
"Agak kesini sedikit."
Seorang pengarah gaya mengarahkan Marsha agar berdiri di dekat Ellio. Saat ini sekretaris Daniel tersebut sedang melakukan sesi pemotretan prewedding.
Daniel mengajak Lea untuk mampir sejenak ke lokasi pemotretan itu. Sepulang dari Daniel menjemput Lea di kampus.
Lea begitu senang, mungkin ia tak ada rasa iri sama sekali terhadap Marsha. Namun sebagai pria sekaligus suami, Daniel merasa sedikit miris. Pasalnya dulu mereka menikah benar-benar seadanya.
Daniel ingat saat itu Lea hanya di makeup seadanya dan memakai baju pengantin sekenanya. Padahal mungkin ia memimpikan sebuah pernikahan yang tak terlupakan.
"Bajunya bagus ya, mas."
Lea menoleh sejenak pada Daniel, lalu kembali menatap Marsha yang tampak begitu cantik dalam balutan gaun bak seorang putri.
Batin Daniel semakin terusik. Marsha yang hamil duluan saja di perlakukan bak ratu oleh Ellio. Sedang dulu Lea merupakan seorang perawan, dan bahkan Daniel tak membelikannya gaun pengantin yang bagus.
Lea memang tak pernah memprotes hal itu secara langsung, atau mengungkit-ungkit masa lalu. Namun lagi-lagi sebagai suami yang keuangannya lumayan, Daniel jadi berpikir untuk memberikan sesuatu untuk Lea.
Memang ia telah membicarakan hal ini pada Richard sebelumnya. Namun beberapa waktu belakangan ia belum sempat mewujudkan semua itu. Mungkin inilah saatnya.
"Gimana bro, konsep yang gue bikin ini?"
Ellio bertanya pada Daniel ketika tengah break sejenak.
"Bagus koq, om Konsepnya keren, simpel dan aku suka gaunnya Marsha."
Lea yang menjawab, sementara Daniel hanya mengangguk tanda setuju.
Mereka kemudian lanjut berbincang dan Marsha serta Ellio diminta berganti kostum. Tak lama foto kedua dan ketiga pun diambil.
"Cekrek."
"Cekrek."
"Cekrek."
***
"Keren deh tadi."
Lea berujar pada Daniel ketika mereka telah berada di dalam mobil. Beberapa saat yang lalu mereka pamit pulang pada Ellio dan juga Marsha. Daniel menghidupkan mesin mobil lalu tancap gas.
"Marsha cocok pake baju yang kayak tadi karena kurus. Kalau kamu bagus yang bodycon karena sexy." ujar Daniel kemudian.
"Ngeledek, membandingkan apa memuji nih?" tanya Lea seraya tertawa.
"Membeberkan fakta dong." jawab Daniel.
"Kamu body nya bagus kalau pakai wedding dress bodycon." lanjut pria itu lagi.
"Tapi perut aku masih meleber mas."
"Kan bisa diakalin. Pake pakaian pelangsing instan gitu dalamnya."
__ADS_1
"Iya sih." ujar Lea.
"Tapi buat apa juga. Emang kita mau cerai terus aku nikah lagi gitu?"
Lea mengeluarkan pertanyaan yang membuat suaminya kini terbahak.
"Koq malah mikirnya ke perceraian sih?" tanya nya kemudian.
"Abis mas ngomongin soal baju pengantin. Kita aja nikahnya udah lama, udah punya anak juga. Mau ngapain lagi aku pake gaun pernikahan?"
Daniel hanya tertawa kecil lalu kembali fokus ke jalan. Tiba di suatu tempat, ia menghentikan mobilnya. Lea bingung, sebab itu adalah butik yang banyak menjual gaun import. Baik gaun pesta maupun wedding dress.
"Kita ngapain kesini mas?" tanya Lea heran.
Daniel hanya tersenyum lalu melangkah ke arah pintu masuk. Pikir Lea, mereka akan mencari pakaian untuk menghadiri acara pernikahan Ellio dan Marsha nanti.
Ia pun mengikuti langkah sang suami. Sampai di dalam ia terkagum-kagum pada banyaknya pilihan gaun yang tersedia. Semuanya bagus dan cantik.
"Waw, keren-keren banget." ujar perempuan itu.
"Kamu boleh pilih mana yang kamu mau." ujar Daniel kemudian.
"Serius mas?" tanya Lea memastikan.
Daniel mengangguk.
"Harga berapa aja boleh?"
"Iya, sana!"
Ia memilah-milah gaun di deretan tersebut dan mencobanya satu persatu. Ia meminta pendapat Daniel dan Daniel mengatakan selama Lea suka, Lea boleh mengambilnya.
"Ih lucu banget yang ini, kayak princess."
Lea mematut diri di depan kaca, sambil mengagumi gaun yang ia pakai.
"Mas fotoin." pintanya pada Daniel.
Maka pria itu pun lalu mengeluarkan handphone dan mengambil gambar Lea.
"Cekrek."
"Aku mau yang ini satu ya mas."
"Ya udah, ambil." jawab Daniel.
"Lea lalu pergi ke ruang ganti dan mencoba lagi baju-baju berikutnya.
"Mas, ini dari tadi aku doang nih yang nyari baju. Mas nggak?" tanya Lea.
"Kan ada bagian cowoknya juga." lanjut perempuan itu lagi.
"Nggak, punya aku udah banyak. Tinggal pilih salah satu aja. Lagian baju cowok mah gitu-gitu doang, Le. Nggak ada variasi apapun. Terlalu rame juga jadinya malah norak nanti."
__ADS_1
"Iya sih, ya udah deh. Aku mau ini semua."
Lea menunjukkan beberapa helai gaun yang ia pilih. Daniel kemudian meminta karyawan tempat tersebut untuk membungkusnya. Ia habis belasan juta malam itu.
***
"Mas, apa nggak apa-apa habis sebanyak ini?"
Lea bertanya pada Daniel ketika pria itu selesai membayar dan membawa barang belanjaan ke mobil.
"Nggak apa-apa, Le. Kan aku yang nyuruh."
Lea tersenyum, lalu memeluk suaminya itu.
"Makasih ya mas." ujarnya kemudian.
"Sama-sama."
Daniel menghidupkan mesin mobil, tak lama kemudian mereka pun bergerak meninggalkan butik.
Lagi-lagi Daniel berhenti, kali ini ia mengajak Lea menyambangi sebuah toko perhiasan. Daniel memilihkan sebuah kalung berlian yang sangat cantik. Ia menyuruh Lea menentukan pilihan.
Lea sendiri bukan orang yang terlalu suka pada perhiasan. Namun kali ini Daniel yang memaksa. Maka Lea pun akhirnya memilih.
Daniel membayar kalung tersebut dan Lea dibuat tercengang olehnya. Sebab sebelum ini Daniel bahkan tak menyingung soal belanja baju dan juga perhiasan.
"Mas, ini tuh sebenernya ada apa sih. Koq kamu dadakan gini ngajak aku beli baju, perhiasan. Apa kamu lagi kumat?"
Lea bertanya pada Daniel di pinggir sebuah pantai. Beberapa saat setelah membeli perhiasan, Daniel mengajaknya ke tempat tersebut. Kebetulan hari telah gelap dan suasana pantai sangat sepi.
"Kumat apa nih?. Kumat gila?" Daniel balik bertanya seraya tertawa.
"Iya abisnya mas aneh. Walaupun aku senang sih sama keanehan uang modelnya begini.
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Aku mau kita merayakan ulang pernikahan kita."
Daniel mengeluarkan pernyataan yang membuat Lea terkejut.
"Maksud mas, kita mengadakan pesta pernikahan gitu?"
Daniel mengangguk.
"Biar nanti kalau Darriel nanya mana foto pernikahan orang tuanya. Kita punya banyak. Nggak perlu menunjukkan foto kita yang seadanya itu."
"Tapi kan foto itu bisa jadi pelajaran buat dia. Bahwa nikah nggak perlu mewah."
"Tapi kita juga perlu mengajarkan ke dia, bahwa nggak apa-apa nikah mewah asal ada duitnya. Sebab itu untuk menghargai perempuan yang dia sayang. Kecuali budgetnya memang terbatas."
Lea menatap Daniel..
"Mas ngerasa nggak enak ya liat om Ellio sama Marsha."
__ADS_1
Ia langsung menebak ke arah sana dan Daniel pun mengangguk.