Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Manis Yang Tak Pernah Habis


__ADS_3

"Mau nasi goreng apa?"


Daniel bertanya pada Lea, ketika mereka telah tiba di pedagang nasi goreng yang cukup terkenal di sebuah kawasan.


"Nasi goreng kambing mas."


Lea menjawab lalu nyengir bajing di hadapan sang suami. Matanya sengaja di besar-besarkan agar di beri izin.


Daniel mengambil handphone, lalu membuka laman google dan bertanya di sana. Apakah ibu hamil yang usia kandungannya sudah memasuki bulan kelima dan hampir menuju enam, boleh memakan daging kambing.


Dan ternyata tak ada halangan, karena daging kambing tergolong ke dalam kelompok daging merah sama seperti sapi. Aman di konsumsi ibu hamil, asalkan sudah dimasak sampai matang.


Karena ibu hamil tidak boleh memakan makanan setengah matang ataupun mentah. Sebab ibu hamil beresiko terinfeksi bakteri dan parasit yang berasal dari makanan tersebut.


"Ya udah boleh, tapi jangan pedes ya." ujar Daniel.


"Ok." jawab Lea.


Mereka pun kemudian memesan nasi goreng, sesuai dengan keinginan masing-masing. Mereka makan ditempat, karena Lea yang meminta pada Daniel untuk itu.


"Hmm, makan di tempat kayak gini enak banget ya mas. Sambil mencium aroma nasi goreng lain yang di buat. Jadi rasanya kayak campur-campur." ujar Lea.


"Kamu nggak mual cium banyak bau?" tanya Daniel sambil memakan nasi goreng yang ada di dalam piringnya.


"Udah nggak mas, tiga bulan awal kemaren iya. Itu aku cium apa aja mual rasanya. Sekarang kalau cium bau makanan, malah tambah laper."


Daniel tertawa.


"Udah ngerti makanan enak ya, dek." ujarnya seraya mengelus perut Lea. Terasa ada getaran di dalam sana.


"Mas tadi makan apa di restoran itu?"


Lea menghentikan makan sejenak, lalu mereguk air mineral yang ada dihadapannya.


"Nggak makan, orang nungguin kamu." jawab Daniel.


"Oh ya?"


"Iya, minum doang. Ngopi sampe sampe tiga kali, tanggung jawab kamu kalau sampe aku asam lambung."


Lea tertawa.


"Ya maaf, pak Daniel." selorohnya kemudian.

__ADS_1


"Suami bisa di lupain, untung nggak jadi fosil aku disitu."


Lea makin tertawa.


"Nyaris menjadi sejarah tau nggak." ujar Daniel lagi.


Dan lagi dan lagi Lea tertawa, bahkan nyaris tersedak. Kadang Daniel cukup ekspresif saat mengatakan sesuatu, hingga mengundang kelucuan tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya.


"Ntar tau-tau kamu ada di museum mas."


"Iya, sampingan sama prasasti."


"Hahaha."


Mereka pun lanjut makan sambil berbincang. Usai makan, mereka berdua pulang ke rumah. Setibanya di rumah Lea masuk ke kamar, untuk meletakkan tas dan lain-lain. Daniel berjalan ke arah meja makan, tempat dimana bunga besar yang ia belikan untuk Lea masih berada.


Daniel melihat kertas yang ia tulis terjatuh ke lantai. Ia pun lalu memungut kertas tersebut. Mungkin inilah sebab mengapa Lea tak membacanya. Karena terjatuh, pikir Daniel. Padahal sejatinya Lea sengaja, agar terlihat seolah-olah ia belum membaca permintaan maaf tersebut.


"Mas."


Lea keluar dari kamar, bermaksud mengambil air minum. Namun ia tak sengaja menemukan Daniel yang memegang kertas itu. Lea sejatinya ingin tertawa, namun ia tahan dan berpura-pura tidak tahu.


Daniel menatap sang istri sambil menyerahkan kertas tersebut. Lea pun mengambil dan pura-pura membacanya.


Lea tak ingin memperpanjang perkara. Daniel tersenyum tipis lalu mendekat. Dibelainya rambut dan pipi Lea dengan lembut.


"Aku mau mandi, tapi nggak mau sendiri." ujarnya kemudian.


Lea tersenyum, pada menit-menit berikutnya terdengar ******* dan erangan dari dalam kamar mandi yang besar. Tampak Lea bertumpu pada dinding dengan kedua tangannya. Sementara Daniel menghantam liang kenikmatan sang istri dari arah belakang.


Tangan kekar pria itu meremas dua gundukan yang menggantung di dada Lea. Sambil sesekali memberi usapan pada perutnya yang membuncit.


"Mas, hmmh, maaas."


"Aaaah."


Hanya itu kata yang keluar dari bibir Lea. Dan setelah beberapa saat berlalu, tampak semuanya clear dan penuh ketenangan. Daniel memeluk Lea dari belakang, sedang perempuan itu memejamkan matanya dalam kepuasan.


Puncak telah dicapai, untuk sejenak mereka diam. Meresapi sisa kenikmatan yang masih menyala-nyala. Lalu, keduanya menerpa diri dengan air yang jatuh dari shower.


Pada saat selesai mandi dan berpakaian pun, Daniel kembali turun ke bawah dan menyambangi Lea di kamar. Lagi-lagi keduanya saling berpelukan dan berciuman. Seakan kemesraan itu tak pernah ada habisnya.


"Mas."

__ADS_1


Tiba-tiba Lea teringat sesuatu, Daniel pun mengerutkan kening karena tak mengerti.


"Aku banyak tugas mas, mana di kumpul besok lagi."


Lea menepuk jidatnya sendiri, ia benar-benar baru mengingat semua itu. Tadi pagi ia sok jual mahal pada Daniel dan berakting ragu-ragu, perihal apakah ia mau memenuhi permintaan Daniel atau tidak. Ia berpura-pura memiliki banyak tugas.


Namun ternyata itu semua malah menjadi doa yang di dengar semesta. Sebab pada akhirnya sang dosen memberikan banyak tugas pada seisi kelas.


"Ya udah kerjain, aku bantu." ujar Daniel kemudian.


"Bantuin ya mas."


"Iya, buruan...!" ujar Daniel.


"Biar bisa tidur abis itu." lanjutnya lagi.


Lea pun buru-buru mengeluarkan semua perlengkapan, buku, dan juga laptop. Sesaat kemudian Daniel sudah terlihat membantu perempuan itu mengerjakan tugas-tugasnya.


Malam beranjak naik, Lea menguap berkali-kali karena mengantuk.


"Kamu tidur aja, ini kan tinggal dikit lagi. Biar aku yang ngerjain." ujar Daniel.


"Nggak apa-apa mas?" tanya Lea.


Ia merasa tak enak hati merepotkan suaminya itu. Lantaran besok juga Daniel masih harus bekerja.


"Udah nggak apa-apa, kamu tidur aja." Daniel meyakinkan Lea.


Karena kantuk sudah sangat menggempur pertahannya, Lea pun mau tidak mau harus menyerah. Sebab matanya kini seolah di gelayuti setan batu.


Dengan berjalan sempoyongan, ia pun menuju tempat tidur. Lalu Lea terlelap di sana tanpa aba-aba. Sementara kini Daniel lanjut mengerjakan tugas, meski ia juga sangat mengantuk.


***


Waktu pun berlalu, hingga tanpa terasa pagi mulai datang mengusir malam. Lea terbangun dari tidurnya yang lelap. Namun ia mendapati sebuah pemandangan yang tak biasa.


Lea pun tertegun, mendapati suaminya tertidur di atas kursi dengan kepala yang terjatuh ke meja. Lea lalu beranjak dan mendekat, tampak semua tugas kuliahnya telah selesai di kerjakan oleh Daniel.


Jam masih menunjukkan pukul 5:25 pagi. Lea ingin menyuruh suaminya untuk pindah ke atas tempat tidur. Namun khawatir jika sudah bangun, pria itu tak akan bisa tidur lagi.


Ia pun hanya mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Daniel, lalu menaikkan derajat air conditioner di ruangannya agar tak terlalu dingin.


Lea tersenyum sejenak, ia mencium kening Daniel sebelum akhirnya keluar dari kamar untuk memulai aktivitas.

__ADS_1


__ADS_2