
"Ini udah nggak bisa di diemin." ujar Ellio ketika ia juga melihat pemberitaan mengenai Lea di berbagai platform berita online.
Kita harus layangkan teguran ke berbagai media ini. Atau bikin surat teguran secara terbuka aja. Mereka menyerang lewat media, ya serang balik lewat media juga. Lo punya akun kan?" tanya Ellio pada Daniel.
Maka pria itu pun mengangguk.
"Lea juga punya akun. Dia harus bikin video protes dan penolakan terhadap fotonya yang dipampang nyata di berita-berita tersebut. Setelah itu kita bayar media besar untuk mengadakan konferensi pers. Karena kan yang banyak menyebar berita itu media kecil dan ecek-ecek. Mereka harus dikasih efek jera." ucap Ellio.
"Gue juga udah berpikir kayak gitu dari semalam. Makanya ini gue panggil lo kesini." ucap Daniel.
"Gue udah nyuruh orang kepercayaan gue untuk cari tau. Kira-kira siapa yang pada awalnya menyebar berita ini." lanjut pria itu kemudian.
"Oke." jawab Ellio.
***
Tak menunggu waktu lama Daniel dan Ellio pun segera bergerak. Dengan sekali menghubungi satu pihak saja, media yang menyebar berita langsung ketar-ketir.
Ada beberapa pula yang sengaja di hack untuk memberikan efek jera. Beberapa dari akun-akun tersebut langsung meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Rata-rata dari mereka adalah akun repost dan bukan akun yang sengaja dibayar untuk menaikkan berita tersebut. Akun-akun itu hanya memanfaatkan keadaan demi kepentingan like dan viewers semata.
Apapun yang sedang heboh, mereka hanya ikut-ikutan. Tujuannya apalagi kalau bukan engagement. Semakin banyak berita viral yang mereka posting, maka semakin banyak pula netijen yang tertarik untuk memfollow akun mereka.
Jika sudah seperti itu peluang untuk mendapatkan penghasilan dari paid promote dan endorse akan semakin terbuka lebar.
Makanya akun-akun seperti itu akan sangat bergerak cepat bila ada berita yang tengah mencuat ke permukaan. Biasanya mereka akan langsung repost dan mendapat banyak atensi dari publik.
***
"Kalau menurut mas, aku mendingan ikut bersuara atau diem aja. Kalau misalkan aku ikut berkoar nih, takutnya ada yang jahil dan kasih tau kalau emang aku udah tinggal sama mas sejak aku umur 16 tahun. Ntar kita kena masalah lagi. Mas bisa di tekan orang."
Lea berujar ketika Daniel membahas soal penolakan secara terbuka, atas segala pemberitaan yang kini tengah beredar.
__ADS_1
"Aku nggak takut, Le." ucap Daniel dengan nada yang meyakinkan.
"Aku yang takut, mas."
Lea menatap Daniel, kali ini Daniel yang terdiam. Ia tak gentar menghadapi apapun, kecuali sudah menghadapi tatapan mata Lea. Ia tak pernah tega menempatkan istrinya itu pada posisi yang dinilai tak nyaman.
Mungkin Lea memang merasa tak nyaman jika harus membuat video penolakan secara terbuka. Dan lagi privasinya bisa terganggu.
"Oke, kalau gitu biar jadi urusan aku aja." jawab Daniel.
"Oeeeeek."
Darriel tiba-tiba saja menangis.
Daniel dan Lea mendengar. Namun kemudian tangisan itu berhenti, dan berlanjut di beberapa detik berikutnya.
"Oeeeeek."
Ia dan Lea langsung pergi ke kamar dan ternyata Darriel tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Lea dan Daniel pun saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
"Caper ya kamu?" tanya Daniel pada Darriel seraya mendekat ke box bayi.
Darriel pun lalu tertawa. Kemduian antusias menggerakkan tangan dan kakinya.
"Kecil-kecil udah berani ngeprank orang tua kamu." ucap Daniel lagi.
Darriel kembali tertawa.
"Wuuu caper wuuu." Lea meledek sang anak, dan bayi itu terus saja memperlihatkan gusinya yang tak bergigi.
"Yuk sini sama mama, sama papa." ucap Daniel seraya meraih bayi itu.
Ia kemudian meletakkan Darriel ke atas tempat tidur dan mereka berdua ikut naik kesana. Mereka mengajak Darriel bercakap dan bermain bersama.
__ADS_1
***
Di lain pihak.
Richard tiba di tujuan, meski belum langsung menemui dian dan membawa barang-barangnya dulu ke hotel. Namun ia lega akhirnya bisa berdekatan dan akan mengetahui secara langsung apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Ia tak mesti mengira dan menebak-nebak, hingga akhirnya malah menimbulkan prasangka yang tidak jelas.
Richard check in di sebuah hotel, yang telah ia booking sejak beberapa hari lalu. Namun kemudian ia melihat seseorang yang melintas sambil membawa kereta bayi.
Di dalam kereta tersebut terdapat seroang bayi mungil, yang membuat Richard jadi makin merindukan Darriel. Terutama senyumannya.
Ketika telah mendapatkan kamar, Richard mandi dan berganti pakaian. Kerinduannya terhadap sang cucu makin menjadi-jadi. Ia kemudian meraih handphone dan mencoba menghubungi Lea.
"Le, atau kangen sama Darriel." ujarnya melalui pesan singkat.
"Telpon aja yah, Darriel udah bangun koq." jawab Lea.
Maka Richard pun akhirnya menelpon dan menanyakan kabar cucunya tersebut.
Ketika di telpon Darriel tampak antusias, agaknya ia mulai mengenali wajah sang kakek meski itu hanya melalu layar handphone. Berkali-kali ia mengeluarkan suara dan tertawa, demi mendengarkan Richard yang berbicara.
"Ayah udah di hotel?" tanya Lea.
"Udah, ini udah mandi tinggal mau pesan makan aja." ucap Richard.
"Dan mana?" tanya nya kemudian.
"Lagi bikin steak dibawah, sama bikin makanan Darriel."
"Oh, kamu belum makan ya." tanya Richard pada Darriel. Lagi-lagi bayi itu pun tertawa. Dan mereka lanjut berbincang hingga beberapa saat kedepan.
***
__ADS_1