Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Menunggu Hasil


__ADS_3

"Gimana Vit?"


Lea bertanya pada Vita, usai gadis itu diambil sampel darahnya.


"Ya diambil darah." ujar Vita.


"Paling lo di tanya-tanyain dikit nanti di dalam." lanjutnya kemudian.


"Silahkan Lea...!"


Perawat bagian informasi mempersilahkan Lea, untuk masuk ke ruang pengambilan sampel darah. Maka perempuan itu pun masuk ke sana. Selang beberapa saat kemudian, tibalah giliran Nina.


Mereka bertiga diminta menunggu selama kurang lebih 3-4 jam lamanya. Mereka ingin pulang juga tanggung. Akhirnya mereka berjalan di sekitaran rumah sakit dan mendapatkan makan siang disana.


"Lele dimana?. Udah makan belum?"


Daniel mengirimkan pesan singkat pada Lea, Lea sendiri merahasiakan hari ini dari Daniel. Karena takut dan merasa tabu menceritakannya, ia belum tau bagaimana Daniel menanggapi isu mengenai penyakit menular seksual selama ini. Ia takut pasangannya itu akan tersinggung.


"Kayak ABG alay ya mas, pertanyaannya. Udah makan belum." balas Lea.


"Iya dunkz." Daniel menjawab lagi.


"Nak hits ngets." balas Lea.


"Skuy lah." Balas Daniel.


"Wwkwkwk mas, udah ah. Aku banting nih hp, geli banget liat kamu pake bahasa alay gitu."


"Ku g kanz brnti ea, tuk clalu kirim chat bgini ea."


Daniel mengirim balasan yang kian membuat ubun-ubun Lea berasap.


"Maaaaas."


"Wkwkwkwk, elah kamu gitu aja ngamuk." balas Daniel lagi.


Mereka pun lanjut berbicara melalui pesan teks, hingga beberapa saat.


***


"Le, Nin, gimana kalau hasil gue positif?"


Vita bertanya pada Lea dan juga Nina, ketika mereka tengah menikmati dessert di sebuah kafe persis di samping rumah sakit.


"Gue takut." lanjutnya kemudian.


"Lah, lo pikir gue sama Lea nggak takut?" seloroh Nina.


"Kita juga sama takutnya kayak elo, Vit." lanjutnya kemudian.


"Iya, ini tuh gue tegar-tegarin aja biar nggak tegang." timpal Lea.


Mereka bertiga lalu diam, dan menyedot minuman masing-masing. Setelah tiga jam mereka kembali ke rumah sakit, namun ternyata hasil tesnya belum lagi keluar. Mereka kembali menunggu dengan duduk di atas sofa yang tersedia.


Beberapa saat kemudian,


"Lea, Vita, Nina."


Seorang perawat menyerukan nama mereka.


"Iya sus." jawab mereka bertiga secara serentak.

__ADS_1


"Silahkan masuk ke ruang konseling." ujar perawat tersebut sambil mengarahkan ke sebuah ruangan."


Lea, Vita, dan Nina saling bersitatap satu sama lain. Namun tak lama kemudian, mereka pun masuk ke ruangan tersebut.


"Kreek." Pintu dibuka.


"Selamat siang."


Seseorang wanita berpakaian biarawati menyapa mereka bertiga. Tak heran karena yang mereka datangi ini adalah rumah sakit dengan nuansa agama tertentu. Meskipun pasiennya beragam dan berbeda-beda keyakinan.


"Siang sus."


Lea, Vita, dan Nina berucap hal yang sama, di waktu yang nyaris bersamaan.


"Silahkan duduk...!"


Suster biarawati tersebut mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk, pada kursi yang telah di sediakan.


"Lea yang mana?" tanya biarawati tersebut.


"Saya sus." jawab Lea.


"Nina?"


"Saya sus." ujar Nina.


"Berarti ini Vita?"


"Iya sus." jawab Vita.


"Kalian berdua sedang hamil?" tanya biarawati itu pada Lea dan juga Nina.


"Iya sus." jawab keduanya serentak.


Lea, Vita, dan Nina mendengarkan secara seksama. Mereka baru mengetahui jika ruang peduli memiliki sesi konseling seperti ini.


"Disini saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Vita."


"I, iya sus." ujar Vita.


Ia, Lea dan Nina kini mendadak sangat gugup. Mereka belum tau akan mengarah kemana pembicaraan ini.


"Vita, apa yang mendorong kamu untuk melakukan pemeriksaan ini?"


Suster biarawati tersebut menatap Vita. Meski tatapan dan cara bicaranya sangat lembut, namun tak mengurangi ketegangan yang ada dalam diri gadis itu. Ia takut jika dirinya benar menderita penyakit tersebut. Jika tidak, untuk apa mereka dikumpulkan di ruangan seperti ini.


"Mm, hal yang mendorong saya adalah...."


Vita menghentikan ucapannya, ia agak ragu untuk melanjutkan.


"Tidak apa-apa, bicara saja. Cerita kalian bertiga, aman bersama saya."


"Mm, saya. Saya memiliki ciri-ciri, yang menjurus kepada ciri penyakit menular seksual tertentu sus. Makanya saya memberanikan diri untuk di periksa."


"Baik, kapan terakhir kamu melakukan peristiwa beresiko?"


"Sekitar tiga bulan yang lalu, sus." jawab Vita.


"Dengan siapa?. Suami, pacar, atau...?"


"Pacar sus. Tapi saya curiga dia juga berhubungan dengan perempuan lain, sewaktu masih sama saya.

__ADS_1


"Maaf, kamu beragama?" tanya suster biarawati itu lagi.


Vita sedikit terdiam.


"I, iya sus." jawab Vita kemudian.


"Baik, kamu tidak perlu menyebut apa agama kamu. Karena saya tau yang datang ke tempat ini dengan latar belakang dan keyakinan yang berbeda-beda. Tapi yang jelas, di dalam semua agama, yang saya ketahui. Setiap perbuatan, pasti ada ganjaran. Ada akibat, dikarenakan adanya sebab. Melakukan hubungan sebelum menikah itu, banyak resikonya. Jangankan yang belum menikah, yang sudah menikah pun tetap beresiko besar."


Lea, Vita, dan Nina memperhatikan biarawatinya itu dengan hati yang harap-harap cemas.


"Kalau bisa setelah pemeriksaan ini, perilaku beresikonya jangan dilakukan lagi. Minta ampun pada Tuhan berdasarkan kepercayaan masing-masing. Menikahlah terlebih dahulu, lakukan pemeriksaan bersama dengan pasangan biar adil. Jangan tabu untuk selalu membicarakan kesehatan reproduksi dengan pasangan, ini untuk kalian berdua juga yang sudah menikah. Lea dan Nina."


"I, iya sus." jawab mereka serentak.


"Di formulir tertulis data kalian sudah menikah, benar?"


"Be, benar sus."


"Bukan berarti kalian tidak beresiko. Amati perilaku suami, suka atau tidak jajan di luar. Edukasi suami-suami kalian mengenai bahayanya berhubungan dengan banyak perempuan di luar sana. Karena kita tidak pernah mengetahui, perempuan di luar sana itu memiliki virus atau tidak. Jangan sampai suami itu menulari istri dan anak di rumah."


Lea, Vita dan Nina kompak menganggukkan kepala.


"Kalian harus jadikan kesehatan reproduksi ini, sebagai topik wajib obrolan di hari-hari tertentu. Supaya suami-suami kalian sadar penuh, akan bahaya yang mengintai."


"Iya sus." jawab mereka bertiga secara serentak.


"Jangankan banyak jajan di luar. Tidak jajan pun kalau cara berhubungan suami istri tidak bersih, kita bisa terjangkit penyakit menular seksual. Contohnya seperti berhubungan dalam keadaan tidak bersih, milik suami di masukkan pada tempat yang tidak semestinya. Atau area sensitif istri dimasukkan sesuatu yang bukan seharusnya. Memakai air ludah sebagai pelumas pun beresiko penularan penyakit."


"Sus, apakah ketika kita memiliki gejala atau ciri tertentu. Kita itu sudah pasti atau sudah positif mengidap?"


Vita memperjelas pertanyaan, karena ia memang sudah sangat dihantui rasa takut.


"Kita tunggu saja hasilnya. Jika salah satu diantara kalian ada yang positif menderita HIV, ingatlah semua orang yang ada di ruang peduli ini akan membantu kalian. Termasuk penyediaan obat anti retroviral, konseling bagaimana caranya hidup dengan virus di dalam tubuh, serta segala tindak tanduk yang harus dilakukan."


Tubuh Vita, Lea dan Nina kian gemetar, air mata Vita merebak di pelupuk mata.


"Memiliki virus HIV di dalam tubuh, bukan berarti akhir dari segalanya. Hanya saja kalian harus terus minum obat seumur hidup, walau itu tidak akan membuat virusnya menjadi hilang. Tetapi pertumbuhan virus itu bisa di tekan, dan bisa di cegah untuk penularan dari ibu terhadap bayi. Jika suatu saat kamu ingin menikah dan memiliki anak. Virus HIV itu tidak akan menulari pasangan, asal virusnya sudah dibuat pasif. Dengan cara apa?. Dengan cara minum obat secara rutin."


Air mata Vita jatuh tak tertahankan, ia benar-benar dilanda ketakutan dan penyesalan atas segala tindakan yang ia ambil selama ini. Tak jauh berbeda dengan Vita, Lea dan Nina pun tak kalah takutnya. Apalagi kini ada bayi dalam kandungan mereka.


"Orang dengan HIV/AIDS tetap bisa hidup normal. Bahkan kabar baiknya, mereka bisa menikah dengan orang yang tidak memiliki virus HIV atau orang sehat. Tetapi, ada syarat-syarat tertentu dan harus melalui konsultasi dengan dokter. Untuk pencegahan virus, agar tidak tertular ke pasangan dan juga anak yang akan dilahirkan nanti."


"Kalau penderitanya laki-laki sus?" Kali ini Lea angkat bicara.


"Apa masih bisa menikah dengan wanita normal yang tidak mengidap virus?" lanjutnya kemudian.


"Saat ini sudah bisa, tetapi tentu saja prosesnya berbeda dengan laki-laki yang tidak memiliki virus."


"Agak rumit ya sus?" tanya Nina


"Ya, contohnya seperti harus minum obat setiap hari, untuk menekan pertumbuhan virus. Berhubungan dengan menggunakan karet pelindung atau ******. Dan jika ingin memiliki anak, harus di konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Dokter akan memeriksa ini dan itu, sampai pasien dinyatakan boleh berhubungan dengan pasangannya tanpa pengaman."


"Apakah dia tidak akan menulari melalui benih yang dikeluarkan, sus?" tanya Nina.


"Tentu saja masih bisa, tetapi kemungkinannya sangat kecil. Kalau dia sudah melalui proses yang di sarankan oleh dokter, atau di bawah pengawasan dokter."


Vita, Lea, dan Nina menghela nafas. Ternyata HIV memang seram, namun tidak seseram bayangan masyarakat awam yang selama ini mereka ketahui.


"Nanti kalau misalkan mudah-mudahan hasilnya negatif. Kalian kalau mau tau lebih banyak tentang HIV atau penyakit menular seksual lainnya. Disini bisa daftar jadi relawan, kalian akan di edukasi lebih banyak oleh para ahli. Dan bisa membantu mengedukasi masyarakat juga. Agar penderita HIV bisa hidup normal, tanpa stigma negatif di mata masyarakat."


Lea, Vita, dan Nina saling pandang. Jujur mereka sangat tertarik untuk itu. Karena masyarakat awam di negri ini memang masih sangat perlu untuk di edukasi, mengenai hal semacam ini.

__ADS_1


Tetapi yang jelas, mereka bertiga hendak menunggu hasil dari pemeriksaan mereka terlebih dahulu.


__ADS_2