
"Oeeeek."
"Oeeeek."
Ibu Lea berusaha mendiamkan bayi nya yang menangis sejak tadi, hal tersebut tentu saja membuat gusar sang suami yang hendak pergi tidur. Beberapa bulan yang lalu bayi itu telah lahir, bayi tersebut berjenis kelamin perempuan.
"Kenapa lagi sih, dari tadi perasaan nangis terus."
Sang suami atau ayah tiri Lea keluar kamar dan menegur istrinya.
"Susu formulanya habis mas, kamu kan tau kalau ASI aku nggak keluar banyak sejak dia lahir."
"Duh, masalah lagi."
Ayah tiri Lea kembali gusar, kali ini sangat-sangat terlihat diwajahnya. Ia seolah enggan dipusingkan oleh hal seperti ini, sementara si bayi masih terus menangis kencang.
"Ya gimana kek caranya, diemin gitu. Ganggu orang tidur aja." ujar suaminya lagi.
"Ya dia kelaparan, mas. Uang udah abis, nggak bisa beli susu."
"Makanya jangan boros banget jadi istri."
"Boros gimana, kita aja makan tiap hari ikan asin, bayam, ikan asin, bayam koq. Berapa kamu ngasih duit perbulan?. Belum beli gas, air minum, token listrik, disitu juga makan. Mikir, dong mas."
"Ya kamu dong bantu mikir, masa aku terus mikir. Lagian jadi istri nggak menghasilkan apa-apa."
"Eh mas, yang nyuruh aku dirumah siapa?. Kamu kan?" Ibu Lea berteriak.
"Kamu yang nyuruh aku untuk nggak kerja, dengan alasan suruh ngurus anak. Sekarang kamu juga yang ngomel, karena cuma kamu yang nyari uang sendiri." lanjutnya lagi.
"Semua nggak kayak gini kalau kamu nggak boros."
"Boros apanya, mas?. Coba aja dulu kamu yang pegang uang bulanan, biar tau berapa biasa yang kita habiskan setiap harinya?"
"Oeeeek."
"Oeeeek."
Diam semuanya, diaaam...!"
"Maaas."
Ibu Lea refleks menjauhkan bayinya, yang hampir dibekap mulutnya oleh sang ayah. Ryan dan Ryana yang tengah tertidur pun terbangun. Karena mendengar suara gaduh ayah dan ibunya.
Kedua anak itu tampak syok, sedang enak-enak tidur malah mendengar keributan. Hal ini sangat sering terjadi, bahkan ketika adik bayi mereka belum lahir. Faktor penyebab utamanya, apalagi kalau bukan ekonomi.
Ekonomi adalah salah satu faktor paling mendasar dalam sebuah rumah tangga. Pengaruhnya sangat besar, namun dewasa ini masih sangat di sepelekan.
Kebanyakan orang-orang di negara berkembang, terlalu membudayakan pasrah dalam hal keuangan. Kadang menikah pun tanpa persiapan ekonomi yang jelas, dengan alasan nanti juga sang pencipta memberikan. Karena sang pencipta tidak akan membiarkan hambanya kelaparan.
Memang benar, sang pencipta tidak akan membiarkan hambanya kelaparan. Tapi apakah sampai bantuan sang pencipta itu datang, kita masih bisa terus bersabar?. Masih bisa menahan diri untuk tidak bertengkar dan saling memaki?.
Pada sebagian orang mungkin bisa, tapi kebanyakan orang lain akhirnya stress sendiri. Karena tidak sabar menunggu uluran tangan sang pencipta tersebut. Pernikahan tanpa persiapan ekonomi yang matang, ditambah lagi orang-orangnya adalah manusia yang tak sabaran, egois serta temperamen.
__ADS_1
Maka seperti itulah jadinya, ibu dan ayah tiri Lea terus berdebat. Bukannya mencari solusi, bagaimana bayi yang menangis itu bisa kenyang dan berhenti menangis.
***
"Dert."
"Dert."
Handphone Lea yang ketinggalan di meja makan bergetar, gadis itu sudah molor sejak tadi. Pasca kelelahan akibat belajar matematika selama berjam-jam.
"Dert."
"Dert."
Daniel yang kebetulan melintas, melihat handphone tersebut dan tertera sebuah nama disana.
"Ryana."
"Lea, adek bayi nangis terus. Susunya habis, sekarang ibu sama ayah berantem."
Daniel membaca pesan tersebut lewat layar notifikasi. Ia agak bingung, namun mengira-ngira. Apa mungkin Lea masih memiliki seorang adik lain yang masih bayi.
"Ryana sama Ryan boleh ikut Lea nggak?. Kami bosan liat ini sama ayah berantem terus."
Pesan itupun turut dibaca oleh Daniel, sementara disana kedua orang tua Lea masih berdebat.
"Ini gara-gara kamu juga minta di kredit motor segala." Ayah tiri Lea kembali berujar.
Suasana malam itu begitu runyam, ocehan dan umpatan terdengar hingga beberapa waktu. Tetangga kanan-kiri pun ada yang terbangun, karena mendengar suara mereka.
***
Esok harinya ketika bangun tidur, Lea tak langsung melihat pesan di WhatsApp. Notifikasi pesan dari Ryana telah tenggelam oleh notifikasi-notifikasi lainnya.
Ia pun hanya melihat sekilas lalu menghapus semua notifikasi tersebut, tanpa memperhatikan pesan siapa saja yang masuk. Ia sekolah seperti biasa dan pulang seperti biasa pula, siang itu Daniel menjemputnya dari sekolah.
"Om koq jemput aku lagi?" tanya Lea ketika telah berada didalam mobil Daniel.
"Om nggak kerja emangnya?" lanjutnya kemudian.
"Nanti aku balik lagi ke kantor, koq. Aku pengen makan di suatu tempat, sama kamu."
"Hmm, tau aja kalau aku lagi laper."
Daniel tertawa, ia lalu mengemudikan mobilnya ke suatu arah. Mereka lalu menyambangi sebuah tempat yang lebih mirip resort ketimbang tempat makan, tapi Daniel berkata itu adalah restoran. Hanya saja tempatnya memang lebih private.
Ada balkon yang menjorok kedepan, menyajikan pemandangan persawahan yang begitu indah membentang. Lea saja sampai takjub melihatnya.
"Om kalau mau makan siang, jauh-jauh kayak gini mulu perginya?" Lea bertanya ketika Daniel menggeser kan kursi untuknya, pria itu lalu tertawa.
"Nggak juga, kalau tiap hari makan siang di tempat yang jauh terus. Kerjaan bisa terbengkalai dong." ujarnya seraya memulai untuk makan, kebetulan hidangan sudah dihidangkan. Karena Daniel memesannya sejak masih di jalan tadi, jadi ketika sampai mereka tinggal makan.
"Iya juga sih, tapi kayaknya enak aja gitu jadi kalian. Jadi bos, pemimpin, pemilik perusahaan. Kayaknya bisa mengendalikan waktu dan dunia."
__ADS_1
Daniel kian terkekeh, Lea menyuap nasi.
"Jadi bos atau pemimpin perusahaan itu memang enak, punya banyak uang juga enak. Tapi untuk semua itu, kita harus membayar mahal."
"Maksudnya om beli jabatan?. Kayak yang berita di televisi, dong. Kalau mau jabatan, nyogok dulu. Gitu ya, om?"
Lagi dan lagi Daniel tertawa, bahkan nyaris tersedak makanannya sendiri.
"Bukan, bayar mahal disini maksudnya pake waktu, tenaga, dan pikiran. Bos-bos besar itu hampir nggak punya waktu loh untuk rebahan, kalau mereka lagi sibuk. Apalagi saat ada masalah di perusahaan."
Lea meminum air putih, namun masih memperhatikan Daniel.
"Meskipun kita berada diposisi teratas, banyak karyawan, anak buah. Bukan berarti kita bisa leha-leha, ongkang-ongkang kaki di belakang meja. Tinggal tunjuk, tinggal perintah."
"Tapi kayak yang sering aku baca di novel online, bos-bos itu kayaknya gampang banget hidupnya. Tinggal perintah, tinggal tunjuk, marah-marah, arogan, banyak bodyguard."
"Hahaha." Daniel tertawa untuk yang kesekian kali, baru kali ini ia banyak tertawa dalam hidupnya.
"Mungkin yang nulis kebanyakan melihat sosok bos atau orang kaya yang ditampilkan dalam film." ujar Daniel.
Lea memperhatikan sugar daddy nya itu.
"Pada kenyataannya siapa yang memimpin, dialah yang paling pusing mikirin semuanya. Karena ada ratusan bahkan mungkin ribuan karyawan, yang bekerja di perusahaannya. Ada customer yang harus dijaga hak-hak dan keinginannya. Ada bank yang mesti dibayar kreditnya, kalau dia modal pake pinjaman. Nggak segampang yang digambarkan oleh penulis novel online. Tinggal perintah tangan kanan, tangan kiri. Panggil bodyguard, suruh ini, suruh itu ke karyawan."
"Oh, gitu. Bisa stress juga kali ya om?"
"Bukan lagi, kamu liat aja rambutnya keluarga kerajaan Inggris yang laki-laki. Pada abis semua gitu, kebanyakan mikir."
"Emang iya om?"
"Kamu pikir keluarga kerajaan itu, misalkan kamu princess nih. Kamu pikir kerjaan kamu cuma bangun pagi, mandi, makan makanan enak, pake gaun impian, pake sepatu kaca?"
Daniel menatap Lea seraya kembali tertawa, ketika mengatakan hal tersebut.
"Jadi pemimpin atau anggota sebuah kerajaan itu ribet, mesti mikirin kesejahteraan rakyat. Kalau rakyat nggak sejahtera, bisa di demo dan digulingkan. Sama halnya dengan memimpin perusahaan, kalau nggak becus bisa didemo sama karyawan."
Lea diam, ia kini paham jika ingin menjadi orang besar dan kuat, kita juga harus menjadi besar dan kuat pula. Besar dan kuat dalam artian, berbesar hati meski tidak punya banyak waktu untuk senggang untuk rebahan. Apalagi rebahan sambil melihat akun gosip.
Berbesar hati untuk menerima segala urusan dan segala kerumyaman yang ditimbulkan olehnya. Serta menjadi kuat dan tidak gampang mengeluh, apalagi menyerah.
"Gimana, masih tertarik jadi pengusaha kaya?"
Lea menatap Daniel dengan heran.
"Darimana om tau?" ujarnya kemudian.
"Dari alarm handphone kamu yang kamu tinggalin di meja depan televisi."
Lea terkejut mendengar semua itu.
"Yang tulisan alarmnya begini : "Bangun wahai Lea si calon pengusaha yang akan lebih kaya dari om Daniel. Bangun, jangan malas."
Wajah Lea memerah, persis seperti pantat monyet. Sedang Daniel terus menikmati makanannya sambil tak henti tersenyum.
__ADS_1