
"Hah."
Daniel terbangun dari tidurnya yang cukup gelisah, ketika ia menyadari jantungnya berdegup dengan kencang disertai gangguan kecemasan.
"Mas Dan?"
Lea yang juga ikut terbangun, kaget melihat penampakan suaminya. Pasalnya kini pria itu membengkak di segala sisi.
"Mas Dan kenapa?" tanya Lea panik.
Daniel pun melihat ke tangan dan kaki, lalu buru-buru berlari ke depan kaca. Tampak banyak benjolan dan bengkak di wajahnya.
"Aaakh." Ia mulai meringis kesakitan ketika menyadari semua itu. Padahal sebelumnya, ia tak merasakan apa-apa.
"Lea aku kenapa?" tanya Daniel panik.
"Aku nggak tau mas." Lea menjawab tak kalah cemasnya.
Dalam sekejap Daniel sudah dibawa Lea ke rumah sakit. Karena mereka berdua khawatir ada pembengkakan pembuluh darah, jantung atau apapun itu yang bisa membahayakan jiwa Daniel. Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas pikiran mereka sudah kesana. Ke arah kemungkinan terburuk. Ketika dokter akhirnya selesai mendiagnosa, mereka pun terdiam sejenak.
"Pak Daniel mengalami alergi yang cukup berat."
Daniel dan Lea saling menatap satu sama lain.
"Alergi makanan dok?" tanya Daniel.
"Iya, apa bapak mengkonsumsi makanan yang bapak sendiri tidak bisa makan?" Dokter tersebut balik bertanya.
Daniel terdiam dan mengingat sesuatu.
"Lobster?"
Ia menatap dokter, lalu menatap ke arah Lea.
"Apa bapak ada alergi seafood sebelumnya?"
"Ada dok, tapi tertentu doang. Di beberapa seafood saya nggak apa-apa, tapi di beberapa jenis lainnya saya alergi. Cuma selama ini saya kalau alergi itu on the spot. Misalnya abis makan sesuatu yang saya nggak bisa, tiba-tiba langsung gatel-gatel. Ini koq alerginya rada telat ya dok?. Padahal saya makannya kemaren loh."
"Mungkin tubuh bapak kemarin masih berusaha melawan reaksi alergi itu, tapi hari ini kalah dan timbullah hal semacam ini."
"Mas emang alergi bisa di pending?" tanya Lea pada Daniel dengan suara pelan.
"Nggak tau, alerginya ngetem dulu kali kayak angkot atau metromini." jawab Daniel.
Kemudian dokter pun meresepkan obat untuknya. Ia dinyatakan belum perlu di rawat inap. Lea dan Daniel lega, meski Daniel harus menjadi korban tertawaan dari istrinya tersebut.
"Kenapa sih kamu ketawa mulu?"
Daniel sewot ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Salah satu sekuriti penthouse yang mengemudikan kendaraan tersebut. Tadi Lea sempat minta tolong padanya, dengan upah yang lumayan. Meski sejatinya sekuriti tersebut menolak menerima bayaran, namun Lea dan Daniel tetap memaksa.
"Abis mas mukanya bengkak-bengkak gitu, kayak di sinetron ikan terbang tau nggak. Azab memakan lobster di belakang istri."
"Daniel tertawa meski bibirnya terlihat masih tebal."
"Heh Markonah, kan kamu juga makan. Aku bukan makan sendirian, terus kamu nggak dikasih."
"Tetap aja, pas makannya kan di belakang aku. Makanya sekarang bibir mas kayak Kylie Jenner."
Daniel menggelitik Lea, hingga mereka pun tertawa-tawa.
__ADS_1
***
"Mas istirahat ya."
Lea menutupi setengah tubuh suaminya dengan selimut, ketika mereka akhirnya sampai dan Daniel di bawa ke kamar.
"Muka aku masih aneh ya Le?" tanya Daniel.
Lea lagi-lagi tertawa.
"Masih mas, kayak abis di gigit tawon sekandang."
Daniel ikutan tertawa.
"Emang nggak ada bedanya gitu, tadi sama sekarang."
"Ada sih, beda tipis." jawab Lea disambung tawanya yang terbahak.
"Bangsat." ujar Daniel menahan senyum, sementara Lea terus terkekeh.
Terdengar suara lift terbuka.
"Kayaknya ayah sama om Ellio deh." ujar Lea sambil berjalan ke depan.
Ternyata benar adanya, Richard dan Ellio kini sudah tiba. Mereka sebelumnya sempat di beritahu oleh Lea, perihal apa yang menimpa Daniel.
"Bro."
Richard dan Ellio masuk, tadinya mereka ingin bersimpati. Namun setelah melihat wujud penampakan Daniel, mereka pun tertawa geli.
"Hahahaha."
"Hahahaha."
"Bisa-bisanya lo berdua ketawa."
Richard dan Ellio masih terpingkal-pingkal.
"Eh ini alergi bisa bahaya tau, bisa mati gue kalau nggak ditangani."
"Iya gue tau, tapi gue mau ketawa dulu." ujar Ellio.
"Emang bangsat nih orang, udalah gue alergi gara-gara dia." gerutu Daniel.
"Gue lupa, Dan. Sumpah, lupa banget gue."
"Teman macam apa yang melupakan alergi teman sendiri."
"Lah lo aja yang punya badan nggak ngomong." ujar Ellio masih membela diri.
"Ya gue nggak tau kalau alergi lobster. Di beberapa jenis seafood, gue biasa aja."
"Makanya lo nggak bisa nyalahin gue sepenuhnya dong."
"Emang lo nya aja yang nggak mau disalahin."
Daniel kian sewot, sementara Richard dan Ellio terus menertawakannya.
Waktu berlalu, Daniel terlelap dalam tidur akibat pengaruh obat. Ellio sudah pamit sejak dua menit yang lalu, kini tinggal hanya Lea dan juga Richard.
__ADS_1
"Lea, ayah pulang dulu ya."
"Buru-buru amat yah, nggak nanti-nanti aja?"
"Ayah mau nganter Dian ke bandara."
"Kak Dian udah mau balik ke luar negri?"
"Iya, pesawatnya berangkat sekitar empat jam lagi."
"Oh ya udah, ayah hati-hati di jalan ya."
Richard mengangguk lalu memeluk puterinya itu. Ia tersenyum dan mengelus cucunya barang sesaat.
"Kamu jangan lupa istirahat." ujarnya kemudian.
"Iya ayah."
Richard mencium kening Lea, lalu ia pun berpamitan.
***
Di kediaman ibu Lea.
"Aku udah nggak tahan lagi sama kamu."
Ibu Lea berteriak di muka suaminya. Mereka bertengkar sejak beberapa saat yang lalu. Membuat Ryan dan Ryana ketakutan serta bersembunyi di dalam kamar.
"Udah berani ya kamu sekarang, mentang-mentang udah punya duit dari bapaknya Lea."
"Halah kamu juga ikut menikmati kan?. Dikit-dikit minta duit, bilang buat ini dan itu. Nggak tau malu kamu."
"Eh jaga ya ucapan kamu, saya ini masih kepala keluarga disini."
"Kepala keluarga apaan?. Nggak ada fungsinya, bisanya cuma nyusahin."
"Praaang."
Ayah tiri Lea melempar meja kaca dengan vas bunga. Hingga mengakibatkan meja berikut vas nya pecah berserakan.
"Segitu doang kamu bisanya hah?. Kenapa nggak sekalian rumah ini aja di hancurkan?. Udalah salah ngegas lagi." Ibu Lea tetap berapi-api.
"Bisa diem nggak kamu?" teriak ayah tiri Lea.
"Suruh siapa kamu ngambil duit aku yang aku simpan di lemari dan kamu pake judi?" Ibu Lea balas berteriak.
"Duit empat juta doang, pelit kamu dasar. Bukannya kamu dapat ratusan juta dari bapaknya Lea."
"Ya tapi kamu nggak bisa seenaknya menggunakan uang itu. Itu punya aku dan bukan punya kamu."
Mereka terus beradu mulut, hingga pada suatu titik ibu Lea keluar dan berteriak.
"Aku mau cerai, urus sendiri tuh anak-anak kamu."
"Heh mau kemana kamu?"
Ayah tiri Lea menyusul. Terjadilah pemukulan di jalan depan rumah, hingga tetangga dan ketua RT yang kebetulan sedang ada dirumahnya turut memisahkan. Kebetulan juga rumah ketua RT tersebut, tak jauh dari kediaman ibu dan ayah tiri Lea.
Warga berkumpul. Ryan dan Ryana menangis di dalam kamar, bercampur dengan suara bayi Renisa yang juga menangis kencang.
__ADS_1