Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Perayaan


__ADS_3

Untuk merayakan ulang tahun Lea. Richard mengadakan pesta kecil di salah satu rumahnya yang menjorok ke pantai. Ditempat yang sama ia pernah merayakan ulang tahunnya waktu itu.


Lea mengundang teman-teman kuliahnya, termasuk Nina dan Vita. Meski Vita tak menggubris dan tidak datang, sementara Nina mengatakan jika ia harus bed rest akibat kejadian tempo hari.


Ada Iqbal, Rama, Dani, Adisty, Ariana, Cindy dan hampir setengah anak kelas kelas mereka di tempat itu. Sedang sisanya mengucapkan selamat via WhatsApp ataupun DM Instagram dan insta story, lantaran berhalangan hadir.


Di sebuah ruangan, Richard duduk bersama dengan seorang pengacara. Di hadapannya ada Lea yang tengah duduk memperhatikan. Menunggu penjelasan dari sang ayah, mengapa ia di ajak ke tempat itu.


"Lea, kamu tanda tangani surat ini. Anggap aja ini hadiah ulang tahun kamu."


Richard berujar, sementara pengacaranya menyodorkan berkas untuk kemudian di tanda tangani oleh Lea.


"Apa ini ayah?" tanya Lea seraya melihat ke arah kertas tersebut, lalu melihat ke arah Richard dan juga pengacaranya.


"Ini surat ahli waris." jawab Richard.


"Wa, waris?" Lea tak mengerti.


"Iya Lea, ayah kamu mewariskan setengah dari harta yang dia miliki untuk kamu. Karena saat ini ayah kamu masih hidup, dan masih membutuhkan juga. Jadi setengah lainnya tetap jadi milik ayah kamu."


Pengacara itu bantu menjelaskan. Lea sendiri kini tercengang, karena tak menyangka jika Richard akan melakukan semua ini padanya.


"Ta, tapi ayah."


"Lea, ini hak kamu. Ambil...!" ujar Richard dengan nada tegas.


Lea terus menatap ayahnya itu, tubuhnya kini gemetaran.


"Tanda tangani...!" ujar Richard lagi.


Dengan raut wajah yang masih bingung, Lea pun akhirnya menandatangani berkas tersebut.


"Surat ini akan di simpan oleh pengacara ayah, kalau ada apa-apa. Misalkan suatu saat kamu membutuhkannya, kamu bisa menghubungi om ini."


Lea mengangguk.


"Yah, apa ini nggak terlalu cepat?"


Lea bertanya pada Richard, disaat pengacara ayahnya sudah berpamitan. Sementara teman-temannya tengah menikmati makanan pembuka di luar. Acara baru akan dimulai dalam 10 menit ke depan.

__ADS_1


"Itu hak kamu, dan lebih awal ayah berikan lebih baik. Daripada nanti, misalkan ayah menikah sama orang yang ternyata tidak begitu baik. Nggak harus terjadi keributan soal harta. Sebab kamu sudah ayah berikan setengah dari semua ini, sisanya itu urusan nanti."


Lea diam, ia terus mendengarkan ayahnya berbicara.


"Kamu perempuan, Lea. Setidaknya kamu harus memiliki tabungan dan uang sendiri. Karena tidak ada seorangpun yang bisa menjamin sebuah pernikahan."


Lea kembali menatap sang ayah.


"Banyak perempuan yang bertahan dalam pernikahan toxic. Karena mereka nggak punya apa-apa. Dari kecil mereka ditanamkan untuk mengejar pria kaya, bukan untuk menjadi wanita kaya. Akibatnya mereka terbiasa meminta, tidak terbiasa menghasilkan sendiri. Ketika laki-laki mereka berkhianat atau menyakiti mereka. Mereka akan cenderung bertahan, karena kalau berpisah mereka bingung. Mau cari uang kemana, bagaimana mau menghidupi anak."


"Maksud ayah, ayah takut kalau mas Dan?"


"Ayah percaya Daniel, dia laki-laki yang baik. Ayah mengenal dia sejak kecil. Yang ayah tidak percayai adalah orang-orang di sekitar kita, di sekitar Daniel. Terutama yang perempuan. Orang baik bisa saja berubah 180 derajat, karena pengaruh dan godaan orang lain. Sebagai ayah, ayah wajib membekali kamu. Karena kamu belum pernah bekerja, lulus kuliah saja belum dan sudah menikah. Dengan memiliki harta kamu sendiri, orang nggak bisa meremehkan kamu."


"Bukannya sama aja ya yah. Kan banyak juga cewek yang punya segalanya, tapi tetap di khianati atau disakiti sama pasangannya.


"Setidaknya kamu punya power, dan punya pilihan. Nggak terpaksa bertahan demi uang suami, saat kamu di khianati atau disakiti."


Lea menyandarkan kepalanya di bahu Richard, pandangan mereka kini sama-sama terlepas ke arah pantai.


"Makasih ayah." ujar Lea kemudian. Richard mencium kening anaknya itu.


"Iya." ujar Lea lalu beranjak.


"Buruan, acaranya mau di mulai."


"Oh iya."


Lea pun lali bergegas, diikuti oleh Richard.


***


Lea kembali kepada teman-temannya, sedang Richard kini berada di dekat Daniel dan juga Ellio.


Lagu happy birthday pun berkumandang, Lea berdiri di sisi teman-temanya di hadapan sebuah kue yang sangat cantik.


Sementara Daniel, Richard dan Ellio berdiri agak jauh, tepatnya di dekat sebuah paviliun. Ini adalah acara Lea dan teman-temannya, para lansia diharap minggir sejenak. Setidaknya itulah kata yang digunakan oleh Ellio untuk meledek Daniel dan juga Richard, termasuk dirinya sendiri.


"Make a wish dulu Le." seloroh Ariana, ketika lagu telah selesai dinyanyikan.

__ADS_1


Lea pun berdoa, dibantu oleh teman-temannya.


"Semoga Lea sehat selalu, panjang umur, bayinya sehat, pernikahannya langgeng. Kalau nggak langgeng, gue tikung." ujar Iqbal.


Lea yang tengah terpejam matanya itu menahan tawa. Teman-temannya semua terkekeh.


"Semoga Lea cita-citanya tercapai, anaknya banyak." timpal Rama.


"Heh, repot anjay." Lea berseloroh.


Lagi-lagi mereka semua tertawa. Daniel, Richard, dan Ellio pun tak kuasa menahan tawa mereka, dari sejak wish pertama tadi di panjatkan. Namun ketiga pria dewasa itu berusaha keras untuk terus bersikap cool, layaknya kulkas dua pintu.


"Semoga kalau Lea punya emak tiri, emak tirinya adalah salah satu dari kita." Cindy teman sekelas Lea berujar.


Hadirin termasuk Lea sendiri beserta Ellio, ngakak mendengar semua itu. Ellio refleks memukul bahu Richard, Richard memalingkan wajahnya sambil menahan senyum. Sementara Daniel sudah terkekeh-kekeh sejak tadi.


Usai memanjatkan sederet pengharapan tak lazim tersebut, Lea pun akhirnya meniup lilin sampai padam.


"Yeeeay."


Tepuk tangan berkumandang, mereka memberikan selamat pada Lea.


"Bantai kuenya, bantai kuenya, bantai kuenya sekarang juga. Sekarang juga, karena kita udah laper."


"Hahahaha."


Tawa demi tawa kembali menggema di tempat itu, Lea lalu memotong kue. Potongan pertama ia berikan untuk Richard, karena Richard adalah orang tuanya. Potongan kedua tentu saja untuk Daniel, namun di serobot oleh Ellio yang iri dengki. Ia ingin menjadi paman yang di dahulukan.


Mereka semua hanya bisa tertawa melihat tingkah Ellio, lalu potongan ketiga diberikan Lea pada sang suami. Daniel menerimanya seraya mencium kening Lea.


"Duh, om punya temen nggak om?" teman Lea yang perempuan mulai berseloroh. Mereka begitu gemas melihat keuwuan pasangan tersebut.


"Kalau ada boleh lah om." timpal yang lainnya lagi.


"Heh jangan pada gatel ya." celetuk teman sekelas Lea yang laki-laki.


"Tau lu pada, malu-maluin aja." timpal laki-laki yang lainnya lagi.


Mereka semua kembali tertawa-tawa. Lea juga memberikan potongan kue pada teman-temannya, lalu membebaskan mereka untuk memakan apa saja yang telah di sediakan di sana.

__ADS_1


__ADS_2