Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Cemas


__ADS_3

"Le, aku malam ini nggak pulang ya."


Daniel menelpon Lea, disaat perempuan itu tengah menyiapkan makan malam.


"Loh, kenapa mas?" tanya Lea heran.


"Aku nemenin Ellio di rumah sakit."


"Om Ellio sakit apa emangnya?" tanya Lea kaget.


Daniel menghela nafas, ia mulai menceritakan soal Ellio yang dikhianati pacarnya.


"Ya ampun, terus sampe masuk rumah sakit gitu?" tanya Lea lagi.


"Iya, dia minum obat tidur banyak. Padahal pas nganter dia, aku udah ingetin sama Richard. Supaya menjauhkan Ellio dari benda tajam dan racun serangga. Richard udah lakuin semua itu, tapi kita lupa membersihkan kotak obat di rumah Ellio. Ellio itu emang selalu mau bunuh diri kalau ada masalah besar dalam hidupnya, dari dulu."


"Ya ampun, mas. Aku pikir dia baik-baik aja loh orangnya, soalnya paling ceria dan banyak omong gitu diantara kalian bertiga."


Mata Daniel berkaca-kaca menahan tangis, tak banyak orang tau mengenai siapa Ellio sesungguhnya. Ia telah beberapa kali hampir kehilangan sahabatnya itu.


"Nanti aku ceritain ke kamu ya, kalau aku udah di rumah. Malam besok, Richard yang jaga dia."


"Iya mas, mas jangan lupa makan ya." ujar Lea kemudian.


"Iya, nanti aku beli dekat sini." ujar Daniel.


"Ya udah, jangan lengah jagainnya mas. Nanti om Ellio mau bunuh diri lagi. Aku nggak mau kehilangan salah satu dari kalian, kalian keluarga aku."


"Iya sayang, kamu juga jangan lupa makan."


"Iya mas."


"Maaf ya Le, aku nggak ada di rumah malam ini."


"Iya mas, nggak apa-apa koq. Aku ngerti." ujar Lea.


Daniel pun menyudahi telponnya dan Lea kini duduk di meja makan dengan kecemasan yang mulai memuncak. Ia cemas pada keadaan Ellio, ia benar-benar tak menyangka ternyata Ellio adalah seseorang yang amat rapuh. Dibalik sosoknya yang bahkan tak terlihat memiliki beban hidup sedikit pun.


***

__ADS_1


"Bro, kenapa sih lo?"


Daniel bertanya dengan kesal pada Ellio, meski Ellio masih dalam keadaan terlelap dan belum sadarkan diri. Dokter telah menanganinya dan tinggal menunggu ia siuman.


"Lo selalu aja ngelakuin hal bodoh kayak gini. Lo nggak mikirin gue sama Richard apa gimana sih?" lanjut Daniel lagi.


Ia benar-benar marah sekaligus sedih, melihat keadaan sahabatnya itu.


"Lo sering bilang ke gue, alah Dan masalah cewek kayak gitu doang. Lo sendiri bodoh, tau nggak."


Daniel kini mengatur nafas dan menyeka air matanya. Dalam hidup ia pernah menangisi dua hal, Grace dan juga kedua sahabatnya. Jika kedua sahabatnya itu melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa mereka sendiri.


Daniel tak pernah memiliki keluarga utuh sejak kecil, Ellio dan Richard lah tumpuan hidupnya. Sepanjang ia hidup, tak ada hari tanpa Ellio dan juga Richard. Kemana-mana mereka selalu bertiga, tak terpisahkan satu sama lain. Saling menyayangi dan memedulikan. Mereka lah obat dari kesepian yang selalu hadir dalam hidup Daniel.


Sementara kini di rumah, Lea makan sendirian. Ia benar-benar masih terpikir akan Ellio. Ingin rasanya ia menyusul Daniel ke rumah sakit, namun di luar hujan deras. Lebih aman jika ia berada di rumah.


***


"Vit, lo masih mau mempertahankan semua itu?"


Arsenio bertanya pada Vita di suatu siang, beberapa hari lalu ia telah mendengarkan semua pengakuan dari gadis itu. Tentang apa yang telah terjadi dalam hidupnya.


Bagaimana ia akhirnya memilih jalan pintas, untuk menjadi seorang sugar baby demi mendapatkan uang. Ia juga telah menceritakan berbagai kekerasan baik fisik maupun verbal yang ia terima, selama menjalani semua itu.


"Kenapa, lo takut hidup susah?"


"Iya."


Vita mengangguk sambil menjawab dengan pasti.


"Gue nggak siap untuk itu." jawab Vita.


"Vit, orang yang nggak mampu jauh dibawah elo pun banyak. Mereka baik-baik aja hidupnya."


"Mereka baik-baik aja karena hidup mereka nggak punya keinginan, Sen. Coba aja mereka punya keinginan kayak gue, pengen kuliah, pengen sukses. Pasti mereka kesel jadi orang miskin, kemana-mana gerak dibatasi oleh uang."


"Vit, cari uang itu banyak caranya. Apalagi di jaman sekarang, lo cewek, cantik. Kasarnya ngomong, kalau lo males berusaha keras. Lo bisa jadi selebgram, YouTuber, influencer. Ngapain lo menggantungkan hidup sama laki-laki kaya, kalau didalamnya lo tersiksa kayak di neraka."


Vita terdiam mendengar ucapan Arsenio.

__ADS_1


"Yang perlu diperbaiki itu mental lo, Vit. Mental lo mental peminta-minta, bukan mental pejuang."


Lagi-lagi Vita terdiam, bahkan terpukul. Ucapan Arsenio memang sangat menyakitkan hati, namun ia benar.


Vita memang tak bermental baja seperti perempuan lainnya di luar sana. Yang rela berjibaku dengan matahari dalam mencari nafkah. Berjualan pakaian, makanan atau bekerja di toko, swalayan, serta kantor. Ia ingin santai, namun menghasilkan uang banyak.


Dan itulah yang membuat dirinya kini tenggelam dalam kekerasan. Karena ia dianggap sebagai peminta, maka laki-laki kaya pun dengan mudah meremehkannya.


Ia benar-benar ingin menyudahi semua ini, namun kembali lagi. Ia lagi-lagi dihantui rasa takut tak memiliki uang. Vita seperti di tarik oleh dua sisi.


"Gue mau pulang." ujar Vita kemudian.


Ia lalu beranjak menuju halaman parkir, dan meninggalkan Arsenio.


***


"Om, om Ellio nggak apa-apa?" tanya Lea ketika akhirnya ia diajak Daniel untuk menjenguk Ellio. Setelah beberapa hari sahabat suaminya itu di rawat.


"Om nggak apa-apa, Lea." jawab Ellio kemudian, ia sudah tampak lebih sehat.


"Selama lo disini, bini gue khawatir terus sama lo. Sampe dia tidur nggak tenang, takut lo bunuh diri lagi." ujar Daniel.


"Kalau bini gue kenapa-kenapa, itu salah lo." lanjutnya kemudian.


Pria itu lalu mendapat panggilan telpon dan menjauh, sementara kini Ellio merasa sangat bersalah pada Lea.


"Maafin om ya, Lea. Om bener-bener nyesel udah ngelakuin semua ini."


Lea menghela nafas lalu tersenyum pada Ellio.


"Iya om nggak apa-apa, yang penting om sehat sekarang."


Ellio mengangguk.


"Janji jangan lakuin hal ini lagi." Lea kembali berujar.


Lagi-lagi Ellio mengangguk.


"Kasihan mas Dan, dia bener-bener stress dan lebih banyak diem sejak om masuk rumah sakit. Kadang aku ngajak ngomong aja, dia kayak gusar gitu. Dia mikirin kondisi om tiap hari."

__ADS_1


Rasa bersalah di hati Ellio kian berlipat ganda, ia makin menyesali kebodohannya. Tak lama kemudian Richard datang dan Daniel selesai menelpon. Mereka kemudian sama-sama mendekat ke arah Ellio dan berbicara kepadanya, secara bergantian.


Dalam kesempatan itu, Ellio meminta maaf kepada kedua sahabatnya. Ia berjanji bahwa itu akan menjadi hal bodoh terakhir, yang ia pernah lakukan.


__ADS_2