Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Stress


__ADS_3

Suasana tengah adem ayem, tiba-tiba Daniel di kejutkan oleh kedatangan salah satu penasehatnya di perusahaan.


"Dan, liat ini." ujar pria yang bernama Keanu itu padanya.


"Apaan, bro?" tanya Daniel heran.


Keanu menunjukkan beberapa link berita di laman sosial media, serta akun baca berita online yang menampilkan beberapa headline news.


"Pengusaha terkenal ini ternyata pelihara remaja usia 16 tahun."


"Daniel Edsel Roberts dan keterlibatannya dengan SB Agency."


Daniel tersentak melihat link-link berita tersebut. Lebih parahnya lagi, ada beberapa judul clickbait yang tampak disengaja untuk menggiring opini.


"Pengusaha terkenal ini, sekap remaja 16 tahun di rumahnya."


"Menikahi remaja di bawah umur, ini profil Daniel Edsel Roberts."


Nafas Daniel mulai memburu, ia begitu geram dengan pemberitaan semacam ini. Apalagi itu dilakukan oleh media berita online yang besar. Setelah beberapa waktu lalu ia membereskan, kini semuanya jadi muncul kembali ke permukaan.


"Brengsek!" ujarnya kemudian.


***


Sementara di lain pihak..


"Hahahaha."


"Hahahaha."


Marvin dan teman-temannya tertawa melihat pemberitaan mengenai Daniel tersebut. Mereka terutama Marvin, merasa begitu puas dengan apa yang telah mereka perbuat.


"Mampus, semoga mentalnya di daniel nyungsep. Ternyata seru juga menyerang orang dengan cara kayak gini. Gue yakin saat ini Daniel lagi stress." ujarnya kemudian.


"Yoi, bro. Masih sakit hati banget kemaren gue di hajar sama si brengsek itu. Kita jangan berhenti sampai dia benar-benar gila. Biar tau rasa itu orang, sebel banget gue." celetuk salah seorang temannya.


"Udah, lo tenang aja. Nggak ada orang yang nggak hancur kalau udah berurusan sama yang namanya pemberitaan media dan ganasnya netizen di sosial media." ucap Marvin.


"Gue sih berharap si Richard dan Ellio ikut terseret." lanjutnya lagi.


"Yoi, bro." temannya yang lain ikutan


"Sekali tepuk, tiga kecoa mati." lanjutnya kemudian.


"Hahahaha."


Mereka semua tertawa-tawa.

__ADS_1


***


"Beberapa media udah gue tekan dan intimidasi."


Richard berujar pada Daniel, ketika mereka akhirnya bertemu di kantor.


"Beberapa yang lainnya juga udah menghapus." Ellio menimpali.


"Apa nggak sebaiknya kita adakan konferensi pers aja." ucap Daniel.


"Jangan, Dan!" Keanu si penasehat perusahaan berkata pada Daniel.


"Kalau lo mengakui semuanya di depan publik. Sama aja lo mengakui kalau lo pernah menyimpan Lea di kediaman lo, bahkan sejak dia masih di bawah umur. Lo akan kena masalah lagi." lanjutnya kemudian.


Daniel diam, begitupula dengan Richard dan juga Ellio.


"Sebaiknya tenang dulu, jangan gegabah." Lagi-lagi Keanu berujar.


"Pasti ada jalan keluarnya koq." ucapnya lagi.


Daniel menarik nafas panjang lalu duduk di kursi meja kerjanya. Disaat hidupnya sudah mulai stabil dan tak ada masalah sama sekali, kenapa hal-hal seperti ini mesti muncul. Kepalanya benar-benar terasa sakit.


"Tiga media udah ilang ini beritanya." ucap Ellio setelah beberapa saat berlalu.


Daniel menatap sahabatnya itu.


Kali ini Richard yang menghela nafas. Mereka kembali terdiam dan sama-sama kembali berpikir.


Sementara dirumah, Lea belum mengetahui perkara apa-apa. Teman-temannya juga tak ada mengabarkan apapun. Sebab mereka semua tengah sibuk berkutat dengan tugas dan juga perkuliahan.


Darriel tampak memain-mainkan kaki dan tangannya dengan antusias. Sementara Lea menghadap laptop dan melakukan perkuliahan online. Bersama para mahasiswa dan mahasiswi yang malas hadir lainnya.


"Le, itu anak lo. Handphone gue yang rusak, apa dia yang emang ngebut sih goyangin kaki sama tangannya?"


Salah satu teman Lea yang tak begitu akrab dengannya kini bertanya. Pasalnya ia melihat Darriel yang berada di belakang Lea, tepatnya di atas tempat tidur. Lea pun menoleh.


"Dia emang modenya gitu, terlalu antusias." ucap Lea sambil tertawa.


Temannya itu pun turut tertawa, diikuti tawa yang lainnya.


"Lo kasih makan speedometer kali ya, Le." celetuk Rama."


"Gue kasih makan Speedboat." jawab Lea.


"Hokhoa."


Darriel bersuara, lalu menoleh ke arah Lea.

__ADS_1


"Noleh tuh, Le." ujar teman Lea sekali lagi.


"Iya, biarin aja. Caper dia mah." Lagi-lagi Lea berujar.


Mereka melanjutkan perkuliahan, dengan mata yang tak bisa terlepas dari tingkah Darriel. Meski dosen telah membuat video pelajaran panjang-lebar. Tetap saja bayi itulah yang mencuri perhatian mereka.


***


"Aaaaa."


Ibu Marvin berteriak di teras rumahnya. Para asisten rumah tangga dan sekuriti pun berlarian ke arah wanita itu.


Tampak di lantai teras ada sebuah kotak yang ia jatuhkan. Dari dalam kotak tersebut terlihat sebuah boneka seperti boneka Voodoo atau santet. Ada tusukan-tusukan jarum di beberapa bagian tubuh boneka itu.


"Astaga."


Salah satu asisten rumah tangga yang masih percaya pada hal mistis kaget melihat semua itu.


"Ini dari mana, bu?" tanya asisten rumah tangga itu pada ibu Marvin.


"Nggak tau, tadi ada yang nganterin paket ini kesini. Karena penasaran dan nggak ada nama pengirim, saya buka aja." jawab wanita itu.


"Ada orang niat jahat ini." ujar sang asisten rumah tangga lagi..


"Ni, niat jahat?. Maksudnya?"


"Ini semacam santet, bu."


"Hah, sa, santet?" tanya ibu Marvin tak percaya.


Tadi ia berteriak hanya karena merasa seram saja, bukan karena ia tau jenis boneka apa itu. Kini ia menatap boneka tersebut dengan penuh ketakutan. Jika iya ada yang hendak berbuat demikian, lalu siapa orangnya.


Ia mengira-ngira, sebab ia merasa tak memiliki musuh, bahkan suaminya pun demikian.


Tapi ibu Marvin tak terpikir akan Clarissa. Dari kejauhan Clarissa mengamati wanita itu sambil tersenyum. Meski pernah di bohongi oleh Ki Joko mangkulangit yang ternyata adalah teman Marsha. Namun Clarissa tak kapok juga pergi ke dukun.


Ya, minimal untuk menjatuhkan mental keluarga Marvin terlebih dahulu. Ia dendam karena ayah dan ibu Marvin lah, yang mempengaruhi Marvin untuk meninggalkannya. Disaat kini dirinya tengah mengandung.


"Lo liat aja nanti. Akan ada hal yang lebih ekstrim lagi gue kirim. Dasar tua bangka, nggak tau diri. Sampe gue berhasil menikahi Marvin, gue racun lo sama laki lo sampe mampus. Biar harta lo semua jatuh ke Marvin dan ke gue."


Clarissa lalu tertawa layaknya nenek sihir. Kemudian ia tancap gas meninggalkan tempat itu. Sejatinya ia telah terpuruk dan depresi, namun tak sadar akan hal tersebut. Ia masih saja mengira kalau ia masih dalam keadaan baik. Padahal hanya menunggu gila-nya lagi.


Setiap malam yang ia pikirkan adalah menikah dengan Marvin dan hidup kaya raya. Tak lama ketika ia mengingat jika Marvin telah meninggalkannya, maka ia akan mengamuk dan memecahkan barang di rumah. Ia berteriak-teriak seperti orang yang kehilangan kendali.


Lain waktu di laundry miliknya. Kadang ia marah-marah pada karyawan untuk alasan yang tidak jelas. Hingga menyebabkan para karyawannya kini mulai merasa muak, terhadap sikap wanita itu.


Sebentar ia menangis, di menit berikutnya ia tertawa. Namun saudara-saudaranya belum mengetahui keadaan perempuan itu, hingga hari ini.

__ADS_1


__ADS_2