
Daniel tak bisa tidur malam itu, pasalnya barusan saja Richard mengabarkan dari apartemen Daniel. Jika sampai saat ini Lea belum juga pulang.
Sementara Lea sendiri tak bisa dihubungi, handphone gadis itu mati. Sama halnya dengan Hans. Ellio telah menghubungi asisten Frans, ayah dari Hans dan mengutarakan apa yang terjadi.
Asisten ayah Hans mengatakan, jika ia akan segera memberitahu bos nya mengenai hal ini.
***
Beberapa jam sebelum itu, di bioskop.
Lea dan Hans yang tengah menunggu jam tayang, duduk di sebuah kursi sambil berbincang dan menikmati popcorn.
"Kamu mau tambah lagi minumannya?" tanya Hans pada Lea. Ia melihat minuman Lea sudah nyaris habis.
"Hmm, boleh. Tapi aku mau ke toilet dulu." ujar Lea.
"Mau aku temenin?" tanya Hans lagi.
"Ya nggak usah." ujar Lea lalu tertawa. Hans pun ikut tertawa, karena mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Lea.
"Ya bukan itu maksudnya, aku temenin didepan toilet." Hans berusaha menjelaskan meski itu tidak perlu.
"Nggak usah, kamu disini aja. Orang deket koq, tinggal kesitu doang." ujar Lea menunjuk ke suatu arah, tempat dimana toilet berada.
Lagi-lagi Hans tertawa.
"Ok deh." ujarnya kemudian.
Hans tetap menunggu di tempat, sementara Lea menuju ke toilet. Sekembalinya dari toilet, gadis itu berjalan menuju ke tempat semula. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, tatkala ia berpapasan dengan Rangga dan juga Sharon.
Rangga dan Sharon terkejut, begitupula dengan Lea. Seketika Lea pun menyangsikan pernyataan Rangga tempo hari. Pasalnya saat itu Rangga sempat bercerita pada Lea, jika hubungan yang terjalin antara dirinya dan Sharon adalah karena keterpaksaan. Namun jika memang hal tersebut terpaksa, mengapa kini mereka kedapatan jalan di luar.
Apakah ini juga dipaksa oleh orang tua Rangga?. Dan jika Rangga tak menuruti, maka Lea yang akan celaka?.
"Lea."
__ADS_1
Tiba-tiba Hans muncul diantara mereka semua. Rangga menatap Hans, begitu pun dengan Sharon. Gadis itu kaget, bagaimana bisa Lea bersama seorang pemuda yang jauh lebih tampan dari Rangga.
Sedang Hans sendiri tak mengetahui siapa Rangga dan juga Sharon. Ia mengira mereka hanya pengunjung bioskop, yang kebetulan memang tengah berdiri disitu. Hans kemudian menarik Lea, sementara Rangga hanya bisa melihat kepergian gadis itu.
Lea dan Hans duduk di bangku tengah, di bagian sudut bioskop. Ternyata Rangga dan Sharon juga menonton film yang sama. Pasangan itu duduk di atas, di barisan bangku tengah. Sehingga Rangga bisa dengan jelas melihat Lea.
Sepanjang film tersebut, Rangga tak konsentrasi memperhatikan layar. Matanya tertuju pada Lea dan juga Hans yang tampak begitu dekat.
Berbeda dengan Lea yang tak melihat Rangga serta Sharon masuk. Gadis itu malah menikmati acara nonton tersebut. Sesekali ia berinteraksi bersama Hans, sambil tertawa-tawa.
***
Singkat cerita usai menonton, Hans mengajak Lea untuk makan dan mampir di kafe yang menjadi favorit Hans. Mereka kemudian lanjut jalan-jalan ke berbagai tempat.
Namun kini keduanya menghilang, membuat Daniel yang tengah sakit menjadi begitu khawatir. Ia telah mengerahkan orang-orang kepercayaannya, untuk mencari dimana keberadaan kedua anak itu.
Richard sendiri terus berupaya, sementara Ellio kini bertugas menenangkan Daniel. Karena jika tidak, dikhawatirkan kondisi Daniel akan semakin drop. Sahabatnya itu belum boleh stress oleh hal apapun.
"Ellio, gue harus keluar dari sini. Gue harus cari mereka." ujar Daniel pada Ellio.
"Dan, lo itu masih sakit. Kalaupun gue bantu lo untuk escape dari sini, itu akan merugikan diri lo sendiri. Lagian Lea itu bukan bayi, dia udah cukup mampu buat jaga dirinya sendiri."
"Lo khawatir sama Lea nya, atau sama diri lo sendiri?" tanya Ellio kemudian.
"Ellio, gue lagi nggak mau bercanda. Gue tau lo lagi berusaha mengorek keterangan perihal perasaan gue terhadap dia."
Ellio tertawa, pancingannya ternyata tak berhasil.
"Disaat genting kayak gini, lo masih mikir ke arah situ." Daniel tampak begitu gusar.
"Come on, Dan. I'm just curious." ujar Ellio membela diri.
"Ya gue khawatir sama dia, as a fellow human being. Dan gue juga khawatir terhadap dampak yang ditimbulkan ke diri gue, kalau dia mengalami hal buruk."
Ellio menghela nafas.
__ADS_1
"Lo sabar aja, ini juga lagi gue usahakan. Gue udah hubungi orang kepercayaan gue, buat cari mereka. Ya semoga aja mereka nggak kenapa-kenapa." ujarnya kemudian.
Daniel melempar pandangan ke suatu arah, dan mencoba menepis segala pikiran yang berkecamuk di benaknya.
***
"Ini dari siapa?"
Ibu Lea bertanya pada Ryan dan Ryana, ketika ia baru saja kembali dari suatu tempat. Seharian penuh ibu serta ayah tiri Lea pergi menghadiri acara keluarga, dan baru pulang malam ini. Ia menemukan kantong plastik berisi banyak sekali penganan diatas meja makan.
"Itu dari Lea, bu." ujar Ryan. Ia dan Ryana kini tengah makan..
"Lea?" tanya ibunya kemudian.
"Iya." jawab Ryan lagi.
"Tumben ingat rumah."
Sang ayah tiri menimpali. Ia tidak tahu jika uang yang mereka gunakan untuk perjalanan hari ini, adalah memakai uang Lea yang sebelumnya disita dari Ryan dan juga Ryana.
"Lea tadi cuma kasih ini?" tanya ibunya pada Ryan dan juga Ryana. Ryan dan Ryana saling pandang, mereka sudah sepakat untuk tidak memberitahukan. Jika tadi, mereka kembali diberi uang oleh Lea.
Karena bisa jadi sang ibu akan kembali menggunakan otoritasnya sebagai orang tua, lalu mengambil uang tersebut. Sedang Ryan dan Ryana ingin membeli sesuatu, yang sudah mereka idamkan sejak lama.
"Iya bu, cuma itu." jawab Ryana.
Ibunya lalu terdiam, sementara Ryan dan Ryana melanjutkan makan.
***
"Dad, aku nggak dikasih kartu kredit."
Clarissa mencoba merayu sugar daddynya, sesaat setelah mereka selesai bercinta. Keduanya kini masih berpelukan di tempat tidur.
"Buat apa kartu kredit, kan kamu udah aku kasih uang tiap bulan. Ngapain harus berhutang, kalau uang yang aku berikan sama kamu aja cukup."
__ADS_1
Clarissa diam, jujur hatinya begitu dongkol mendengar semua itu. Ia ingin memiliki kartu kredit seperti Lea. Namun ia juga tak bisa melawan. Ia belum bisa begitu bersikeras, karena hubungan mereka masih terbilang baru.
Bertingkah sedikit saja, bisa-bisa Clarissa didepak oleh sugar daddy nya itu. Dan si sugar daddy bisa mencari sugar baby lain. Sementara Clarissa tak punya cadangan sugar daddy.