
Clarissa gemetaran, ia seperti tengah berdiri di sebuah panggung penghakiman. Dimana ia tengah menunggu vonis dan eksekusi. Ia benar-benar tak menyangka Daniel akan selicik itu.
Ia sudah mengira jika Daniel adalah pria bodoh, yang tak mau mencari masalah terlalu banyak dengan wanita. Ia pikir Daniel hanya bisa marah dan mengancam saja, tapi tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya. Namun kali ini, semuanya menjadi kacau.
Clarissa menatap Daniel, sedang pria itu tersenyum penuh kemenangan. Clarissa pun akhirnya berlalu dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Gimana rasanya, nama kamu ikut tercoreng?"
Daniel mendadak muncul di belakang Clarissa, yang kini hendak menunggu taxi online. Clarissa terkejut, namun ia tak berani menoleh ataupun menatap Daniel. Ia terus melihat ke arah handphone.
"Asal kamu tau Clarissa, aku tidak pernah mencintai kamu. Saat itu aku hanya mencoba, tetapi sayangnya aku serius. Serius untuk mencoba jatuh cinta sama kamu dan kamu kecewakan aku. Aku memaafkan kamu, aku terima kalau kamu sama orang lain. Tapi kenapa akhirnya kamu memfitnah aku demi rencana kamu?"
Clarissa benar-benar membeku, ia tak menjawab sepatah katapun.
"Aku tunggu permintaan maaf kamu di depan seluruh karyawan kantor. Karena saat ini mereka juga sudah mendengar rekaman suara kamu."
Daniel beranjak, namun kemudian ia menghentikan langkah dan kembali menoleh.
"Oh ya satu lagi, saya tunggu surat resign dari kamu. Kecuali kamu mau bekerja dibawah hujatan orang kantor."
Daniel benar-benar berlalu, tinggalah kini Clarissa terpaku dalam bisu.
***
Daniel kembali ke dalam acara, semua bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Malah kini jadi lebih banyak yang mengajaknya berbicara. Mereka pun kembali tertawa-tawa.
Lalu dalam sebuah kesempatan, si empunya acara pergi ke dekat mikrofon yang semula dipakai oleh penyanyi dan grup musik untuk menghibur mereka.
"Selamat sore semuanya." ujar si pemilik acara tersebut dengan nada ramah.
"Sore." ujar yang lainnya menjawab.
Sedang Daniel dan Ellio serta beberapa orang lain mengangkat gelasnya.
"Well, karena hari ini saya sedang senang. Saya mau menantang kalian, untuk adu minum. Kalian boleh memilih lawan diantara siapapun yang hadir disini. Hadiahnya, silahkan pilih satu dari koleksi mobil saya."
Hadirin bertepuk tangan dan bersorak Sorai, sedang Daniel tetap setia menunjukkan sikapnya yang cool."
"Ok, silahkan cek nomor yang ada di bawah gelas kalian." ujar si empunya acara kemudian.
Daniel dan Ellio terdiam, begitupula dengan hadirin yang tengah memegang gelas. Mereka baru menyadari jika ada stiker yang di tempel di bawah kaki gelas.
__ADS_1
"****." ujar Daniel seraya tertawa, ternyata ia memiliki nomor pertama.
"Terima, Dan." teriak yang lainnya.
"Ambil Dan, sikat." teriak yang lainnya lagi hingga bersahut-sahutan, suasana pun menjadi riuh. Daniel lalu maju ke dekat si empunya pesta.
"Lo silahkan pilih siapa lawan lo, nanti tinggal di coret dua nomor. Nomor lo dan nomor lawan lo itu. Siapa yang menang, akan di adu dengan pemenang lain nantinya."
Daniel tak bisa menolak, meski ia sendiri sudah berjanji ingin mengurangi konsumsi alkohol. Namun dalam suasana seperti ini, tak sopan menolak keinginan yang punya acara. Akhirnya Daniel menyetujui, dan ia pun diminta memilih lawan.
"Ok, sebelum saya memilih lawan. Saya mau menceritakan beberapa hal kepada kalian." Semua mata mulai tertuju pada Daniel.
"First, I'm merried now."
Mendadak semuanya terdiam, terutama para wanita yang masih mengharapkan Daniel.
"Se, serius?" ujar mereka semua dengan nada terkejut, sekaligus syok. Beberapa diantaranya memegang dada, saking sesaknya mendengar berita tersebut.
Cukup lama semuanya hening, sampai kemudian Ellio bersorak dan bertepuk tangan. Para bos yang hadir ikut bertepuk tangan dan gembira untuk itu, kecuali Richard. Sedang para wanita bertepuk tangan untuk sekedar meramaikan, dalam hati mereka masih kecewa.
"Kenapa istri lo nggak diajak, bro?" teriak salah seorang rekan sesama bos.
Daniel menjeda ucapannya lalu tersenyum.
"Dia sedang hamil." lanjutnya kemudian.
Wanita-wanita kembali syok dibuatnya, sedang para lelaki terlihat kaget namun senang.
"Oh my God, selamat Dan." ujar si empunya acara, begitupun dengan yang lain.
Lagi-lagi Richard hanya diam dan terlihat gusar. Sedang wanita-wanita seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
"Thanks untuk semuanya yang turut berbahagia untuk kami, tapi saat ini saya tidak bisa menemui istri saya. Istri saya baru bertemu dengan ayah kandungnya dan orang itu ternyata Richard."
Lagi dan lagi hadirin dibuat tercengang oleh pernyataan Daniel. Mereka kini lebih serius memperhatikan pria itu, dan juga Richard.
"Kami mengalami salah paham yang besar, dan Richard menjauhkan anaknya dari saya."
"Bro, sorry. Dia masih di bawah umur?" tanya salah seorang hadirin.
"Dia 17 jalan 18, but I love her so much."
__ADS_1
"Oh, ok."
Mereka semua lega, karena menilik dari usia Richard. Mereka khawatir usia anak Richard tersebut masih dibawah 17 tahun l, atau bahkan dibawah 15 tahun. Jika iya, mereka akan siap marah pada Daniel serta melaporkannya ke pihak yang berwajib.
"Hari ini saya mau menantang Richard, untuk minum dengan saya. Kalau saya kalah, saya siap dengan segala permintaannya untuk istri saya. Termasuk meninggalkannya, seperti yang Richard inginkan."
"Oh, why?"
"Kenapa seperti itu?"
"What the hell are you doing, Richard?"
Orang-orang mulai membuat Richard terdesak dan terdiam. Sedang hati Richard mendadak terbakar.
"Tenang." ujar Daniel kemudian.
"Sebagai ayah dia tidak salah, dia hanya coba melindungi anaknya. Yang salah adalah orang yang menciptakan kesalahpahaman diantara kami. Maka dari itu saya mau menantang Richard. Kalau saya menang, dia harus bersedia mengembalikan istri saya."
Semua mata kini tertuju pada Richard, sahabat Daniel itu kini seolah naik pitam.
"Lo mempertaruhkan anak gue dengan alkohol?" ujar Richard dengan nada sinis.
"Karena kita sedang berada dalam permainan Liem." ujar Daniel seraya melirik Liem si pemilik pesta, lalu kembali menatap Richard.
Nafas Richard terdengar begitu memburu.
"Kalau lo menolak, berarti lo juga menolak bernegosiasi. Setelah gue datang dengan cara baik-baik, tapi lo tolak mentah-mentah waktu itu."
Semua mata kembali tertuju pada Richard. Jika ia tidak menerima tantangan ini, tentu saja itu merupakan sebuah sikap yang pengecut.
"Baik, tapi gue nggak mau hanya satu pertandingan ini." ujar Richard.
Daniel menatap sahabatnya itu.
"Gue mau kita bertanding di arena balap dan sparing di ring. Dengan disaksikan semua orang yang ada disini. Kalau lo setuju, hari ini kita mulai minum. Besok kita bertemu di sirkuit balap dan lusa kita bertemu di ring."
"Deal." ujar Daniel dengan penuh keberanian.
Hadirin pun antusias, seketika suasana yang tegang kembali mencair. Meski Daniel dan Richard masih saling melempar tatapan yang kurang menyenangkan.
Kini mereka akan menghadapi pertandingan yang pertama, yakni minum sebanyak mungkin. Sesuai apa yang diinginkan si pemilik pesta. Siapa yang paling banyak, dan tidak tumbang. Maka ialah yang akan menjadi pemenangnya.
__ADS_1