
Atas saran seorang kolega bisnis yang juga sama doyan menikah sana-sini, Hanif menjadi bersikukuh untuk tidak menceraikan Nadya.
Alasannya karena, ia tak ingin melihat laki-laki yang saat ini berhubungan dengan istrinya itu menjadi menang.
Hanif telah kehilangan istri keduanya yakni Yayah, ia tak ingin melepaskan Nadya untuk orang lain. Ia tak ingin Nadya dimiliki oleh orang tersebut.
Tetapi pihak Nadya tidak mau mengalah. Mereka punya alasan yang kuat untuk tetap menggugat Hanif di pengadilan.
Nadya mengatakan jika dirinya sangat tersiksa batin dan pengacaranya menyuruh ia sedikit berbohong, mengenai izin Hanif untuk menikah lagi selama ini.
Nadya bersaksi jika ia dipaksa oleh Hanif, untuk menandatangani surat perjanjian tersebut. Jika tidak maka ia diancam akan diusir dan tidak dinafkahi lagi, juga Arkana akan di telantarkan.
Nadya mengatakan jika ia bukan wanita yang pandai mencari uang sendiri, dan terpaksa harus bergantung pada Hanif.
Maka dari itu ia menyetujui saat Hanif memaksanya menandatangani surat izin untuk menikah lagi dengan wanita lain. Tapi pada akhirnya ia merasa benar-benar tersiksa.
Mendengar hal tersebut tentu saja pihak Hanif menjadi naik pitam. Sebab selama ini pun ia tak ada memberikan ancaman pada Nadya, soal surat izin yang dimaksud.
Hanya saja ia mengiming-imingi Nadya dengan janji-janji surgawinya. Bahwasannya istri yang baik adalah istri yang merelakan suaminya untuk menikah lagi.
Kini pihak Nadya seolah memanfaatkan kesempatan yang ada, untuk supaya bisa lepas dari pernikahan yang dijalani.
"Kamu kenapa sampai bohong hanya untuk menguatkan gugatan cerai kamu itu?"
Hanif sempat menemui Nadya seusai sidang dan menanyakan hal tersebut dengan nada sedikit marah.
Tetapi Nadya memilih untuk tidak menjawab, dan pihaknya segera menjauhkan wanita itu dengan alasan jika Nadya sedang tidak enak badan.
Sontak kekesalan Hanif pun kembali tertuju pada sosok yang menjadi kekasih sang istri saat ini. Ia benar-benar ingin tau siapa pria yang telah merebut hati Nadya darinya. Ia akan membuat perhitungan dengan pria tersebut.
***
"Om, kapan kita ketemu lagi?"
Arkana mengirim pesan singkat pada Richard siang itu. Pada saat yang bersamaan, Hanif terlihat keluar dari kantornya. Pria itu masuk ke mobil dan pergi entah kemana.
"Nanti ya, Arka. Om saat ini lagi sibuk." jawab Richard.
"Arka apa kabar, sayang?" tanya nya kemudian.
"Arka baik-baik aja om. Ini masih di sekolah, lagi istirahat kedua."
"Oh, okay. Arka semangat belajarnya ya."
__ADS_1
"Iya om, makasih."
"Sama-sama, Arka."
Arkana tampak tersenyum demi membaca balasan tersebut. Sementara Richard pun demikian, meski hanya seulas tipis dikedua sudut bibirnya.
"Tok, tok, tok!"
Sekretaris Richard terdengar mengetuk pintu.
"Masuk!" perintah pria itu.
"Dibawah ada perempuan, pak. Dia katanya mau ketemu bapak." ujar sang sekretaris.
"Perempuan?" Richard mengerutkan dahi dan pikirannya langsung tertuju pada Nadya.
Jujur ia senang, namun muncul kekhawatiran yang amat besar kini. Pasalnya ia takut Daniel ataupun Ellio melihat semua itu. Bisa-bisa kedua sahabatnya tersebut akan menjadi curiga, terhadap hubungan yang ia jalin dengan Nadya.
"Ya udah, saya kebawah sekarang."
Richard buru-buru meninggalkan ruangannya, sebelum sang sekretaris sempat menyebutkan nama si perempuan yang menunggu di bawah tersebut.
Richard ingin segera menjauhkan jika itu adalah Nadya. Supaya tak ada yang melihat dan berita tentang hubungan mereka tak sampai ke telinga Hanif.
"Bro."
Daniel menyapa Richard, ketika mertuanya tersebut tampak melintas dengan tergesa-gesa. Richard tak menjawab dan malah terlihat masuk ke dalam lift.
Ia tak menyadari kehadiran Daniel, dan terus saja merasa resah. Takut jika Nadya banyak yang melihat.
"Buru-buru amat mertua lo." singgung Ellio yang kebetulan juga berada di tempat yang sama.
"Dibawah ada Dian, kayaknya dia bersemangat banget manu nemuin tuh cewek." jawab Daniel.
"Lah, emang dia mau balikan lagi sama tuh cewek?" tanya Ellio.
"Mana gue tau, kalau iya kebangetan sih." lagi-lagi Daniel menjawab.
"Udah hamil begitu." lanjutnya kemudian.
"Hhhhh."
Ellio menarik nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Agak susah juga ngomonginnya. Si Richard masih ada perasaan mungkin ke si Dian."
"Iya sih." jawab Daniel.
"Ya udahlah, biarin aja." pria tersebut mengimbuhkan.
Maka Ellio menarik nafas dalam-dalam sekali lagi, lalu mereka kembali beraktivitas. Sementara itu Richard kini telah sampai di bawah dan keluar dari lift. Buru-buru ia menuju ke lobi ruang tunggu.
"Hhhhh."
Richard bernafas lega ketika mengetahui yang datang bukanlah Nadya, tetapi Dian.
"Mas."
Dian mendekat lalu memeluk Richard. Richard tentu agak kaget, namun ia akhirnya membalas pelukan tersebut.
Tetapi pada saat bersamaan, Putri asisten Nadya tiba secara kebetulan. Ia diminta Nadya untuk mengantarkan makanan yang ia buat kepada Richard.
Putri terkejut melihat Richard yang tengah memeluk Dian. Richard yang menyadari kehadiran Putri tersebut pun, langsung buru-buru melepaskan pelukannya.
"Put, kamu kenapa disini?" tanya Richard seraya mendekat, sementara Dian memperhatikan mereka.
"Ma, maaf pak. Saya disuruh ibu nganterin makanan untuk bapak. Maaf kalau nggak ada pemberitahuan terlebih dahulu." ujar Putri.
"Oh nggak apa-apa koq." jawab Richard.
"Itu, dia...." Richard menoleh sejenak para Dian.
"Dia bukan siapa-siapa saya." lanjut pria itu.
Dengan wajah yang masih kaget seperti sebelumnya, Putri hanya mengangguk. Lalu ia memberikan apa yang ia bawa kepada Richard. Richard pun menerimanya dan berterima kasih.
"Kamu mau supir saya yang antar?" tanya Richard.
"Mmm, nggak usah pak." jawab Putri.
"Saya pulang sendiri aja." lanjutnya kemudian.
"Nggak apa-apa, diantar supir saya aja ya."
"Mmmm."
Putri pun menerima permintaan tersebut dan Richard akhirnya memerintahkan salah satu driver di kantor untuk mengantar perempuan itu pulang.
__ADS_1