
"Apa-apaan kamu mas, lepasin dia."
"Diam kamu...!"
Suami Nina membentak sang istri. Sementara Vita kini ketakutan dan terus menatap ke arah Lea. Lea pun terlihat sangat cemas dan nafasnya tersengal.
"Nin." ujarnya kemudian.
"Ayo pulang...!" Suami Nina kembali berujar.
"Kalau kamu nggak mau nurut, jangan salahkan aku kalau aku celakai teman kamu."
"Lepasin dia, mas. Kamu kayak anak kecil tau nggak. Dia nggak ada hubungannya dengan masalah kita berdua."
"Diam...!"
Suami Nina membentak dengan suara keras. Hingga membuat Nina, Lea dan juga Vita amat sangat ketakutan.
"Masuk ke mobil sekarang...!" perintah suami Nina.
Nina diam, ia ragu namun juga memikirkan keselamatan Lea.
"Masuk...!"
Ia makin mendekatkan pisau ke leher Lea dan mereka semua makin ketakutan.
"Ayo buruan, atau..."
"Buuuk."
Sebuah pukulan keras datang dari arah belakang. Suami Nina terkejut, pisau di tangannya terlepas.
"Brengsek." teriak si pemukul penuh kemarahan.
"Mas Dan?" Lea berujar.
Vita segera menarik Lea sementara kini Daniel membabi buta menghajar suami Nina. Tak lama warga pun mulai berdatangan dan membantu melerai.
Kondisi rumah kontrakan Vita memiliki halaman dan pagar, hingga warga sekitar tak terlalu sadar jika terjadi perkara didalam sana. Barulah setelah Daniel datang, mereka mendengar suara gaduh.
"Lo apain dia, bangsat?"
Daniel masih memukul suami Nina, warga berusaha menarik dan meredam emosi pria tersebut.
"Sampe istri dan anak gue kenapa-kenapa, gue nggak akan biarin lo hidup lagi."
"Pak pak, udah pak."
Warga menjauhkan Daniel dari suami Nina, sedang suami Nina kini di amankan.
"Mas."
Lea menghambur ke pelukan Daniel, ketika suaminya itu akhirnya mendekat.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Daniel dengan penuh kecemasan.
"Nggak apa-apa, mas." jawab Lea.
"Kalian berdua?"
__ADS_1
Daniel menanyakan perihal Vita dan Nina.
"Nggak apa-apa mas." jawab mereka.
Namun Daniel bisa melihat keduanya tampak syok.
"Pak itu gimana pak?" tanya salah seorang warga pada Daniel. Ia menanyakan bagaimana tindakan selanjutnya kepada suami Nina.
"Amankan aja pak, dia bawa senjata sajam soalnya." ujar Daniel.
Nina melihat ke arah suaminya, yang berada dalam pengamanan warga. Jujur ia masih memiliki rasa kasihan pada pria itu. Sebab biar bagaimanapun di awal, Nina pernah jatuh cinta padanya.
Namun dengan apa yang telah pria tersebut perbuat terhadap dirinya dan juga Lea, membuat Nina memilih lebih baik suaminya di beri pelajaran. Agar ia tak lagi melibatkan orang lain dalam masalah yang dihadapi.
Selang beberapa waktu polisi datang, suami Nina diamankan. Daniel, Lea, Nina, dan Vita ikut untuk dijadikan sebagai saksi.
Selama memberikan keterangan, Daniel seakan masih tak bisa menahan emosi. Ia berkata sambil menahan giginya yang gemertak. Tampak sesekali ia menatap ke arah suami Nina yang berada tak jauh darinya. Seperti ingin kembali menghajar pria itu.
"Saya mau dia dihukum." ujar Daniel.
"Dia sudah mengancam dan membahayakan dua perempuan hamil, salah satunya istri saya dan istri dia juga. Satu lagi teman istri saya dan teman istrinya juga." lanjutnya kemudian.
Polisi pun lanjut hingga ke pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
***
"Le, kamu baik-baik aja?"
Daniel bertanya pada Lea, usai mereka mengantarkan Vita dan Nina. Nina masih menginap di rumah Vita, lantaran takut dan tak punya tempat lain. Daniel sudah menyiapkan keamanan untuk mereka.
"Nggak apa-apa mas." jawab Lea.
Namun ia masih lebih banyak diam. Seperti masih menyisakan trauma yang dalam.
Tiba-tiba Lea menangis. Daniel mendadak menghentikan mobil, lalu memeluk istrinya itu dengan erat.
"It's ok, aku disini. Maafin aku tadi telat dateng."
Lea mengangguk sambil mengusap air matanya. Daniel mencium kening istrinya itu dan makin erat memeluk.
"Lain kali kalau mau kemana-mana, aku anter dan aku tungguin."
Lea kembali mengangguk. Sejatinya ia pergi ke tempat Vita dengan diantar supir. Namun Lea mengatakan pada supirnya untuk pulang saja dulu. Karena kemungkinan Lea akan pulang agak sore. Ia kasihan jika supirnya itu harus menunggu.
"Aku takut mas." ujar Lea.
"Iya aku tau, tapi aku udah di sini. Kamu baik-baik aja sekarang."
Daniel mencoba menatap Lea sambil tersenyum, agar ketegangan dalam diri Istrinya itu segera mereda.
"Mau dipeluk lebih lama." ujar Lea.
"Iya sayang, aku peluk.
***
Beberapa menit berlalu, Richard menelpon dan menanyakan kabar yang barusan ia terima. Tadi Daniel sempat memberitahu dirinya dan juga Ellio. Namun Richard belum sempat membaca pesannya, karena tengah sibuk dengan urusan kantor yang masih menumpuk.
"Ya udah nanti lo ke rumah aja." ujar Daniel pada Richard.
__ADS_1
Tak lama ia pun kembali menghidupkan mesin mobil, karena Lea sudah lebih tenang. Mereka pun akhirnya pulang.
Richard tiba beberapa menit setelah Daniel dan Lea sampai. Ia kini menemui anaknya itu di dalam kamar. Mereka duduk di pinggir tempat tidur, dan Richard mengusap kepala serta mencium kening Lea dengan lembut.
Richard bertanya mengenai kronologi kejadian, Lea pun menceritakan semuanya. Richard marah, ia sejatinya mengenal suami Nina dan sedikit banyak tahu tentang reputasi pria itu. Suami Nina pun mengenal Richard cukup baik. Jika suami Nina tahu Lea adalah anak Richard, mungkin ia tak akan berani melakukannya.
"Tapi kamu nggak sampai luka kan?" tanya Richard lagi.
Lea menggelengkan kepalanya.
"Nggak yah, tapi aku jadi takut mau kemana-mana."
Richard menghela nafas, ia mengerti apa yang dirasakan oleh anaknya itu.
"Kamu nggak perlu takut, semua akan baik-baik aja."
"Iya yah."
"Dan."
Terdengar suara dari luar. Itu adalah Ellio yang baru saja datang.
"El." Daniel menyapa Ellio.
"Lea mana?" tanya Ellio.
"Ada di dalam sama Richard." ujar Daniel.
Tak lama Lea dan Richard keluar, lalu menyambangi Daniel dan Ellio yang kini duduk di kursi meja makan.
"Lea kamu nggak apa-apa?" tanya Ellio.
"Nggak apa-apa om." jawab Lea.
Ellio menghela nafas.
"Harus di kasih pelajaran lagi tuh anak." ujarnya kemudian.
"Udah om, jangan sampai berantem lagi ya." ujar Lea.
"Nanti kalian kenapa-kenapa." lanjutnya kemudian.
Daniel memberi kode pada Ellio, Ellio pun mengerti dan menganggukkan kepala.
"Iya Lea, nggak koq. Om janji." ujar Ellio.
Mereka kemudian melanjutkan percakapan.
***
Seorang wanita tampak tengah berjalan keluar dari kantor pada keesokan hari. Ia bersiap masuk ke dalam mobil di parkiran.
"Mbak Imelda."
Terdengar suara dari arah belakang. Perempuan yang hendak masuk ke dalam mobil itu pun menoleh.
"Maaf siapa ya?" tanya nya kemudian.
"Saya Nina, mbak."
__ADS_1
"Nina?"
Imelda memperhatikan perempuan muda yang tengah hamil itu, sambil mengira-ngira dia siapa.