
Ellio sudah sangat kelelahan, namun ia tak menyerah begitu saja. Meski hidungnya terus mengeluarkan darah akibat pukulan yang tadi ia terima.
"Braaak."
Ia menendang salah satu penyerangnya di bagian kaki. Dan tiba-tiba,
"Braaak."
Tampak sebuah senjata api terjatuh dari dalam jas pria yang ditendangnya itu. Ellio dan pria penyerang itu sama-sama terkejut. Tak lama Ellio pun mengeluarkan senjata api dari dalam jas nya. Sebelum sempat si pria penyerang meraih kembali senjata api yang terjatuh dari dalam sakunya tersebut.
Ellio mendekat ke arah senjata api milik lawannya itu, kemudian menginjaknya dengan kaki agar tak bisa di ambil.
"Lo disuruh siapa?" tanya Ellio pada si penyerang.
Penyerang itu menarik salah satu sudut bibirnya dan menatap Ellio.
"Lo di suruh siapaaa?" tanya Ellio dengan nada yang lebih tinggi.
Ia menggertak lawannya itu dengan senjata, namun ternyata teman komplotan si lawan juga masing-masing memiliki senjata api. Mereka semua kini menodong ke arah Ellio.
Si penyerang makin tertawa, namun Ellio tak gentar sedikitpun. Paling tidak satu lawan masih berada di bawah kendalinya.
"Bos gue bilang, lo, Daniel, dan Richard. Jangan pernah sok suci di hadapan pemerintah. Jangan pernah berlagak kalau lo bertiga peduli dengan lingkungan sekitar, yang terkena dampak pembangunan proyek apapun itu. Kalau lo bertiga masih ikut campur juga. Maka pacar lo, keluarga Richard, termasuk istri dan anak Daniel akan menerima akibatnya."
"Siapa bos lo?" Ellio mulai menerka-nerka sambil bertanya.
Pria yang jadi lawannya itu hanya tersenyum. Tak lama muncul iring-iringan mobil Richard dan juga sirine mobil polisi dari kejauhan. Para penyerang Ellio itu langsung bergerak dan pergi begitu saja.
"Ellio."
Richard berteriak menghampiri. Ellio yang sudah banyak mengeluarkan darah itu menjadi kabur penglihatannya. Sejatinya sudah dari tadi ia begitu, namun baru kali ini menjadi sangat-sangat terasa.
"Ellio."
"Braaak."
Senjata api di tangan Ellio terjatuh, ia batuk dan mengeluarkan darah. Bahkan darah itu terkena pakaian yang dikenakan oleh Richard.
"Ellio?" Richard semakin khawatir. Perlahan kesadaran Ellio pun mulai menghilang dan,
"Buuuk."
Ia terjatuh ke pelukan Richard yang refleks menyanggah tubuhnya.
"Ellio bangun, lo nggak boleh kayak gini."
Richard mengguncang tubuh sahabatnya itu.
"Ellio."
Tubuh Ellio perlahan mulai dingin. Polisi dan orang kepercayaan Richard menghubungi ambulans. Tak menunggu waktu lama, ambulans tersebut pun tiba. Richard sudah hampir gila melihat kondisi sahabatnya yang sudah tak memberi respon tersebut.
Beberapa saat setelah diberi tindakan medis pertama, Ellio pun dilarikan ke rumah sakit terdekat.
***
"Dokter tolong selamatkan dia, dok. Saya mohon, tolong."
Richard panik ketika telah tiba di instalasi gawat darurat.
"Iya pak, harap ditunggu dulu. Pasien akan segera di tangani."
__ADS_1
"Saya nggak mau dia sampai kenapa-kenapa, dok. Saya mohon."
"Iya pak."
Seorang perawat kemudian mencoba menenangkan Richard dan membawanya sedikit menjauh.
Richard begitu cemas hingga tak kuasa menahan air matanya. Kemudian ia menelpon Daniel yang saat ini juga tengah menunggu kabar dari Richard. Marsha sudah ada didekatnya bersama Lea.
"Richard."
"Dan."
Suara Richard terdengar sangat putus asa dan juga cemas.
"Bro, Ellio gimana?"
Suara Daniel mulai gemetar, ia takut telah terjadi apa-apa pada sahabatnya itu. Sementara Lea dan Marsha kini memperhatikan.
"Tadi dia sempat ngeliat gue sebelum akhirnya jatuh. Seluruh badannya dingin, Dan. Gue nggak bisa merasakan detak jantung dia."
Air mata Daniel seketika terjatuh dengan deras. Pada saat yang bersamaan Lea dan Marsha pun menangis, sebab mereka mengira sesuatu hal buruk telah terjadi.
"Pak, saya hamil pak. Kalau pak Ellio nggak ada saya gimana?"
Marsha berkata sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri.
"Marsha."
Lea dan Daniel berlarian ke arah Marsha. Daniel mengangkat tubuh sekretarisnya itu dan membawanya ke salah satu kamar. Asisten rumah tangga pun bergegas membantu.
"Mas ini gimana, om Ellio itu gimana sebenernya?"
"Sabar dulu, Lea. Ayah kamu juga lagi nunggu kabar dari dokter."
***
Waktu berlalu, Richard sudah sangat stres di ruang tunggu. Seorang dokter akhirnya mendekat setelah sekian lama.
"Dok, teman saya gimana?" tanya Richard cemas.
Dokter tersebut menghela nafas.
"Kita beruntung pak, pasien masih bisa di selamatkan." jawabnya kemudian.
Tubuh Richard terasa begitu lemas, seakan melayang dan tak berpijak lagi di bumi. Namun kini ia benar-benar lega, mendengar Ellio masih hidup.
"Terus dok, apa dia sudah sadar?" tanya nya lagi.
Dokter tersebut menggeleng.
"Pasien mengalami luka dalam serius dan kehilangan banyak darah. Saat ini kita fokus dalam menstabilkan kondisinya terlebih dahulu." ujarnya kemudian.
Richard pun lanjut berkomunikasi dengan dokter tersebut, hingga kemudian sang dokter pun pamit. Sebab masih harus mengurus pasien yang lainnya.
***
"Richard."
Daniel menghampiri Richard dengan tergesa-gesa, saat Richard telah selesai berbicara dengan dokter.
"Dan, lo sama siapa?"
__ADS_1
"Gue sendiri. Orang kepercayaan gue udah gue suruh jaga di rumah, ada Reynald dan Arsen juga disana."
"Oke." jawab Richard kemudian. Ia sedikit lega mengetahui anak dan cucunya aman di rumah .
"Ellio gimana?" Daniel balik bertanya.
"Dia selamat, tapi dokter nggak bisa memastikan kapan Ellio akan bangun."
Daniel mendengarkan semua itu. Richard juga menjelaskan apa saja yang dialami oleh Ellio.
"Dia di serang bukan hanya satu orang. Sedang dia sendirian menghadapi orang-orang itu." ujar Richard lagi.
Tak lama perawat menghampiri dan mengizinkan keduanya untuk melihat Ellio. Mereka berdua pun bergegas masuk ke dalam sebuah ruangan. Dimana Ellio masih terbaring tak sadarkan diri. Richard memegang tangan Ellio sambil memperhatikan sahabatnya itu dalam-dalam.
"Apa akhir-akhir ini Ellio punya musuh, atau masalah dengan bisnisnya?"
Daniel bertanya pada Richard.
"Kalau dia ada masalah, harusnya kita berdua udah tau itu." jawab Richard.
Daniel diam, seharusnya memang seperti itulah adanya. Mengingat tak pernah ada rahasia diantara mereka bertiga.
"Apa ini ada hubungannya sama masalah Reynald dan Arsen?" Lagi-lagi Daniel bertanya.
"Itu terlalu jauh, Dan. Kalaupun orang yang dendam terhadap Arsen mau mencelakakan keluarganya. Yang duluan itu pasti Reynald. Reynald udah celaka, dan selanjutnya adalah gue. Terlalu jauh kalau ke elo, apalagi Ellio."
Daniel menghela nafas, perkataan Richard memang ada benarnya.
"Ini pasti ada masalah lain, yang kita nggak tau apa." ujar Richard lagi.
Daniel lalu menatap Ellio.
"El, bangun. Lo bentar lagi bakalan punya anak."
Richard terkejut mendengar perkataan Daniel tersebut.
"Marsha hamil, El." lanjutnya kemudian.
Secara serta-merta Ellio pun bergerak. Daniel dan Richard terkejut sekaligus gembira. Ellio akhirnya benar-benar sadar pada menit berikutnya. Richard kemudian memanggil perawat dan juga dokter.
Ellio menjalani pemeriksaan sekali lagi, sementara di luar Richard bertanya pada Daniel.
"Lo bohong kan soal itu?" tanya Richard pada Daniel.
"Nggak, bro. Marsha hamil beneran."
Richard terkejut, namun kemudian dokter menghampiri keduanya. Dokter mengatakan jika Ellio sudah bisa di ajak berkomunikasi. Maka Daniel dan Richard pun berterima kasih.
Usai dokter tersebut berlalu, keduanya masuk ke dalam ruangan. Daniel memeluk Ellio, begitupun dengan Richard.
"Lo harus sembuh. Karena habis ini kita bertiga bakal menghadapi amukan keluarga Marsha, akibat perbuatan lo." ujar Daniel sambil tertawa.
"Maksud lo?" Ellio mengerutkan kening.
Daniel dan Richard saling melirik lalu sama-sama menatap Ellio.
"Yang lo bilang tadi itu bener?" Ellio memastikan. Sebab tadi ia agak samar mendengar hal tersebut.
Daniel menghela nafas dan mengangguk. Ellio terlihat sangat terkejut, namun akhirnya ia tersenyum.
"Makasih udah ngasih masalah buat gue sama Richard." ujar Daniel kemudian.
__ADS_1
"Yup, kita bakal di amukin sama keluarganya Marsha habis ini." Richard menimpali.
Ellio masih gemetaran tubuhnya. Ia benar-benar tak menyangka jika di rahim Marsha, kini tumbuh benih cinta mereka.