
"Lea, ada teman kamu."
Richard berujar pada Lea di pintu masuk, segera saja perempuan itu mendekat. Tak lama kemudian Adisty dan Ariana pun masuk.
Richard menutup pintu lalu pergi, sedang kini Lea memeluk kedua temannya itu dengan gembira.
"Koq cuma berdua aja sih?" tanya Lea kemudian, namun ia sangat antusias.
"Iqbal, Rama sama Dani mau pergi nggak tau kemana." ujar Adisty.
"Iya, Nina juga tadi pengen ikut. Eh suaminya balik." timpal Ariana.
"Oh ya?"
"Iya, mertua sama lakinya udah balik." lanjut Adisty memperjelas.
"Oh gitu, kalian mau minum apa?" tanya Lea.
"Apa aja boleh." ujar Adisty.
Lea kemudian mengetuk pintu, tak lama seorang maid masuk. Lea memesan minuman dan makanan untuk kedua temannya. Setelah menunggu beberapa saat, makanan dan minuman tersebut pun sampai.
"Sebenernya hidup lo itu enak, Le." ujar Adisty seraya melahap semangkuk ramen yang di sediakan.
Mereka kini duduk di sebuah kursi dan menikmati makanan. Di rumah ini apapun tersedia.
"Iya, tapi kan gue udah punya laki. Mana gue lagi bunting juga. Kalau nggak nikah sama nggak bunting mah, gue mau tinggal disini. Orang hidup gue kayak princess." ujar Lea.
"Gue gantiin mau nggak, Le?" tanya Ariana.
"Boleh aja, paling lo di gebet sama bapak gue." seloroh Lea sambil menghirup kuah ramen di mangkuknya.
"Bokap lo ganteng, ege. Kayak CEO atau bos mafia di novel online." ujar Adisty.
Kali ini Lea terkekeh.
"Bokap gue pacarnya, di atas kita setahun."
"Hah, serius lo?" tanya Adisty dan Ariana tak percaya.
"Yah, padahal mau daftar jadi calon nyokap tiri lo." seloroh Ariana.
"Hahaha, bangsat lo." ujar Lea.
"Eh, lagi hamil. Masa ngomongnya gitu?" Adisty mengingatkan Lea.
"Oh iya, maaf." ujar Lea lalu menutup mulut.
__ADS_1
Mereka bertiga tertawa-tawa dan lanjut berbincang.
***
Beberapa jam berlalu, Adisty dan Ariana berpamitan. Mereka juga pamit pada Richard yang berada di bawah.
"Om, pulang ya." ujar Adisty.
"Iya, kalian hati-hati." ujar Richard seraya tersenyum.
"Oh ya om, Lea kayaknya udah nggak terlalu sakit deh. Udah bisa kali besok ke kampus."
Richard terdiam, ia mengira jika Lea mengaku sakit pada teman-temannya itu. Sehingga ia tak diizinkan keluar ataupun berkuliah.
"E, iya. Lea sudah sehat." dusta Richard, ia ingin memperpanjang kebohongan ini.
Tanpa ia sadari jika Adisty dan Ariana tengah melakukan sebuah trik, agar Lea bisa diizinkan keluar rumah.
"Besok, kita jemput Lea ya om?" Ariana menimpali.
"Iya, pasti seru kalau kita ke kampus bareng." Adisty berkata dengan penuh semangat, sedang Richard terjebak ke dalam situasi yang tak disangka-sangka olehnya.
"Mmm, ok." ujarnya dengan nada ragu.
"Yeay, asik. Makasih ya om, om baik deh."
"Ok, kalian bisa kesini besok." ujar Richard.
"Kita pasti akan kesini." ujar Ariana.
"Tapi kalian nggak usah bawa kendaraan. Biar orang om yang antar kalian."
Adisty dan Ariana saling bersitatap, itu artinya Lea diizinkan keluar dengan pengawalan. Tapi tak mengapa, yang jelas satu langkah telah mereka ambil. Lea tak mesti terus terkungkung di dalam kamarnya yang super besar.
Karena seberapapun megahnya tempat kita tinggal. Jika kita merasa dipenjarakan, maka itu tidaklah begitu baik bagi kesehatan mental yang kita miliki.
"Baik om, kami pamit ya." ujar Adisty.
Richard mengangguk. Kedua gadis itu lalu berlalu meninggalkan tempat tersebut. Tak lama seorang pembantu mengetuk pintu kamar Lea, dan mengabarkan jika Richard menyuruhnya pergi ke kampus besok.
Tentu saja Lea jadi sangat kegirangan, ia sampai melompat-lompat demi mendengar hal tersebut. Namun kemudian ia sadar jika dirinya tengah hamil. Ia pun tak lagi berjingkrak-jingkrak.
"Makasih ya, mbak." ujarnya sebelum menutup dan mengunci kembali pintu kamar. Ia kini buru-buru mencari handphone dan mengabari Daniel.
"Mas, besok aku disuruh ke kampus sama ayah. Kita bisa ketemu nggak?"
Lea mengirim pesan tersebut ke handphone Daniel. Cukup lama sampai kemudian Daniel membaca pesan tersebut, lalu ia menelpon sang istri.
__ADS_1
"Kamu serius?" tanya Daniel.
"Serius, mas. Tadi aku suruh temen aku buat nanyain kapan aku boleh masuk, dan ternyata aku di izinkan besok." ujar Lea senang.
"Ya udah, besok aku temuin kamu di sana. Setelah kelas kamu selesai." ujar Daniel.
"Iya mas, aku seneng banget."
"Iya sayang, tapi kita harus tetap berhati-hati."
"Iya."
Lea tertawa-tawa, mereka pun lanjut berbincang sampai beberapa waktu ke depan.
***
Kantor Polisi.
SB Agency telah resmi di laporkan oleh para sugar baby nya. Sebagai sebuah agency penipu yang memanfaatkan banyak remaja di bawah umur, untuk menggali keuntungan pribadi.
Saking hebohnya, sampai masuk ke berita televisi nasional. Banyak aktivis dari berbagai lembaga pemberdayaan serta perlindungan perempuan yang mendukung hal tersebut. Ada juga lembaga bantuan hukum yang siap menaungi mereka semua.
Tentu saja mami Sonia dan mami Bianca begitu kalut, pasalnya mereka tak mungkin menjalankan kelas berikutnya. Masalah yang mencuat membuat para calon sugar baby angkatan baru, merasa ragu. Mereka takut bernasib sama dengan para senior mereka.
Belum lagi tuntutan ganti rugi yang diminta para korban. Sementara uang telah mami Bianca alokasikan ke gaji pengurus, membeli properti dan juga mobil serta perhiasan.
"Akhirnya gue lega." ujar salah satu pelapor yang baru saja keluar dari kantor polisi. Saat itu Vita juga ikut kesana dan memberikan sejumlah kesaksian, bersama para sugar baby lain yang juga menjadi korban.
Tak ketinggalan Clarissa. Karena dimana ada bau uang, disitu dirinya ikut berada. Tuntutan ini akan menghasilkan uang kompensasi, jika berhasil di menangkan.
Clarissa pun ikut mengaku sebagai pihak yang tertipu. Padahal dari awal dia sudah tau jika sugar daddy nya memiliki seorang istri. Namun ia tetap melanjutkan demi kesejahteraan finansial. Hingga akhirnya perselingkuhan yang ia jalani, ketahuan oleh istri sah sugar daddy nya.
Kini Clarissa ikut memanfaatkan momen, untuk menjerat SB Agency. Sama seperti sugar baby lain, ia juga sama menginginkan uang deposit sugar daddy nya yang ditanam pada agency tersebut.
"Vit."
Arsenio tiba dengan motor besarnya, Vita tersenyum pada pemuda itu. Ia lalu berpamitan pada sugar baby lain, dan kini melangkah ke arah Arsenio.
"Gimana tadi?" tanya Arsenio padanya.
"Udah beres, semuanya udah memberikan keterangan. Mudah-mudahan semua berjalan dengan lancar, dan segala tuntutan terpenuhi."
"Gue doain, tapi abis ini jangan gitu lagi." ujar Arsenio.
"Iya, gue janji." ujar Vita.
Sesaat kemudian, Vita memakai helm yang diberikan Arsenio. Lalu ia naik ke atas motor. Sesaat kemudian, dua orang muda itu pun berlalu.
__ADS_1