
"Mas mau telur gulung."
Lea kembali berujar, ketika telah satu jam berlalu pasca memakan kue serabi. Kini mereka masih berjalan-jalan di sekitaran kota.
"Mana yang jual?" tanya Daniel.
"Udah lewat." ujar Lea.
"Kenapa nggak bilang?"
"Abisnya baru kepengen pas udah lewat."
Daniel menghela nafas, ia harus ekstra sabar menghadapi wanita muda yang tengah hamil tersebut.
"Ya udah, kita cari tempat buat putar balik."
"Nggak usah mas, cari tempat lain aja. Sekalian aku mau kerak telor kalau ada."
Daniel tertawa, bahkan tawa itu sedikit panjang.
"Kenapa sih mas?" tanya Lea heran.
"Nggak apa-apa, lucu aja."
"Lucunya dimana?"
"Ya pokoknya lucu, kamu kayak punya container di perut kamu."
"Tuh kan aku di ledekin."
Daniel makin tertawa.
"Ya udah, kita cari tempat kuliner aja ya. Yang banyak jualannya."
"Ok." ujar Lea dengan wajah yang sumringah.
Daniel pun kemudian mempercepat laju kendaraan. Ia membawa Lea ke suatu tempat, dimana ada banyak penjaja makanan di sana.
"Asik." ujar Lea ketika mereka telah sampai, ia begitu bahagia melihat puluhan pedagang yang berjejer.
"Tapi inget, kayak gini nggak boleh sering-sering ya. Harus makan makanan sehat juga, biar gizi yang di dapat bayinya seimbang."
"Nunduk deh mas."
Lea menyuruh suaminya yang tinggi itu menunduk, tanpa menanggapi terlebih dahulu apa yang diucapkan pria itu barusan. Daniel yang bingung pun menuruti saja keinginan sang istri. Lalu secara serta merta, Lea mencium pipinya.
"Aku denger koq, hari ini aja aku jajan." ujarnya lalu berlalu.
Daniel yang terkejut dengan tindakan Lea itu hanya bisa menghela nafas, sambil tersenyum. Ia ingat saat-saat pertama mereka bertemu dulu. Betapa sering Lea menamparnya kala itu. Daniel jadi merasa lucu sendiri, ketika mengingat hal tersebut.
Kini perempuan yang sering membuatnya marah itu, malah menjadi istri dan tengah mengandung anaknya.
"Mas, mau ini ya?"
Lea meminta izin suaminya, untuk membeli apa yang ia mau. Daniel pun menyetujui dengan menganggukkan kepalanya.
Pada waktu-waktu selanjutnya, mereka berbahagia ditengah kerumunan. Lea boleh membeli apa saja yang ia mau. Mereka makan berdua, tertawa bersama dan sangat menikmati hari itu.
"Mas foto yuk."
Lea mengajak suaminya untuk menghadap ke kamera. Daniel yang selama ini tak begitu mau diambil gambarnya tersebut, entah mengapa malah menuruti saja keinginan perempuan itu.
Dari sebuah mobil, seorang wanita tampak memperhatikan keduanya. Ya, wanita itu tiada lain dan tiada bukan, adalah Grace. Yang saat ini tengah melarikan diri dari rumah bersama puterinya. Karena habis bertengkar hebat dengan Edmund.
***
"Dan, kesini. Aku sama Jordy lagi barbeque an, berdua doang. Sepi tau, mana dagingnya banyak lagi."
Danila, sepupu Daniel berujar di telpon. Saat ia dan Lea tengah beristirahat di mobil akibat lelah dan gerah. Setelah sekian lama berkeliling sambil membeli ini dan itu.
__ADS_1
"Lagian lo berdua doang, pake acara barbeque-an segala. Ajak sekampung noh biar rame."
"Hahaha, ini tuh apa ya?. Lebih tepatnya Korea-Koreaan sih, ngegrill gitu. Tapi Jordy beli dagingnya banyak banget."
"Gue lagi sama Lea, abis ngajakin dia jalan." ujar Daniel.
"Ya ajak aja dia kesini, emang kenapa?" tanya Danila.
"Ya udah deh, setengah jam lagi ya. Gue sama Lea tuh abis makan, masih kenyang banget. Ntar food coma lagi."
"Ya lo jalan aja, wahai Daniel. Kan jalan kesini macet parah. Lo juga pasti nyampe kesini lebih dari setengah jam."
"Iya juga sih." ujar Daniel.
"Pokoknya awas, kalau lo nggak dateng."
"Iya." ujar Daniel mempertegas.
"Gue tunggu, bye."
"Bye."
Danila menutup sambungan telpon.
"Mas, itu tadi siapa?" tanya Lea.
"Danila, sepupu aku. Dia ngajakin ngegrill dirumahnya."
"Koq dia tau sama aku?" tanya Lea lagi.
"Kan aku cerita ke beberapa keluarga aku, kalau aku udah nikah sama kamu."
Lea terkejut mendengar semua itu.
"Oh ya?"
"Ya."
"Ya, mereka happy for us."
"Jadi ini kita, mau ketemu sama sepupu mas itu?"
"Iya, kita kesana ya. Nggak enak, aku lumayan deket sama dia dari kecil."
"Tapi, aku nggak akan di jahatin kan?"
Lea membayangkan Danila seperti sepupu Rangga, yang pernah ikut menghinanya. Apalagi ia menafsir, jika seluruh keluarga Daniel adalah orang kaya-raya. Ia sangat takut kejadian yang sama akan terulang.
"Le, Danila itu dari neneknya aja udah sekolah di luar negri. Dan keluarga mereka, lingkungan tempat tinggal mereka, nggak ada ibu-ibu rese nya. Mereka tidak dibiasakan untuk ngurusin hidup orang atau pun berbuat jahat kepada orang lain. Percaya deh sama aku, mereka bukan OKB kayak orang-orang yang pernah membully kamu."
Lea menghela nafas, meski agak ragu akhirnya ia menurut saja. Daniel kemudian menghidupkan mesin mobil. Benar saja apa yang dikatakan Danila. Jalan ke rumahnya memakan waktu yang cukup lama, lantaran terjebak kemacetan yang cukup parah.
Namun setelah melewati perkara itu, Daniel dan Lea tiba di kediaman Danila.Mereka langsung disambut hangat oleh perempuan itu beserta kekasihnya.
"Hai." Danila memeluk Daniel, kemudian ia menyapa dan memeluk Lea dengan ramah.
"Hai Lea, how are you?"
"Baik." ujar Lea seraya tersenyum.
Jordy kekasih Danila pun memeluk Daniel dan juga Lea dengan ramah.
"Ayo masuk...!"
Danila menggamit lengan Lea.
"Danila hati-hati, dia nggak sendirian." ujar Daniel.
Seketika Danila terkejut dan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Are you pregnant?" tanya nya kemudian.
Lea mengangguk.
"Oh my God." Ia dan Jordy terlihat begitu bahagia.
"Beneran, Dan?" ujarnya meminta kepastian Daniel.
"Iya." jawab Daniel kemudian.
"Oh my God, selamat ya."
Danila memeluk Daniel dan tersenyum pada Lea dengan penuh haru. Lea sendiri tak menyangka akan diperlakukan sebaik ini.
"Selamat, bro." ujar Jordy pada Daniel.
"Thank you." jawab Daniel sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, mereka terlihat sudah berada di meja makan yang ada di taman. Mereka memanggang daging dan memakannya bersama-sama. Ada banyak hal yang mereka perbincangkan. Dan ada banyak pula canda tawa di sana.
"So, kamu bahagia menikah sama Daniel?"
Danila bertanya pada Lea, disaat Daniel dan Jordy duduk di kursi yang agak jauh. Lantaran ingin merokok. Sesekali Danila dan Lea menatap ke arah pria itu sambil tersenyum satu sama lain.
"Mm, ya. Aku bahagia, sekarang dia lebih manis, lebih suka bercanda." ujar Lea.
"Sebelum itu, dia lebih banyak diem ke kamu?" tanya Danila.
"Koq tau?" Lea baik bertanya.
Kali ini Danila tertawa.
"Ya tau dong, dari kecil kita tumbuh bareng, sekolah juga bareng. Walau dia lebih banyak sama temennya, tapi aku tau persis dia gimana."
"Emang cuek dan pendiem dari dulu ya kak?" tanya Lea lagi.
Kali ini Danila benar-benar tertawa.
"Kagak, Lea. Daniel itu, cuek kalau dia belum kenal doang. Atau kalau kamu belum kenal dia dengan baik. Aslinya dia emang suka bercanda orangnya. Terus iseng lagi, sampe anak-anak cewek di sekolah tuh pada kesel dulu sama dia. Karena di jahilin mulu." ujar Danila.
"Ah masa sih?" tanya Lea seraya melirik sekilas ke arah sang suami. Melihat perawakan, dan sikapnya selama ini, rasanya tak mungkin seorang Daniel memiliki sifat seperti itu.
"Sampe dulu ada anak-anak yang bikin klub. Namanya, "Klub Pembasmi Daniel."
Danila tertawa menceritakan hal tersebut, Lea pun jadi ikut tertawa.
"Isinya orang yang nggak suka gitu, sama mas Dan?" tanya Lea.
"Bukan nggak suka sama dia nya, tapi kesel sama kejahilannya."
"Emang parah banget ya?"
"Banget, sampe curhatan para cewek dia tau. Kupingnya panjang, kayak pipa paralon."
Lea makin tertawa.
"Misalkan nih ya, ada anak cewek. Suka sama cowok di sekolah. Cewek itu malu buat ngomong duluan, cerita lah ke temen akrabnya. Kuping Daniel bakalan denger aja tuh pembicaraan. Ntar sama dia disampein ke cowok yang dimaksud. Gimana cewek-cewek nggak pada kesel coba?"
"Astaga, mas Daniel. Ngeselin banget, sumpah." ujar Lea.
"Emang." jawab Danila.
"Guru aja di jahilin mulu sama dia."
"Danila jangan gosip ya." Tiba-tiba Daniel berujar, ia seperti tau jika tengah dibicarakan.
"Ceritain yang baik aja." ujarnya kemudian.
"Tenang aja." ujar Danila sambil tertawa.
__ADS_1
"Liat kan kupingnya panjang." ujar Danila lagi.
Lea menganggukkan kepala sambil terus tertawa-tawa. Mereka kemudian lanjut berbincang, dan bercerita lebih banyak soal Daniel.