
Nadya terus melangkah, namun kemudian langkah itu terhenti. Sebab ia bertemu muka dengan Hanif dan juga Susi.
Kedua belah pihak sama-sama kaget. Bahkan kini Hanif menjadi curiga pada istri pertamanya itu.
"Ngapain kamu disini?" tanya Hanif pada Nadya.
Susi masih bisa menyaksikan kecemburuan di mata Hanif, dan tentu saja ia tak rela akan hal tersebut.
Meski ia tak menyukai pria itu, tetapi ia tetap harus jadi yang nomor satu. Ia tak mau Hanif berubah lembek dan batal cerai dari Nadya.
Sebab Susi ingin menguasai harta sang suami seutuhnya. Memang setelah perceraian nanti diantara mereka ada gono-gini.
Tetapi harta yang akan didapat Hanif setelah menceraikan Nadya nanti, itu sepenuhnya akan jadi milik Susi. Setidaknya itulah isi pikiran dari perempuan tersebut.
"Mas, perut aku tegang rasanya. Pengen duduk banget dari tadi."
Susi seakan tak memberi Nadya kesempatan untuk menjawab pertanyaan Hanif. Nadya pun sudah muak dengan semua ini.
Sementara Hanif masih menunggu jawaban, kini Susi berusaha menariknya agar menjauh dari sang istri pertama.
"Ayo mas, nanti anak kita kenapa-kenapa lagi." ujarnya kemudian.
Mau tidak mau Hanif pun akhirnya menuruti keinginan perempuan tersebut. Mereka menjauh, sedang kini Nadya melanjutkan perjalanan. Ia sudah tidak perduli dan tidak lagi memiliki rasa cemburu sedikitpun pada Hanif.
Rasa cintanya terhadap pria itu benar-benar telah hilang. semua akibat ulah hanif sendiri, yang terlalu sering membagi cinta kesana-kemari. Sehingga kecemburuan yang timbul malah membunuh rasa yang ada dalam diri Nadya.
Ia sudah terlalu sering sakit hati. Hingga ketika sakit hati itu datang dan datang lagi. Ia benar-benar telah kebal dan batinnya tak gampang goyah.
***
"Ngapain sih masih nanyain dia dari mana, kan kalian mau cerai."
Susi menggerutu ketika ia dan Hanif telah jauh.
"Aku cuma pengen tau dia dari mana." jawab Hanif.
"Buat apa?. sepenting itukah?" tanya Susi lagi.
"Ya, aku masih suaminya. Aku berhak dong pengen tau dia darimana dan ngapain aja, sama siapa."
Hanif berkata panjang lebar.
"Kalau gitu kamu masih peduli dong berarti sama dia?"
__ADS_1
Pertanyaan tersebut membuat Hanif menjadi serba salah.
"Kamu mah emang cuma memperhatikan dia doang, mas. Aku nggak jadi ajalah periksa, nggak mood."
Susi berlalu, dan Hanif menyusul.
"Sayang, jangan kayak gitu." ujarnya.
Susi kian mempercepat langkah, Hanif terus menyusul. Namun tak lama kemudian Hanif nyaris bertabrakan dengan Daniel.
"Hei, bro." sapanya pada Daniel dengan nada sedikit terkejut.
"Hei, ngapain disini bro?" tanya Daniel.
"Itu, ngajak si Susi periksa kandungan." jawab Hanif.
"Oh." ucap Daniel.
Ia melihat Susi di kejauhan.
"Lo sendiri ngapain disini. Ngajak istri muda periksa kandungan juga?" canda Hanif.
Maka Daniel pun tertawa.
"Si Richard sakit." lanjutnya kemudian.
"Degh."
Entah mengapa batin Hanif berdetak. Ia langsung menghubungkan Nadya dengan Richard. Waktu itu juga ia ingat Richard dan pria yang ia temui di sekolah Arkana, juga menggunakan mobil serupa.
"Apa mungkin?"
Pikiran Hanif kini berkeliaran.
"Gue ke Richard dulu ya, bro." ujar Daniel.
"Eh, oh, iya bro. Nanti kalau sempat gue mampir. Kamar nomor berapa sih?" tanya Hanif.
Lalu Daniel pun menjawab.
"Oke deh, salam buat Richard." ujar Hanif.
"Sip." jawab Daniel.
__ADS_1
Maka mereka pun berhenti sampai disitu dan berpisah. Hanif kembali mengejar Susi, sedang Daniel menemui sang ayah mertua.
***
"Beneran bu, hampir ketahuan?"
Putri yang ditelpon oleh Nadya kini kaget.
"Beneran Put, untung mas Hanif nggak ngeliat aku keluar dari sana." ucap Nadya.
"Ya udah bu, buruan pulang!" ujar Putri.
"Iya, ini taksinya udah sampe." jawab Nadya.
Maka wanita itu pun naik taksi online yang ia pesan. Tanpa ia sadari di balik tembok, tak jauh dari tempat dimana tadi ia berdiri, Susi ada dan mendengar sebagian dari isi percakapan.
Ia menafsir Nadya dari bertemu dengan seseorang. Tapi mengenai siapa orangnya, Susi tidak tau pasti.
"Kamu disini."
Hanif menemukan istri ketiganya itu, dan Susi kembali pada mode ngambek. Hanif kemudian berusaha keras membujuk perempuan itu, untuk mau kembali ke arah tempat praktek dokter kandungan.
Awalnya Susi masih bersikeras, namun lama kelamaan ia luluh juga. Dan setelah tak ada lagi masalah, ia mulai menggosipkan Nadya berdasarkan apa yang tadi sempat ia dengar dari wanita itu.
"Apa?. Dia menemui seseorang disini?" tanya Hanif pada Susi.
"Iya mas, dan orang itu kayaknya sangat dia rahasiakan." ujar Susi lagi.
Nada bicara perempuan itu sangat mampu menyulut emosi dalam jiwa Hanif.
"Brengsek, belum cerai aja udah berani dia." gerutu pria itu.
Sementara Susi si mulut ember senang mendengar hal tersebut. Ia ingin membuat Hanif makin benci pada Nadya.
"Harusnya kan dia jaga dulu sampai proses sidang selesai."
Perempuan tersebut semakin kompor dan Hanif terbakar jengot serta ubun-ubun di kepalanya.
"Degh."
Kembali batinnya menghubungkan dengan Richard. Dan entah mengapa saja pikiran itu tiba-tiba terlintas, tetapi ia tak memiliki bukti kuat untuk menuduh.
Dan lagipula jika dugaanya salah, ia akan malu sudah menuduh mertua dari Daniel tersebut berbuat macam-macam dengan istrinya.
__ADS_1
***