Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Doa Untuk Ellio


__ADS_3

"Maaf, saya sudah pesan ojek online."


Vita menjawab om-om tersebut, lalu memberi gerakan seperti tidak nyaman dan ingin segera ditinggal sendirian.


"Kamu bukannya dulu keluaran SB Agency ya, koq kerja beginian?"


"Degh." Batin Vita bergemuruh.


Pertanyaan om-om tersebut barusan, membuat ia jadi mengingat masa lalu.


"Saya salah satu yang memilih kamu loh saat itu, tapi kamu memilih sugar daddy mu itu. Dan sekarang kamu kerja disini, apa dia nggak mengurus kamu dengan baik?"


Lagi-lagi Vita dibuat terdiam oleh om-om tersebut. Dan suasana pun makin tak nyaman bagi perempuan itu.


"Kalau kamu mau, saya bisa melihara kamu. Kasih kamu tempat tinggal yang lebih baik dan kasih kamu uang yang banyak. Yang penting kamu layani saya dengan baik."


Vita melihat handphone dan melacak keberadaan ojek online yang ia pesan.


"Kalau kamu bisa melayani saya di ranjang sampai puas. Apa yang kamu minta, saya kasih. Mau uang pun, saya akan penuhi." ujar pria itu lagi.


Vita diam dan berusaha untuk tak menjawab serta terus memperhatikan handphone. Semata agar om-om tersebut merasa di acuhkan dan tak di dengar sama sekali. Namun om-om tersebut terus saja berujar.


"Kamu mau sampai kapan kerja seperti ini. Uangnya juga nggak seberapa kan?"


"Om, nggak semua hal itu bisa dinilai dengan uang."


Kali ini Vita bersuara, sebab sudah tidak tahan lagi dengan sikap om-om tersebut.


"Dengan bekerja dimana pun itu, ada bayaran lain yakni mendapat teman dan ketenangan. Tenang bahwa bisa dapat uang bukan dari hasil menjual diri."


"Halah kayak kamu nggak jual diri aja selama ini."


"Plaaaak."


Sebuah tamparan mendarat di pipi pria itu. Menjadikan ia tampak begitu kaget.


"Mau saya jual diri sekalipun, kalau pada akhirnya saya mau berubah, anda tidak berhak menghakimi saya. Dan mau saya seburuk apapun dulu, kalau saya mau menolak tawaran anda, itu hak saya. Anda bukan pemilik dunia, jadi anda nggak berhak ngatur-ngatur hidup orang lain. Sekali lagi anda menganggu saya, saya tidak segan-segan melaporkan anda ke polisi."


Ojek online yang di pesan Vita pun datang. Gadis itu langsung saja naik dan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara si om-om menatap kepergiannya dengan penuh dendam.


***


Undangan disebar, lusa Ellio akan menikah. Hari ini ia latihan dengan Daniel dan juga Richard. Tentu saja ia sangat gugup saat mengucap ikrar. Sementara Lea memperhatikan dari kejauhan sambil menggendong Darriel dan juga makan cemilan.


"Yang bener, Ellio. Baru latihan aja udah salah mulu, gimana nanti ngucapin beneran."

__ADS_1


Daniel mengingatkan Ellio.


"Ya ini juga gue bener-bener koq. Dari dalam hati tuh udah bener, tapi nggak tau kenapa pas keluar dari mulut jadi berantakan."


"Tarik nafas dulu, hilangkan dulu ketegangan dalam diri lo." ujar Richard.


Ellio menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan udaranya lewat mulut.


"Hmmh, El. Mulut lo bau banget."


Daniel dan Richard protes seraya menutup hidung mereka dengan tangan. Tapi Ellio malah menjadi-jadi dengan meniupkan nafasnya kepada kedua orang itu.


"Ellio, bangsat." ujar Daniel seraya tertawa dan menghindar.


"Lo belom gosok gigi ya?" tanya Richard.


"Belom, haaah."


Richard memukul Ellio dengan bantal sofa. Sementara di kejauhan Lea dan assisten rumah tangga tampak terbahak-bahak.


Ellio lalu berlalu dan pergi menuju kamar mandi untuk menggosok gigi. Tak lama ia pun kembali dengan meniupkan nafasnya.


"Haaah."


"Seger kan?"


Mereka pun kembali latihan. Kali ini Ellio tampak lebih serius dari sebelumnya. Ia benar-benar menghafal ikrar pernikahan dan melakukannya dengan lancar.


Usai prosesi latihan, mereka merokok di balkon lantai atas. Tampak Ellio memandang kejauhan dengan tatapan yang penuh arti.


"Lo pasti bimbang kan, kayak gue dulu."


Daniel mendekat dan turut melempar pandangannya jauh ke depan. Sementara Richard menghisap batang rokok sambil menatap ke arah lain.


"Apa gue nantinya anak baik-baik aja, dengan adanya orang lain di rumah gue. Dan akan ada manusia lain lagi yang bakal lahir nantinya."


Ellio mulai mengungkapkan keraguan dan kekhawatiran, yang sejatinya tak pernah ia katakan sejak kemarin-kemarin.


Daniel kemudian menepuk bahu sahabatnya itu.


"Gue yakin kalian akan bahagia. Selama kalian menyayangi satu sama lain." jawab Daniel kemudian.


"Memang lo akan kaget di diawal-awal. Sebab hidup lo yang penuh kebebasan mendadak berubah. Tapi percayalah lo akan menikmati semuanya. Karena gue yakin lo menikahi perempuan yang tepat." lanjut pria itu.


Ellio menunduk dan mengangguk. Richard mendekat lalu merangkul sahabatnya tersebut, begitupula dengan Daniel.

__ADS_1


"Lo pasti bisa jadi suami dan bapak yang baik, El." ujar Richard pada Ellio.


"Semua kesenangan yang kita lewati udah cukup. Kita udah seneng-seneng di hampir separuh hidup yang kita jalani selama ini." lanjut pria itu.


Ellio yang mello tersebutpun kembali menunduk dan menitikkan air mata. Lalu ketiganya saling berpelukan dalam suasana yang begitu haru.


"Hallo, Romlah datang."


Lea muncul memecah kebisuan. Tampak tiga pria itu basah matanya oleh tangis . Lea meletakkan apa yang ia bawa ke atas meja.


"Nih aku bikin French fries sama chicken bites. Pasti kalian suka." ujarnya kemudian.


Mereka semua tersenyum sambil mengusap sisa air mata.


"Yuk di makan. Plus ini ada es cola, biar pada jadi bapak-bapak buncit." ujar Lea lagi.


Daniel, Richard, dan Ellio tertawa. Lalu mereka mendekat dan menikmati semua itu.


"Cie yang mau jadi pengantin." Ledek Lea pada Ellio.


Pria itu bersemu merah pipinya.


"Pokoknya dua hari ini lo nggak usah kerja, El. Lo dipingit dulu." ucap Daniel.


"Udah kayak perawan gue, pake acara di pingit segala." seloroh Ellio kemudian.


"Bukan apa-apa, situasi kan lagi banyak yang mau mencelakakan kita nih." ucap Richard.


"Jangan sampai lo ada apa-apa, sampai hari pernikahan lo nanti." lanjutnya lagi.


"Bener, kita nggak tau bahaya apa yang lagi mengintai kita di luar sana. Menjelang pernikahan itu ada aja halangannya. Jadi mending lo di rumah dulu, lebih aman dan bisa mempersiapkan diri secara maksimal juga." Daniel menimpali.


"Terus Marsha?"


"Marsha juga udah gue suruh off kerja koq. Nanti temen-temen kampus Lea dan beberapa karyawan kantor yang ngurus dia."


"Oh ya udah kalau gitu, bisa rebahan dulu gue berarti." tukas Ellio sambil terus makan.


"Oh ya om, lokasinya udah mulai di desain dan bagus banget." ucap Lea.


"Kamu udah ngeliat, Le?"


"Udah." jawab Lea lalu turut mengigit french fries yang ada di tangannya.


"Semoga bahagia ya, om. Langgeng sampai tua." ucapnya lagi.

__ADS_1


"Aamiin."


Semua yang ada disana menjawab.


__ADS_2