Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Marah


__ADS_3

Kembali kepada Lea.


Daniel yang sejatinya masih memiliki banyak pekerjaan itu, akhirnya bergegas keluar dari kantor. Ia bermaksud menyambangi tempat, dimana kini Lea berada.


Bukan apa-apa, anak itu belum pernah minum minuman beralkohol selama bersamanya. Daniel tak mengizinkan, karena Lea belum cukup umur. Ia juga mewanti-wanti agar gadis itu tak pergi ke klub malam sendirian. Apalagi hanya pergi dengan sesama teman perempuan.


Karena di klub malam pusatnya laki-laki modus, yang biasanya menawarkan tumpangan, dan juga tongkat kenikmatan pada gadis-gadis yang terlanjur mabuk. Tak akan ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban, karena biasanya si gadis dalam kondisi tidak sadar.


"Ya udah gue hubungin pacarnya tuh anak dua dulu." ujar Ellio di telpon.


Daniel menyuruh sahabatnya itu untuk menghubungi sugar daddy Vita dan juga Nina. Karena Ellio lah yang lebih mengenal kedua orang tersebut, ketimbang dirinya.


Sedang Richard belum mengetahui soal ini, baik Daniel maupun Ellio enggan mengganggu liburan Richard. Karena disini Richard sangatlah sibuk, tak ada salahnya memberi ia ruang untuk sedikit bersantai.


Sementara itu di klub malam, Lea, Vita, dan Nina makin kebablasan. Tak peduli jalan sudah sempoyongan, kepala sudah berputar. Mereka masih saja berusaha minum, sambil mendengarkan musik yang gegap gempita.


Tiga orang laki-laki berwajah mesum tampak mendekat ke arah mereka. Ketiga laki-laki ini tidak dalam keadaan mabuk, agaknya mereka memang sengaja datang untuk mencari mangsa.


Kebetulan Lea, Vita, dan Nina juga hanya bertiga saja, tak ada teman laki-laki yang mendampingi. Atau minimal salah satu dari mereka tidak begitu mabuk, untuk jaga-jaga. Tapi mereka bertiga minum sama kuatnya, sehingga tak ada satupun dari mereka yang bisa menjaga teman-temannya yang lain..


"Hai."


Salah seorang dari pria hidung belang itu menghampiri dan mengajak berinteraksi. Lea, Vita, dan Nina memperhatikan mereka. Singkat cerita ketiga pria yang tidak diketahui siapa dan dari mana asalnya itu, kini duduk di table yang sama. Dengan tempat dimana Lea beserta teman-temannya berada. Mereka pun makin mencekoki ketiga gadis itu dengan minuman.


Hingga tanpa disadari, ketika malam semakin larut. Ketiga lelaki tersebut membawa paksa Lea, Vita dan Nina yang sudah mabuk berat, ke dekat mobil mereka. Parkiran klub malam tersebut cukup luas dan sepi, mereka parkir di ujung yang kebetulan remang. Pihak keamanan klub mengira, mereka adalah teman yang pergi bersama dan kini hendak pulang bersama pula.


"Kita mau dibawa kemana sih?" tanya Lea gusar, ketika ia telah sampai di mobil salah satu pria itu. Agaknya Lea masih sedikit sadar, jika ia dan kedua temannya akan di prospek.


"Udah kamu naik aja."


Laki-laki yang tertarik padanya mendorong Lea, memaksa gadis itu untuk segera masuk ke mobil.


"Nggak mau ah, udah biarin kita pulang." ujar Lea kemudian.


Sementara Vita sudah tertidur didalam mobil sedang Nina kini di gerayangi oleh laki-laki yang menyukainya, tepat di ujung kap mesin mobil. Posisi Nina terlentang dan tangan laki-laki itu mulai menjelajah di sekujur tubuhnya, Nina yang sudah setengah sadar tersebut hanya mengerang. Sementara Vita pun sudah dipegang-pegang, dan Lea masih dalam tahap pemaksaan.


"Sana masuk."


Perintah si laki-laki yang menyukai Lea, agaknya ia sudah tidak sabar untuk bisa menikmati tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Nggak mau." Lea memberontak dan menepis lengan si laki-laki.


"Masuk...!"


Laki-laki itu mendorong paksa tubuh Lea, dan gadis itu tetap memberontak dengan sisa-sisa tenaganya.


"Lepasin...!"


Lea berteriak, begitupula dengan Nina. Ia kini bahkan nyaris diperkosa. Namun apalah arti teriakan seorang perempuan mabuk. Sedang dalam keadaan tidak mabuk saja, kadang mereka sulit melawan. Apalagi dalam keadaan yang seperti ini.


"Lepasin...!"


Lea masih berusaha.


"Plaaak."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lea dan Nina di waktu yang nyaris bersamaan, Karena kedua gadis itu memberontak. Sementara didalam mobil, bagian bawah milik Vita sudah di buka dan siap dimasuki.


"Lea."


Tiba-tiba Daniel muncul, tepat sesaat kemudian. Pria itu langsung menarik Lea dan menendang laki-laki yang hendak memperkosa Nina, juga menarik dan menghempaskan laki-laki yang hendak menggauli Vita. Ketiga pria itupun naik pitam.


Laki-laki yang tertarik pada Lea mendorong bahu Daniel. Daniel yang semula memang sudah runyam dengan pekerjaan itupun, akhirnya meledak.


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Daniel meninju wajah pria yang semula mendorong dan menampar Lea itu, tanpa basa basi. Lea terkejut, Nina menghampirinya, sedang Vita kini terbangun dan kaget. Buru-buru ia keluar dari mobil dan langsung berlari ke arah Lea dan Nina, sedang Daniel kini berkelahi tiga lawan satu.


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Daniel terus memukul, namun ia pun dikeroyok oleh ketiga orang itu. Tetapi bukan Daniel namanya, jika ia menyerah begitu saja. Untuk apa banyak beladiri yang ia tekuni selama ini, jika tidak bisa membasmi kecoa seperti itu.

__ADS_1


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Perkelahian berlangsung sengit, kadang mereka kualahan, kadang Daniel yang harus merasakan pukulan. Semua berlangsung dalam beberapa menit, hingga kemudian pihak keamanan klub beserta Ellio dan sugar daddy Vita serta Nina pun datang. Mereka sempat menghajar tiga pria itu sejenak, sebelum akhirnya pihak keamanan melerai mereka.


***


Esok harinya.


Lea terbangun dari tidurnya dengan kepala yang masih terasa berat. Ia terdiam lalu menatap sekitar, tempat itu adalah penthouse milik Daniel. Ia ingat semalam terjadi perkelahian antara Daniel dan tiga orang pria itu di parkiran. Namun sisanya ia tak ingat apapun lagi, sebab ia sudah mabuk berat. Saat dibawa Daniel pulang pun, ia tidak sadar sama sekali.


Lea membuka selimut yang menutupi tubuhnya, namun seketika ia terdiam. Ia teringat ketika pergi, bukan pakaian tidur ini yang ia kenakan.


"Itu artinya semalam?"


Ya, usai membawa gadis itu pulang. Daniel membawa tubuhnya ke kamar, kemudian di rebahkannya gadis itu ke atas tempat tidur. Tetapi sebagian baju Lea basah karena minuman, tak baik membiarkannya tertidur dalam kondisi pakaian yang basah.


Daniel mencoba membangunkan gadis itu, bermaksud menyuruhnya berganti pakaian. Namun Lea yang sudah mabuk berat, agaknya tak bisa lagi membuka mata.


Daniel menghela nafas sambil memperhatikan Lea. Tak lama kemudian, ia pun mengganti pakaian gadis itu. Ketika satu demi satu helaian benang itu ia tanggalkan, tubuh Daniel berdesir hebat. Bahkan bagian bawahnya memberontak, seakan hendak dikeluarkan dari sarang.


Berkali-kali ia menelan ludah, dan mencoba untuk tidak mengambil kesempatan. Hingga ia pun akhirnya berhasil mengganti pakaian gadis itu, tanpa melakukan apa-apa padanya.


"Hhhh."


Kini Lea menutup wajahnya dengan tangan, mencoba merasakan apakah bagian vitalnya sakit. Namun disana tak terasa apa-apa, itu artinya Daniel tak melakukan apa-apa padanya semalam. Ia pernah mendengar dari Vita dan Dian, jika pertama kali di hajar itu rasanya sakit. Dan ia kini tak merasakan sedikitpun.


"Hhhh." Lea kembali menghela nafas, ia lega karena tak terjadi apa-apa. Namun sejatinya ia kini merasa malu, karena Daniel sudah melihat semuanya.


Gadis itu beranjak, pergi ke wastafel untuk mencuci muka. Ia merasa tenggorokannya haus sekali, maka ia pun bermaksud pergi mengambil air minum.


"Cekrek."


Lea membuka pintu, sesaat setelah wajahnya telah bersih. Namun seketika ia terkejut, tatkala mendapati Daniel yang kini berdiri di muka pintu kamarnya.


"Om."

__ADS_1


Lea berujar dengan sejuta ketakutan yang mendadak menyeruak. Sementara Daniel terus menatapnya dalam diam, dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.


__ADS_2