
"Mas."
"Mas Dan, maafin aku mas."
Daniel berjalan cepat, kesalahan Lea benar-benar tak termaafkan baginya.
"Mas, aku minta maaf. Aku baru salah sekali ini, mas."
Daniel tetap tak menggubris, bahkan ia terlihat semakin dingin.
"Mas Dan."
Lea mencekal lengan suaminya itu dan dengan cepat Daniel memberontak, hingga tubuh Lea terdorong ke dinding.
"Dan."
Seseorang berteriak, ternyata Richard yang didampingi Ellio. Sejak tadi pagi kedua sahabatnya itu ikut ke dalam acara, karena sama-sama tengah mengurus pekerjaan. Mereka juga tadi melihat perihal Lea yang datang membuat keributan.
"Lo nggak harus kasar kayak gitu." ujar Richard memarahi Daniel, sedang Lea kini berada dalam ketakutan dan tentu saja kesedihan.
"Jangan ikut campur urusan gue, Richard."
Daniel balas berteriak di muka sahabatnya itu, sedang Ellio mencoba menarik Lea.
"Kemarahan lo terhadap dia itu nggak wajar." ujar Richard lagi.
"Apa tadi bisa disebut wajar, saat dia mempermalukan gue di depan semua orang?"
"Dan, lo ngomong seolah-olah lo emang punya salah sama dia. Kalau emang lo nggak punya affair sama sekretaris lo, kenapa lo harus marah banget kayak gini."
"Apa harus ada affair dulu, baru gue boleh marah?. Hah?. Wajar gue marah, gue pemimpin di perusahaan gue, dan tadi itu kita semua ketemu orang penting. Gue dipermalukan didepan orang banyak, oleh bocah ingusan kayak dia."
Lea makin tersentak, jujur ia sudah sangat ingin menangis. Namun ia tak mau menggunakan air matanya untuk menarik simpati.
"Justru karena dia masih bocah, lo harusnya bisa memahami itu semua."
"Memahami soal apa?. Soal perbuatan yang dia lakukan?"
"Dan, dia bukan Grace."
"Of course dia bukan Grace, Grace nggak pernah melakukan hal itu terhadap gue di muka umum."
"Justru itu, harusnya lo paham karena Grace sudah dewasa dan Lea belum."
"Kenapa lo ngotot banget belain dia, harusnya lo mendukung gue untuk mendidik dia."
__ADS_1
"Dan, gue...."
Daniel menatap Richard dalam-dalam.
"Lo punya perasaan kan terhadap dia?"
Kali ini Daniel benar-benar ingin tau jawabannya. Tentu saja hal tersebut membuat Lea dan Ellio tercengang. Bagaimana mungkin Daniel bisa berfikir demikian terhadap Richard.
"Dan, lo salah. Ini nggak seperti yang lo duga."
"Pantes, kalau gue minta tolong soal dia. Lo nggak pernah nolak."
"Dan, stop dengan semua pikiran buruk lo itu. Gue sayang sama dia sebagai saudara, bukan apa-apa."
"Oh ya?"
Daniel menatap dalam ke mata Richard.
"Lalu apa artinya gue buat lo?. Apa gue bukan saudara lo?. Kenapa dia jadi begitu penting buat lo?"
Richard menghela nafas, ia benar-benar tak ingin melanjutkan kesalahpahaman ini. Ia memang menyayangi Lea, namun apa yang dituduhkan Daniel itu tidak benar.
"Jangan ada yang bicara sama gue, gue mau sendirian."
***
Disebuah tempat, beberapa saat setelah kejadian itu.
"Lea, kalau Daniel itu lagi marah. Kamu nggak usah ngotot buat memperbaikinya saat itu juga. Kasih dia waktu untuk sendiri, sebab dia jelek kalau lagi marah. Liat tadi dia kasar kan sama kamu."
Lea mengangguk, sekaligus menunduk. Ia mendengarkan ucapan Ellio dengan wajah yang masih sedih.
"Jangan sekali-kali kamu mempermalukan dia di depan umum. Apapun kesalahan dia dan betapapun sakitnya kamu. Karena Daniel sulit memaafkan semua itu, kalau mau ribut tunggu di rumah. Daniel itu harga dirinya sangat tinggi, apalagi tadi. Kamu melakukan semua itu didepan banyak orang yang bahkan sangat menghormati dan segan sama dia. Wajar kalau dia marah besar ke kamu."
Lea makin diam dan menatap Ellio dalam-dalam. Ia ingin mengatakan jika tadi ia benar-benar tidak tahu perihal Daniel yang bertemu dengan kliennya. Sebab mereka semua ada yang memakai baju biasa saja. Lea tak tau jika itu adalah pertemuan para bos perusahaan. Lea ingin berkata, namun bibirnya seolah kelu.
"Om bukan membela Daniel, hanya karena kami berteman sejak lama. Tapi om cuma ngasih tau kamu, begitulah sifat Daniel. Lagipula om rasa, Daniel nggak mungkin selingkuh. Dia itu kalau udah sayang sama perempuan, ini sepanjang pengetahuan om ya. Dia nggak akan berkhianat. Daniel itu jarang mikirin perempuan, isi otaknya cuma kerja dan meraih achievement."
Lea kian menyadari kesalahannya, ia berjanji ke depan tak akan melakukan hal ini lagi.
"Pelan-pelan belajarlah untuk jadi dewasa. Om tau itu nggak gampang, apalagi seumur kamu. Nanti om juga akan nasehatin Daniel, supaya dia bisa menempatkan kemarahannya dengan tepat. Supaya dia tau kapan harus murka, dan kapan harus mengalah. Kamu yang sabar, ya."
Lea mengangguk, dan kembali menundukkan pandangan. Ia hanya berharap semua ini cepat selesai.
***
__ADS_1
Daniel duduk diam di suatu tempat, ia benar-benar terpikir akan hal ini. Sementara Richard berada di dalam mobil, dan teringat pertengkarannya dengan Daniel.
Bagaimana bisa Daniel menuduhnya menyukai Lea. Padahal apa yang ia lakukan terhadap Lea adalah semata demi Daniel. Ia tau Daniel sibuk dan tak bisa setiap saat memperhatikan istrinya. Richard hanya ingin membantu sahabatnya itu.
Tapi, setelah kejadian ini. Richard jadi berfikir ke arah sana. Apakah benar ia menyukai Lea, lebih daripada yang ia kira selama ini?.
Richard mulai menghitung mundur, apa saja yang ia lakukan untuk Lea. Dan kini ia mulai bertanya-tanya, apakah perasaan sayang dihatinya murni sebatas sayang kepada saudara, atau jangan-jangan.
"Ah sudahlah, pikiran macam apa ini." Pikir Richard.
Pria itu pun segera menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.
***
"Lo di mana?"
Ellio menelpon Richard ketika sahabatnya itu sudah berada di jalan pulang.
"Gue balik." ujar Richard pada Ellio.
"Lo nggak usah ambil hati omongannya Daniel. Lo kayak nggak tau sifat Daniel aja kalau lagi marah."
"Iya, gue cuma butuh menenangkan diri aja sebentar."
"Ya udah, lo hati-hati di jalan." ujar Ellio.
Tak lama pria itu berjalan ke halaman parkir, Lea telah pulang menaiki taxi online sejak beberapa saat yang lalu. Ia menolak diantar dengan alasan tak ingin merepotkan lebih banyak.
Ellio melangkah ke arah mobilnya dan masuk ke dalam. Saat telah keluar dari halaman parkir basemen, ia melihat Marsha yang tengah berjalan ke dekat jalan raya. Agaknya gadis itu hendak menyetop taxi.
"Marsha, saya antar pulang." ujar Richard pada gadis itu. Marsha diam sejenak, lalu masuk ke dalam mobil Ellio.
Disepanjang perjalanan keduanya lebih banyak diam, dan berusaha tak membahas kejadian yang tadi dialami oleh Marsha. Ellio mengantar gadis itu hingga ke lobi apartemennya.
"Kamu tinggal disini?" tanya Ellio.
"Iya, pak. Bapak mau mampir dulu?" Marsha berbasa-basi, padahal Ellio tau persis gadis itu masih marah atas kejadian yang menimpanya. Terbukti dari suaranya yang berat dan terdengar malas.
"Lain kali aja." ujar Ellio.
"Kalau gitu, saya pamit pak."
"Ya."
Marsha pun keluar dari dalam mobil Ellio, sementara Ellio kemudian melaju meninggalkan tempat itu.
__ADS_1