
"Hmm, asem banget."
Lea dan Daniel berujar sambil tertawa. Lantaran mereka berdua tengah sama-sama memakan buah mangga muda potong, yang mereka beli dari pedagang rujak keliling. Kebetulan pedagang rujak itu tadi mangkal di depan toko buku.
Lea yang sedang hamil pun tergiur, sementara Daniel entah mengapa tiba-tiba ingin ikut makan. Padahal sebelumnya ia mangaku tak kuat makan asam.
"Huh, kirain nggak seasem ini." ujar Daniel meringis namun masih lanjut makan.
"Jangan dilanjutin mas, kalau nggak kuat."
"Abis enak, pedes asem gimana gitu." ujar Daniel.
"Seger yak?" timpal Lea.
Daniel mengangguk sambil terus mengunyah, meski matanya memicing sebelah karena rasanya sangat kuat.
"Hahaha. Mas sampe gitu banget mukanya." ujar Lea.
"Huh, pedes juga ya." lanjutnya kemudian.
"Nih minum...!"
Daniel memberikan segelas air mineral pada Lea, dan Lea pun meminumnya.
"Tapi enak nih, buat melek mata." ujar Daniel.
Pria itu lalu menghidupkan mesin mobil.
"Nih mas, aa'k."
Lea menyuapi Daniel dan Daniel menerimanya, sesaat setelah itu ia mulai menginjak pedal gas.
"Hmm, ini bagian dekat bijinya Le. Sumpah asem banget." ujar Daniel.
Lea pun terbahak.
"Mana aku tau itu bagian yang mana mas."
"Haaah, sssh."
Mata Daniel kembali memicing-micing, sementara Lea masih tertawa-tawa.
"Mas."
"Hmm?"
"Nanti bayi kita siapa yang ngurus kalau aku kuliah?" Lea bertanya ketika mereka sudah agak jauh.
"Ya nanti lah kita pikirin, tinggal cari yang bisa ngurus bayi. Kan kamu habis melahirkan pasti istirahat dulu di rumah. Nggak hari ini beranak, besoknya langsung ngampus."
"Iya sih. Aku cuma kepikiran aja."
"Udahlah nggak usah di pusingkan, biar itu jadi urusan aku. Biar aku yang mikirin. Kamu tenang-tenang aja sampai anak ini lahir."
"Iya mas."
"Oh ya, udah laper belum kamu?" tanya Daniel.
"Hmm, belum terlalu sih. Mas mau ngajak makan ya?"
"Ya kemana lagi agenda kita kalau nggak makan. Makan is number one."
Lea terkekeh.
"Cari tempat nongkrong yuk mas, mumpung libur tau."
"Kemana?. Kafe, restoran, atau?"
__ADS_1
"Cari kafe yuk, tapi yang tempatnya enak. Yang Deket pantai kek, dekat perkebunan kek. Atau yang tempatnya outdoor gitu. Pengen duduk di tempat yang tenang gitu loh mas. Biar pikiran makin fresh."
"Mmm..." Daniel berfikir.
"Dimana ya?" ujarnya kemudian.
Lea juga ikut berfikir.
"Eh iya aku tau." Daniel berujar.
Sepertinya pria itu tau dimana tempat yang diinginkan oleh Lea.
"Udah dapat mas tempatnya?"
Daniel mengangguk lalu mengatakan dimana tempat yang ia maksud. Lea kemudian mensearchingya di google.
"Oke deh, kayaknya enak tempatnya." ujar Lea.
Maka pasangan suami istri itu pun kini menuju ke sana. Sesampainya di tempat itu, Lea merasa gembira. Sebab apa yang jadi kenyataan sangat sesuai dengan apa yang ia ekspektasikan.
Tempatnya benar-benar tenang dan antara meja satu dengan yang lainya cukup berjauhan. Seperti konsep sebuah sosial distancing.
"Hmm bakalan jadi tempat favorit aku nih mas." ujar Lea.
Daniel tersenyum, lalu seorang pelayan menghampiri dan memberikan buku menu pada mereka.
"Makasih ya mas, sejak sama kamu aku jadi bisa ke tempat-tempat kayak gini." Lea berujar seraya memperhatikan sekitar.
"Sebenarnya tanpa aku juga kamu bisa. Kan kamu anak orang kaya."
"Tapi kan aku nggak bakal tau kalau aku anak orang kaya, semisal aku nggak ketemu mas."
"Loh kan kamu ketemu Richard itu dari usaha ibu kamu dan teman-temannya."
"Iya sih, tapi ya beruntung juga dapat suami baik kayak kamu."
Daniel tertawa kecil.
"Udah membaik, kan aku tanya terus kondisinya ke Richard."
"Oh ya?" Lea tak percaya.
"Iya, kan kamu rada durhaka sama ibu kamu. Udah ngawasin sekali, abis itu nggak ada inisiatif lagi. Minta temenin kek ke aku, jenguk ibu kamu."
"Ih mas, aku tuh bukan durhaka. Cuma bingung aja kalau ketemu ibu, mau ngebahas apa lagi. Bukan berarti aku nggak mikirin ibu."
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Iya aku paham, makanya aku yang ikut ngurus. Berhubung istri aku masih bocah, belum banyak ngerti. Aku lah yang ikut nanyain kabar ibunya, memantau adek-adeknya. Karena Lele masih jadi Lele anakan, belum Lele dewasa."
"Kalau Lele dewasa, aku masuk ke pedagang pecel Lele mas."
Keduanya sama-sama tertawa.
"Oh ya mau makan apa?" tanya Daniel.
Lea pun lalu melihat-lihat menu yang ada.
"Wah minumannya seger-seger nih." ujar Lea.
"Teh buahnya enak banget, Le. Cobain deh."
"Yang ini ya mas?"
Lea menunjuk pada menu berbagai teh buah yang tersedia.
"Iya, ini, ini, ini. Enak semua."
__ADS_1
"Rasanya kayak asem-asem gitu nggak sih?"
"Semuanya kayak ada asem-asemnya gitu. Pokoknya kamu pasti suka deh."
"Yang mana yang paling recommended?"
"Yang ini." Daniel menunjuk pada salah satu foto menu.
"Ya udah, aku mau yang ini."
"Makanan atau cemilannya?" tanya Daniel.
Lea pun beralih ke menu makanan berat dan juga makanan ringan.
"Kayaknya aku mau yang ringan dulu deh mas."
"Ya udah terserah."
"Mas mau yang mana?"
"Aku mau yang ini, sama..."
Daniel membalik menu.
"Yang ini." ujar Daniel.
"Belum mau makan berat juga?" tanya Lea lagi.
"Belum, itu aja dulu."
"Ok deh."
Tak lama Lea pun memanggil pelayan dan menyebutkan apa saja yang hendak ia dan suaminya pesan.
Di meja-meja lain, ada banyak pasangan yang duduk berhadapan. Namun mereka saling sibuk dengan handphone masing-masing. Daniel sendiri menerapkan dalam rumah tangganya, jika tengah pergi berdua, atau sedang menghadap sebuah meja makan. Mereka sepakat untuk tidak terlalu banyak menggunakan handphone.
Boleh mengabadikan momen dengan mengambil foto atau video, namun sekedarnya saja. Jangan sampai waktu yang seharusnya berkualitas, malah diisi dengan kesibukan bersosial media.
Beberapa saat berlalu pesanan datang. Lea begitu antusias, namun tiba-tiba ia ingin buang air kecil.
"Mas toilet dimana ya?" tanya Lea.
"Nih masuk, terus ke kiri." Daniel menunjuk ke sebuah arah.
"Mau aku temenin?" tanya nya kemudian.
"Ah nggak usah mas, kayak apaan aja."
"Tapi hati-hati ya."
"Iya."
Lea berlalu menuju toilet, sementara Daniel mulai meminum minuman yang ia pesan. Sekembalinya dari toilet, Lea berpapasan dengan seorang perempuan paruh baya. Lea ingat perempuan itu tadi juga sempat ia lihat di toko buku.
"Ah kebetulan aja kali." gumamnya.
Lea terus melangkah. Namun kemudian perempuan itu teringat, jika wanita yang ia temui tersebut pernah juga ia temui di tempat lain. Dan iya, wanita itu yang ia rasa agak sedikit mirip dengan Daniel.
Lea kembali menoleh, namun wanita itu sudah tak terlihat. Mungkin ia duduk di kafe bagian dalam pikirnya lagi. Perlahan Lea pun mendekat ke arah Daniel.
"Mas, ada ibu-ibu mirip kamu tadi." ujarnya ketika telah tiba di muka Daniel.
"Mana?" Daniel bertanya seraya mencari-cari.
"Udah nggak ada, udah ilang. Masuk ke dalam kali." ujar Lea.
Daniel hanya tertawa.
__ADS_1
"Kamu tuh, masa suami sendiri disamain sama ibu-ibu. Emang aku keliatan sein kiri belok kanan."
Kali ini Lea yang tertawa. Lalu kemudian ia menyeruput minumannya.