Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mulai Cemburu


__ADS_3

"Menurut aku sih aneh aja mas. Waktu suaminya datang itu, dia langsung nanyain kondisi bayi yang ada di kandungan Nina. Pas dibolehin masuk, suaminya malah marah-marah ke Nina."


"Marah-marah?" tanya Daniel. Ia kini tengah berada di dalam bathub, berendam air hangat bersama Lea.


"Iya mas, dia bilang kenapa bisa pendarahan. Kamu ngapain aja, makanya jangan terlalu capek atau apa. Intinya dia nyalahin Nina, tanpa bertanya dulu Nina tuh ada masalah apa. Pokoknya dari cara dia ngomong dan marah itu, dia cuma fokus di bayinya. Dia kayak nggak peduli sama Nina."


Daniel diam mendengarkan, sementara Lea terus bicara.


"Kalau aku jadi Nina, udah aku tinggalin laki-laki kayak gitu."


"Kan lagi hamil, nggak boleh cerai." ujar Daniel.


"Bodo amat, daripada cuma dianggap pabrik anak."


Daniel tertawa.


"Kami ini manusia loh mas, punya hati dan perasaan. Perasaan kami juga sangat penting. Kalau perasaan kami nggak dijaga, gimana kami bisa mengandung anak dengan baik?"


"Iya." ujar Daniel seraya membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.


Kemudian ia memeluk Lea dari belakang dan mengelus perut istrinya itu dengan lembut.


"Mama nya harus bahagia, ya nak ya?" Daniel seolah berbicara pada bayinya.


Lea menengadahkan kepala, meminta bibirnya disambut oleh sang suami. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Daniel pun menangkup bibir istrinya itu dan mereka lalu berciuman.


"Brrrr."


Daniel merasakan seperti ada getaran di perut istrinya.


"Lea itu tadi apa?. Koq kayak bergetar gitu?" tanya Daniel terkejut, sekaligus heran.


Lea tersenyum, bahkan tertawa kecil.


"Itu dia udah mulai ada pergerakan mas."


"Oh ya?"


"Emang mas nggak tau?"


"Nggak." ujar Daniel dengan ekspresi wajah yang masih heran, namun terlihat bahagia.


"Jadi kadang udah kerasa kayak bergetar gitu mas. Kadang sebentar, kadang juga agak lama."


Daniel tertawa, meski wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang kaget sekaligus belum percaya. Ia kembali menyentuh perut Lea dan memberikan usapan di sana. Lagi-lagi ia merasakan getaran tersebut.


"Lea, dia getar lagi."

__ADS_1


"Iya mas." ujar Lea seraya masih tertawa.


Dalam sekejap topik obrolan mereka pun beralih. Daniel dan Lea jadi lebih fokus kepada bayi yang ada di dalam.


***


"Istri dan anakmu meneror aku, mas."


Mami Bianca bercerita pada sugar daddy nya, yang tiada lain adalah ayah Rangga. Mereka baru saja selesai bercinta di apartemen mewah milik mami Bianca. Tentu saja apartemen itu hadiah dari ayah Rangga, yang tak diketahui baik istri maupun anaknya.


"Aku akan mencari cara, agar mereka berhenti mengganggu kamu dan calon anak kita." ujar Ayah Rangga pada Bianca.


Wanita itu pun mencoba tersenyum, dalam hatinya ia merasa begitu menang. Kecantikan dan kemudaan usia yang ia miliki, akan sanggup menggeser posisi istri sah dari sugar daddy nya tersebut.


Saat ini ia tengah menghadapi gelombang protes dan pengaduan dari banyak sugar baby binaannya. Maka mami Bianca ingin memperkuat posisinya sebagai orang terkasih di hati ayah Rangga. Sebab ayah Rangga kaya-raya, pria itu pasti akan membantu mami Bianca dalam menghadapi berbagai masalah.


***


"Rangga?"


Lea terkejut dengan kehadiran pemuda itu secara tiba-tiba, di depan matanya. Setelah sekian lama mereka tak pernah bertemu. Rangga menempuh pendidikan di kampus lain, dan lagi Lea tak pernah kepo pada kehidupan pemuda itu. Meski sosial media mereka berteman.


"Aku mau bicara sama kamu." ujar Rangga seraya memperhatikan perut Lea. Ia jadi tahu jika saat ini mantan kekasihnya itu sedang hamil.


"So, soal apa?" Lea balik bertanya.


Ia seorang laki-laki dan tengah berada di muka umum. Mustahil baginya untuk menunjukkan ekspresi marah yang berlebihan. Meski sejatinya saat menyebut nama Bianca tadi, ingin sekali ia memaki dengan suara keras. Ia terlalu mendendam pada nama itu. Ada dan tiada orang tersebut di hadapannya, kemarahan itu jelas terasa.


"Aku nggak tau persis soal apa dan siapa dia, Rangga."


Lea akhirnya menjelaskan, mereka kini telah beralih ke kantin kampus dan kebetulan keadaan tempat tersebut cukup sepi.


"Dulu waktu di agency, dia juga paling muncul sesekali. Cuma gosip yang beredar adalah, mami Bianca punya pacar orang kaya-raya. Tapi kami nggak tau persis orang kaya itu siapa, single atau nggak. Kami cuma fokus sama tujuan kami saat itu."


Rangga diam, ia membuang sejenak pandangannya ke arah lain.


"Kamu tau dimana dia tinggal?" tanya nya lagi.


Lea menggeleng.


"Hampir setiap hari kami liat dia ada di agency. Tapi nggak tau juga, sisanya dia tinggal dimana. Katanya sih dia punya apartemen mewah di The Royal Mansion."


Rangga menatap Lea, ia terkejut mendengar pernyataan tersebut. Sebab ibunya juga memiliki apartemen di tempat itu, sebagai hadiah ulang tahun dari sang ayah. Jangan-jangan sang ayah juga memberikannya untuk Bianca.


"Sorry Rangga, aku turut prihatin dengan apa yang terjadi." ujar Lea lagi.


Rangga mengangguk.

__ADS_1


"Maafin atas semua perlakuan keluarga aku ke kamu." tukasnya kemudian.


Kali ini Lea yang mengangguk.


"Aku udah ngelupain semua itu koq." ujarnya lalu tersenyum sangat tipis.


Sementara di suatu area, Daniel tampak berjalan dan matanya menjelajah ke sana kemari, ia mencari dimana Lea berada. Ia datang ke kampus ini untuk memberi kejutan pada istrinya tersebut. Setelah sebelumnya ia mengatakan pada Lea, bahwa kemungkinan ia akan pulang sangat larut.


Ia ingin mengajak Lea makan malam. Dengan bertanya pada Adisty, tentang dimana keberadaan Lea. Daniel pun kini menuju ke sebuah arah.


"Lea katanya di kantin mas."


Adisty mengirim pesan pada Daniel. Adisty sendiri tak mengetahui jika Lea di kantin bersama dengan Rangga.


"Kantinnya sebelah mana?" balas Daniel.


Maka Adisty pun memberitahu secara detail, tentang dimana kantin kampus mereka tersebut berada. Akhirnya Daniel pun menuju ke tempat tersebut, ia sudah berfikir untuk mengagetkan Lea. Namun ternyata ia yang kaget, karena melihat Lea tengah duduk bersama Rangga.


"Lea?"


Daniel menyapa istrinya tersebut, seraya mendekat. Lea dan Rangga serentak menoleh, keduanya tampak begitu terkejut.


"Mas Daniel?"


Jantung Lea serasa mau lepas, ia kini tampak gemetaran.


"Mmm, Lea. Aku nggak bisa lama-lama, karena ada urusan lain." ujar Rangga lalu beranjak.


"Oh, ok." ujar Lea dengan nada terbata-bata.


"Permisi."


Rangga menatap Lea dan juga Daniel, kemudian pemuda itu pun pergi. Tinggallah Lea kini menghadapi tatapan dari sang suami.


"Mas katanya pulang malem?" tanya Lea dengan nada masih takut-takut. Suasana sudah terlanjur canggung dan kini coba untuk ia normalkan kembali meski sulit.


"Mmm, sebenarnya aku mau kasih surprise aja sih. Tadi tuh aku ngeprank kamu soal pulang larut malam. Aku sengaja datang buat ngajak kamu dinner."


Daniel berujar seraya menghela nafas dan menahan rasa tak nyaman di hatinya. Entah mengapa ia merasakan cemburu pada Rangga, meski ia tak akan pernah mengakuinya di hadapan Lea. Ia tak ingin terkesan kalah dari bocah seperti Rangga.


"Aku juga tadi nggak sengaja mas, ketemu dia. Dia, dia tiba-tiba aja ada disini. Dia mau nanyain soal selingkuhan papanya. Dia tau aku dari SB Agency dan pernah berurusan sama mami Bianca."


Daniel mengangguk, meski hatinya masih terbakar.


"Kita jalan sekarang aja yuk...!" ajaknya kemudian.


Lea mengangguk, dan kini mereka menuju ke area parkir.

__ADS_1


__ADS_2