Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pengganggu Hati


__ADS_3

Lea pergi kerumah sakit, ia ingin mengetahui kabar Daniel secara langsung. Meski kadang Daniel sedikit cuek, lalu cueknya menjadi sedang, dan terkadang mendadak over limit. Tetapi Lea tak peduli.


Baginya Daniel sudah lebih dari cukup, untuk bersikap baik terhadap dirinya. Ia hanya ingin melakukan sedikit hal, untuk membalas kebaikan dari om-om tampan tersebut.


Lea melangkah di sepanjang koridor, ia kini telah tiba di muka pintu kamar Daniel. Namun ketika hendak membuka pintu, sayup-sayup Lea mendengar percakapan didalam sana.


Perlahan Lea membuka pintu itu, dan melihat siapa yang ada didalam. Ternyata Grace, Lea sangat terkejut melihat perempuan itu. Ia pun lalu menutup kembali pintu tersebut dan pergi ke suatu arah. Sementara Grace kini masih berada disisi Daniel.


"Sebaiknya kamu pulang."


Daniel berujar dengan nada yang tak begitu ramah pada Grace.


"Dan, aku kesini karena murni peduli sama kamu. Your daddy juga menyuruh aku untuk mengawasi keadaan anaknya, karena dia dapat kabar dari orang kantor kamu."


"Kalau kamu peduli sama aku, kamu nggak akan ninggalin aku. Apalagi menikahi my dad."


Grace menelan ludah, ia kini menatap Daniel yang memalingkan wajah ke arah lain.


"Aku menikah sama orang lain, itu salah kamu Dan."


"Hanya karena seorang anak?" Daniel kini menatap Grace dengan tajam.


"Bagaimana kalau posisi di balik. Seandainya kamu seorang laki, kamu jatuh cinta dan memiliki hubungan dengan seorang perempuan. Lalu perempuan itu tidak bisa memberi kamu anak, apa yang akan kamu lakukan?"


Daniel mencerca Grace dengan nada suara yang penuh kemarahan.


"Apa kamu akan memilih menikahi orang lain, hanya demi supaya kamu memiliki anak?. Cinta kamu terhadap dia hanya sebatas, apakah dia bisa memberi anak atau tidak?"


Grace terdiam, namun matanya masih menatap Daniel.


"Cinta itu nggak pernah bersyarat, Grace. Apakah pasangan kita bisa memberikan anak atau tidak. Kamu cuma memikirkan keinginan kamu sendiri, memaksa orang untuk memenuhi keinginan itu. Tanpa kamu pernah menghormati keinginan pasangan kamu."


"Ini juga keinginan aku, Dan. Seharusnya kamu bisa menghormati keinginan aku, untuk memiliki anak. Bukan sekedar memikirkan keinginan kamu, yang nggak mau memiliki anak."


"Keinginan kamu yang mana, yang nggak pernah aku turuti. Kecuali yang satu ini." Daniel kembali melemparkan balasan kepada Grace.


"Semua aku penuhi, Grace. Cuma satu itu saja yang aku belum bisa kasih ke kamu. Dan cuma itu keinginan aku, yang aku minta ke kamu untuk dipenuhi. Sisanya, aku nggak punya keinginan lain. Semua yang terpenuhi dalam hubungan kita itu, mostly adalah keinginan kamu. Aku bahkan nggak pernah memikirkan keinginan aku sendiri."


Grace mulai larut dalam suasana runyam. Ia memang egois dan tak pernah mau memikirkan kondisi psikis Daniel sebentar saja. Ia telah meninggalkan mantan kekasihnya itu, demi keinginan untuk memiliki seorang anak.


"Sekarang sebaiknya kamu pulang." ujar Daniel lagi.


Grace pun tak bisa berbuat banyak, karena suasana sudah mulai terasa tidak nyaman. Sementara di luar, Lea mulai resah menunggu kepulangan Grace. Ia kini merasa bosan dan berjalan ke lobi depan. Tiba-tiba ia menemukan Richard yang baru saja tiba bersama Ellio.


"Om."


Lea menyapa kedua orang itu, Richard dan Ellio pun terkejut.


"Lea, koq kamu disini?" ujar Richard memperhatikan.

__ADS_1


"Di dalam lagi ada mantan pacarnya om Dan." ujar Lea pada kedua orang itu.


"Hah?. Siapa?" tanya Richard lagi.


"Itu loh yang hamil."


"Grace?" tanya Ellio kemudian. Lea mengangguk.


Kedua sahabat itu saling bersitatap satu salain. Jujur mereka tak suka Grace ada di tempat itu. Karena dikhawatirkan akan memperparah keadaan Daniel.


"Sekarang dia masih disana?" tanya Ellio lagi. Dan lagi-lagi Lea mengangguk.


Richard dan Ellio kembali saling menatap, mereka merasa ini adalah sesuatu yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka lalu beranjak, namun Lea menghentikan sejenak langkah kedua orang itu.


"Om, nih bawa. Buat om Dan." ujarnya menyodorkan belanjaan yang tadi ia beli.


"Ini apa Lea?" tanya Richard pada gadis itu.


"Itu buah-buahan sama raw milk."


"Oh, ok. Kamu nggak mau ikut ke dalam?" tanya Ellio.


"Mau beli minum dulu, haus." jawab Lea.


"Ya udah, jangan jauh-jauh." ujar Richard.


Richard dan Ellio bergegas menuju ke arah kamar Daniel. Mereka ingin segera menjauhkan Grace dari sahabat mereka itu. Karena bisa saja Daniel akan kembali baper, lalu kembali kepikiran.


Saat ia kepikiran, bisa saja Daniel menjadi stress. Stress tersebut akan membuat peradangan di internal tubuhnya makin menjadi-jadi. Grace adalah sumber kebahagiaan sekaligus petaka bagi Daniel.


Lea menuju ke seberang rumah sakit, karena ada minimarket plus yang menjual banyak jenis minuman serta makanan siap saji disana. Lea ingin makan, minum, serta bersantai sejenak. Sebelum nanti ia menemui Daniel.


***


"Lea."


Seseorang menyapa Lea, ketika gadis itu telah berada di sebuah meja dan siap menikmati makanan cepat saji yang barusan ia beli.


"Hans?"


Lea mengingat pemuda yang sempat ia temui di pesta teman Daniel tersebut.


"Hai." ujar Hans dengan wajah ramah.


"Hai." balas Lea tak kalah sumringah.


"Boleh duduk disini?" tanya Hans pada gadis itu. Tentu saja Lea mengiyakan, kebetulan Hans juga membeli makan.


"Koq kamu ada disini?" tanya Lea ketika Hans telah duduk.

__ADS_1


"Kamu sendiri?" Hans balik bertanya.


"Om Daniel sakit." ujar Lea.


"Oh, sakit apa?" tanya Hans dengan nada penuh keterkejutan.


"Kata dokter sih demam dan peradangan."


Mereka mulai makan.


"Kayaknya om Daniel sering banget deh, masuk rumah sakit gara-gara itu." ujar Hans seraya menatap Lea.


"Oh ya?"


"Iya, waktu itu aja papaku pernah bawa dia kerumah sakit. Gara-gara pingsan pas lagi ada kunjungan ke perusahaan klien."


Lea memperhatikan Hans. Ia tak menyangka jika perkara ini pernah terjadi sebelumnya.


"Om Dan itu sensitif, kalau papa lagi mengundang rekannya untuk makan malam dirumah dan dia ngajak om Dan. Pasti mama ku pesan makanan yang agak khusus buat dia. Karena dia tuh nggak bisa sembarangan makan."


Lea terdiam, apa jangan-jangan ini gara-gara Daniel yang ia ajak makan sembarangan tempo hari.


"Kamu kesini sama om kamu?" tanya Hans lagi.


Lea bingung.


"Om Ellio, kamu ponakan dia kan?"


"Mmm, iya. Ada koq, didalam. Hehehe."


Lea menyedot minumannya. Hans memang tidak mengetahui, jika dirinya kini sudah menjadi sugar baby yang dibeli oleh Daniel. Meskipun sugar baby bukan dalam arti sebenarnya. Karena Daniel pun tak pernah menyentuh maupun menidurinya.


"Aku mau liat om, Dan." ujar Hans kemudian.


"Ya udah ntar barengan aja. Tadi juga aku belum liat koq, soalnya tadi masih ada temennya yang jenguk." ujar Lea.


"Ok abis ini ya." ujar Hans.


Lea mengangguk.


"Oh ya by the way, koq kamu bisa disini?" tanya Lea.


"Aku dari nemuin grandpa aku, dia dokter disini."


"Oh." Lea manggut-manggut.


"Kita jarang ketemu, karena grandpa itu masih aktif dan cukup sibuk. Nanti aku kenalin ke dia."


Lea tersenyum, lalu mereka melanjutkan makan.

__ADS_1


__ADS_2