Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pertanyaan Lea


__ADS_3

"Masih belum ketemu, yah?"


Lea yang tengah menyiapkan makan malam, bertanya pada Richard mengenai Clarissa. Richard sudah dua hari ini menginap di penthouse milik Daniel.


Ia mengatakan jika ia ingin menjadi benalu sejenak. Karena tak tahan apabila harus merindukan Darriel.


"Belum, ayah cuma khawatir laki-laki itu menemukan Clarissa duluan dan bisa saja kan dia menggugurkan kandungan Clarissa."


"Ih, ngilu yah dengernya." ujar Lea.


"Amit-amit jangan sampe." lanjutnya kemudian.


"Iya makanya, nanti ayah nggak punya bahan lagi buat menyerang si Marvin." ujar Richard.


"Marvin?. Siapa dia?. Kenapa harus ayah serang?"


Richard terdiam karena menyadari dirinya yang keceplosan.


"Kan udah gue bilang, Bambang. Jangan banyak cerita."


Daniel yang tengah menggendong Darriel kini nyeletuk. Sementara Lea menjadi bingung.


"Ini ada apaan sih yah, mas?" tanya nya kemudian.


Akhirnya mau tak mau Daniel dan Richard pun menceritakan soal Marvin, dan soal pemberitaan buruk mengenai Daniel yang pernah mewarnai sosial media beberapa waktu lalu.


"Jadi itu perbuatan dia?" tanya Lea setelah mendapat penjelasan panjang lebar.


"Ya, bocah ingusan yang mau sok-sok menentang." jawab Richard.


"Si Marvin ini cowoknya Clarissa?" Lagi-lagi Lea melontarkan pertanyaan.


"Iya tadinya, sebelum Clarissa ketahuan kalau dia adalah sugar baby dari laki-laki lain." ujar Richard.


Lea mengangguk-anggukan kepalanya. Ternyata sampai sejauh ini kehidupannya tak pernah lepas dari yang namanya sugar baby dan sugar daddy. Terasa ia seperti berada di lingkaran yang itu-itu saja.


Tapi mau bagaimana lagi. Ia sendiri merupakan mantan sugar baby, yang saat ini sudah dinikahi oleh sang sugar daddy yakni Daniel. Disekitarnya masih banyak terdapat sugar baby, sugar daddy lain yang menjadi bagian dari hidupnya.


Mau tidak mau setiap permasalahan yang ia temui, hubungannya tak jauh-jauh dari dua hal tersebut. Sugar baby dan sugar daddy.


"Ayo kita makan!" ajak Lea pada sang ayah yang memang telah duduk di meja makan sejak tadi.

__ADS_1


"Mas ayo makan, tarok dulu aja Darriel-nya."


"Iya." jawab Daniel lalu meletakkan Darriel pada ayunan elektrik dan menghidupkan alat tersebut.


"Papa makan dulu ya nak." ujar Daniel pada sang anak.


Darriel hanya tertawa-tawa. Daniel kemudian mendekat ke arah meja makan dan menarik salah satu kursi. Lea mengambilkan nasi untuk suami dan juga ayahnya itu. Tak lama kemudian mereka pun mulai makan.


Usai makan, Daniel yang mencuci piring. Sementara Richard mengasuh cucunya. Lea sendiri membersihkan lantai dan sedikit mengepel bagian dapur. Selang beberapa saat kemudian Daniel dan Richard pergi ke bawah untuk merokok.


Di sela-sela merokok tentu saja mereka berbicara masalah pekerjaan dan juga kembali membahas soal Marvin.


"Ini kesempatan kita buat membungkam bocah tengil itu." ujar Richard.


"Makanya dari awal gue mau bantuin kakaknya Clarissa dan sekarang mau mencari dia." lanjutnya lagi.


"Parah lo, bukannya khawatir sama orangnya." seloroh Daniel sambil tertawa.


"Ya sebagai sesama manusia, gue juga khawatir sama si Clarissa. Tapi nggak apa-apa dong gue punya maksud dikit dibelakang itu. Kita aja tadinya nggak tau kan, mereka punya maksud apa ke kita. Otak manusia siapa yang tau, bro." ujar Richard lagi.


"Iya sih." ucap Daniel.


Ia menyetujui hal tersebut meski masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia adalah pribadi yang agak sulit memanfaatkan situasi orang lain.


"Sekarep lu deh, bro. Gue mah sebagai menantu nurut aja. Yang penting sebagai manusia, lo jangan kehilangan kepedulian lo terhadap sesama." ujar Daniel lagi.


"Tenang aja, emang gue sejahat apa sih selama ini?" tukas Richard.


"Ya nggak jahat-jahat amat, tapi kadang jahat." seloroh Daniel sambil tertawa. Richard kemudian menoyor kepala menantunya tersebut sambil ikut tertawa.


***


Malam beranjak naik, Richard tidur bersama Darriel. Sedang Daniel dan Lea ada di lantai atas. Mereka belum tidur dan masih mengobrol sambil berbaring.


"Mas."


"Hmm?"


"Kenapa dunia ini penuh dengan masalah?" tanya Lea.


"Kalau nggak mau ada masalah, tinggal di surga Le." jawab Daniel.

__ADS_1


"Iya tau, tapi bukan itu jawaban yang aku mau." ucap Lea sambil setengah tertawa. Daniel pun jadi ikutan melebarkan bibir.


"Ya karena manusia itu punya keinginan, makanya sering timbul masalah." jawab Daniel.


"Contohnya?" tanya Lea lagi.


"Orang yang kecelakaan karena ngebut. Dia celaka karena punya keinginan. Keinginan untuk cepat sampai ke suatu tempat. Mungkin pengen cepat ketemu pacarnya, pengen cepat sampai rumah karena kebelet berak. Semua didasarkan karena keinginan, makanya dia dapat masalah."


"Kalau kecelakaan karena emang ugal-ugalan?"


"Ya itu juga didasari dengan keinginan. Keinginan biar dikata keren, pengen membuktikan keberanian diri dan sebagainya. Kalau dia nggak punya keinginan tentang itu, mustahil dia mau ugal-ugalan. Segala sesuatu itu hadir dengan sebuah alasan, Lea."


"Contoh lain lagi." ujar Lea.


Daniel agak berpikir, namun kemudian ia menjawab.


"Contoh lainnya koruptor. Dia korupsi karena pengen cepat kaya, cepat membeli mobil mewah yang dia inginkan. Biar bisa menyenangkan hati selingkuhan dengan uang. Nggak ada orang yang korupsi karena dia nggak memiliki keinginan apa-apa. Pasti karena di dasari keinginan itu sendiri, akhirnya ketahuan dan jadi masalah."


"Sama halnya masalah kelaparan dan kekurangan pangan, terjadi karena manusia ingin makan." ujar Lea.


"Ya, kira-kira kayak gitu. Kalau manusia udah nggak pengen makan, kan mustahil ada masalah kekurangan pangan. Pangan pasti berlimpah, karena manusianya pada mati. Nggak punya keinginan makan." seloroh Daniel.


"Orang-orang terjerat masalah pinjol, rentenir, semuanya karena mereka punya keinginan. Bisa jadi keinginan untuk membayar biaya sekolah anak, atau sekedar keinginan untuk membeli barang yang nggak penting. Intinya setiap permasalahan muncul karena keinginan manusia itu sendiri."


Lea mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kayak dulu aku hampir jadi sugar daddy papanya mas, karena keinginan aku pengen cepat kaya." ujar Lea.


"Coba dulu aku nggak punya keinginan soal itu. Pasti aku nggak ketemu mas." tukasnya lagi.


Kali ini Daniel tertawa.


"Permasalahan yang timbul karena keinginan itu, biasanya juga akan membawa kita ke dua tempat. Tempat yang tepat atau tempat yang salah." ujar Daniel.


"Sekarang aku ada di tempat yang salah." ucap Lea.


"Koq salah?" Daniel mengerutkan kening.


"Iya, karena ternyata menikah dengan sugar daddy itu konsekuensinya melendung."


"Hahahaha." Daniel tertawa.

__ADS_1


"Mau nikah sama siapapun, kalau udah dimasukin rudal dan disembur. Kemungkinannya ya tekdung, Le. Gimana sih kamu."


"Iya juga sih." Lea jadi makin tertawa-tawa.


__ADS_2