
Flashback ke saat dimana ayah Marvin mengalami serangan jantung. Saat itu dirinya bergegas menuju ke rumah sakit, sementara Clarissa menunggu di apartemen. Siap-siap memberikan kejutan bagi sang pacar, mengenai kehamilannya.
Ia menunggu dengan harap-harap cemas sekaligus bahagia. Bayangan menjadi nyonya rumah kaya raya sudah di depan mata. Clarissa senyum-senyum sendiri, seperti orang yang tengah menonton lawak.
Padahal dirinya sendirilah sumber lawakan itu. Sebab sampai dua jam berlalu Marvin tak kunjung datang. Clarissa mencoba menghubunginya namun tak diangkat.
Awalnya Clarissa khawatir. Takut kalau-kalau pacarnya itu mengalami kecelakaan. Tapi kemudian kemarahannya benar-benar memuncak. Tatkala Marvin mengirim sebuah pesan suara.
"Tolong jangan ganggu aku dulu, aku ada urusan penting."
Clarissa terdiam, merasa hatinya begitu kecut dan tak dianggap. Bahkan hingga hari ini Marvin pun belum bisa ditemui. Selalu saja gagal apabila Clarissa yang mendatangi. Bisa jadi Marvin sedang pergi atau apapun itu. Yang jelas mereka tak bisa bertemu.
"Sayang kamu dimana?"
Marvin tiba-tiba mengirim chat pada Clarissa. Perempuan itu diam menatap layar handphone. Sebab kemarahan untuk kekasihnya itu masih begitu kuat, bahkan hingga hari ini.
"Sayang, maafin aku ya. Aku tau kalau aku udah egois banget selama beberapa waktu belakangan ini. Papa ku masuk rumah sakit dan aku kalut." ucap Marvin.
Clarissa tetap tak menjawab. Ia tetap setia dengan kebisuan dan kemarahannya.
"Aku otw ke apartemen kamu ya." ujar Marvin lagi.
Clarissa menatap lesu layar handphone. Ia lalu meletakkan gadget tersebut sambil memandangi dekorasi yang telah ia buat sedemikian rupa. Dekorasi yang mulai agak kacau serta berdebu.
***
Flashback Again.
"Marvin."
Sang ayah akhirnya siuman, setelah sekian jam tak sadarkan diri. Marvin mendekat dan keduanya saling berpelukan.
"Papa gimana, pa?" tanya Marvin saat itu.
"Apa papa masih hidup?" tanya sang ayah.
"Papa jangan ngomong kayak gitu ah, Marvin nggak suka." Marvin berkata dengan nada marah pada sang ayah.
"Papa masih hidup dan akan sehat lagi." lanjut pemuda itu.
__ADS_1
Kemudian ibu serta kerabat mulai satu persatu berdatangan. Namun mereka berkunjung hanya sebentar saja, karena takut mengganggu istirahat pasien.
Selanjutnya Helen berserta kedua orang tuanya datang menjenguk ayah Marvin. Dan di kesempatan tersebut ayah Marvin berkata.
"Papa tuh takut." ujarnya sambil menatap Marvin.
"Takut tiba-tiba papa tidur dan nggak bangun lagi." lanjutnya kemudian.
Marvin sudah sangat ingin membantah ucapan sang ayah. Namun kemudian ayahnya itu kembali bicara.
"Mau nggak janji sama papa?"
"Janji apa, pa?" Marvin balik bertanya.
"Kalau misalkan papa nggak punya waktu lagi, papa mati mendadak misalkan. Papa maunya kamu dan Helen menikah."
Marvin tersentak mendengar semua itu. Ia menatap sang ayah lalu menatap Helen.
"Kamu mau kan berjanji?"
Ayah Marvin juga menatap ke arah Helen, hingga Helen pun menjadi gelagapan.
"Hmm, i, iya om." jawab Helen dengan nada ragu-ragu.
"Iya, pa." jawabnya kemudian.
Sejak hari ini pikiran Marvin benar-benar berkecamuk, makanya ia memilih untuk tidak menghubungi Clarissa dulu.
Sementara Clarissa yang sepanjang hidupnya penuh dengan prasangka itu mengira, jika Marvin sengaja mengabaikan dirinya demi kekasih lain.
Ia benar-benar marah namun kepentok perutnya yang sudah berisi. Juga impian menjadi nyonya kata raya. Maka dari itu ia bertahan meski saat ini masih marah dan belum mau bicara pada sang pacar.
***
"Sayang aku udah di depan pintu."
Marvin mengirim chat pada Clarissa. Dan dengan gusar Clarissa pun melangkah, kemudian membuka pintu. Jika Marvin bukanlah pria kaya-raya dan jika perutnya tak tengah mengandung saat ini. Pastilah pria itu sudah ia usir saking kesalnya.
"Boleh aku masuk?" tanya Marvin.
__ADS_1
Ia menangkap raut tidak senang di wajah Clarissa. Namun perempuan itu mempersilahkan meski tanpa suara. Akhirnya Marvin masuk dan melihat keadaan apartemen yang penuh dekorasi, namun terlihat sudah kacau.
Tampaknya apartemen itu sudah tidak dibersihkan selama berhari-hari. Ia menatap Clarissa kemudian Clarissa menatap ke arah lain.
"Koq berantakan gini?" tanya Marvin heran.
Clarissa berlalu dan masuk ke dalam kamar. Marvin yang tak mengerti menatap kepergian perempuan itu. Ia kembali melihat ke arah sekitar dan menemukan sebuah testpack. Ia meraih testpack tersebut dan hasilnya positif.
Perasaan Marvin pun makin campur aduk. Ia teringat akan permintaan sang ayah, agar dirinya menikah dengan Helen. Marvin menarik nafas berulangkali, sebelum akhirnya ia menyusul Clarissa.
"Kamu hamil?" tanya nya pada perempuan itu. Kali ini Clarissa menatap Marvin.
"Koq nadanya kayak nggak suka gitu sih?. Bukannya kamu juga pernah bilang mau minta anak." ucap Clarissa dengan nada kecewa.
Ia sudah mengira Marvin akan kaget, bahkan gembira menerima berita ini. Meski dalam suasana apartemen yang sudah berantakan. Tapi ternyata sikap pria itu malah membuat Clarissa sakit hati.
Marvin kembali menghela nafas. Dan dengan mengesampingkan ego ia pun lalu duduk di sisi Clarissa.
"Aku senang kamu hamil. Cuma kaget aja." ujarnya.
Clarissa menoleh dan tersenyum. Marvin akhirnya juga memaksakan senyuman di sela pikirannya yang seperti benang kusut.
"Kemarin itu aku mau kasih surprise buat kamu sambil bikin video reaksi. Tapi kamu nya nggak datang. Padahal aku udah tungguin lama" ujar Clarissa lagi.
"Iya, aku minta maaf. Papaku mendadak serangan jantung." jawab Marvin.
Clarissa berpura-pura kaget, jujur dalam hati ia merasa begitu gembira. Sebab bila mana terjadi hal buruk pada ayah Marvin. Itu artinya seluruh kekayaan bisa jatuh ke tangan Marvin.
"Aku turut bersedih untuk papa kamu, harusnya kamu jujur ke aku. Kalau memang kamu menganggap aku sebagai bagian dari hidup kamu. Bukan malah mengabaikan aku kayak gini. Aku udah hamil karena kamu."
Marvin menarik Clarissa ke dalam pelukannya.
"Maafin aku ya." ujarnya sekali lagi.
"Aku tuh bener-bener kalut. Sebab seumur-umur baru kali ini papa sakit yang parah. Biasanya cuma demam dan flu, kayak gitu-gitu lah." ujar Marvin lagi.
Clarissa mengangguk. Dalam hati ia tak begitu peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah, tentang bagaimana ia memanfaatkan kehamilan ini untuk mencapai tujuannya.
Sementara Marvin sendiri belum tau harus bagaimana. Ia bukan tak menginginkan anak itu. Hanya saja ia terikat janji pada ayahnya sendiri.
__ADS_1
Saat ini kondisi sang ayah memang mulai membaik, namun ia khawatir jika janji tersebut ia ingkari. Sang ayah akan sakit untuk yang kedua kalinya. Marvin belum sanggup kehilangan pria itu.
***