
Daniel menggandeng lengan Lea, seolah Lea adalah pasangan yang telah lama di milikinya. Ellio senang melihat sahabatnya itu, akhirnya mau berdamai dengan keadaan.
Keadaan jika ia sudah tidak bisa lagi memiliki Grace. Daniel kini terlihat lebih tenang dan penuh semangat dengan kehidupan barunya.
"Gimana, bro?"
Richard yang masih berada di luar negri, menelpon Ellio.
"Bentar." ujar Ellio lalu mengambil foto Daniel dan Lea, kemudian ia kirimkan pada Richard.
"Haha, akhirnya. Udah berani juga gandeng tangan si bocil." ujar Richard lagi, Ellio terkekeh.
"Usaha kita nggak sia-sia, bro." tukas Ellio kemudian.
"Yoi."
"Eh, by the way lo gimana disana. Udah melendung cewek lo?"
"Hahaha, bangsat. Gue belum mau punya anak." jawab Richard kemudian.
"Kenapa, gue aja mau. Ini gue lagi usaha melendungin anak orang."
"Hahaha, anjir. Awas melendung beneran, ntar panik."
"Iya juga sih, sama lah gue juga belum mau. Repot, bro." ucap Ellio.
"Hahaha."
Lagi dan lagi mereka tertawa.
"Gue baik disini, paling beberapa hari lagi gue pulang." ujar Richard.
"Ya udah, tetap hati-hati dimana pun berada brother."
"Iya."
Mereka lalu melanjutkan perbincangan, sementara Daniel kini mengajak Lea menemui rekan-rekannya. Disana mereka banyak membicarakan hal mengenai bisnis.
Lea sendiri berbicara sesekali, apabila ada yang mengajak ataupun melemparkan pertanyaan padanya. Sebab ia tak begitu mengerti soal pekerjaan dan bisnis.
Waktu kemudian berlalu, Daniel masih terlibat percakapan. Sedang kini Lea memilih mendekat ke arah meja yang menyediakan makanan. Gadis itu bermaksud mengambil minum, karena ia merasa haus.
"Lea."
Tiba-tiba Clarissa muncul dengan wajah yang kurang bersahabat.
"Iya, kak." ujar Lea dengan wajah yang sedikit terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu Clarissa disana.
"Lo ikut gue!"
Clarissa berjalan ke suatu arah, Lea yang tak mengerti itupun hanya ikut berjalan. Clarissa menarik Lea ketempat jauh dan sepi.
"Kak, mau kemana sih?" tanya Lea heran.
"Darimana lo dapat kalung ini?"
Clarissa berkata dengan nada yang penuh rasa ketidaksukaan. Ia menatap Lea seolah musuh bebuyutan.
__ADS_1
"Ya dari sugar daddy gue lah, kenapa emangnya?"
"Siniin!"
Clarissa hendak merampas kalung tersebut, namun Lea menghindarkan tubuhnya dan marah pada gadis itu.
"Lo apa-apaan sih, kak?" teriaknya kemudian.
Ia teringat ucapan Daniel bahwa ia harus menjaga kalung itu baik-baik.
"Asal lo tau aja ya, kalung itu harusnya jadi milik gue."
Clarissa berapi-api, Lea kini jadi menduga bahwa Daniel ada main dengan Clarissa. Pria itu ingin memberikan kalung tersebut pada Clarissa, namun tidak jadi.
"Maksud lo?" tanya Lea memastikan, ia ingin mengetahui dugaannya benar atau salah.
"Kalung itu harusnya dibeliin sugar daddy gue buat gue. Tapi akhirnya dia ngotot nyuruh milih model lain."
Lea menghela nafas, ternyata Daniel tak ada hubungannya.
"Ya itu derita nasib lo, kak. Salahin sugar daddy lo lah."
Clarissa makin naik pitam.
"Gue nggak suka lo pake barang yang jadi inceran gue. Lepas!"
Clarissa kembali memaksa, refleks Lea mendorong gadis itu hingga kemudian.
"Braaak."
Clarissa jatuh terjerembab, dari kejauhan ada beberapa orang yang mulai memperhatikan mereka.
Clarissa beranjak, lalu mengayunkan tangannya ke wajah Lea. Lea sendiri refleks menepis dan mendahului tangan Clarissa.
"Plaaak."
Lea menampar Clarissa terlebih dahulu. Gadis itupun terdiam, dengan mata memerah dan penuh dendam ia menatap Lea.
"Brengsek."
Clarissa menjambak rambut Lea dan Lea pun melakukan hal yang sama. Suasana menjadi bertambah riuh ketika semua orang akhirnya melihat adegan tersebut, tak terkecuali Daniel yang saat ini tengah berbincang dengan temannya. Pria itu pun segera berlarian ke arah Lea, begitupula dengan sugar daddy Clarissa dan yang lainnya.
"Buuuk."
Lea meninju wajah Clarissa, hingga membuat gadis itu kembali terjerembab.
"Braaak."
"Lea."
Daniel menarik Lea, Clarissa bangkit dan hendak membalas namun dihalangi sugar daddy nya.
"Clarissa apa-apaan ini?" tanya sugar daddy nya kemudian.
"Dia yang duluan." Clarissa berusaha playing victim.
"Dia mau merebut kalung yang saya pakai." Lea membela diri.
__ADS_1
"Itu kalung nggak pantes lo pake."
Clarissa mendadak bodoh dan memperlihatkan jika dirinya memanglah salah. Semua orang yang ada disitu akhirnya mengerti siapa yang menyerang duluan.
"Kita pulang." ujar Daniel lalu menggandeng lengan Lea.
Setelah kepergian Daniel dan Lea, sugar daddy Clarissa tampak sangat marah. Ia meninggalkan gadis itu begitu saja, mau tidak mau Clarissa pun harus menyusul.
***
"Lea, kenapa harus bikin keributan kayak tadi?"
Daniel bertanya pada Lea ketika mereka telah berada di mobil. Ia tidak mau menegur Lea di depan orang banyak, karena bisa jadi gadis itu akan merasa malu.
Sesaat setelah mereka tiba tadi, supir Daniel ditugaskan oleh pria itu pergi ke suatu tempat. Untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada seseorang. Maka sang supir pun pergi menggunakan taxi, sesaat setelah memberikan kunci mobil pada Daniel.
"Abisnya dia langsung narik kalung ini, denger sendiri kan tadi dia bilang apa. Soal aku yang nggak pantes pake."
Daniel menghela nafas, sepanjang mengenal Clarissa ia telah paham. Jika gadis itu amat sangat ambisius dalam mencari perhatian sekitar. Ia adalah tipe perempuan egois yang ingin menang sendiri. Beruntung Daniel tak jadi berpacaran dengannya waktu itu.
"Ya udah, kita makan aja yuk. Gimana?" tanya Daniel. Lea memperhatikan pria itu.
"Om nggak marah?" tanya nya kemudian.
Daniel tersenyum lalu menggelengkan kepala.
"Lain kali jangan kasih aku perhiasan mahal kayak gini lagi, om. Bukan aku nggak tau terima kasih, tapi pusing jagainnya. Kalau perhiasan murah, mau rusak dan hilang juga nggak apa-apa."
"Mau mahal ataupun murah, kamu tetap harus bertanggung jawab untuk menjaganya. Karena setiap benda itu punya nilai tersendiri."
"Iya tapi kan kalau barang mahal lebih gimana gitu jagainnya."
"Lebih gimana, gimana?" tanya Daniel.
"Ya gimana." ujar Lea.
Daniel pun tertawa lalu menghidupkan mesin mobil, sesaat kemudian mobil itu melaju meninggalkan tempat tersebut.
"Om nggak apa-apa ninggalin acara ini?"
"Ya nggak apa-apa, nggak penting-penting banget juga." jawab Daniel.
Lain halnya dengan Lea, sugar daddy Clarissa justru mendadak temperamen dan memarahi Clarissa. Saat mereka kembali ke tengah-tengah acara. Hingga pertengkaran tersebut mengundang perhatian sekitar.
"Kamu tau nggak, aku malu sama Daniel karena kejadian ini. Itu kalung memang bukan punya kamu, bukan hak kamu. Ngapain kamu bersikap kayak adegan sinetron?. Ngelabrak orang yang jelas-jelas tidak mencuri perhiasan itu dari kamu."
Clarissa diam, ia tak mungkin melawan pria yang menjadi ATM berjalan baginya itu. Bisa-bisa keuangannya menjadi kacau jika sepatah saja ia bersuara.
"Pulang aja deh." ujar sugar daddy nya kemudian. Sebagian istri sah bos yang menonton adegan itu tersenyum mencibir.
Pria itu beranjak ke halaman parkir, sementara Clarissa menyusul. Namun belum sempat Clarissa mendekat, ke arah pria yang sudah hendak membuka pintu mobil tersebut.
Tiba-tiba Clarissa terpaku, begitupula dengan sang sugar daddy. Pasalnya didepan mereka kini, berdiri istri sah sang sugar daddy.
Seluruh pasang mata kembali fokus ke arah mereka, tubuh Clarissa gemetar. Sementara sang istri sah sangat tenang, ia menatap Clarissa dengan tatapan yang tak terlepas sedikitpun.
"Sayang."
__ADS_1
Hanya itu suara yang terucap dari bibir sang suami, dan selanjutnya yang terjadi adalah....