Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kecurigaan Hans


__ADS_3

Hans masih terngiang-ngiang pada kejadian tadi, saat Lea meneriakkan nama Daniel dengan penuh kekhawatiran. Padahal ia juga nyaris menjadi korban penabrakan, sama seperti pria itu.


"Apa mungkin karena Daniel adalah teman pamannya Lea, Ellio?" gumam Hans dalam hati.


"Mungkinkah karena Daniel dan Ellio berteman, gadis itu jadi dekat dengan Daniel selama ini?" gumamnya lagi.


"Tapi kenapa tadi saat makan bersama di restoran, Lea lebih banyak diam. Dan Daniel juga lebih banyak mengobrol serta memperhatikan Hans ketimbang Lea sendiri."


"Hhhh."


Hans menghela nafas panjang, ia melirik sekilas ke arah Lea yang kini fokus melihat ke depan. Sementara ia terus mengemudikan mobil.


"Lea, kamu abis ini langsung mau pulang?" Hans bertanya pada Lea, karena tiba-tiba saja ia mendapatkan ide. Untuk lebih membuktikan apakah Lea benar mencintainya atau tidak, ia ingin sedikit menyentuh gadis itu.


"Mmm, belum sih. Tapi bingung juga mau kemana, kamu udah mau pulang kan?" Lea balik bertanya.


"Mm, nggak. Belum koq." ujar Hans seraya tersenyum. Namun senyumnya sudah tak lagi lega seperti biasa, karena kini ada beban pikiran yang bersarang di benak pemuda itu.


"Kita jalan aja yuk." Hans kembali berujar.


"Kemana?" tanya Lea.


"Kemana aja, kamu telpon orang tua kamu dulu deh." ujar Hans.


"Mm, nanti mereka aku WhatsApp aja." ujar Lea.


Sampai hari ini, Hans belum tau jika Lea sejatinya tak tinggal bersama keluarga. Setiap kali Hans ingin berkunjung, selalu saja ada alasan Lea.


Seperti mengatakan orang tuanya tengah keluar kota, atau sedang pulang kampung. Sibuk dan lain sebagainya. Lea tak pernah jujur pada Hans mengenai kehidupan pribadinya. Apalagi soal ia tinggal bersama Daniel, itu sangat tidak mungkin untuk diceritakan.


Ini kita kemana?" tanya Lea, ketika ia dan Hans telah sampai ke suatu tempat.


"Ini apartemen?" lagi-lagi Lea bertanya.


"Iya, aku punya unit disini." ujar Hans lalu memarkir mobil, ia membuka lock dan melepas seat belt. Tak lama kemudian ia dan Lea pun turun.


"Beli minuman sama cemilan dulu ya."


Hans mengajak Lea ke sebuah minimarket yang ada dibawah apartemen. Mereka membeli beberapa cemilan, minuman ringan dan lain sebagainya. Setelah itu mereka naik ke unit milik Hans. Sebuah unit besar, berlantai dua dengan desain ala-ala rumah aesthethic dalam drama Korea. Lea sangat antusias, ia mengambil foto selfie beberapa kali dan Hans membiarkan saja hal itu terjadi.

__ADS_1


"Ini sering kamu tempati?" tanya Lea pada Hans, ketika akhirnya ia duduk di sofa. Sedang Hans membuka belanjaan mereka tadi dan meletakkannya satu per satu di atas meja.


"Kadang, tapi lebih sering dirumah. Apalagi kalau ada papa, dia pasti nyuruh aku pulang kalau dia lagi dirumah."


"Sepi kali, nggak ada anak lain." ujar Lea.


"Maybe." jawab Hans sambil tersenyum.


Waktu berjalan, mereka berdua kini tengah menyaksikan film dalam sebuah situs berbayar. Lea duduk disisi Hans yang tengah fokus, salah satu tangan Hans merangkul bahu Lea.


Udara dari air conditioner makin dingin, Lea pun merapatkan tubuhnya pada Hans. Pemuda itu menoleh, ia dan Lea bersitatap sejenak. Sampai akhirnya ia mencium bibir gadis itu.


Namun tak seperti biasanya, kali ini ciuman tersebut tak begitu memiliki feel. Hal itu disadari oleh Hans, karena Lea sendiri saat ini terpikir akan ciumannya bersama Daniel. Meski Lea berusaha seolah menikmati, namun perasaan Hans tak bisa ia bohongi dengan mudah.


Hans itu pribadi yang lembut dan peka, ia tau setiap jengkal perubahan dari diri pasangannya. Sementara Lea berusaha membuang ingatannya akan Daniel, ia juga sadar jika kekasihnya adalah Hans. Daniel hanyalah seorang sugar daddy yang sudah membeli dirinya, tanpa memberikannya status dan sikap yang jelas.


Namun mencoba mengaburkan Daniel dari ingatan, tak ubahnya seperti menghancurkan sebuah batu. Sangat sulit bahkan nyaris tidak bisa dilakukan. Ciuman mereka kemarin selalu terngiang-ngiang di benak Lea. Apalagi ciuman sebelumnya, pada saat Daniel meremas salah satu gundukan di dada gadis itu.


"Ah."


Tangan Hans juga kini menjelajah di salah satu gundukan itu, ia ingin melihat seberapa besar Lea bisa berkorban untuk cintanya. Namun entah mengapa Lea malah menepis tangan Hans begitu saja. Hans kaget dan menghentikan aktivitas tersebut.


"Oh tidak, kenapa harus seperti ini." gumam Lea.


Sejenak ia dan Hans berada dalam mode yang canggung. Perlahan benak Hans mulai berspekulasi, apakah benar Lea menolak karena ingin melindungi miliknya itu. Apakah ia bukan tipikal cewek gampangan yang mau saja di pegang-pegang oleh cowok, sekalipun itu adalah kekasihnya sendiri.


"Atau mungkin, Lea memang telah memiliki orang lain di hatinya?"


"Ah."


Hans menepis prasangka tersebut, ia lalu menatap ke arah Lea.


"Kamu mau pulang?" tanya nya kemudian. Lea mengangguk, namun matanya masih tertunduk.


"Maafin aku, aku nggak akan maksa kalau kamu nggak mau." ujar Hans seraya memperhatikan gadis itu, Lea pun kembali mengangguk.


Sesaat kemudian Hans terlihat mengantar Lea, Lea sendiri minta diantarkan ke kediaman Ellio. Seperti saat-saat sebelumnya, ketika Hans menjemput atau mengantar gadis itu.


Sebab Hans hanya taunya Lea adalah keponakan dari Ellio, maka dari itu untuk melengkapi kebohongan. Lea mengaku jika dirinya sering menginap di kediaman pamannya tersebut.

__ADS_1


"Lea, kamu beneran nggak marah sama aku?"


Hans kembali melontarkan pertanyaan, ketika mobil yang dikemudikan remaja itu telah sampai ke muka kediaman Ellio.


Lea menggelengkan kepala, sejatinya ia tadi menepis dan menolak keinginan Hans. Bukan karena ia marah diperlakukan seperti itu, tapi lebih kepada feel nya yang tidak satu frekuensi. Lea merasa itu bukan keinginannya, melainkan hanya keinginan satu pihak yakni Hans.


Ia tak bisa melakukan sesuatu hal yang bukan menjadi kehendaknya. Ia ingin melakukan apapun atas persetujuan otak dan juga hatinya.


"Aku nggak akan suruh kamu turun, sebelum kamu maafin aku." Hans seolah belum yakin pada Lea.


"Aku maafin kamu Hans, aku nggak marah. Aku cuma lagi nggak pengen aja seperti itu." jawab Lea kemudian.


Hans menghela nafas.


"Ok, pokoknya aku minta maaf dan janji nggak akan mengulanginya lagi."


Hans tersenyum menatap Lea, dan Lea pun perlahan tersenyum menatap kekasihnya itu. Kini mereka berdua saling berpelukan, diantara perasaan yang tidak menentu.


Lea pamit dan keluar dari dalam mobil. Tak lama setelah melambaikan tangan, Hans pun berlalu. Ia terus menyusuri jalan demi jalan, sampai kemudian. Hans teringat ada janji dengan salah satu teman sekelasnya.


Hans memutar balik arah, ia mengemudi dengan kecepatan sedang seperti tadi. Namun kemudian ia menemukan Lea, yang berjalan menjauh dari kediaman Ellio.


Seketika Hans pun diam dan memperhatikan. Mau kemana gadis itu, pikirnya. Ia pun memperlambat laju kendaraan dan sengaja mengikuti Lea.


Gadis itu berjalan, hingga sampai ke sebuah halte bus. Di sana ia naik sebuah mobil yang Hans perkirakan sebagai taxi online. Sebab taxi online yang dipesan, kebanyakan berpatokan pada halte tersebut. Entah mengapa ia ingin sekali menguntit, maka ia pun membuntuti taxi online tersebut.


Hans menyusuri jalan demi jalan, mengikuti pergerakan mobil yang membawa Lea. Hingga tiba di suatu jalan,


"Degh."


Hati Hans terpukul hebat, pasalnya taxi tersebut berbelok arah ke penthouse milik Daniel. Hans berpikir, ada apa gerangan Lea pergi ke tempat teman ayahnya itu.


"Ah tidak mungkin."


Hans tertawa sambil menepis segala prasangka buruknya.


"Mungkin saja om Ellio menyuruh gadis itu untuk melakukan sesuatu, pikirnya."


Sama seperti dirinya yang sering disuruh-suruh oleh sang ayah, untuk menemui teman maupun rekan bisnisnya demi kepentingan bisnis itu sendiri.

__ADS_1


Hans lalu berlalu, karena tema sekelasnya menelpon dan menanyakan dimana keberadaannya.


__ADS_2