
"Maaf ya, gue nggak bisa datang. Tadinya udah rencana sih, tapi dokter bilang gue harus ada disini untuk mengambil setiap keputusan."
Sharon melakukan panggilan video call pada Nina, sesaat setelah acara lamaran usai. Nina mengatakan tidak apa-apa pada saudaranya itu.
Sebab saat ini Sharon tengah berada di Singapura untuk perawatan penyakit ibunya yang kian bertambah serius.
Tapi ia berjanji akan menghadiri acara pernikahan Nina nanti. Nina mengatakan agar Sharon fokus dulu pada kesembuhan ibunya.
"Pokoknya urus yang penting dulu, baru pikirin soal yang lain." ujar Nina.
Sharon pun lalu mengangguk dan mereka lanjut berbincang sampai beberapa saat ke depan.
***
Daniel dan Lea tiba di rumah. Mereka langsung mandi dan juga turut memandikan Darriel. Namun ditengah-tengah mandi, Darriel malah tertidur dengan lelap.
Daniel dan Lea yang memandikan anak itu secara bersama, kini saling menatap satu sama lain.
"Bisa gitu ya?" tanya Lea pada suaminya.
Maka Daniel pun jadi tertawa.
"Heh, Delil. Bangun jangan tidur!"
Lea menowel pipi Darriel. Anak itu hanya bergerak sedikit lalu makin lama makin Ter
lelap.
"Dasar." ujar Lea kemudian
Daniel makin tertawa. Mereka lalu menyelesaikan semuanya dan membawa Darriel ke kamar. Usai memakaikan baju kepada sang anak, Lea pun keluar dan menutup pintu.
"Masih tidur juga dia?" tanya Daniel pada sang istri.
"Masih, namanya juga Darriel." jawab Lea, lalu duduk di samping suaminya itu.
Daniel menarik Lea ke dalam pelukan.
"Minum tuh, aku bikinin susu." ujar pria tersebut.
Lea menilik segelas susu yang sejak tadi memang sudah tampak di atas meja.
"Koq cuma satu?. Mas nggak minum?" tanya Lea.
"Aku minum punya Darriel aja." jawab Daniel.
Lea agak lama melakukan loading di otaknya. Sampai kemudian,
"Plaaak."
Ia memukul lengan Daniel lalu mencubitnya. Sedang Daniel kini tertawa-tawa.
__ADS_1
"Otak kamu mas, mas." ujar perempuan itu dengan nada sewot.
"Kamu loadingnya lama lagi. Pake acara mikir dulu." tukas Daniel.
"Ya aku pikir punya Darriel, yang mana?. Kalau yang biasa di botol susu ya dari aku. Berarti mau yang di aku dong?" ujar Lea.
"Boleh kan?" tanya Daniel lagi.
Lea kembali memukul lengan suaminya itu, dan lagi-lagi Daniel tertawa. Namun kemudian mereka saling menatap dalam diam, lalu sama-sama berciuman.
Makin lama ciuman itu semakin panas. Hingga Lea berani untuk membuka kaos yang dikenakan sang suami.
Daniel tertawa kecil sambil terus menatap Lea. Kemudian ia juga menanggalkan segala apa yang dikenakan oleh istrinya itu.
Dalam sekejap semuanya terjadi begitu saja. Daniel menyelesaikan istrinya ditempat yang sama. Hingga terdengar teriakan penuh kenikmatan di akhir *******.
Keduanya lalu sama-sama terhempas dan saling tersenyum satu sama lain. Kemudian mereka saling berpelukan dengan erat.
"Mumpung Darriel belum gede." ujar Daniel setelah itu.
"Kalau udah gede, kita udah nggak bisa ngelakuin di sembarang tempat kayak gini." ujarnya lagi.
"Bener sih, jangan sampai dia ada ngeliat nggak sengaja aktivitas kita." Lea menimpali.
"Karena kita nggak tau, mungkin anak kita punya ingatan yang kuat." lanjutnya kemudian.
"Walaupun ingatannya nggak kuat, apa yang dilihat seorang anak saat mereka kecil. Otak mereka menyimpan semua itu dengan baik. Makanya kadang anak itu suka berperilaku buruk, karena apa yang mereka lihat sejak masih kecil." lagi-lagi Daniel berujar.
***
Esok hari Richard hendak berangkat ke kantor. Namun ia merasakan ada sedikit nyeri di ulu hatinya.
"Lita."
Richard memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
"Iya pak."
Lita yang sebelumnya berada di dapur itu pun mendekat.
"Kenapa pak?" tanya nya kemudian.
"Ada air hangat nggak?" Richard balik bertanya dengan wajah seperti menahan rasa tidak nyaman.
"Ada pak."
Dengan sigap Lita pun segera mengambilkan segelas air hangat dan memberikannya pada sang majikan.
"Ini pak."
Richard meraih gelas tersebut dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Kita masih punya antasida nggak sih?" tanya pria itu.
"Bapak sakit maag atau asam lambung?" Lita balik bertanya.
"Nggak tau, gejalanya kan hampir mirip." jawab Richard.
"Nggak ada sih pak, udah habis. Ntar saya beli dulu deh." ujar Lita.
"Nggak usah, saya udah mau berangkat soalnya. Ntar saya beli aja di jalan." tukas Richard. .
"Serius pak?. Ntar di jalan makin parah gimana?" tanya Lita khawatir.
"Nggak apa-apa koq. Ini sakit dikit doang." jawab Richard.
Maka dengan berat hati Lita pun merelakan hal tersebut. Richard berangkat tak lama setelah itu. Ia mengendarai mobilnya seperti biasa.
Di tengah jalan rasa nyeri di ulu hatinya kian bertambah hebat. Ia sempat ada mampir ke sebuah apotek dan mendapatkan antasida. Ia meminum obat tersebut dan kembali menyetir mobil.
Tetapi kemudian rasa sakit itu bukannya mereda, tapi malah makin menjadi-jadi. Setibanya di kantor, Daniel dan Ellio yang juga baru tiba, melihat Richard yang berjalan agak sempoyongan.
Wajahnya juga terlihat sangat pucat. Daniel dan Ellio pun menghampiri sahabat mereka tersebut.
"Lo kenapa bro?" tanya Daniel diikuti tatapan Ellio.
Richard menarik nafas dan sedikit mengangkat tangannya. Tanda ia tak bisa bicara untuk menjelaskan.
Kemudian ia berjalan ke ruangan Daniel, diikuti Daniel sendiri dan juga Ellio. Richard langsung bergerak ke arah sofa lalu duduk di sana sambil memegangi perutnya.
"Lo kenapa?"
Kali ini Ellio yang bertanya.
"Nggak tau, ulu hati gue nyeri banget." jawab Richard.
"Pasti karena lo telat makan mulu. Beberapa hari ini gue lihat lo sibuk udah kayak apaan tau."
Daniel mengoceh seraya mengambil sebotol air mineral dan membukanya. Kemudian ia meletakkan air mineral itu di depan Richard.
"Udah minum obat?" tanya nya kemudian.
Richard mengangguk, namun tak lama kemudian tiba-tiba Richard pingsan. Daniel dan Ellio pun panik, seisi kantor Daniel jadi heboh.
Tak lama Richard di bawa ke klinik terdekat. Daniel dan Ellio mengira sahabat mereka itu menderita maag kronis atau asam lambung akut. Tapi tiba-tiba dokter menyarankan Richard untuk di rujuk ke rumah sakit besar.
"Ma, maksudnya apa ya dok?" tanya Daniel bingung.
"Apa dia mengalami sakit serius?" Ellio menimpali dengan tak kalah bingungnya.
Kemudian dokter menjelaskan jika Richard kemungkinan bukan menderita maag atau asam lambung. Tetapi ada penyakit lain yang lebih serius.
Mendengar hal tersebut tentu saja Daniel dan Ellio menjadi semakin panik. Mereka lalu bergegas merujuk Richard ke rumah sakit lain sebelum terlambat.
__ADS_1