
Ini adalah kali pertamanya Lea duduk nyaman di mobil Daniel tanpa canggung. Setelah hampir satu tahun belakangan ini, ia selalu merasa menaiki taxi online yang supirnya tak pandai berbasa-basi. Apabila ia tengah naik mobil bersama pria itu.
Namun hari ini setelah pembicaraan dari hati ke hati tempo hari, dan setelah Daniel mengakui jika ia menyukai Lea. Lea pun kini bisa merasakan bagaimana duduk didalam mobil, dengan suasana yang menyenangkan.
"Om."
"Hm?"
"Om pernah nikah nggak sih sebenarnya?"
Lea bertanya ketika mereka telah berada di separuh perjalanan.
"Nggak, emang belum." jawab Daniel masih fokus ke jalan.
"Kenapa nggak nikah?. Kan umur om udah cukup." lagi-lagi Lea berujar.
"Ya udah besok aku nikah, kamu nggak apa-apa kan aku tinggalin nikah?" Daniel berujar sambil setengah tertawa.
"Ih, bukan itu maksud aku?" Lea gusar. Seperti anak SD yang hendak menyampaikan maksud, namun tanggapan lawan bicaranya tidak nyambung.
"Maksud aku kenapa sih, om sama om Ellio, om Richard pada nggak mau nikah. Padahal kan udah mampu, mapan, apa lagi."
Daniel menghela nafas.
"Lea, menikah itu bukan perkara mampu atau tidak mampu aja. Banyak aspek yang berkaitan dan harus dipikirkan."
"Contohnya?" tanya Lea tak mengerti. Sebab dalam pemahamannya, menikah itu ya menikah saja.
"Contohnya, dengan siapa kita menikah. Itu juga harus dipikirkan loh. Jangan hanya karena merasa cukup umur, mampu, terus asal aja nikahin orang. Salah-salah stress sendiri nantinya, apalagi kita nggak kenal orang itu dengan baik."
"Grace, bukannya om kenal baik dan sayang sama dia?"
Kali ini Daniel terdiam, ada rasa sakit yang menusuk ketika mendengar nama wanita itu. Namun ia sedang tak ingin marah, terlebih Lea memang belum dewasa dan masih banyak hal yang ingin ia ketahui.
"Ya udah, nanti aku suruh papaku cerai sama Grace. Terus aku nikahin dia, gimana?" Daniel bertanya seraya tertawa dan memberikan lirikan nakal pada Lea, lagi-lagi Lea sewot.
"Bukan itu maksud aku, om. Maksud aku itu kenapa om dulu nggak nikah aja sama Grace. Kan katanya sayang, udah kenal baik lagi."
"Ya udah aku akan nikahi dia dalam waktu dekat."
"Bukan itu, tau ah."
Lea benar-benar kesal, ia kini menyilangkan tangan di dada dengan bibir yang manyun ditekuk. Daniel makin tertawa melihat tingkah gadis itu.
"Gini Lea, belum tentu sebuah pernikahan itu bisa bikin kita bahagia. Orang yang pas pacaran seneng, romantis, pas nikahnya jadi hambar, banyak. Karena pernikahan itu atmosfernya beda."
"Maksudnya, kayak bumi gitu?. Ada atmosfernya?"
"Orang yang sudah menikah, otomatis tinggal satu rumah."
__ADS_1
"Nggak juga, ada yang terpisah kalau misalkan suaminya merantau untuk kerja."
"Iya ini kan aku bilang secara garis besarnya." ujar Daniel.
"Hm, terus?" tanya Lea lagi.
"Kebanyakan yang merasa sudah terikat, sudah suami-istri, mereka jadi merasa memiliki satu sama lain."
"Ya bagus dong, om. Kan emang saling memiliki."
"Tapi, lama kelamaan rasa memiliki itu berubah menjadi rasa ingin menguasai. Istri jadi nggak boleh ini dan itu oleh suaminya, suami jadi terhambat segalanya karena nggak boleh ini itu oleh istrinya. Karena rasa "Memiliki" itu tadi. Terkadang rasa itu membuat kita jadi merampas hak-hak pasangan kita, itu yang aku takutkan dari sebuah pernikahan. Aku takut isinya hanya sepintas saling berusaha menguasai satu-sama lain. Sehingga lama kelamaan suasana pernikahan itu sendiri jadi nggak nyaman, memuakkan, dan terjadilah perselingkuhan atau perceraian. Aku takut sama pernikahan, karena aku punya orang tua yang gagal dalam pernikahan."
Lea terdiam, mencoba meresapi apa yang Daniel ucap barusan.
"Aku sebenarnya sama takutnya, om. Karena aku berasal dari keluarga yang juga boleh dibilang agak kacau." ujar Lea kemudian.
"Orang tua kamu bercerai?" tanya Daniel.
Lea menggeleng.
"Mereka masih, tapi ayah aku. Dia bukan ayah kandung aku."
Daniel kali ini menatap Lea.
"Ayah kandung kamu, cerai?"
"Nggak tau siapa." jawab Lea.
"Ibu bilang nggak sengaja ketemu ayah aku di sebuah party. Terus terjadilah cinta satu malam, dan ayah aku itu menghilang. Ibu aja nggak tau dia tinggal dimana."
"Nggak pernah usaha nyari tau?"
"Pernah, tapi kata ibu nggak berhasil. Orang-orang yang datang ke party temen ibu, rata-rata. nggak begitu memperhatikan orang lain. Mereka hanya fokus have fun malam itu."
"Terus sekarang, ibu kamu menikah lagi?"
Lea mengangguk.
"Iya, udah dua kali."
Daniel menoleh sejenak, sebelum kembali melihat jalanan.
"Yang pertama cerai?"
"Iya, dan dia kembali ke negaranya. Padahal orangnya baik, ibu punya anak satu dengan dia. Yang waktu itu hampir om tabrak."
Daniel mengingat Leo.
"Iya aku inget." ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Mereka cerai karena saat itu ayah tiriku bangkrut dan terpaksa harus kembali ke negaranya, sementara ibu nggak mau mendampingi. Terus ibu ketemu lagi sama ayah yang sekarang."
"Baik orangnya?" tanya Daniel.
Lea menggeleng.
"Orangnya agak mesum, kalau ngeliat aku suka kayak ganjen gitu."
Lagi-lagi Daniel menoleh pada Lea, walau hanya sebentar.
"Dia juga pelit banget, ibuku punya anak kembar sama dia. Nah setiap kali dia beli apa-apa, makanan misalkan. Dia jarang bagi ke aku dan Leo, semua untuk anaknya yang kembar itu. Kadang lauk makan pun kami di beda-bedakan."
Mendadak hati Daniel seperti diremas, ia tidak tahu jika adalah kehidupan seperti itu di luar sana. Ia pikir kehidupannya bersama orang tuanya, adalah kehidupan paling menyedihkan di dunia. Ayahnya suka main perempuan, ibunya membalas dengan main laki-laki. Tapi ternyata ada yang lebih menyedihkan dari apa yang ia alami.
"Jadi kalau misalkan mereka makan daging?"
"Aku sama Leo kebagian tempe atau sayur doang. Itu kalau misalkan dagingnya dibeli dengan uang dia, tapi kalau pakai uang ibu. Ibu masih bolehin aku sama Leo untuk makan."
"Kenapa ibu kamu nggak marah sama bapak tiri kamu, kan dia itu ibu. Harusnya dia nggak boleh dong ikut membeda-bedakan anak seperti itu." Daniel mulai terlihat marah, ia jadi iba pada Lea.
"Ibu nggak bisa berbuat apa-apa, om. Dia mikirnya udah dikasih tumpangan di rumah suaminya itu, masih untung dikasih makan."
"Ya nggak bisa gitu dong, Le. Menikahi janda, ya harus terima anaknya. Kalau nggak mau punya anak tiri ya, jangan nikahi janda. Baru denger aku ada orang kayak gitu."
"Ada om, malah mungkin banyak. Cuma nggak terekspose aja."
Daniel menghela nafas, pantas saja Lea apabila berada di pesta. Ia pasti makan banyak, tak peduli dilihat orang. Hal tersebut karena ia sangat jarang makan enak.
Hati Daniel pun seakan terpukul, sebab selama ini ia kerap kali mengabaikan makanan. Kadang ketika ia sedang dalam mood yang tidak baik, ia tidak menyentuh makanannya sama sekali. Padahal kadang sudah dibeli.
"Itu Rangga kan?" Daniel bertanya ketika mereka hampir sampai ke sekolah Lea. Kebetulan Rangga melintas disisi mereka tanpa helm.
"Iya." jawab Lea kemudian.
"Kamu kenapa udah nggak sama dia?"
Kali ini Lea menghela nafas.
"Panjang ceritanya om, kalau diceritakan bisa berjilid-jilid kayak drama India."
Daniel tertawa.
"Intinya orang tua Rangga nggak mau anaknya sama cewek miskin." ujar nya kemudian.
Mobil mereka tiba di muka gerbang sekolah, beberapa saat kemudian. Lea pun berpamitan.
"Hari ini aku kayaknya pulang cepat, nanti aku jemput." ujar Daniel.
"Beneran om?" tanya Lea sumringah, namun masih sedikit tak percaya.
__ADS_1
Daniel mengangguk, tak lama Lea pun keluar dari dalam mobil.