
Malam harinya sang ibu mertua kembali memasak dan Lea pun kembali membantu. Kali ini mereka makan bersama Daniel. Sebab Daniel baru saja pulang kerja.
Sementara ayah, ibu, dan neneknya makan. Darriel tampak mengenyot botol susu di atas ayunan elektrik yang di letakkan di ruang tengah.
"Hokhoaaa."
Darriel berceloteh meminta perhatian, ketika orang-orang di meja makan tengah mengobrol.
"Apa Delil?" tanya Lea kemudian.
"Heheee."
Darriel pun lalu tertawa, dan Lea kembali mengobrol dengan sang suami serta sang mertua. Pada detik berikutnya Darriel kembali berceloteh, kali ini dengan suara yang lebih besar.
"Uwawawa."
"Hokhoaaa."
"Wawa."
Daniel dan Lea yang tertawa kali ini, begitupula dengan sang ibu. Setelah selesai makan Daniel pun mendekat ke arah anak itu.
"Caper kamu." ujar Daniel seraya menyentuh pipi Darriel. Dan tentu saja bayi itu menjadi antusias.
"Heheee."
Ia kembali tertawa.
"Ma, mama sana aja duduk sama mas Dan. Biar Lea aja yang beresin semua ini."
Lea berucap ketika sang ibu mertua tampak ingin membantu dirinya.
"Nggak apa-apa, mama juga terbiasa beres-beres koq." ucap sang ibu mertua.
"Iya, tapi Lea nggak enak. Mending mama istirahat aja, biar Lea yang cuci piring dan lain-lain."
"Emangnya nggak apa-apa kamu sendiri?" tanya sang ibu mertua lagi.
"Nggak apa-apa, tadi kan mama udah masak. Jadi biar Lea aja yang beresin semua ini."
Sang ibu mertua menarik nafas panjang lalu tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu. Mama kesana dulu ya." ujar wanita itu kemudian.
"Iya ma." jawab Lea.
Maka sang ibu mertua pun kini mendekat ke arah anak dan cucunya. Sedang Lea berkutat dengan piring kotor di wastafel.
***
Sejak momen awkward bersama Shela kemarin, Hanif jadi kepikiran pada gadis muda itu. Bau tubuh Shela saat tak sengaja ia peluk seperti masih menempel hingga detik ini.
__ADS_1
Sekarang separuh pikiran Hanif di dominasi oleh bayangan gadis itu. Sisanya lagi memikirkan perceraian dan segala permintaan Susi.
Selang beberapa saat, tiba-tiba istri ketiganya itu melintas. Susi hanya mengenakan pakaian tidur yang menerawang. Tubuhnya yang sedang hamil membengkak disana sini, hingga membuat Hanif berdesir-desir dibuatnya.
Lalu terasa ada yang tegang dibawah sana. Kemudian ia pun mendekat dan mendekap Susi dari arah belakang.
Ia mencium leher perempuan itu dan tangannya mulai bergerilya kemana-mana. Susi sendiri mengerti dengan apa yang diinginkan Hanif. Namun kali ini ia tengah enggan melakukannya.
"Aku lagi males mas." ujar Susi.
Seketika Hanif pun tersentak. Sebab ia belum pernah ditolak sekalipun oleh Nadya maupun Yayah, ketika ia tengah menginginkan hal tersebut.
"Kamu nggak boleh loh menolak suami, kalau suami lagi pengen."
Hanif agak lepas kendali dan jadi sedikit marah pada Susi.
"Orang lagi nggak mood, nggak pengertian banget jadi suami."
Susi balas menggerutu kesal, kemudian meninggalkan Hanif begitu saja. Hanif yang sakit kepala akhirnya pergi keluar untuk merokok di teras. Tetapi tiba-tiba saja ia ingin pergi dari rumah barang sejenak.
Maka ia pun mengambil kunci mobil dan pergi tanpa pamit. Susi sendiri cuek dan malah bermain handphone di kamar.
Pertama Hanif kembali menyambangi rumah Nadya. Sebab ia ingin menyalurkan hasratnya pada perempuan itu dan ingin menanyakan perihal kenapa Nadya sampai mau menggugat cerai.
Ia berniat ingin memanipulasi pikiran wanita itu lagi. Agar ia semakin terdoktrin dan memberitahukan siapa dalang yang telah mempengaruhi dirinya untuk meminta cerai.
Hanif datang dengan penuh percaya diri. Namun lagi-lagi pihak sekuriti tak mau membuka dan lagi-lagi ia bertemu dengan pak RT setempat.
Hanif gagal menemui wanita itu. Karena kesal ia pergi ke tempat Yayah dan memaksa wanita itu berhubungan dengannya. Yayah melawan dan tidak mau, sehingga Hanif pun melakukan kekerasan terhadap Yayah. Yakni dengan cara memukulinya.
Hanif menutup kulkas minimarket ketika telah berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Ia melangkah ke arah kasir namun kemudian,
"Buuuk."
Ia bertabrakan bahu dengan seseorang.
"Shela?"
"Eh, mas Hanif."
Keduanya bertemu lagi dan sama-sama tersenyum serta salah tingkah.
"Ya ampun mas, koq bisa ya." ujar Shela masih terlihat kaget.
"Mungkin kita memang ditakdirkan ketemu."
Hanif menggunakan mulut buayanya dan membuat Shela jadi tersipu malu dihadapan pria itu.
"Kamu beli apa?" tanya Hanif.
"Oh ini belanjaan buat di kosan." jawab Shela.
__ADS_1
"Udah atau belum?. Kalau udah sekalian aja saya bayar." ujar Hanif lagi.
"Wah jangan mas, saya nggak enak." ucap Shela berbasa-basi. Padahal di dalam hatinya ia jingkrak-jingkrak bak cacing kepanasan.
"Nggak apa-apa koq. Ambil aja apa yang jadi keperluan kamu, nanti saya bayar." jawab Hanif.
"Beneran ini?" tanya Shela sekali lagi.
"Iya, ayo!" perintah Hanif.
Maka Shela pun dengan senang hati melakukan hal tersebut. Baginya tidak ada guna menolak rejeki nomplok seperti ini. Ia mengambil apapun itu yang ia mau, sehingga keranjang belanjaannya dari satu menjadi tiga.
Ia bodo amat bila dibilang aji mumpung. Salah sendiri Hanif menawarkan untuk membayar semua itu.
"Ini mas, udah." ucap Shela ketika ketiga keranjang belanjaan itu sudah membubung tinggi.
"Ya udah ayo bayar." ucap Hanif.
Pria itu memanggil karyawan minimarket untuk membantu membawakan semuanya.
"Kosan kamu dekat sini?" tanya Hanif.
"Iya mas." jawab Shela.
"Ya udah sekalian saya antar." ucap pria itu lagi.
Maka Shela pun dengan penuh kerelaan masuk ke dalam mobil Hanif. Lumayan daripada jalan kaki, pikirnya.
Hanif menghidupkan mesin kendaraan setelah semuanya siap. Tak lama ia pun menekan pedal gas dan langsung menuju ke kosan Shela. Tak begitu dekat, namun juga tidak begitu jauh. Masih bisa bila ditempuh dengan berjalan kaki.
Namun karena barang belanjaan Shela banyak, maka Hanif pun berinisiatif untuk mengantar gadis itu.
"Disini kosan kamu?" Hanif memperhatikan kosan tempat dimana kini mereka berhenti.
"Iya mas." jawab Shela.
"Habis ini kamu mau kemana?" tanya pria itu lagi.
"Mmm, nggak kemana-mana mas." jawab Shela.
"Kita makan aja yuk di luar."
"Tapi aku tarok belanjaan aku dulu ya mas."
Secara otomatis kata saya berubah menjadi aku di bibir Shela dan Hanif senang mendengar semua itu.
"Oke, aku bantu." ucap Hanif.
Tak lama keduanya mulai membawa barang belanjaan ke dalam kamar kos Shela. Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke mobil dan mobil itu pun bergerak menjauh.
"Kita mau makan dimana?" tanya Shela ada Hanif.
__ADS_1
"Nanti aku yang cari tempat."
Hanif pun sudah melupakan kata "Saya" yang sebelumnya ia gunakan. Dan itu berarti, mereka kini setingkat lebih dekat dari sebelumya.