Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Paus Biru Yang Mencuri


__ADS_3

"Le."


"Hmm?"


Lea menjawab Daniel yang menyenggol tubuhnya dengan tangan.


"Apaan mas?"


Perempuan itu tampak begitu mengantuk dan nyaris tertidur.


"Aku ngerokok ya di luar." ujar Daniel lagi.


"Hmm."


Daniel kemudian mencium pipi Lea dan berlalu meninggalkan kamar. Ia pergi ke balkon, tempat dimana ternyata Ellio dan dan Richard sedang merokok sambil minum kopi di sana.


"Bro, nggak tidur lo?" tanya Ellio.


"Nggak bisa tidur gue."


"Sana minta kopi ke bawah." ujar Richard.


"Daniel lalu meneriaki asisten rumah tangga yang masih belum tidur dari atas."


"Mbak kopi dong satu."


"Pake gula nggak pak?"


"Pake dikit aja."


"Ok." jawab asisten rumah tangga tersebut.


Daniel kemudian kembali ke balkon dan menghidupkan sebatang rokok.


"Lea tidur?" tanya Richard pada Daniel.


"Udah tidur dia jam segini." jawab Daniel lalu menghisap dan menghembuskan asap rokok.


"Bentar lagi jadi bapak lo, Dan. Nggak sampe dua bulan lagi loh." Ellio berseloroh. Sementara Richard kini memperhatikan Daniel.


"Gue takut." ujar Daniel kemudian.


"Itulah kenapa sekarang gue jarang bisa tidur. Gue takut dia kontraksi malem-malem." Lanjutnya lagi.


"Udeh mulai siaga."


Ellio menyinggung Daniel pada Richard. Sementara Richard hanya tertawa lalu menghisap batang rokok miliknya.


"Biar dia bertanggung jawab." ujar Richard menimpali.


Daniel melirik keki pada Richard.


"Jadi maksud lo, biarin aja gue nggak bisa tidur gitu?. Demi sebuah tanggung jawab?" tanya Daniel sewot. Lagi-lagi Richard tertawa, kali ini diikuti Ellio.


"Ya iya dong. Lo harus tau kalau punya anak itu nggak gampang. Ntar juga kalau dia lahir, lo bakalan bangun-bangun juga pas malem. Gue dulu inget Reynald, waktu di Grey eh Arsen masih kecil."


"Oh iya, sampe subuh." ujar Ellio.


"Iya kan, ingat kan lo?. Pas nginep di rumah gue. Mata Reynald sampe item banget ngurusin anaknya."


"Ntar lo gitu, Dan." seloroh Ellio.

__ADS_1


"Ya, mau gimana lagi. Gue yang berbuat, ya gue juga yang harus tanggungjawab." ujarnya seraya tertawa.


"Kalau nggak tanggung jawab, nggak mau ikut ngurus anak, gue hajar lo." ancam Richard.


Daniel dan Ellio terkekeh.


"Mertua lu galak, bro." seloroh Ellio.


"Emang." jawab Daniel.


Tak lama kopi pesanan Daniel pun jadi dan diantarkan.


"Pak, masih ada butuh saya lagi nggak?" tanya asisten rumah tangga tersebut pada Richard.


"Nggak ada, kamu tidur aja kalau mau tidur." jawab Richard.


"Makasih pak."


"Iya sama-sama."


Asisten rumah tangga itu kemudian berlalu. Daniel, Richard dan Ellio melanjutkan perbincangan dengan rokok, dan juga kopi.


***


"Laper nggak lo pada?" tanya Richard setelah satu setengah jam berlalu begitu saja.


"Iya laper gue." ujar Daniel.


"Sama." timpal Ellio.


"Bikin nasi goreng aja yok." ajak Richard.


"Biar gue yang masak, jangan lo." Daniel menghalangi Ellio.


"Ye, emang kenapa sih?. Orang masakan gue enak." Ellio membela diri.


"Iya enak, asal punya asuransi buat ke rumah sakit abis itu." seloroh Daniel.


Richard tertawa mendengar perdebatan yang tejadi antara kedua sahabatnya tersebut. Sesaat kemudian ia pun masuk, Daniel serta Ellio lalu menyusul.


Mereka turun ke bawah dan berkutat di dapur. Seperti hari-hari saat mereka masih remaja, mereka memasak bersama di tempat itu dengan segala kehebohan.


"Ellio berapa kali gue bilang, bawangnya nanti. Tunggu minyak panas dulu."


Daniel menggerutu pada Ellio, yang secara serta merta memasukkan bawang ke dalam penggorengan. Padahal minyak belum lagi panas.


"Elah, ntar juga panas koq."


Ellio membela diri lalu mengaduk-aduk bawang tersebut. Sementara Richard tampak memotong bahan tambahan seperti daging, sosis, sayuran, daun bawang dan lain-lain.


"Udah sini biar gue, lo siapin nasi sama bumbu-bumbu tuh. Bawa kesini tuh kecap dan lain-lain." ujar Daniel.


Ellio pun lalu mendekatkan itu semua kepada sahabat bawelnya tersebut. Tampak minyak goreng mulai panas dan bawang tadi mulai mengeluarkan aroma wangi.


Daniel memasukkan telur dan mengorak-arik telur tersebut hingga matang. Tak lama ia pun memasukkan nasi, bahan pelengkap serta bumbu-bumbu.


"Uhuk."


"Uhuk."


"Uhuk."

__ADS_1


Ketiganya sempat batuk beberapa saat, lantaran kuatnya aroma nasi goreng tersebut.


"Menyengat banget bau lada nya. Tapi wangi, enak." ujar Ellio.


"Rasanya juga enak nih." Daniel yang tampak mencicipi tersebut ikut berujar.


"Bikin agak manis ya bro." pesan Richard.


"Ok." jawab Daniel lalu kembali menambahkan kecap manis dan mengatur rasa. Tak lama nasi goreng tersebut pun jadi.


Daniel meletakkannya di masing-masing piring. Kemudian ia juga membuat telur mata sapi sebanyak 3 buah. Setelah usai mereka pun bersiap.


"Gue beli rokok dulu deh di warung depan." ujar Richard.


"Eh ikut dong gue." Ellio mengekor.


"Tunggu, gue juga mau beli." ujar Daniel.


"Kan bisa nitip sama gue." Richard memberikan solusi.


"Pengen ikut, udah lama nggak jalan kaki ke warung itu." ujar Ellio.


"Sama, kayaknya seru." timpal Daniel.


"Halah, bilang aja lo berdua mau ngeliatin si Dinar kan?. Bini nya yang punya warung."


Richard seakan tau pikiran kedua sahabatnya itu.


"Hehehehe." Keduanya nyengir bajing. Dinar adalah istri pemilik warung yang super sexy dan bohai.


Richard berjalan keluar, diikuti oleh mereka. Warung tersebut terletak di luar kompleks perumahan. Namun itu adalah warung penyelamat, ketika Daniel, Richard, dan Ellio butuh rokok atau mie instan di tengah malam. Sebab warung itu beroperasi 24 jam.


Usai membeli apa yang diinginkan, mereka pun kembali ke rumah. Merek sudah bersiap untuk makan. Namun tiba-tiba mereka semua terdiam sekaligus terkejut, melihat nasi goreng mereka di piring yang sudah tidak utuh.


"Kuning telornya koq pada ilang?" tanya Ellio kaget. Ia memperhatikan piringnya, piring Daniel, maupun piring Richard.


"Nasinya juga pada ilang setengah." timpal Daniel.


Mereka bertiga diam, memperhatikan keadaan nasi goreng mereka tersebut. Tadi mereka meninggalkannya dalam keadaan utuh di piring.


porsinya penuh, dengan telur mata sapi yang sempurna. Tapi kini nasi goreng Daniel berkurang 1/4 dengan kuning telur yang hilang. Hal yang sama juga terjadi pada nasi goreng Richard dan juga Ellio. Ketiganya kini saling menatap satu sama lain.


"Gue tau nih." ujar Daniel kemudian.


"Pasti ulah si paus biru." lanjutnya lagi.


Ketiganya lalu berjalan ke lantai atas. Sesampainya di sana Daniel membuka pintu kamar. Tampak Lea sudah tertidur dengan nyenyak sekali. Namun di sisi tempat tidur ada piring bekas makan nasi goreng.


"Apa gue bilang, gue pikir tadi dia tidur." ujar Daniel lagi.


Ketiganya kembali saling menatap sambil menghela nafas. Ingin kesal tapi Lea sedang mengandung. Akhirnya mereka hanya tertawa saja.


"Lain kali walau dia tidur, tetap bikinin aja bro." ujar Ellio.


"Siapa tau dia kebangun dan mau makan." lanjutnya lagi.


"Iya." jawab Daniel sambil tertawa.


"Tadi tuh gue pikir dia udah bener-bener nyenyak dan nggak bakal bangun sampe pagi. Makanya nggak gue bikinin, kan sayang kalau nggak ada yang makan."


Mereka bertiga kembali tertawa, kali ini mereka menuju ke meja makan.

__ADS_1


__ADS_2