuk kepala Lea dengan balok kayu. Marsha sendiri memilih menurut saja, toh tak ada kerugian baginya dalam hal ini.
__ADS_1
"Sini kunci mobi kalian, nggak boleh ada yang pergi sebelum Richie ketemu dengan Maryam." pinta ibu Richard.
Akhirnya naik Daniel maupun Ellio sama-sama memberikan kunci mobil. Sementara di dalam kamar, Richard begitu kesal namun tak bisa berbuat apa-apa. Pria itu akhirnya mandi dan berganti pakaian.