
"Kamu Leo ya?"
Seseorang menghampiri Leo, adik Lea yang tengah mengantri untuk mendapatkan souffle pancake di sebuah stand jualan.
"Iya, maaf siapa ya?" Leo balik bertanya pada orang tersebut.
"Aku Chika, kamu adiknya Lea kan?"
Leo memperhatikan perempuan itu secara seksama.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Aku temannya Lea, teman lama." ucap perempuan itu seraya tersenyum.
Leo sendiri masih agak ragu, mengingat Lea selama ini juga tak pernah memiliki teman. Sebelum ia masuk universitas.
"Boleh kita duduk disana?" tanya perempuan itu pada Leo, seraya menunjuk ke sebuah tempat.
"Ada yang mau Aku tanyakan ke kamu." lanjutnya kemudian.
Leo yang masih remaja itu pun mengikuti keinginan si perempuan, untuk duduk di kursi taman yang tak jauh dari tempat dimana tadi ia mengantri.
Leo sejatinya curiga dengan pengakuan perempuan itu, namun ia juga ingin tau siapa sebenarnya perempuan itu.
"Duduk sini aja deh." ujar si perempuan lalu mendaratkan tubuhnya di bangku, Leo mengikuti saja dan menanti apa maksud dari perempuan tersebut.
"Lea udah nikah ya sekarang?" tanya nya pada Leo.
Maka Leo pun mengangguk, namun tetap dalam mode waspada.
"Udah lama banget nggak ketemu dia. Dia udah berapa lama nikah?" tanya perempuan itu lagi.
"Sekitar satu tahunan." jawab Leo.
"Suaminya yang pengusaha itu kan dengar-dengar?"
Leo kembali menatap perempuan itu cukup lama.
"Mmm, iya." jawabnya kemudian.
"Koq bisa ya?. Ketemu dimana sih dulunya?"
Leo semakin bertambah curiga pada perempuan tersebut.
"Mmm, nggak tau." jawab remaja itu.
"Masa kamu adeknya sendiri nggak tau."
"Ya nggak tau, mau gimana?" ujar Leo lagi.
"Saya kan sibuk sekolah, dan lagipula itu urusan pribadi Lea. Emang ada apaan sih?". Koq mbak sebegitu ingin taunya tentang kehidupan Lea. Dan kenapa nggak tanya langsung aja ke orangnya?. Katanya temen."
Perempuan itu kini terdiam. Ia telah mengira jika Leo adalah anak remaja polos yang sangat gampang di tanya-tanyai. Tapi ternyata tidak begitu.
"Mmm, pengennya sih ketemu langsung. Tapi kayaknya Lea sibuk, hehehe."
"Nggak juga, teman-temannya sering dateng koq."
__ADS_1
Leo mematahkan argumen perempuan itu, Hingga menyebabkan si perempuan mendadak menjadi sangat salah tingkah.
"Eee, iya deh. Nanti aku mungkin akan kesana kapan-kapan." ujar perempuan itu sambil tertawa. Namun tertawa ya terkesan sangat dipaksakan. Akibat telah terlanjur canggung dengan keadaan.
"Ya udah, makasih ya waktunya. Aku harus ngantri makanan dulu."
Perempuan aneh itu pun berlalu, disaat Leo sendiri belum sempat menjawab ucapannya.
***
Menjelang makan malam, masih di kediaman Richard.
"Ini harusnya kesini, Le. Baru yang ini."
Richard membenarkan apa yang menurutnya salah. Saat ini ia dan Lea tengah mencoba memasak bersama di dapur. Tadi pagi Lea sempat iseng bertanya apakah Richard bisa masak atau tidak.
Hal tersebut lantaran Richard dan juga Daniel tiba-tiba membahas soal rasa masakan Ellio, di depan Ellio nya secara langsung.
Asisten rumah tangga membuat pancake untuk sarapan pagi. Seketika Daniel dan Richard teringat pada rasa pancake buatan Ellio, yang pernah ia buat dulu-dulu. Mereka bercanda pagi itu. Namun di sela- meroasting Ellio, Lea sempat melontarkan pertanyaan.
"Ayah sendiri bisa masak nggak?"
"Nah loh, mampus." ucap Ellio pada Richard.
"Ye, ayah mah bisa masak." ujar Richard dengan penuh percaya diri.
"Buktiin kalau emang bisa, jangan ngemeng doang." tantang Ellio sengit.
"Ntar makan malem, elo yang masak." lanjut pria itu kemudian.
"Lea ntar kamu temenin ayah masak, buat makan malam."
Begitulah kata yang diucapkan Richard pagi itu. Hingga malam ini ia dan Lea harus berkutat di dapur.
"Terus ini apa lagi yah?"
Lea belum paham dengan masakan sang ayah. Ia jago kalau untuk masakan lokal, tapi ini tampaknya hidangan internasional. Lea takut salah lagi dan hanya menuruti saja instruksi dari sang ayah.
"Ini di panggang dulu deh." ujar Richard menyerahkan daging yang sudah di marinasi kepada Lea.
Maka Lea pun memasukkannya ke dalam oven. Tetapi ujungnya Richard juga yang mengatur suhu. Sebab hanya ia yang tau soal masakan tersebut.
"Kenapa nggak masak yang lokal aja sih yah, biar nggak ribet." tanya Lea di sela-sela menyiapkan bahan lain.
"Nah justru kalau itu, malah ayah nggak bisa kalau masakan lokal. Kan yang biasa masak kayak gitu ART. Dia yang paham racikan bumbunya."
"Kan ada aku, ntar aku yang masakin." ujar Lea.
"Ya nggak jadi masakan ayah dong namanya. Tapi masakan kamu."
"Iya sih, hehe."
"Ntar besar kepala lagi tuh si Ellio. Kalau tau ayah curang, nggak pake masakan sendiri."
Lea lalu tertawa.
"Kalian mah kayak anak kecil." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Ellio ya, bukan ayah." Richard membela diri.
"Sama aja, ayah juga." tukas Lea lagi.
Richard ikut tertawa dan mereka pun lanjut memasak.
"Gimana nih, bisa nggak lo?"
Ellio tiba-tiba datang mengganggu, layaknya juri dalam acara Mistersip eh MasterChef. Ia menyilangkan tangan di dada sambil menatap remeh pada kemampuan Richard.
"Apaan nih?" ujarnya kemudian.
"Eh, Udin. Lo jangan meremehkan kemampuan gue ya. Setidaknya masakan gue nggak kayak masakan lo yang rasanya amburadul."
Richard sewot namun nyaris tertawa. Ellio sejatinya hanya bercanda, namun sengitnya terasa hingga nyata.
"Nggak yakin gue." ujar Ellio lagi.
Richard kesal dan ingin rasanya menggeprek Ellio.
"Udah lo sana, sana!. Sebelum gue bejek di ulekan." ujar Richard.
Sementara Lea masih tertawa-tawa guna menyaksikan itu semua.
Beberapa saat berlalu semuanya rampung. Lalu mereka semua duduk di meja makan, dengan menu hidangan buatan Richard, yang dibantu oleh Lea.
"Gimana, bisa kan gue masak?" tanya Richard pada mereka semua.
"Lumayan enak loh." ujar Daniel sambil menikmati hidangan tersebut.
"Gimana El?" tanya Richard pada Ellio.
"Ok koq, enak." Ellio dengan berbesar hati mengakui semua itu.
"Tapi lebih enak masakan gue." ujungnya ia tetap meninggikan diri.
Richard dan Daniel saling tatap lalu mereka semua sama-sama tertawa. Termasuk Ellio nya sendiri.
"Oh ya El, Wedding organizer udah gue siapin tuh buat lo."
Ellio menghentikan makan dan menatap Daniel.
"Udah gue sama Richard bayarin juga. Jadi lo tinggal menentukan tanggal aja kapan mau nikahnya."
Ellio diam, ada rasa haru yang merebak di pelupuk mata pria itu. Walau ia sendiri mampu membayar wedding organizer berapapun harganya. Namun hal seperti ini merupakan suatu bentuk perhatian kedua temannya, terhadap ia dan Marsha.
"Nggak usah nangis." ledek Richard kemudian.
Ellio tersenyum, namun kedua sudut matanya tampak basah.
"Thank you, bro." ujarnya kemudian.
"Cieee om Ellio nikah."
Lea mengatakan hal tersebut, hingga membuat Ellio tersipu dan mereka semua kembali tertawa-tawa.
***
__ADS_1