Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Lanjut Party


__ADS_3

Lea tengah tertawa dengan teman-temannya. Daniel juga mengajak Leo adik Lea untuk datang kesana. Leo sendiri hadir bersama salah seorang teman sekolahnya, agar ia memiliki teman bicara yang seumuran.


"Lea."


Tiba-tiba terdengar sapaan dari suatu arah. Lea menoleh, ternyata Dian yang datang. Lea memang mengundang gadis itu, dan Dian datang sedikit terlambat.


Lea mendekat, Dian mengucapkan selamat padanya. Sedang kini Richard hendak berlalu, namun di tahan oleh Ellio dan Daniel.


Akhirnya mau tidak mau Richard pun menuruti keinginan kedua teman dan juga anaknya. Ia kini berada di sebuah sudut sambil berbicara pada Dian.


"Kamu apa kabar?" tanya Richard pada gadis itu.


"Baik." jawab Dian dengan suara pelan. Ia lebih banyak membuang pandangannya ke arah pantai. Sementara Richard juga masih dalam keadaan canggung.


"Daddy juga baik-baik aja kan?" Dian memberanikan diri untuk balik bertanya, meski hatinya sangat-sangat gugup.


Richard mengangguk, agak berat obrolan mereka hari itu. Namun dari kejauhan, Lea hanya berharap yang terbaik.


"Jadi itu pacar bapaknya Lea."


Rizal sang ratu melambai di kelas Lea, berujar dengan bibir yang seperti bisa di kuncir. Ia saat ini tengah di kelilingi teman-temannya.


"Katanya sih iya." ujar Ariana.


"Dih, sok cantik."


Rizal yang selalu ingin dipanggil Risa atau Rina itu, kembali mencibir dengan hentakan kepala yang seolah mau lepas. Ariana dan yang lainnya kini punya hiburan baru untuk ditertawakan.


"Cakepan elu kemana-mana ya wak." seloroh Cindy.


"Ya jelas dong, nih rambut eke badai." Ia mengibaskan rambutnya yang gaib, karena tak kelihatan.


"Tikung wak, tikung. Jangan mau kalah sama pere kayak gitu doang." Shinta memanas-manasi.


Sementara teman Lea yang laki-laki hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka memang sudah terbiasa dengan Rizal yang amfibi.


"Liat aja ntar eke tikung, eke bakal jadi emak tirinya Lea. Jadi nyonya besar."


Rizal mempraktekkan gaya berjalan serta membawa tas mahal ala dirinya. Semua yang ada di tempat itu terpingkal-pingkal.


"Maju mundur cantik gimana wak?" tanya Inka.


"Maju mundur, maju mundur, benciong, benciong."


"Hahaha."


Lagi-lagi mereka semua ngakak dan heboh. Dari kejauhan Lea yang tengah bersama Iqbal pun turut tertawa.

__ADS_1


"Itu yang kata lo suka sama Lea ya."


Ellio bertanya pada Daniel, seraya memperhatikan ke arah Iqbal dan juga Lea. Daniel pun hanya tertawa kecil dan mengangguk.


"Good looking bro, mana masih muda lagi."


"Bangsat." ujar Daniel sambil masih tertawa, kali ini lebih besar dari yang tadi.


"Maksud lo membandingkan dia sama gue yang udah tua gitu?" lanjutnya lagi.


"Yoi, biar lo panas hati dan kepikiran." Ellio berujar lalu menghisap rokok yang terselip di kedua jarinya.


"Eh gue bukan elo ya, yang dikit-dikit ambyar. Dikit-dikit cemburu sama pasangan. Akhirnya kejadian beneran, lo di selingkuhi secara nyata."


"Iya ya, apa itu semua jadi wish buat gue ya?" tanya Ellio.


"Kan lo udah gue ajarin konsep pikiran dan perasaan. Apa yang lo pikir, apa yang lo rasa, ya itu yang bakal jadi." ujar Daniel.


"Iye yang master of mind. Gue tuh nggak bisa kalau nggak cemburu, panas hati gue." Ellio tetap tidak mau kalah.


"Makan tuh cemburu." ujar Daniel lagi.


"Nih."


Ellio memasukkan nastar ke mulut Daniel, namun adegan tersebut tanpa sengaja dilihat oleh Adisty.


"Hmm, Adisty ini nggak kayak yang kamu kira." ujar Ellio.


"Kita kesana yuk...!"


Ellio mendekat ke arah Adisty, lalu mereka menuju ke suatu tempat dan tinggallah Daniel sendirian.


***


"I'm sorry."


Akhirnya Richard melontarkan permintaan maaf pada Dian. Gadis itu hanya mengangguk pelan dan menjatuhkan pandangannya. Jujur ia sangat sakit di silent treatment oleh Richard selama beberapa waktu belakangan ini.


Richard seakan tak memberinya kesempatan untuk membela diri sedikitpun. Bahkan nomor dan segala kontaknya di blokir oleh pria itu.


"Aku nggak apa-apa, aku cuma rindu aja." ujar Dian terisak.


Richard lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Yah pake acara di peluk lagi."


Rizal menggerutu dari kejauhan, dengan tangan yang masih setia melambai. Ia juga masih dikerubuti oleh geng para gadis. Mereka semua menyaksikan bagaimana Richard akhirnya memeluk Dian.

__ADS_1


"Dasar lon...." ujarnya berusaha menahan diri.


"Tong." balas Ariana, Cindy dan yang lainnya sambil tertawa-tawa.


"Tapi jujur koq hati gue sakit ya." ujar Cindy.


"Sama, gue juga." ujar Ariana.


"Kenapa bukan kita aja yang jadi calon emak tiri nya Lea. Bapaknya cakep banget, anjir." lanjutnya lagi.


"Harusnya aku yang di sana." Rizal mulai bernyanyi.


"Bukan dia, tapi aku." sambung yang lainnya serentak. Mereka kini semua terlihat seperti jomblo yang ngenes.


"Mas Dan, ayo kesana...!"


Lea menghampiri sang suami yang tengah merokok, Daniel seketika mematikan rokoknya tersebut.


"Yuk sana yuk." ajak Lea lagi.


"Ntar dulu, sini duduk."


Daniel menarik Lea ke pangkuannya.


"Kangen sama dia." Daniel mengelus perut Lea sambil menatap istrinya itu.


"Lea, gue lempar sendal lu berdua ya."


Teman-teman Lea berteriak sambil memberikan ancaman. Mereka tidak tahan dengan keuwuan ini dan ingin mengundang badai petir. Lea dan Daniel tertawa, mereka kemudian beranjak dan mendekat ke arah teman-teman Lea tersebut.


Hari menjelang senja, matahari akan terbenam dalam beberapa saat ke depan. Para band pengiring datang, karena mereka akan menyambung pesta barbeque di malam hari.


Sambil menunggu gelap menyapa, mereka kini tampak bernyanyi bersama. Ada juga yang berjingkrak dan berjoget layaknya ubur-ubur.


Semua orang yang ada ditempat itu berbahagia. Lea menatap dan memperhatikan mereka semua penuh haru. Belum pernah ia merayakan ulang tahun selama hidupnya, apalagi yang semeriah ini.


"Dad, hubungan kita nggak berakhir kan?"


Dian berujar pada Richard, mereka belum beranjak dari tempat yang tadi.


"Iya, kita bisa perbaiki semuanya." jawab Richard kemudian.


Dian kembali memeluk Richard, pria itu kemudian mencium bibirnya beberapa kali.


"Aku kangen." bisik Dian di telinga pria itu.


Richard menoleh ke arah pintu masuk ke arah dalam, lalu kembali menatap Dian. Untuk selanjutnya mereka menghilang sejenak, karena Richard menuntaskan rindu yang dirasakan kekasihnya itu.

__ADS_1


Saat malam menjelang, mereka kembali berkumpul. Setelah tadi mereka sama-sama beristirahat di kamar-kamar yang tersedia. Teman-teman Lea yang laki-laki beristirahat di beberapa kamar, sementara yang perempuan meski telah di sediakan banyak ruang. Mereka tetap tumplek di satu spot, karena tak tahan dengan godaan ingin ngerumpi.


Malam harinya mereka keluar untuk acara barbeque. Dan tentu saja masih diiringi oleh musik yang begitu asik. Kebetulan cuaca cerah, hingga acara tersebut pun berlangsung dengan lancar.


__ADS_2