Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

Lea telah menikah hampir dua minggu, hubungannya dengan Daniel pun kini semakin dekat. Pria itu menggauli dirinya secara intens, hingga perasaan cinta di hatinya untuk Daniel makin hari makin bertambah besar.


Ia muda dan belum pernah tersentuh pria mana pun, meski telah dua kali berpacaran. Praktis apa yang dilakukan Daniel padanya membuat ia menyerah dalam cinta yang begitu dalam.


Berbeda dengan Daniel, yang sudah pernah melakukan hubungan tersebut dengan wanita lain selain Lea. Ia terlihat lebih santai dan bisa mengontrol perasaan. Meski sesungguhnya ia juga mengakui, jika kemampuan alami Lea diranjang tak bisa diremehkan begitu saja.


Lea mungkin bukan perempuan yang pandai bergoyang ataupun pandai dalam memberikan godaan seperti Grace. Namun Lea lebih agresif dari mantan kekasih Daniel tersebut. Dikarenakan Lea masih muda dan masih sangat menggebu-gebu.


Beberapa bagian tubuh istri Daniel tersebut, memiliki ukuran lebih ketimbang sang mantan. Maka Daniel pun merasakan sensasi yang berbeda saat bersamanya. Ia sangat suka ketika melihat Lea meneriakkan namanya saat mereka tengah berhubungan.


Bisa dibilang saat ini, Daniel sangat percaya diri bahwa Lea telah menjadi budak cintanya. Daniel percaya diri jika Lea tak akan tergoda pria lain. Apalagi dirinya adalah pria tampan, matang, kaya, mampu memberi Lea kepuasan dan lain sebagainya. Dan lagi ialah orang yang merenggut keperawanan milik Lea.


"Mas."


"Hmm?"


"Tidur disini ya, malam ini." Lea berkata dengan penuh harap.


"Ok." jawab Daniel sambil memeluk perempuan itu. Daniel kini berada di kamar Lea.


"Aku nggak mau tidur di atas lagi, mas berisik soalnya kalau udah jam tiga atau setengah empat pagi."


Daniel tertawa.


"That's why aku nggak pernah ngajak kamu tidur sama aku di atas, aku nggak mau kamu tidurnya terganggu. Karena di jam segitu aku pasti kebangun, pasti ngerjain kerjaan aku. Kerjaan aku itu banyak, Lea. Aku bukan kayak CEO yang digambarkan di novel-novel online, yang hidupnya gampang serba tunjuk-tunjuk."


Lea tersenyum, ia seringkali membaca novel online yang menggambarkan sosok seorang bos atau CEO. Dimana hidupnya sedemikian gampang, banyak bodyguard, asisten, tangan kanan, tangan kiri, tangan laba-laba. Bisa ditunjuk-tunjuk dan diperintah sesuka hati. Tinggal suruh tangan kanan atau tangan kiri, maka semuanya simsalabim beres.


Padahal faktanya, CEO atau bos adalah orang paling sibuk ketimbang karyawan yang mereka miliki. Karena mereka adalah pemimpin yang memikirkan banyak hal, seperti Daniel misalnya.


Kadang Lea kasihan pada suaminya itu, karena ia memiliki jam tidur yang relatif singkat. Sangat berbanding terbalik dengan Lea yang kadang sudah tidur selama delapan jam, lalu ditambah lagi rebahan sambil scroll online shop atau sosial media selama berjam-jam.


Belum lagi nonton drakor dan mantengin gosip artis, sementara Daniel jangan harap bisa seperti itu. Waktu baginya adalah saat untuk bergerak dan achievement terhadap sesuatu.


"Aku itu nggak bisa tidur dikamar lain. Tapi kalau aku ngajak kamu ke atas, tidur kamu juga bakal terganggu." Daniel berujar lagi.

__ADS_1


"Ya udah, kalau emang mas nggak bisa tidur disini. Mas tidur aja di atas, kasihan kalau mas sampe kurang tidur."


"Nggak apa-apa, koq. Aku akan nemenin kamu disini. Aku mau tidur sambil pelukan."


Lea memutar kepalanya hingga bertemu muka dengan Daniel, Daniel kemudian mencium bibir istrinya itu.


"Mas."


"Hm?"


Kata Vita, kalau punya anak sekarang nanti akunya jadi repot. Belum kuliah, belajar, ngurus anak dan lain-lain."


Daniel tersenyum tipis.


"Nanti aku yang ngurus, kamu emang kamu nggak bisa."


"Mas aja sibuk banget, gimana mau ngurus anak."


"Kalau aku bilang bisa, pasti bisa. Kalau emang kamu nggak mau ngurus, aku yang ngurus."


Kali ini Daniel terkekeh.


"Mas mau jebak aku kan?. Bilang mau ngurus, terus aku hamil. Ujung-ujungnya aku juga yang bakalan repot."


Daniel makin tertawa, diciumnya bibir sang istri sekali lagi.


"Kamu tidur, gih. Besok kan katanya kamu mau pergi sama temen kamu."


"Tapi mas disini, jangan kemana-mana."


"Iya, aku nggak kemana-mana. Aku disini."


Daniel menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka berdua, sesaat kemudian Lea pun memejamkan mata.


***

__ADS_1


"Serius Le, lo tidur nggak sekamar sama om Daniel?"


Nina kaget mendengar cerita Lea hari itu, awalnya ia dan Vita bertanya kenapa Lea telat datang. Padahal mereka sudah janjian di jam tertentu untuk bertemu di suatu tempat.


Lea berkata jika semalam ia kebanyakan nonton drama Korea. Vita bertanya, apakah Daniel tidak marah, jika istrinya berisik nonton drakor ditengah malam. Pasalnya Vita sendiri sering ditegur sang sugar daddy, saat ia berisik tengah malam lantaran marathon nonton drama Korea. Lalu Lea menjawab, jika dirinya jarang sekamar dengan Daniel.


"Iya serius gue, mas Daniel itu nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak di kamarnya dia. Kecuali sakit ya, misalkan di rumah sakit. Bisa dia tidur, kalau udah kena obat atau apa."


"Terus kenapa lo nggak tidur di kamarnya dia?" tanya Vita lagi.


"Dia itu bangunnya cepet banget, Vit. Jam tiga atau setengah empat udah grasak-grusuk, kan gue jadi kebangun. Gue paling kesel kebangun di jam segitu, pusing pala gue."


"Ya udah sih nggak apa-apa tidur sering beda kamar, yang penting tongkatnya om Daniel nggak masuk di beda-beda sarang." seloroh Nina.


"Hahaha."


Ia dan Lea tertawa ngakak. Vita ikut tertawa namun tak begitu lepas, pasalnya perkataan Nina itu agak melukai hatinya.


Akhir-akhir ini Vita mulai curiga jika sugar daddy nya memiliki wanita idaman lain alias singgah ke another sarang.


"Daripada kayak orang, tidur sekamar mulu. Tapi hatinya belum tentu sekamar." Lea menambahi.


Lagi-lagi ia dan Nina terbahak-bahak, sementara Vita berusaha keras untuk tertawa meskipun penuh kepalsuan.


"Amit-amita ya, Le. Punya pasangan, tidur sama kita sekamar. Meluk kita tiap malem, tapi hati dan pikirannya mikirin cewek lain. Tongkatnya di celupin ke selengki cewek lain." ujar Nina.


"Yang lebih parah lagi kalau duitnya juga ditransfer buat cewek lain, Nin." seloroh Lea.


"Nah itu dia, amit-amit. Kita makan seadanya, selingkuhannya sejahtera." ujar Nina.


"Sok sok an tidur sekamar sama kita, ternyata kita ditipu dibelakang kita." lanjutnya lagi.


"Amit-amit." ujar Lea.


Mereka terus berceloteh, sambil tertawa-tawa. Mereka tidak mengetahui jika Vita sangat-sangat terusik hatinya kini.

__ADS_1


Vita terus berusaha memaksakan senyuman, tatkala Lea dan Nina menyinggung soal perselingkuhan.


__ADS_2