
Lea, Vita dan Nina keluar dari ruang konseling degan tubuh yang masih gemetaran. Bahkan mereka terlihat sama-sama menyeka air mata.
Andai waktu bisa diputar kembali, rasanya ingin berada di jalan yang lurus saja. Agar hidup berlangsung normal, tanpa adanya hal besar yang harus di khawatirkan.
"Nggak mungkin, nggak mungkin."
"Saya nggak mungkin mengidap, nggak mungkin. Saya nggak pernah melakukan dosa apapun, bagaimana mungkin saya orangnya."
"Nggak."
"Nggaaak..."
Terdengar suara teriakan histeris diikuti tangisan yang begitu pilu. Dari salah satu ruangan, yang digunakan untuk membacakan vonis terhadap pasien.
Seketika seisi ruangan itu pun menoleh ke arah sana, para perawat berlarian dan masuk. Mereka mencoba menenangkan si wanita, yang tampaknya telah di nyatakan positif tersebut.
Suasana mendadak mencekam. Para pengunjung ruangan yang juga masih menunggu hasil, tampak terdiam membisu. Ada yang menangis, ada pula yang berpelukan karena takut. Lea, Vita, dan Nina sendiri kini terdiam dan saling berpegangan tangan.
Tak lama pintu ruangan pembacaan itu terbuka. Seorang wanita di bawa oleh para perawat dalam keadaan sudah pingsan dan berada di sebuah tempat tidur. Seisi ruangan makin terdiam, tak mudah untuk menerima kondisi semacam ini.
"Vitalia Mayasari."
Nama Vita dipanggil. Jantung ia, Lea dan Nina berdetak dengan cepat. Vita melepaskan genggaman tangan kedua sahabatnya dan melangkah. Ia telah pasrah pada apa yang akan terjadi.
Ia tak berkata sepatah pun, bahkan ketika perawat yang membawakan hasil tes tersebut berbicara padanya. Vita hanya membeku, kaku, bisu. Namun telinganya mendengarkan.
"Degh."
Hasil pemeriksaan itu dibuka dan diambil dari dalam amplop tertutup.
"Vitalia, virus HIV non reaktif. Ini istilah yang kita gunakan untuk menjelaskan jika hasilnya adalah negatif."
Air mata Vita mengalir begitu saja, akhirnya ia merasa lega seperti bayi yang baru lahir.
"Tetapi kamu memiliki penyakit sifilis, yang statusnya saat ini non reaktif juga."
Vita menatap perawat itu.
"Jadi saya mengidap sifilis, sus?" tanya nya kemudian.
"Iya sifilisnya ada, tapi statusnya tidak aktif. Mungkin kamu pernah meminum obat atau semacamnya."
"Saya minum segala herbal sus, karena saya panik pada saat merasa ada yang salah dengan tubuh saya. Jadi apa yang disarankan orang sekitar, ya saya minum aja."
"Baik, untuk penyakit sifilis ini sendiri bisa disembuhkan. Kita akan bantu, sampai sembuh."
"Terima kasih sus, yang penting saya nggak memiliki virus HIV di tubuh saya. Saya udah lega sekali untuk itu."
Suster tersebut tersenyum, dan Vita pun demikian. Tak lama ia keluar dari ruangan tersebut, lalu tersenyum pada Lea dan juga Nina.
Lea dan Nina menghambur ke pelukan Vita.
__ADS_1
"Lea Michela dan Karenina Wijaya."
"Degh."
Kali ini giliran mereka berdua. Lea dan Nina menatap Vita. Lalu Vita meyakinkan kedua sahabatnya itu, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lea dan Nina pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Lea Michela dan Karenina Wijaya."
Suster langsung membuka hasil keduanya dan membacakan.
"Dua-duanya non reaktif atau istilah lainnya di nyatakan negatif."
Lea dan Nina merasa begitu lega, namun entah mengapa air mata mereka kini mengalir begitu saja. Seperti ada sebuah beban yang akhirnya tuntas.
"Untuk ke depan, kalau kalian hamil lagi. Atau kalau ada teman kalian yang beresiko terkena virus, bakteri, kemudian mereka hamil. Sebaiknya disarankan untuk melakukan pemeriksaan sedini mungkin. Pada usia kandungan tiga bulan, sudah bisa dilakukan pemeriksaan. Untuk mencegah penularan terhadap bayi yang sedang di kandung."
"Baik sus, terima kasih banyak." ujar Lea.
Perawat itu tersenyum, tak lama kemudian Lea dan Nina keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang begitu lega.
Vita menghampiri keduanya, mereka berpelukan satu sama lain dengan wajah yang bahagia. Setidaknya mereka bertiga meredakan ketakutan orang-orang, yang hasil tesnya belum keluar. Setelah tadi mereka semua ketakutan, lantaran ada pasien yang dinyatakan positif.
***
"Mas Daaan."
Lea menghambur ke pelukan suaminya secara serta-merta. Daniel yang baru pulang kerja itu pun langsung membalas pelukan Lea, dan bertanya perihal apa yang terjadi.
Pria itu bisa merasakan antara pelukan biasa, dengan pelukan yang seakan meminta perlindungan.
"Le."
Lea masih saja terisak, bahkan kini ia menangis tersedu-sedu.
"Kenapa Lea, jawab. Jangan bikin aku khawatir. Bayi kita baik-baik aja kan?"
Lea mengangguk.
"Terus kenapa kamu nangis.?"
Lea menyeka air matanya dengan tangan.
"Aku barusan dapat hasil tes HIV dan sifilis mas."
"Terus?" tanya Daniel dengan nada penuh keterkejutan.
"Hasilnya non reaktif."
Daniel menghela nafas lega.
"Terus kenapa kamu nangis?" tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Lega aja mas, karena tadi tuh aku udah takut banget. Takut hasilnya positif. Mana ada yang dinyatakan positif lagi tadi, sebelum hasil tes punya aku, Vita, sama nina keluar."
Daniel kembali memeluk istrinya itu, kali ini mencium keningnya pula hingga beberapa kali. Tak lama Lea kini terlihat duduk di sofa. Daniel kemudian mengambil segelas air putih.
"Nih minum dulu." ujarnya kemudian.
Lea meraih gelas tersebut dan meminum air didalamnya hingga hampir habis. Daniel kini duduk disisi Lea.
"Kamu nggak perlu takut, aku tes HIV dan penyakit lainnya setiap 6 bulan sekali." ujar Daniel.
Kali ini Lea menatap sang suami.
"Aku juga nggak berhubungan sama siapa-siapa koq selain kamu." lanjutnya lagi.
Lea lalu menunduk dan kembali memeluk Daniel. Daniel pun membalas pelukan tersebut.
"Aku pikir tadi kamu kenapa, pendarahan atau apa."
"Aku tadi takut banget mas."
"Lagian kenapa kamu nggak bilang ke aku."
"Malu aja bilangnya, lagian juga mendadak. Kan tadinya yang mau periksa itu Vita. Karena dia dapat gejala yang menjurus ke sifilis."
"Terus dia hasilnya apa?" tanya Daniel.
"Positif sifilisnya, tapi statusnya udah non reaktif. Katanya sih dari minum herbal dan lain-lain."
"Nina?"
"Nina sementara ini baik-baik aja sih. Tapi tiga bulan lagi, dia bakal balik periksa lagi katanya. Soalnya Nina curiga suaminya punya cewek lain, mas."
Daniel mengangguk, lalu mencium kening Lea.
"Jangan takut lagi ya, semua udah baik-baik aja." ujarnya kemudian.
"Iya mas, sekarang aku udah lega banget kayak nggak punya beban."
Daniel tersenyum lalu mencium kening Lea sekali lagi.
"Anak aku apa kabar hari ini?"
Daniel bertanya seraya mengusap perut Lea.
"Baik, ikut mama tadi ya. Cuma tadi lagi pengen banget makan pedes. Pengennya tuh yang pedes banget, tapi nggak aku turutin. Aku tahan-tahan aja."
Daniel tertawa.
"Jangan minta makan yang aneh-aneh ya dek. Ntar kalau mamanya sakit, susah makan, kasian kamu di dalam." ujarnya kemudian.
"Tau nih, mintanya aneh-aneh nih anak mama."
__ADS_1
Lea ikut mengusap perutnya, sesaat kemudian obrolan mereka berlanjut dengan tawa.