
"Mas, keliatan mukanya."
Lea begitu antusias sekaligus merasa aneh. Ketika tangkapan layar ultrasonografi memperlihatkan wajah sang anak yang ada di dalam. Saat ini posisi kepala bayi itu sudah mengarah ke bawah.
Daniel tersenyum penuh haru dengan tubuh yang gemetaran. Baru kali itu ia dan Lea melihat wajah anak mereka dengan cukup jelas. Sebab biasanya selalu tertutup tangan.
Keduanya tampak begitu bahagia. Dokter kandungan yang memeriksa pun turut berbahagia untuk mereka.
"Melahirkannya disini aja sih mas, biar nggak repot." ujar Lea ketika mereka telah selesai melakukan pemeriksaan dan masuk ke dalam mobil.
"Lagian kan dokternya juga udah terbiasa menangani aku sama anak kita." lanjutnya kemudian.
"Disini tuh kejauhan, Lele. Kamu sih dulu ngide, periksa kandungan jauh banget gini."
"Kan dulu bareng Nina. Jadi ya aku pikir dimana aja boleh."
"Iya, tapi kan kalau masalah melahirkan nanti beda lagi ceritanya. Emang kamu sanggup nahan sakit di perjalanan segini jauhnya?. Kalau beranak di jalan gimana?" tanya Daniel.
"Ya tinggal namain aja anak kita Jalanino Edsel Roberts. Panggilannya Nino, kan lucu."
Kali ini Daniel tak kuasa menahan tawa. Ia lalu menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas.
"Atau Darriel Lalulintas Roberts."
Daniel makin terbahak.
"Kamu tuh ada aja jawaban dan pembelaan diri." ujar Daniel kemudian.
"Loh bagus kan nama anak kita jadi ada unsur jalannya." ujar Lea lagi.
"Sekalian aja kasih nama Rambu Polisi Tidur." seloroh Daniel.
Kali ini keduanya tertawa-tawa.
"Aaaaw."
Lea meringis sambil memegangi perutnya. Ia tampak seperti seseorang yang kesakitan.
"Kenapa?" tanya Daniel panik.
"Ditendang mas." jawab Lea.
Daniel tertawa lalu mengusap-usap perut istrinya itu.
"Nggak nak, nanti papa cariin nama yang bagus buat kamu ya." ujar Daniel.
"Tau nih baperan banget, orang emak bapaknya cuma bercanda." ujar Lea.
Lagi-lagi Daniel tertawa. Mobil mereka pun terus merayap meninggalkan tempat itu.
***
"Dis, Lele mana?"
Ariana bertanya pada Adisty, ketika ia baru saja tiba di kampus.
__ADS_1
"Belum dateng." jawab Adisty.
"Tadi katanya sih lagi di jalan." Lanjut gadis itu kemudian.
Ariana lalu duduk di dekat Adisty. Tak lama entah mengapa mata mereka sama-sama tertuju ke suatu arah. Ke tempat di mana sebuah mobil yang mereka kenali berhenti.
"Itu bapaknya Lea Kan?" tanya Ariana pada Adisty.
Adisty memperhatikan orang yang mengemudikan mobil tersebut. Dan benar itu adalah Richard.
"Iya bapaknya Lea." jawab Adisty kemudian.
Setelah itu mereka melihat seorang perempuan keluar dari dalam mobil Richard. Namun bukan Lea melainkan Cindy.
"Cindy dianter sama bapaknya Lea.?"
Adisty menoleh pada Ariana dan begitupun sebaliknya. Cindy sendiri tak melihat kedua gadis itu dan berjalan ke arah lain.
"Ada hubungan apa mereka?" tanya Adisty lagi.
Lalu hening.
"Jangan-jangan, jangan-jangan nih?" tanya Ariana pada Adisty.
"Bisa jadi, secara bapaknya Lea itu kan single dan kaya raya." ujar Adisty.
"Tapi kan udah punya cewek. Si kak Dian, kak Dian itu." jawab Ariana.
"Elah, jaman sekarang Ar. Yang udah ada ikatan sah pernikahan aja bisa dipisahkan di pengadilan agama oleh pelakor. Apalagi yang baru pacaran." Adisty berseloroh.
Gadis itu tersenyum penuh lambe turah pada Adisty dan begitupun sebaliknya. Isi kepala dan hati mereka seolah tengah memikirkan sebuah dugaan yang sama persis.
"Kira-kira si Lele tau nggak ya?" tanya Ariana.
"Gue rasa sih dia tau, tapi nggak tau deh. Lele kan nggak gitu mau ngurusin urusan pribadi bapaknya." ujar Adisty.
"Kalau gue sih agak kasian aja kalau misalkan om Richard jadian sama Cindy, terus Lele mesti punya ibu tiri kayak dia." ujar Ariana lagi.
"Bukan soal Cindy nya sih." lanjutnya kemudian.
"Iya, gue tau. Keluarganya matre parah kan?" tanya Adisty.
"Itu dia, kalau Cindy nya mah lumayan baik anaknya. Tapi keluarganya itu matre banget. Inget nggak dulu mantan cowoknya curhat ke kita kalau dia di porotin keluarnya Cindy?" ujar Ariana.
"Oh iya, yang keponakan ketua yayasan kan?" Adisty membicarakan tentang mantan Cindy yang satu sekolah dengan mereka dulu.
Ariana, Adisty, Cindy, Iqbal, Dani dan Rama berasal dari yayasan sekolah yang sama. Bedanya dulu Cindy SMK dan mereka semua SMA.
"Parah sih itu, sampe emaknya Cindy berani loh ngechat si Owen. Minta-minta duit, minta beliin ini dan itu." ujar Ariana lagi.
"Jangan sampe nih bapaknya Lea kejebak." ujar Adisty.
"Bisa miskin mendadak si om Richard gara-gara itu keluarga." lanjutnya kemudian.
"Hai gaes."
__ADS_1
Tiba-tiba Lea datang.
"Jangan cerita sekarang, ntar aja nunggu momennya pas." ujar Adisty pada Ariana dengan suara pelan. Ariana mengangguk, tak lama Lea pun semakin mendekat.
"Lo tumben agak siang, Le?" tanya Adisty pada Lea.
"Biasa, USG." jawab Lea.
"Gimana anak lo?" tanya Ariana pada perempuan itu.
"Nih."
Lea menunjukkan foto hasil USG nya tadi kepada mereka berdua. Dan mereka berdua pun tampak antusias.
"Lele, anak lu hidungnya mancung banget kayak perosotan TK." ujar Adisty kemudian.
Di dalam foto hasil USG tersebut memang terlihat bagian hidung bayi Lea dan Daniel yang terlihat sangat mancung.
"Bibirnya kayak elu ini mah, Le." timpal Ariana.
"Nggak apa-apa kalau bentuknya doang mah. Asal jangan bacot kayak gue." ujar Lea.
Mereka kemudian tertawa-tawa, sambil terus memperhatikan foto tersebut.
"Lucu ih." ujar Adisty.
"Iya, nggak sabar pengen liat pas lahir." timpal Ariana.
***
Flashback.
Hari itu sebelum kedatangan Lea. Richard di chat oleh Cindy melalui laman pesan di WhatsApp. Entah mengapa tiba-tiba saja gadis itu mengatakan pada Richard, jika ia ingin bertemu.
"Kenapa mau ketemu dengan saya?" tanya Richard menjawab chat dari Cindy.
"Oh sibuk ya om?. Kalau sibuk nggak apa-apa sih. Nggak tau kenapa, aku tiba-tiba keinget om dan pengen ketemu." jawab Cindy lagi.
"Emangnya kamu lagi ada dimana?" tanya Richard.
Maka Cindy pun dengan cepat menjawab, perihal dimana lokasi dirinya berada kini. Ternyata tak jauh dari kantor Richard.
"Ok, nanti saya temui kamu disitu." ujar Richard.
Cindy mendadak sumringah. Tak lama mereka berdua pun akhirnya bertemu. Cindy masuk ke mobil Richard dan diajak Richard untuk berkeliling.
Disepanjang perjalanan itu mereka saling bertukar cerita. Banyak hal miris yang dialami Cindy selama hidupnya, dan itu cukup menarik simpati Richard.
Mereka terus bercerita sampai akhirnya Richard mengantar Cindy ke kampus. Sebab Cindy mengatakan jika ia ada kuliah hari itu. Cindy kemudian diberi uang saku oleh Richard dengan jumlah yang cukup banyak.
***
Follow me on Instagram @p_devyara
Tiktok @pratiwidevyara.
__ADS_1
Thank you 🙏💞