Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Masih di Pesta Kecil (Extra Part)


__ADS_3

Hari itu teman-teman kampus Lea pun datang. Mereka sama memberi selamat pada ibu Lea dan juga ayah Leo. Sama seperti undangan yang lainnya, mereka pun lalu menikmati hidangan yang tersedia. Lea kemudian mendekat dan mereka saling berbincang satu sama lain.


"Darriel mana, Le?" tanya Iqbal pada Lea.


"Noh di bapaknya."


Lea menunjuk ke suatu arah. Tempat dimana Daniel tengah menggendong anak itu sambil memakan es krim. Darriel tampak memperhatikan Daniel sambil menelan ludah sesekali.


"Hei, pengen ya." ucap Ellio dengan nada menggoda.


Darriel kembali menelan ludahnya dengan tatapan penuh harap. Ellio tertawa, begitupula dengan Daniel.


"Cepet gede makanya, biar bisa makan es krim." tukas Daniel.


"Hokhoaaa." Darriel bersuara.


"Nih."


Daniel mendekatkan es krim tersebut, sementara Darriel membuka mulut dengan penuh harap. Namun kemudian ia dibohongi.


Daniel dan Ellio kembali tertawa melihat ekspresi Darriel yang bengong. Tak lama kemudian Darriel pun menangis lalu diberi susu oleh sang ayah. Sesaat kemudian ia diam.


"Kenapa mas?" tanya Lea seraya mendekat.


"Mau es krim, nggak aku kasih terus nangis." ujar Daniel.


"Oh." Lea tertawa.


"Nggak boleh ya Delil, masih kecil kamu. Ntar kalau udah agak gedean, baru boleh."


"Heheee." Kali ini Darriel tertawa, kemudian lanjut mengenyot botol susu.


***


"Selamat ya."


Richard memberi ucapan selamat pada ibu Lea. Meski tadi ia sudah memberikannya, saat ibu Lea bersama sang suami. Kini hanya mereka berdua yang mengobrol di suatu sudut.


"Terima kasih." ucap ibu Lea pada Richard.


"Aku bukan orang yang bisa membahagiakan kamu. Karena hubungan diantara kita itu rumit." ujar Richard lagi.


Ibu Lea mengangguk sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Yang penting kita selalu menjaga hubungan baik." tukasnya kemudian.


Kali ini Richard yang mengangguk.


"Ya, demi anak kita." ujar Richard seraya melirik ke arah Lea, yang saat ini kembali tertawa bersama teman-temannya.


"Ya." jawab ibu Lea lagi.


Mereka lanjut berbincang, tak lama Richard pamit untuk menuju ke tempat yang lain. Ibu Lea pun mengizinkan, lagipula ia ingin meladeni tamu yang lainnya juga.


Richard sendiri kini melangkah ke arah Nadya dan Arkana yang tengah makan di sebuah stand.


"Hai." sapa Richard pada mereka.


"Hei, om." ujar Arkana sumringah, sementara sang ibu tersenyum pada pria itu.


"Om nggak makan?" tanya Arkana.


"Makan dong, ini mau ngambil." ucap Richard.


Ia kemudian mengambil sate yang ada di dekatnya. Tak lama mereka bertiga terlihat makan bersama. Dari jauh Ellio memperhatikan semua itu.


"Menurut lo Richard cocok nggak kalau sama Nadya?" Ia bertanya iseng pada Daniel.


"Mana mau Richard sama istri orang, lagipula dia kan kenal sama Hanif." jawab Daniel.


"Ini kan cuma sekedar penilaian aja. Menurut lo cocok nggak?. Kalau menurut gue sih cocok." tukas Ellio.


Daniel memperhatikan sang mertua dan juga istri temannya itu.


"Cocok sih cocok. Tapi ya balik lagi, bini orang bro." ujar Daniel kemudian.


Ellio tertawa.


"Gila ya, kadang nggak habis pikir gue sama si Hanif. Udah dapat bidadari, maunya sama ubur-ubur."


Kali ini Daniel yang tertawa.


"Namanya juga manusia, bro. Ada orang-orang yang nggak puas cuma dengan satu pencapaian. Mungkin bagi Hanif, punya banyak bini itu sebuah pencapaian." tukasnya.


"Iya juga sih. Tapi kalau gue mah istri udah cantik begitu, ngapain sama yang dempulan."


"Kan selera orang beda-beda." ucap Daniel.

__ADS_1


"Ada yang tinggi, ada yang nyungsep di got." lanjutnya kemudian.


Mereka berdua pun lalu tertawa-tawa. Tanpa mereka ketahui jika Richard benar-benar menaruh hati pada Nadya. Saat ini ia benar-benar bahagia bisa berada di dekat wanita itu.


"Arka mau makan apa lagi?" tanya Richard pada Arkana. Sebab makanan anak itu kini sudah habis.


"Mmm..."


Arka menilik ke sekitar.


"Makan pempek kayaknya enak ya, om." ujarnya seraya memperhatikan sebuah stand yang menyajikan makanan khas Palembang tersebut.


"Ayo kita ambil!" ajak Richard.


"Mama mau?" Arkana bertanya pada ibunya.


"Nggak, ini aja belum habis." tukas Nadya.


"Oh ya udah."


Richard dan Arkana lalu pergi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak lama keduanya pun tampak sudah kembali ke meja.


Sementara di muka kediaman Nadya, Hanif tiba-tiba mampir. Sebab ia tengah ada kesempatan untuk itu. Ia menghidupkan klakson dan sekuriti pun mendekat untuk membuka pintu.


Setelah mobil terparkir di dalam, Hanif hendak masuk. Namun sekuriti mengatakan pada Hanif, jika Nadya tengah pergi menemani Putri.


"Pergi kemana pak?" tanya Hanif.


"Nggak tau, mungkin belanja pak." ujar sekuriti itu.


"Oh ya sudah kalau begitu, saya pulang aja." ujar Hanif.


Maka pria itu pun kembali masuk ke dalam mobil. Ia kini berniat menyambangi istri keduanya.


***


"Hai, pak."


Shela memberanikan diri mengirim pesan lagi pada Daniel. Saat ini ia ingin mengecek progres dari proses pendekatan yang telah ia jalin selama beberapa waktu belakangan.


Namu seperti biasa jika tegah sibuk dengan anak, Daniel sangat jarang melihat handphone. Meski saat terakhir bertemu, dengan segala tipu daya. Shela berhasil mendapatkan nomor telpon pria itu.


Shela mengatakan jika ia butuh pekerjaan dan apabila Daniel ada lowongan, bisa menginformasikan kepadanya. Daniel tak menaruh curiga sedikitpun dan hanya menilai Shela sebagai remaja yang memang butuh pekerjaan.

__ADS_1


"Bapak dimana?. Apa kabar?" tanya Shela sekali lagi. Namun seperti sebelumnya chat tersebut tidak mendapat respon sama sekali.


__ADS_2