
"Marvin."
Seseorang memanggil Marvin ketika dirinya tengah melangkah di sebuah area pertokoan. Dimana banyak terdapat counter jam mahal disana.
"Helen?"
Keduanya diam sejenak, dengan ekspresi sama-sama terkejut namun penuh senyuman.
"Hei."
Mereka saling berpelukan secara refleks, sebab mereka memang berteman dan sudah cukup lama tau bersua.
"Kamu apa kabar?" tanya Helen pada Marvin.
"Baik, kamu sendiri?. Makin cantik aja." ujar Pria itu.
"Halah." Helen mengayunkan lima jarinya ke dekat wajah Marvin.
Keduanya lalu sama-sama tertawa.
"Mmm, kamu mau kemana?" tanya Marvin pada Helen.
"Nggak kemana-mana sih, tadi dari beli kado buat Nando."
"Nando?"
"Anaknya ko Henry sama Ci Tia, dia ulang tahun." Helen menyebut nama sepupu dan juga anak dari sepupunya tersebut.
"Oh, kirain udah punya ayang." seloroh Marvin.
Helen tertawa.
"Kamu sendiri mau pulang?" tanya Helen.
"Mmm, iya sih tadinya." jawab Marvin.
"Tapi sekarang kayaknya mending kita ngopi dulu." lanjutnya lagi.
Helen menatap Marvin.
"Oke." ujarnya kemudian.
Marvin mengajak Helen masuk ke dalam mobilnya. Kebetulan Helen memang sedang tidak membawa mobil saat itu.
Dan pada saat Marvin serta gadis itu masuk, tanpa sengaja dari kejauhan dua orang teman Clarissa melihat.
"Eh, itu bukannya pacar baru Clarissa?" tanya Kinar pada Reni.
"Eh iya ya?" Kinar membuka galeri foto dan membuka kiriman via WhatsApp dari Clarissa.
"Iya bener." ujarnya lagi.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Tapi koq sama cewek lain?" tanya Kinar. Reni menaikkan bahunya tanda tak mengerti.
"Eh tapi bener nggak sih, itu si Marvin."
__ADS_1
Lagi-lagi Kinar bertanya. Ia agak ragu, sebab belum pernah bertemu secara langsung dengan pria itu. Hanya melihat di foto dan video yang dikirim Clarissa saja.
"Tapi kalau ngeliat lokasinya sih sama." ucap Reni.
"Kan Clarissa pernah kirim foto Marvin didepan gedung pertokoan ini juga, dengan mobil yang sama." lanjutnya lagi.
"Iya juga sih."
Mereka kemudian melihat Marvin melintas. Tampak ia tertawa-tawa dengan Helen di dalam mobil.
"Ini bisa jadi, antara si cowok emang kang selingkuh. Atau si Clarissa kepedean." ucap Kinar.
"Iya sih, waktu sama Daniel aja dia ngakunya gebetan lah, udah jadian, bla, bla, bla, bla. Tapi nyatanya nggak kan?" timpal Reni.
"Makanya, gue curiga Clarissa kepedean. Si cowok ini numpang nancep, nyembur ye kan. Clarissa menganggapnya cinta, padahal kagak." ujar Kinar lagi.
"Maybe." jawab Reni.
Kedua sahabat itu kini saling bersitatap, lalu sama-sama menghela nafas panjang.
***
Sementara di apartemen.
"Hueeek."
"Hueeek."
Clarissa mulai muntah-muntah. Namun setelah semuanya selesai ia jadi begitu sumringah. Mungkin ia sudah mengandung saat ini, pikirnya.
Namun sayang ia tak memiliki stok testpack, sebab sudah ia pakai semua untuk mengecek kehamilan dari sejak beberapa waktu belakangan.
Ia mengusap-usap perutnya sendiri, dan berharap di dalam sana sudah ada tiket. Untuk mengakses kekayaan Marvin lebih banyak lagi.
***
"Le, kapan kalian nginep lagi?"
Richard bertanya di telpon pada Lea, ketika ia pulang dari kantor.
"Nanti ya yah, nanti kami kesana lagi." ucap Lea.
"Ayah kangen sama Darriel."
"Iya, baru juga dua hari nggak ketemu."
"Ya kangen, gimana dong?. Kan tiap pagi biasanya mandi sama ayah." ucap Richard.
Lea tertawa.
"Iya yah, kayaknya Darriel emang cuma tenang dimandiin sama ayah. Kalau sama aku atau mas Daniel, sekarang dia kayak ulat daun tau nggak. Melenting sana-sini."
Richard ikut tertawa.
"Makanya Darriel sama ayah aja aturan. Kalian bikin anak lagi aja sana."
"Heh, dikira gampang." seloroh Lea sambil tertawa.
__ADS_1
"Kasian Darriel yah, kalau cepet punya adek. Nanti kasih sayang orang tuanya berkurang."
"Kan ada ayah yang juga sayang sama Darriel."
"Ya tetap aja, namanya orang tua. Lea sama mas Daniel harus memberikan kasih sayang juga. Masa beranak sama kasih makan doang. Kan kasih sayang itu juga merupakan bagian dari tanggung jawab."
Richard makin tertawa.
"Iya, pokoknya ayah tunggu kalian nginep lagi." ujar pria itu.
"Ini ayah lagi dimana?" tanya Lea.
"Di jalan, baru pulang kantor."
"Oh ya udah, ayah hati-hati di jalan ya."
"Iya, Darriel mana?"
"Molor, apalagi coba?"
Keduanya lalu sama-sama tertawa.
***
Edmund dibawa oleh petugas sipir rumah tahanan ke ruang besuk. Ia tak tau siapa yang datang. Sebab sejak dirinya masuk sel, tak ada seorang pun yang datang menengok.
Hal tersebut membuktikan pada Edmund, bahwa ia tak memiliki loyalis seorang pun. Bahkan di kantor yang sudah ia bangun dengan susah payah. Tak ada yang menaruh simpati padanya barang secuil.
Tapi hari ini ada seseorang yang ingin menjenguk. Maka ia ingin tau siapa orang tersebut. Paling juga pengacara, pikirnya.
Ia terus melangkah mengikuti petugas sipir. Hingga kemudian ia dibawa menghadap ke orang yang berkunjung itu.
"Dan?"
Edmund terkejut, sebab yang datang ternyata adalah Daniel. Lama ia tertegun, sampai kemudian Daniel duduk dan ia pun demikian.
"How are you?" tanya Daniel pada pria itu.
Nada suaranya tak begitu ramah, namun juga tak terlalu ketus. Agak sedikit datar dan dingin bila di dengarkan secara seksama.
"Good." jawab Edmund kemudian.
"Saya kesini, atas permintaan pengacara anda." ucap Daniel seraya memperhatikan Edmund. Tampak Edmund mengalihkan sedikit tatapan matanya ke arah lain.
"Apa kabar istri dan anakmu?" tanya Edmund.
Daniel diam dan agak menjeda ucapannya. Lantaran teringat bagaimana dulu Edmund hampir saja membeli Lea. Lalu ia juga pernah menghina Lea di sebuah acara makan malam.
"Baik." jawab Daniel masih dengan nada dingin dan datar.
Edmund tak bisa berkata banyak sebab bibir pria itu seakan terkunci rapat, oleh kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat selama ini.
"Saya sudah mendengar kalau anda ingin melihat anak saya."
Daniel kembali berujar, sedang Edmund masih dalam posisi seperti tadi.
"Tapi saya harap anda meminta Grace untuk datang juga kesini. Anda harusnya melihat anak anda terlebih dahulu, baru melihat cucu. Sebab anak anda sudah anda abaikan terlalu lama. Dia berhak atas kasih sayang ayahnya, karena anak itu tidak berdosa." lanjut pria itu lagi.
__ADS_1
Edmund makin terdiam, namun ia telah menyuruh pengacaranya untuk menghubungi Grace dan meminta wanita itu untuk datang.
Meski saat ini Grace masih enggan menurunkan ego. Sebab ia sudah terlanjut sakit hati pada sikap Edmund selama ini. Terutama soal perselingkuhan di depan matanya, Danisha yang sengaja dibuat jatuh dan juga penolakan Edmund terhadap anak itu. Bagi Grace, ini terlalu sulit untuk dimaafkan.