
"Lea, sarapan dulu ayo...!"
Richard mengetuk pintu kamar Lea dan mengajak anaknya itu untuk sarapan.
"Kreeek." Lea membuka pintu.
"Udah siap ya yah?"
"Laper ya kamu?" goda Richard padanya.
"Hehehe." Lea nyengir.
"Ayo...!" ajak Richard lagi.
Lalu keduanya pun sama-sama turun ke bawah, dan memulai sarapan pagi.
Lea makan banyak sekali, hingga membuat Richard tertawa tak henti-hentinya.
"Ayah kenapa sih ngetawain aku mulu. Aku kayak karung ya yah, apa aja masuk." ujar Lea.
Lagi-lagi Richard tertawa.
"Ayah belum pernah kan liat cewek hamil makan?" Lea kembali berujar dan Richard menggelengkan kepalanya.
"Makanya nikah, yah."
Richard tersentak mendengar ucapan anaknya tersebut. Jujur ia agak keki dan ingin menggetok kepala Lea dengan centong nasi.
"Ayah belum siap di ngambek-ngambekin sama istri yang lagi hamil, Le. Kayak kamu gini." ujar Richard kemudian.
"Punya pasangan itu seru tau yah."
"Kan ayah masih sama Dian." ujar Richard.
"Tapi ayah belum nikah." Lea kembali menyindir ayahnya itu.
"Hhhhh, ntar lah. Ayah tuh males sama mulut perempuan yang suka ngomel. Nenek kamu, kamu, semuanya suka ngomel. Kalau ditambah istri lagi, makin keriting otak ayah."
Richard melanjutkan makan, sementara Lea menahan tawa.
"Leo apa kabar, Le?"
Tiba-tiba Richard mempertanyakan perihal adik Lea.
"Baik, ada di tempatnya. Aku sering kesana, nggak dua atau tiga hari sekali. Kadang dia kesel juga, karena aku datang mulu. Ganggu waktu main game nya dia."
"Suruh tinggal sini aja sama ayah, mau nggak dia?" tanya Richard lagi.
"Wah kalau itu kurang tau sih yah, ntar aku tanya dulu deh."
"Biar ayah tuh, ada yang ayah urusin dirumah. Kamu kan udah nikah, nggak mungkin ayah ngurusin kamu lagi. Kecuali kalau kamu minta bantuan sama ayah."
"Makanya ayah nikah, biar punya anak lagi. Biar ada yang ayah urus kalau pulang kerja."
"Belum siap, Le. Ayah latihan dulu aja sebelum itu."
Lea tertawa.
"Mau latihan punya anak, tapi anaknya Leo. Leo itu bandel loh yah. Ayah dijamin sakit kepala saking batu nya dia."
__ADS_1
"Oh ya?" Richard bertanya sambil tertawa.
"Iya, tapi kalau emang ayah mau dia disini. Nanti aku bilang deh, tapi nggak janji. Soalnya Leo itu susah dekat sama orang, ngomong aja dia irit." ujar Lea lagi.
"Iya dicoba aja dulu." jawab Richard.
***
Sore hari sepulang kerja, Daniel menyambangi rumah Richard dan berencana merayu Lea untuk pulang ke rumah. Ia sengaja membawakan bunga, coklat, dan juga boneka beruang berwarna putih untuk istri remajanya itu.
"Lea."
Richard mengetuk pintu kamar Lea. Lea tak tau jika Daniel ada di samping ayahnya itu.
"Iya yah." Lea membuka pintu.
"Kreeek."
Sejenak ia pun terdiam karena melihat Daniel ada di sisi Richard.
"Mas Dan?"
"Hai Lele."
Daniel memperlihatkan boneka beruang putih pada Lea. Mendadak perempuan itu tersenyum dan mengambilnya. Richard memberikan kode pada Daniel lewat lirikan mata. Sesaat kemudian ayah dari Lea itu pun berlalu dan meninggalkan keduanya.
"Aku boleh masuk nggak?" tanya Daniel pada Lea.
"Masuk aja mas."
Lea mempersilahkan suaminya untuk masuk ke dalam kamar. Daniel melangkah lalu meletakkan bunga serta coklat yang dia bawa ke atas meja. Setelah itu secara serta merta, ia mendekat dan memeluk Lea dari belakang.
"Baru sehari mas aku tinggal." ujar Lea kemudian.
"Ya abis gimana dong, orang kangen."
Lea tersenyum dan berbalik menghadap sang suami. Daniel kini membelai kepala perempuan itu dengan lembut hingga ke pipi.
"Kamu takut kenapa sama aku?" tanya Daniel pada Lea.
Ia menatap istrinya itu dengan lembut.
"Ayah cerita ya mas?" Lea menebak.
"Iya." jawab Daniel.
"Ih ayah mah, pengaduan."
Daniel tertawa.
"Ya kan aku harus tau masalahnya apa, biar bisa di luruskan. Masa kita suami istri hidup dalam prasangka setiap hari. Namanya rumah tangga itu kan segala sesuatu mesti di komunikasikan, biar nggak salah paham." ujar pria itu panjang lebar.
Lea diam.
"Iya sih." ujarnya kemudian.
Daniel lalu menarik Lea untuk duduk ke atas sofa, yang tak jauh dari tempat dimana mereka kini berdiri.
"Sini, aku mau bicara sama kamu." ujar Daniel.
__ADS_1
Lea pun mendengarkan, Daniel kini menatap istrinya itu dalam-dalam.
"Le, aku janji nggak bakalan nyakitin kamu. Sekali itu doang aku kasar sama kamu. Pada saat aku marah, waktu kamu tuduh aku selingkuh depan orang banyak. Aku janji nggak akan ada kemarahan yang parah lagi setelah itu."
Lea sedikit menunduk dan mengangguk.
"Pokoknya kalau mas udah nggak suka sama aku. Mas bilang aja ke ayah, atau ke ibu ya mas. Kan aku punya orang tua, jangan malah di bunuh."
Daniel diam menatap Lea, namun kemudian pria itu tersenyum.
"Iya, aku janji." Ia berkata dengan nada yang meyakinkan.
Daniel lalu memeluk Lea, dan Lea pun membalasnya meski agak sedikit lama. Ia masih memiliki perasaan takut, dan Daniel menganggap hal tersebut wajar.
Sebab Lea masih sangat muda, kondisi mentalnya banyak mendapat tekanan sedari ia kecil. Ditambah kini ia tengah mengandung dan mengalami perubahan hormon secara drastis. Isu-isu dan berita yang beredar, bisa juga mempengaruhi ketakutan dalam dirinya.
"Pulang ya, Lele. Kan kamu istri aku. Nanti aku dibilang nggak bisa ngurus istri. Masa istri aku malah lebih nyaman di tempat orang tuanya. Nanti aku dibilang jahat sama orang."
Lea tertawa kali ini.
"Iya mas, aku juga rencana mau pulang koq. Nggak enak sama ayah. Aku tau ayah sedih mikirin aku, walau dia nggak ngomong."
Daniel tersenyum lalu mencium kening Lea.
"Kamu baik-baik aja kan hari ini?" Daniel bertanya pada anaknya yang ada di dalam perut Lea.
"Baik papa, aku baik-baik aja." Lea mencoba menjawab, seakan-akan itu adalah suara dari bayinya.
"Oh ya mas udah makan?" tanya Lea.
Daniel menggelengkan kepalanya.
"Belum." jawabnya kemudian.
"Makan yuk, ayah juga belum makan tuh. Aku masak loh mas disini, soalnya kalau pembantu ayah yang masakin, takut beda rasanya."
"Oh ya?. Mau." ujar Daniel lalu mencium pipi Lea.
"Yuk makan yuk...!"
Lea menggandeng lengan Daniel dan membawanya keluar. Mereka kemudian menuruni tangga dan....
"Sejak kapan lo disini, Bambang?"
Daniel dan Lea kaget dengan kehadiran Ellio, yang tau-tau sudah duduk di meja makan seraya terlihat mengambil nasi.
"Barusan, Richard aja nggak tau kalau gue disini." jawab Ellio santai.
Daniel dan Lea menahan tawa.
"Ayah, makaaan...!" teriak Lea dari bawah.
Buru-buru Richard turun dan ia pun terkejut dengan kehadiran Ellio.
"Sejak kapan lu disini?" tanya Richard sambil menahan tawa.
"Lagian pintu pagar, pintu depan kagak dikunci. Sekuriti lo Untung gue yang masuk, bukan maling."
Daniel, Richard, dan Lea hanya tertawa. Di tempat tersebut sejatinya terbilang aman, meski pagar tak dikunci. Sebab ada pihak keamanan yang selalu patroli di tiap blok dan ada CCTV di tiap sudut.
__ADS_1