Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Ikan Oh Ikan (Bonus Part)


__ADS_3

"Udah pergi kesananya?"


Daniel bertanya pada Lea ditelpon.


"Udah mas, tadi papa kamu nangis waktu kita datang." jawab perempuan itu.


"Bisa nangis juga ternyata." Daniel berseloroh.


Namun kali ini tidak disertai dendam apa-apa, sebab ia telah berdamai dengan masa lalunya. Ia telah memaafkan semua perbuatan sang ayah padanya selama ini.


"Ya, namanya juga manusia mas. Pasti bisa nangis lah. Kecuali abu Jahal kali." jawab Lea.


Kali ini Daniel tertawa.


"Darriel tadi gimana disana?" tanya nya kemudian.


"Ya apalagi kalau bukan hokhoa, uwauwa." ucap Lea.


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Nggak nangis dia." tanya pria itu.


"Nggak, malah kesenangan." jawab Lea.


"Mama mana?"


"Ada lagi tidur, capek kayaknya."


"Oh ya udah kalau gitu. Oh ya nanti sore kita


makan pizza aja yuk di luar. Sekalian jalan ajak mama. Kan aku nggak ikut waktu kalian jalan."


"Oke, nanti kami siap-siap. Mas kabarin aja jam berapa mau jemput."


"Sip." jawab Daniel.


Lalu pria itu pun berpamitan dan menutup sambungan telpon. Tak lama terdengar suara Darriel menangis. Lea masuk ke kamar sang anak dan mengecek kondisinya.


Popoknya tidak penuh dan ia juga tak mungkin sudah lapar lagi. Sebab beberapa menit lalu ia sudah mendapatkan ASI.


"Kamu kenapa Delil?" tanya Lea kemudian.


Darriel masih menangis, hingga membangunkan sang nenek dari tidurnya. Ibu Lea mendekat dan bertanya mengapa cucunya itu menangis. Lea bilang jika ia tidak tahu.


"Popoknya nggak penuh ma, dan dia juga udah minum susu banyak." ujar Lea.


"Coba buka bajunya dulu, mana tau digigit serangga." ucap ibu Daniel.


Maka Lea pun mengikuti saran dari ibu mertuanya tersebut dan ternyata benar. Darriel seperti digigit semut di bagian lengan atasnya. Lea segera mencari semut tersebut dan memang ada di atas tempat tidur.


"Ada nih ma, satu." tukas Lea.


"Ya sudah sini Darriel biar sama mama. Kamu bersihkan aja tempat tidurnya. Mana tau ada semut lain."

__ADS_1


"Oh oke." jawab Lea.


Darriel kemudian dibawa keluar dan Lea membersihkan kamar anak itu.


***


"Lele kapan kita jalan bareng?


Adisty bertanya pada Lea melalui WhatsApp, ketika akhirnya Darriel diam dan kembali tidur.


"Kalau sekarang nggak bisa, Dis. Soalnya lagi ada emak mertua gue di rumah." tukas Lea.


"Ibunya mas Daniel?" tanya Adisty.


"Iya, makanya ini gue nggak kemana-mana. Kalaupun pergi ya sama dia. Nggak enak kalau gue tinggalin sendirian, ntar apa kata laki gue nanti."


"Iya sih. Ya udah kalau nyokap mertua lo udah balik aja baru kita jalan. Gue tuh mau gosip." ucap Adisty.


"Gosip apaan anjay?. Wkwkwkwk."


"Si Shela yang mau deketin laki lo itu. Gue ketemu dia lagi jalan sama om-om. Om-om nya jelek anjir. Wkwkwkwk."


"Oh ya?. Ngeliat dimana lo?"


"Di mall, dekat iBox. Nih foto nya nih."


Adisty mengirim foto Shela yang ia ambil secara candid. Lea memperhatikan laki-laki yang ada di samping gadis itu dan ia pun terkejut.


"Anjir ini mah si Hanif, suami temennya sendiri. Yang kata gue bininya tiga itu loh, Dis."


"Serius." jawab Lea.


"Anjay, tak ada rotan kawat duri pun jadi." tulis Adisty.


"Wkwkwkwk."


"Wkwkwkwk." Lea membalas.


"Tak ada rotan, bambu gila pun dilibas." lanjutnya kemudian.


"Wkwkwkwk."


"Wkwkwkwk."


Lagi-lagi keduanya tertawa-tawa. Tak lama kemudian Ariana pun masuk ke grup.


"Ada apaan sih, koq gue nggak diajak?" tanya nya kemudian.


"Lo scroll deh ke atas." ujar Lea.


Ariana pun melihat percakapan yang sebelum-sebelumnya dan ia kini iku tertawa.


"Wkwkwkwk."

__ADS_1


"Kayak ikan Dori anjir om-om nya."


"Wkwkwkwk."


"Banting stir say. Kagak dapat suaminya si Lea, langsung berpindah ke penghuni Palung Mariana." ujar Adisty.


Dan lagi-lagi mereka semua tertawa. Sementara di tempatnya Shela mulai berpikir. Ia akan segera mengatur drama tentang kosan tempat dimana ia kini tinggal.


Ia ingin Hanif menjadi iba dan memindahkannya ke sebuah apartemen. Ia sudah tidak peduli lagi siapa Hanif. Selama itu bisa menguntungkan baginya, kenapa tidak.


***


"Aku bukan nggak mau ketemu, tapi saat ini aku lagi dalam proses perceraian. Aku nggak mau mas Richard dituduh sebagai orang ketiga." ucap Nadya pada Richard di telpon.


Beberapa saat yang lalu Richard ada mengajak wanita itu untuk bertemu di luar.


"Ya udah kalau gitu, nggak apa-apa. Tunggu semuanya beres dulu aja." ujar Richard.


"Aku minta maaf ya mas." ucap Nadya.


"Iya nggak apa-apa, Nad. Nggak perlu minta maaf juga. Kan masih ada lain waktu." ujar Richard lagi.


Nadya mencoba tersenyum lalu mereka pun membicarakan topik lain. Beberapa asisten rumah tangga ada yang mendengar semua


itu dan mereka bergosip di dapur.


"Semoga aja kali ini jodohnya pak Richard nggak meleset lagi." ujar salah seorang dari mereka.


"Iya sih, gue juga berharapnya gitu. Kasihan pak Richard, udah umur segitu masih single aja." timpal yang lainnya lagi.


"Kalau di luar negri sih nggak masalah. Kalau di negara kita kan, suka dikira belok tau." Lagi-lagi yang lainnya menimpali.


"Iya, karena otak orang kita isinya nikah mulu. Bini dua, tiga, belum simpanan dimana-mana. Jadi pas ngeliat ada yang belum nikah dikiranya begini begitu deh."


Mereka cekikikan. Tak lama salah satu asisten rumah tangga lain, kembali dari pasar. Mereka saling membantu membawa barang belanjaan.


"Eh, tadi kita ketemu mbak Dian tau." ujar salah satu asisten rumah tangga yang baru kembali dari pasar itu.


"Oh ya?" tanya yang lain kaget.


"Mbak Dian mantannya pak Richard kan?"


"Iya, dia tekdung masa. Perutnya buncit udah keliatan."


"Nah loh dia bunting." ujar mereka semua.


"Siapa yang bunting?"


Tiba-tiba Richard bertanya pada mereka dari kejauhan. Sontak para asisten rumah tangga itu gelagapan.


"Eh nggak pak, lagi ngomongin drama indo siar pak." ujar salah satu dari mereka.


"Jangan kebanyakan nonton sinetron, ntar nggak waras." seloroh Richard.

__ADS_1


Para asisten rumah tangga itu pun kompak nyengir bajing. Hingga kemudian Richard kembali ke lantai atas.


__ADS_2