
"Marsha."
Lea mencegat Marsha pada keesokan harinya, saat gadis itu berjalan menuju halte bus. Marsha melihat Lea dan berlalu, namun Lea menghalangi langkahnya.
"Gue minta maaf."
Kali ini Marsha menatap Lea dan berujar.
"Gue bisa aja bales lo waktu itu, gue lebih tinggi dari lo dan punya basic bela diri. Tapi gue nggak menggunakan semua itu, karena gue nggak barbar kayak lo."
Lea terdiam, namun matanya terus menatap Marsha.
"Gue minta maaf." ujar Lea sekali lagi.
"Lo nggak perlu minta maaf sama gue, lo minta maaf aja sama laki lo. Istri macam apa yang tega mempermalukan suaminya sendiri di muka umum."
"Gue tau gue istri yang buruk, dan saat ini gue sedang mencoba memperbaiki satu persatu. Makanya gue dateng dan mau minta maaf sama lo."
"Gue akan lupain itu koq. Lagipula malam itu, gue nggak tau apa yang terjadi. Gue sama pak Dan sedang ada di sebuah pertemuan, gue nerima telpon dan menjauh. Tiba-tiba kepala gue dipukul seseorang, dan gue nggak sadar lagi apa yang terjadi selanjutnya. Kenapa pak Dan yang bawa gue, karena saat itu dia yang pertama ngeliat gue. Itu menurut cerita pak Yohan dan Stefan."
Marsha berlalu, namun kemudian ia menghentikan langkah dan kembali menatap Lea.
"Lo setiap hari sama pak Daniel, lo hidup sama dia satu atap. Dan lo juga tidur sama dia." ujar Marsha kemudian.
"Masa iya lo nggak tau, sifat suami lo sendiri. Sampe lo segitu nggak percayanya sama dia." lanjutnya lagi.
Kali ini Lea benar-benar tenggelam dalam diam.
"Pak Daniel, nggak pernah sekalipun nggak inget sama lo. Tiap kami jalan kemanapun, dia selalu inget buat beliin lo sesuatu. Entah itu cuma sekedar jepit rambut seharga 2000 perak, atau bahkan barang mahal sekalipun. Dia selalu tanya ke gue, apa cewek seumur lo bakalan suka kalau dikasih ini dan itu. Dia tunjukin barangnya ke gue, dia minta pendapat gue. Sepanjang kami di sana, nggak pernah sehari pun dia nggak nyebut nama lo. Entah itu sengaja atau dia keceplosan. Lo ada dalam hati dia, dan lo tega nuduh dia selingkuh dari lo. Lo juga mempermalukan gue di depan orang banyak. Bohong kalau cewek normal kayak gue nggak kagum sama pak Daniel, tapi bukan berarti gue mau merusak rumah tangga orang. Gue sempat terpengaruh sama ucapan Clarissa, tapi gue cepat menarik diri."
Marsha berlalu meninggalkan tempat itu, tinggal lah Lea terpaku dalam kebekuan yang mendalam.
Saat tiba dirumah, ia masuk ke kamar Daniel. Benar apa yang dikatakan Marsha. Ia menemukan beberapa pernik seperti jepit rambut, dan juga sebuah anting dalam jewelry box yang tampaknya cukup mahal. Hati Lea semakin seperti di remas-remas, rasa bersalahnya pada Daniel kian meningkat.
"Ngapain kamu disitu?"
Tiba-tiba Daniel muncul dan berbicara dengan nada ketus pada Lea. Lea sendiri terkejut karena tak menyangka suaminya akan pulang cukup cepat.
"Mas, aku..."
"Keluar...!"
"Mas."
Daniel mengarahkan tangannya ke arah pintu, dengan berat hati Lea pun akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
***
"Lo kasih tau aja Le, kalau lo hamil."
Nina berujar pada keesokan harinya, ketika Lea akhirnya bercerita panjang lebar mengenai sikap Daniel padanya semalam.
"Nggak mau, Nin. Gue nggak mau di maklumi hanya karena dia kasihan, sama anaknya yang ada di perut gue. Gue mau dia maafin gue karena memang dia mau memaafkan, bukan karena anaknya."
"Iya sih, kalau gitu jatuhnya nggak tulus dong ya. Dia mikirin anaknya, tapi nggak mikirin perasaan elo."
"Makanya, gue tunggu aja sampai dia bener-bener maafin gue. Baru gue kasih tau kalau gue hamil."
"Tapi emang lo sanggup di cuekin terus, gue aja dengernya nggak enak hati."
"Udah tenang aja, gue strong koq. Unstoppable, Sia gue. Sianying." ujar Lea.
Nina ingin bersimpati, namun ia tertawa melihat ekspresi wajah Lea yang menurutnya lucu.
"Lo lagi banyak masalah, masih sempat-sempatnya ya bikin gue ketawa."
Lea ikut tertawa sambil berujar.
"Gue tuh pengen banget nangis, Nin. Tapi kasian anak gue, kalau gue sedih."
Lagi-lagi Nina tertawa.
"Lea."
"Iqbal?"
Tiba-tiba Iqbal muncul lagi dihadapan Lea dan juga Nina. Sama persis seperti kemarin, bedanya hanya hari ini ia sendirian.
"Le, gue mau minta maaf soal kemaren. Gue udah marah sama lo dan bikin lo jadi bingung. Tapi itu semua...."
"Gue ngerti, Bal." Lea menyela ucapan Iqbal.
"Gue tau lo suka sama gue, Adisty sama Ariana udah ceritain semuanya ke gue. Tapi maaf banget, gue udah nikah."
Iqbal diam, lalu menghela nafas panjang.
"Gue ngerti koq, Le. Gue udah di nasehati oleh Rama dan juga Dani. Gue nggak akan maksa lo supaya membalas cinta gue, yang jelas gue emang beneran suka sama lo."
"Gue nggak bisa menghalangi lo soal itu." ujar Lea.
"Gue mau kita jangan jadi canggung, maunya tetap berteman. Apapun yang terjadi." ujar Iqbal.
__ADS_1
"Gue juga nggak mau kali, Bal. Diem-dieman, musuhan, cuma karena hal ini."
Iqbal tersenyum tipis, begitupun dengan Lea.
"Gue mau ngajak lo sama Nina makan, mau nggak?"
"Mau, mau, mau."
Nina berujar bahkan sebelum Lea menjawab. Ia berkata dengan nada yang begitu bersemangat.
"Nin, lo kayak orang nggak pernah makan deh." Lea melotot pada Nina, membuat Iqbal kini tertawa.
"Ayo Le, Nina udah mau tuh." ujar Iqbal lagi.
"Iya Le, ayo. Rejeki jangan ditolak." ujar Nina.
"Hmm ya udah deh, ayok." Lea akhirnya menyetujui.
Iqbal pun mengajak kedua perempuan hamil muda itu untuk makan, di sana keduanya memesan cukup banyak makanan. Iqbal senang, karena luka hatinya kini terobati.
Ia ingin berdamai dengan keadaan dan menerima kenyataan. Bahwa orang yang ia cintai tak bisa ia miliki. Namun Iqbal masih bisa berada di dekatnya dan membagi kebahagiaan dengannya.
***
Sementara di kantor.
Daniel menghampiri Clarissa di sebuah tempat yang cukup sepi. Tatkala mantan orang terdekatnya itu tengah berjalan, sehabis membeli sesuatu di depan kantor. Daniel menyudutkan Clarissa ke dinding dan mencekik lehernya, meski tidak kuat.
"Kenapa Dan?" Clarissa tersenyum jumawa, meski telah terdesak.
"Kaget dengan permainan aku?" lanjutnya lagi.
"Sekali lagi kamu berulah, aku nggak akan segan mematahkan leher kamu." ujar Daniel dengan suara sangat pelan, namun penuh penekanan dan kemarahan.
"Kenapa?."
"Kalau memang kamu nggak memiliki rasa dengan sekretaris kamu itu, kenapa mesti marah."
Daniel mengencangkan cekikan tangannya, hingga Clarissa kesulitan bernafas.
"Katakan apa mau kamu, kamu mau aku keluarkan dari pekerjaan?"
"Oh silahkan, semua orang di kantor kamu akan tau kalau kamu pernah dekat dengan aku. Dan aku tinggal mengarang cerita yang nggak-nggak, semua orang akan percaya sama aku karena aku perempuan."
"Aku nggak takut sedikitpun dengan kamu, silahkan berbuat sesuka kamu. Dan aku akan membalas kamu dengan cara aku."
__ADS_1
Daniel menghempaskan Clarissa hingga perempuan itu tersentak ke dinding, tak lama kemudian Daniel pergi meninggalkan tempat itu.