Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pengakuan Ellio


__ADS_3

"Apa lo tau, siapa yang nyerang lo itu?"


Daniel kembali bertanya pada Ellio.


"Mereka suruhan orang yang nggak suka sama kita bertiga." jawab Ellio.


Daniel dan Richard saling bersitatap, kemudian sama-sama kembali menatap Ellio.


"Dia menyinggung soal kepedulian kita terhadap warga sekitar, yang terkena dampak pembangunan proyek." ujar Ellio lagi.


"Marvin?"


Daniel langsung menyimpulkan. Ellio dan Richard malah baru terpikir ke arah sana. Seketika mereka teringat jika memang mereka memiliki masalah dengan si pemilik nama itu.


"Gue akan urus masalah ini, kalau emang dia orangnya." ujar Richard kemudian.


"Oh ya, gimana bisa Marsha hamil?"


Kali ini Richard mengalihkan pertanyaan. Padahal sedari tadi meskipun senang, Ellio sangat menghindari pertanyaan tersebut.


"Iya, waktu itu lo bilang kagak di apa-apain anak orang. Berani sumpah lagi lo ke gue." timpal Daniel.


Ellio diam dan menarik nafas. Ia tau ini bukan suatu perbuatan yang patut di banggakan.


"El?" Richard menagih jawaban.


"Ini baru, bro. Gue juga nggak tau kalau dampaknya secepat ini." tukas Ellio.


"Udah berapa kali lo kerjain?" tanya Daniel.


"Sejak yang pertama itu, ya agak sering jadinya."


"Kan lo udah janji nggak bakal begitu." ujar Richard lagi.


"Bukan salah gue, salah dia." Ellio membela diri.


"Koq?"


Daniel dan Richard mengerutkan kening.


"Salah dia gimana?" tanya Daniel heran.


"Dia ada sempat dekat sama teman lamanya, dan gue cemburu."


"Terus?" tanya Daniel lagi.


"Ya gue hajar aja, gue nggak mau kali ini ditinggalin lagi. Gue sayang sama dia, gue mau nikah sama dia."


"Emang dia udah sedekat apa sama si cowok itu?" Richard menimpali pertanyaan Daniel.


"Udah jalan bareng, sering ketemu. Emang sih Marsha nganggep temen doang, katanya. Tapi tuh cowok dikit-dikit ngechat dia, ngajak dia jalan. Gue udah bilang ke Marsha, kalau gue cemburu. Tapi dia malah ketawa aja. Dia bilang masa iya gue cemburu sama temennya. Kan gue kesel, sekaligus takut juga. Kayak yang dulu-dulu, gue percaya lempeng-lempeng aja sama pacar gue. Eh, di khianati."


Daniel dan Richard saling bersitatap sambil melebarkan bibir.

__ADS_1


"Cemburu itu ya nggak berarti di hamilin juga, Ellio." ucap Daniel kesal.


"Udah terjadi, mau gimana?"


"Ya nggak apa-apa sih. Gue sama Richard seneng lo mau punya anak. Tapi masalahnya ini nanti, gimana sama keluarganya Marsha, terutama bapaknya. Kalau tau anaknya melendung karena elo." ujar Daniel lagi.


"Gue sama Daniel juga bakal kena. Karena kita berdua anggapannya adalah saudara lo." tukas Richard.


"Dan kita nggak bisa jagain lo." lanjutnya kemudian.


"Ya sorry, gue juga nggak tau bakalan jadi secepat ini jadinya. Itu juga Marsha hamilnya paling baru beberapa hari."


"Iya tetap aja hamil itungannya." ujar Daniel.


"Tapi yang pas Marsha pingsan dan di bawa ke klinik. Dokter nggak ada bilang sama lo?" tanya Richard lagi.


"Nggak ada. Apa mungkin Marsha minta rahasiain ya?" ujar Ellio.


"Dan baru berani ngomong hari ini." lanjutnya lagi.


"Bisa jadi sih." ujar Daniel.


"Karena tadi kan suasananya lagi genting. Dia lagi dalam posisi takut kehilangan lo."


"Tapi Marsha udah lo kabarin, Dan?" tanya Richard.


"Udah, tadi gue ngabarin Lea dan Lea udah sampein kayaknya. Tadi juga Lea chat mau kesini sama Marsha."


"Sorry untuk masalah yang kedua." Lagi-lagi Ellio berujar. Ia benar-benar merasa tidak enak pada kedua sahabatnya itu.


"Udah, yang penting lo sehat dulu." ucap Daniel.


Ellio diam, ia kini teringat pada peristiwa malam itu. Malam dimana ia begitu cemburu terhadap Marsha.


Ia telah mengikuti Marsha dan teman laki-lakinya itu selama beberapa hari belakangan. Ia mengintai dan mengikuti setiap gerak-gerik Marsha.


Ada satu ketika ia marah, dan meminta Marsha untuk tidak terlalu dekat dengan temannya. Namun Marsha mengatakan jika mereka tak lebih dari itu. Karena sudah sangat takut kehilangan, maka di malam yang sama Ellio menelpon Marsha.


"Kenapa pak?" tanya Marsha pada Ellio. Ia merasa pria itu sangat tiba-tiba.


"Aku mau ketempat kamu." ujar Ellio.


"Bapak dimana emangnya?"


"Aku udah di bawah." tukas Ellio lagi.


Maka Marsha pun menjemput Ellio untuk naik ke atas. Sesampainya di atas, Ellio terlihat sangat berbeda dari biasanya. Ia yang biasanya hangat dan ramah, kini berumah menjadi begitu dingin dan terkesan dipenuhi amarah.


"Pak, bapak lagi kesel sama orang ya?" tanya Marsha yang sama sekali tak mengetahui duduk perkaranya.


Ellio diam dan menatap Marsha dalam-dalam, detik berikutnya ia mendekat dan mendorong tubuh Marsha ke dalam kamar sambil mencium bibir perempuan itu.


"Pak." Marsha mengingatkan.

__ADS_1


Sementara Ellio meneruskan aksinya, hingga terjadilah hal tersebut. Awalnya Marsha menolak, bahkan ketika tubuhnya sudah tak terbalut pakaian lagi. Namun Ellio terus memaksa.


"Pak, jangan. Kalau saya hamil gimana?"


Marsha masih berusaha, namun Ellio mencium bibir wanita itu dan mengunci kedua tangannya. Kemudian Ellio bergerak dan semua itu tak dapat lagi terelakkan.


Marsha sempat meringis kesakitan, saat pertama kali Ellio memaksa masuk. Dan disana lah Ellio tau jika perempuan itu belum pernah tersentuh siapapun.


"Sha, aku sayang kamu." bisik Ellio di telinga Marsha kala itu. Marsha pun akhirnya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Ellio.


***


Kembali ke saat ini..


Waktu berlalu, Marsha akhirnya tiba bersama Lea dengan diantar oleh supir, Reynald dan juga dua bodyguard. Sedang Arsen ditugaskan menjaga rumah, serta mengawasi mbak yang mengasuh Darriel.


"Om nggak apa-apa?" tanya Lea khawatir.


"Om nggak apa-apa, Lea. Jangan sedih ya." ujar Ellio lalu membelai kepala dan rambut Lea.


Tak lama berselang Marsha masuk. Lea meninggalkan keduanya untuk bisa leluasa dalam berbicara. Kebetulan Daniel dan Richard juga telah menunggu di luar.


"Pak, maafin saya nggak bisa nolong bapak. Saya malah pergi ninggalin bapak."


Marsha menangis. Ellio tersenyum lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi kekasihnya itu.


"Kan aku yang nyuruh kamu pergi. Kalau kamu tetap bertahan di tempat, entah apa yang bakal terjadi sama kamu. Bukan cuma kamu, tapi anak kita juga."


Marsha menatap Ellio dan begitupun sebaliknya. Tak lama kemudian Marsha pun menunduk.


"Kenapa kamu rahasiakan dari aku?. Hmm?"


Ellio mencium tangan Marsha, sementara perempuan itu belum berani menatap mata Ellio.


"Saya juga baru tau pak, dan tadinya saya pikir..."


Marsha menghentikan ucapannya.


"Kamu pikir apa?" tanya Ellio curiga.


"Jangan bilang kalau kamu sempat mikir mau menggugurkan anak ini?"


Marsha diam.


"Ini paling baru beberapa hari pak. Saya takut sama keluarga saya."


"Sha, dia nggak salah. Yang salah itu aku. Aku yang maksain kamu malam itu. Karena aku cemburu sama cowok yang lagi dekat sama kamu. Aku takut kehilangan kamu."


"Tapi pak, kalau keluarga saya tau gimana?"


"Biar aku yang menanggung akibatnya. Mereka mau marah sama kamu, aku yang pasang badan. Aku sayang kamu, ini anak aku. Kamu nggak usah takut, aku serius mau menikahi kamu."


Marsha memberanikan diri menatap Ellio. Tak lama keduanya lalu saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2