Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Delil Lagi


__ADS_3

"Delil, aku kangen."


Lea yang baru pulang dari kampus itu langsung menghampiri Darriel yang tengah berada di ayunan elektrik.


"Hokhoaaa." Ia bersuara lalu tersenyum.


"Tumben kamu nggak mengidentifikasi muka mama lama-lama dulu. Terus baru ketawa dan baru bersuara." ucap Lea.


"Hokhoaaa."


"Udah semakin mengenal mama ya?"


Lea menggelitik Darriel.


"Udah makin mengenal, iya?"


"Heheee."


"Gembul banget kamu ya, ada lesung pipinya lagi. Anak mama ganteng, Delil-nya mama ganteng."


"Heheee."


"Brooot."


Terdengar sebuah suara diikuti bau yang cukup menyengat.


"Delil, kamu kentut?"


"Heheee."


"Brooot."


"Hmm, e'ek kamu ya?"


"Heheee."


"Hehe, hehe. Mama baru pulang loh, nak. Udah di kasih doorprize berupa e'ek. Mending wangi, busuk tau nggak kamu."


Lea berujar gemas. Darriel tampak mengerutkan kening dan mengeluarkan apa yang hendak ia keluarkan. Kemudian,


"Heheee."


Ia kembali tertawa.


"Ketawa lagi kamu. Orang tuh dari tadi sebelum mama pulang, jadinya kamu udah bersih, mama tinggal gendong kamu. Ini kamu ya, ngerjain mama."


"Hokhoaaa."


"Ya udah lanjutin dulu, nanti mama bersihin."


"Lea mengambil handphone dan merekam Darriel. Lalu mengirimnya pada Daniel."


"Mamanya pulang, dia baru pup. Kan nyebelin ya?. Kenapa nggak dari tadi aja, bisa diurus sama mbak."


"Wkwkkwk." Daniel balas dengan menertawai Lea.


"Sabar ya, bund. Jadi emak-emak emang gitu bund. Wkwkwkwk."


"Awas kamu ya mas, semoga kamu di kerjain Darriel juga suatu saat."


"Nggak apa-apa, biasa juga aku yang bersihin dia." ujar Daniel.


Perkataan tersebut tidaklah bohong. Lebih banyak Daniel yang membersihkan Darriel ketimbang Lea. Ia bukan tipikal ayah yang hanya menyandang status ayah. Yang hanya berfokus mencari uang semata.


Ia adalah ayah yang menjalankan fungsi dan perannya sebagai ayah secara penuh. Ia juga turut mengasuh, memandikan, bahkan membersihkan dan mengajak Darriel bermain.

__ADS_1


"Hekheee."


Tiba-tiba Darriel menangis. Karena ia sudah merasa risih dengan popoknya yang penuh. Lea meletakkan handphone lalu mengurus dan membersihkan anak itu. Darriel menangis kencang seperti orang yang disiksa.


"Biasa aja kali nak, nangisnya. Emang kamu mama apain coba?. Telat dikit aja, nangis sampe segininya."


Lea membersihkan sang anak sambil mengoceh. Setelah semuanya Clear, tangis Darriel pun mulai mereda. Lea lalu memberi bayi itu ASI. Setelah kenyang ia kembali diam, lalu tertawa-tawa.


"Ketawa kamu pas udah kenyang ya. Tadi aja kayak di urus sama ibu tiri jahat."


"Heheee."


"Hehe, hehe mulu. Bisanya cuma hehe-hehe." Lea mencium pipi anaknya itu.


Darriel mengangkat tangan dan memegang kedua belah pipi sang ibu. Terasa ada kedamaian di sana, ketika ditatap oleh seorang anak yang belum berdosa.


"Darriel sayang mama?" tanya Lea kemudian.


Darriel diam, namun kemudian ia tersenyum.


"Mama juga sayang Darriel, papa sayang Darriel, papa Rich, om Ellio juga sayang Darriel. Semua sayang Darriel, seluruh dunia sayang Darriel."


"Heheee."


"Bobok yuk!" ajak Lea.


Namun bayi itu masih ingin membuka mata. Lea menghidupkan lagu lullaby di handphonenya melalui YouTube. Tak lama bayi itu pun mulai meredup, dan akhirnya tertidur dengan lelap.


***


"Bro, lo berdua nanti duluan aja ke tempatnya si Hanif. Gue mau nganter Marsha dulu soalnya." ucap Ellio pada Richard dan juga Daniel, yang sudah bersiap untuk berangkat, ke acara resepsi pernikahan ketiga Hanif.


"Marsha nggak ikut?" tanya Daniel.


"Mana mau dia, emosi katanya." ucap Ellio sambil tertawa.


"Tau cewek-cewek, pada nggak ngerti gue. Yang kawin lagi siapa, ngocehnya ke siapa." ujar Ellio lagi.


"Biasalah, bro. Kita kan selalu kena imbasnya." ujar Daniel.


"Makanya jomblo kayak gue. Nggak ada yang ngocehin." ujar Richard.


"Tapi nggak ada yang membelai otong kalau malam." ledek Ellio.


"Belai aja sendiri, ribet banget." Richard berkata dengan nada sewot. Sementara Ellio dan Daniel kini tertawa-tawa.


"Ya udah, bro. Gue balik dulu ya." ujar Ellio.


"Iya, hati-hati." ujar Daniel dan Richard di waktu yang nyaris bersamaan.


Ellio dan marsha beranjak, sedang Daniel kini meraih handphone dan menghubungi Lea. Saat itu Lea tengah menonton drakor sambil makan mie instan.


"Apa mas?" tanya Lea.


"Udah pulang, Le?" Daniel balik bertanya.


"Udah." jawab Lea lalu menyeruput mie yang ada dihadapannya.


"Sluuuurp."


"Lagi apa sih kamu?. Makan ya?" tanya Daniel lagi.


"Iya, makan mie sambil nonton drakor. Kenapa mas?"


"Kamu beneran nggak mau ikut ke acara nikahannya teman aku?"

__ADS_1


"Nggak ah, ngapain."


"Ya ngapain kek, makan gitu disana."


"Kagak bakal ketelen, mas. Paling udah emosi duluan ngeliat teman mas itu. Apalagi ngeliat muka si pelakor, pasti bawaannya pengen tendang."


Daniel tertawa.


"Galak banget emaknya Darriel." ujarnya kemudian.


"Bukan cuma aku aja, mas. Sesama perempuan yang bukan pelakor, pasti emosi. Kecuali sama-sama pelakor, pasti saling mendukung." ujar Lea lagi.


"Ya udah deh kalau kamu nggak mau ikut. Darriel mana?"


"Tidur, udah dari tadi."


"Dari abis pup tadi?"


"Iya, langsung aku kasih ASI abis di bersihin. Tidur deh nggak lama dari situ.


"Oh oke lah kalau gitu. Aku jalan dulu sama Richard."


"Mau langsung ke sana?"


"Iya."


"Kasih amplop nggak mas kesana?"


"Iyalah namanya juga kondangan. Mau orang kaya sekalipun banyak yang masih pake kotak amplop."


"Ya udah request jangan kasih duit mas." ujar Lea.


"Terus apa dong?" tanya Daniel


"Apa kek, teluh kek, jimat dukun gitu. Biar acara kawinannya diterpa badai."


"Ya jangan dong, kan aku datang disitu." ujar Daniel sambil tertawa.


"Kalau ada badai, aku ikut kena." ujarnya lagi.


"Iya juga ya, hahaha." Kali ini Lea yang tertawa.


Tak lama Daniel pun berpamitan pada istrinya itu. Sementara Lea lanjut menonton drakor dan kini ia makan corn dog yang di pesan dari ojek online.


***


Sementara di jalan pulang, Ellio mendapat nasehat dan wejangan dari Marsha. Namun caranya menyampaikan lebih mirip emak-emak yang tengah emosi, akibat kurang duit belanja.


"Awas ya, pak. Kalau sampai pulang dari tempat Hanif, bapak jadi berpikiran untuk punya bini lagi."


"Nggak, Sha. Kamu harus percaya semua cowok tuh nggak sama."


"Tapi kan dulu bapak playboy."


"Dan aku udah bosan untuk itu." Ellio berkata dan membuat Marsha terdiam.


"Makanya aku nikah, karena aku udah bosan jadi playboy. Aku playboy bukan peselingkuh. Kalau lagi ada pacar, aku nggak selingkuh. Cuma hubungan aku aja nggak bisa lama, akhirnya aku cari pacar baru dan gitu terus."


Marsha diam.


"Aku tuh rasa mau bejek-bejek si Hanif tau nggak. Dasar banyak tingkah, sok kegantengan. Apa dia nggak pernah ngaca gitu sesekali. Muka dia itu kayak gagang sapu ijuk."


Ellio menahan tawa.


"Sabar, kasihan nih dedeknya di dalam. Mamanya marah terus.

__ADS_1


"Kesel pokoknya." ujar Marsha lagi.


__ADS_2