
Lea bangun agak siang, lalu ia mendapati rumahnya penuh dengan bunga mawar merah. Hampir di setiap sudut ruang, termasuk meja makan.
Ada sebuah pesan tertera, di dalam buket bunga paling besar. Yang di letakkan di atas meja makan tersebut.
"Lea, maafin aku kalau akhir-akhir ini aku kurang perhatian sama kamu. Aku janji selama seminggu ke depan, aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Aku akan lebih banyak ada dirumah buat kamu."
Lea yang tak mengerti jika Daniel merasa bersalah padanya itu, hanya menggaruk-garuk kepalanya.
"Mas Dan kenapa dah?" tanya nya kemudian.
Namun wanita itu tampak bahagia melihat banyaknya bunga yang dikirim untuknya. Ia mengambil handphone dan memfoto bunga-bunga tersebut, lalu menguploadnya ke sosial media.
"Cie yang dapat bunga permintaan maaf."
Vita meledek Lea di direct message instagram.
"Apaan sih? 😁" tanya Lea tak mengerti.
"Laki lo ngerasa bersalah itu, Le. Kemaren kan dia ngeliat lo, pas lo di ruang ICU sama Rangga." balas Vita.
"Serius kemaren laki gue kesitu?"
Lea benar-benar terkejut, sebab ia tidak mengetahui sama sekali.
"Serius, orang ada gue." balas Vita lagi.
"Kenapa nggak ngasih tau gue, Jamilah?"
Lea kembali mengetik dan mengirim. Tak lama muncul kembali balasan Vita.
"Kata laki lo jangan, dia bilang lo lagi marah sama dia."
"Marah?. Marah kenapa gue?" tanya Lea heran.
"Katanya lo ngambek, gara-gara dia terlalu ngurusin mantannya dia."
Lea terdiam, ia bahkan sudah lupa perkara tersebut. Lantaran sudah di nasehati oleh Adisty dan Ariana beberapa waktu lalu. Awalnya memang Lea sedikit terganggu dengan sikap Daniel terhadap Grace, namun akhirnya ia memilih untuk percaya pada suaminya itu. Agar semua pikiran buruk tak mempengaruhi kehamilannya.
Namun agaknya kali ini Daniel merasa bersalah sendiri, maka Lea pun tersenyum penuh tanduk. Ia bisa memanfaatkan situasi ini untuk membuat Daniel lebih perhatian padanya.
Perempuan itu tertawa kecil, jiwa anak muda jahilnya benar-benar telah keluar. Ia ingin sekali-sekali mengerjai sang suami.
"Kayaknya seru juga." gumam Lea dalam hati.
__ADS_1
Ia kemudian meletakkan kertas yang Daniel tulis ke lantai. Seolah-olah kertas tersebut terjatuh dan tak ia baca sama sekali. Kemudian ia mengambil handphone dan mengirim pesan singkat pada Daniel.
"Mas dimana?"
Begitulah bunyi pesan tersebut. Buru-buru Daniel membalas, bahkan lebih cepat dari biasanya. Seperti ia memang tengah merasa bersalah.
"Di kantor, sayang."
Lea menahan tawa. Tak biasanya Daniel menggunakan kata "Sayang." begitu lugas. Beginilah kalau seorang pria merasa bersalah, bisa menjadi mesra dadakan.
"Oh, kenapa kamu beli bunga banyak banget. Sayang tau mas, uangnya."
Daniel yang menerima pesan tersebut pun terdiam. Apa mungkin Lea tak membaca pesan yang tertera di bunga itu, pikirnya.
"Kamu udah liat bunga yang di atas meja?" tanya daniel.
"Udah mas, udah aku foto juga kan."
Daniel kembali diam, apa mungkin kertas itu terjatuh pikirnya lagi.
"Aku jalan dulu ya mas, ntar aku chat lagi. Ada beberapa tugas kampus yang belum aku kerjakan, dan ini aku mau kerjakan di mobil." dusta Lea.
Setelah itu ia sengaja tak membalas lagi pesan Daniel. Ia hanya melihat melalui layar notifikasi, beberapa pesan Daniel yang bertumpuk. Padahal sejatinya Daniel tak pernah menggebu-gebu seperti itu dalam membalas pesan darinya.
***
Siang itu Grace mengirim pesan singkat pada Daniel. Ada beberapa hal yang ia pertanyakan pada mantan kekasihnya itu. Daniel pun menjawab sebisanya seperti biasa.
Namun tak seperti kemarin-kemarin, ia hari ini terpikir akan Lea setiap saat. Ingin meminta maaf secara langsung, tapi ia sudah menulis permintaan itu di kertas bersamaan dengan bunga yang ia beri. Ia bermaksud agar lebih romantis di mata Lea.
Namun ternyata si remaja itu tak melihat kertasnya dan saat ini malah terkesan semakin cuek terhadap sang suami.
"Dan, nanti sore ada waktu nggak?" tanya Grace.
"Maafin aku ya, Lea. Kita dinner yuk malam ini."
Daniel tanpa sengaja mengetik kata-kata tersebut dan mengirimnya pada Grace. Sesaat kemudian ia tersadar, namun Grace keburu membaca pesan tersebut.
"Grace, sorry. Salah ketik." ujar Daniel.
"Oh nggak apa-apa, kalau kamu nggak ada waktu. Aku cuma pengen minta temenin ke kantor polisi sebentar." balas Grace
"Nanti aku minta tolong Ellio ya." ujar Daniel lagi
__ADS_1
"Nggak usah, Dan. Aku minta maaf udah banyak merepotkan, nanti aku pergi sendiri aja." lagi-lagi Grace menjawab.
Daniel tau jika wanita itu sedikit baper, ia pun menghela nafas panjang dan menghembuskan nya.
"Ya gampang, bro. Tinggal lo pilih aja, menyelamatkan perasaan Grace atau Lea bini lo."
Ellio mengemukakan pendapatnya, ketika Daniel akhirnya curhat.
"Gue tau, Grace mungkin nggak akan terlupakan dalam memori lo."
"Gue udah nggak punya perasaan sama Grace."
"Itu kan kata lo."
"Tindakan lo belum tentu membenarkan semua itu. Buktinya lo masih peduli kan sama dia."
"Iya sebatas kemanusiaan, Ellio."
"Gue ngerti, Dan. Gue ngerti lo nolongin dia, karena dia di jahatin sama bapak lo. Dan juga dia ibu dari adek lo. Gue tau lo nggak ada niat buat balikan sama dia, gue tau lo tulus membantu dia. Tapi jangan sampe bantuan lo itu, malah membuat si Grace nya kembali baper sama lo dan Lea terbengkalai."
Daniel agak sedikit terdiam.
"Gue ngomong koq sama Lea soal ini."
"Iya, tapi bukan berarti lo harus sepenuhnya ke Grace dong. Gimana sih, Bambang.?"
Daniel kembali diam.
"Lo sendiri merasa bersalah kan akhirnya ke Lea, walaupun mungkin Lea nggak mempermasalahkan."
Daniel mengangguk.
"Makanya lo kasih waktu lah buat Lea lebih banyak, ketimbang waktu lo buat Grace. Lea itu termasuk dewasa loh, dalam mengimbangi elo. Lo coba lihat bocil-bocil seumuran dia di luar sana. Masih meledak-ledak, masih ngambek, masih yang pengen diperhatiin setiap saat, masih harus selalu dibalas pesan WA nya tiap detik. Setiap kali lo online WA, lo kudu wajib chat dia dan nggak boleh lama balesnya. Masih yang nyebelin kayak gitu, cewek-cewek seumur Lea di luar sana."
Ellio menyalakan sebatang rokok.
"Bini lo doang tuh yang begitu. Mau lo chat syukur, nggak di chat juga dia santai aja. Masih ngebolehin lo begini begitu, bahkan ngebolehin lo ngurusin mantan. Cewek lain mah, udah mencak-mencak kali."
Daniel kembali menghela nafas, kali ini ia menjatuhkan pandangannya ke suatu arah.
"Ngerti nggak, Karnadi?"
"Iya." jawab Daniel kemudian
__ADS_1